ke enam puluh

Tuesday, March 27


hari ini ibu ulang tahun yang ke enam puluh. tak terasa usianya sudah semakin senja. rasanya seperti baru minggu lalu beliau datang menghadap kepala sekolah untuk menyelamatkan segala jenis kenakalan remaja ala saya. rasanya baru kemarin juga ibu memeluk saya yang beratribut wisuda dalam satu prosesi pengukuhan gelar sarjana dan nyatanya memang baru beberapa bulan lalu saya sungkem dihadapan ibu meminta restu sambil ibu membisikkan "tugas bapak ibu sudah selesai ya nak, jadilah istri dan ibu yang baik.." lalu doa-doa selanjutnya saya tak ingat apa karena sudah banjir air mata. saya hanya berkali-kali mengucap maaf dan terimakasih meski tak akan pernah cukup rasanya. ah ibu, seandainya ibu tau betapa saya bangga terlahir sebagai anak dari seorang ibu luar biasa.

alhamdulillah, di usianya yang ke enam puluh ibu masih sehat. bahkan masih tetap mengajar, masih tetap semangat bolak balik lampung - bandung - jakarta, membagi cinta untuk tiga anaknya. sekali lagi selamat ulang tahun yang ke enam puluh ibuku sayang.. tambah usia, barokah hidupnya, makin bijaksana, terus berkarya, tetap sederhana dan bersahaja. cium sayang dari bandung :*


*cheers!

saya, lupa dan pena

Monday, March 19

saya pelupa, meski tak sampai mendekati level tupai yang selalu lupa dimana menyimpan makanannya. dalam tingkat yang tidak berlebihan, lupa itu manusiawi. tapi sering jadinya jengkel sendiri. faktor utamanya adalah karena saya sering terburu-buru dalam melakukan sesuatu. mas ery paham betul sifat saya yang satu ini. terburu-buru menaruh ini, terburu-buru menyimpan itu, lalu ketika dicari saya susah sekali untuk mengingat kembali. padahal selalu ketika saya merapihkan barang-barang yang saya punya, saya menaruh semua pada tempatnya agar mudah ditemukan. beberapa kali saya juga mencoba menerapkan sistem mind mapping didalam kepala agar tak mudah lupa. tapi sepertinya sebelum saya bisa menghilangkan sifat terburu-buru, penyakit lupa yang saya derita akan selalu datang lagi dan lagi :p

jadi karena mudah lupa itulah saya suka menulis. saya tak bisa lepas dari pena, saya suka mencatat apapun yang akan dan sudah saya kerjakan. saya selalu membawa pena dan buku kecil kemana-mana. walaupun tidak semua yang saya kerjakan saya tuangkan dalam bentuk tulisan, kalau sedang kumat malas, saya sering hanya menggambar bentuk tak karuan lalu menarik garis panah dan memberi keterangan dengan tulisan ala kadarnya. untuk kemudian esoknya tak bisa dibaca dan saya lupa menulis apa. hahaha.. tapi setidaknya cukup ampuh untuk merekam banyak jejak apa dan kapan. tempo hari ketika saya mempersiapkan pernikahan, buku dan pena adalah the most important thing. sampai lembar-lembar kertasnya keriting karena sering dibolak balik, sampai warna sampulnya lusuh tak karuan. sampai si buku catatan itu sudah tak punya lahan kosong untuk ditulisi lagi, sampai akhirnya si pena hilang entah kemana, saya lupa. 



*cheers!

make your life easier

Thursday, March 15

oke, jadi siapa yang punya account twitter? saya punya, karena itulah saya menulis opini ini. twitter makin kesini makin fenomenal ya.. makin banyak penggunanya.. makin banyak penyalahgunaannya.. tapi jadi makin banyak lucunya. menurut saya twitter semacam memfasilitasi orang yang punya bakat nyinyir untuk mengasah kemampuannya. banyak pengguna yang mendadak menggantikan peran bu subangun kw delapan belas. antagonis, sinis, sadis. ya kalo sinisnya tentang satu permasalahan publik sih gapapa ya, jatuhnya jadi pendapat. tapi kalo ini nyinyir sama sesama pengguna twitter, kan lucu. setiap ada orang yang dianggep gak sejalan atau bersebrangan langsung deh komentar tajam. yaaa.. sejauh si dua kubu itu gak sampe jambak-jambakan didunia nyata saya gak bilang itu salah. hal-hal seperti itu sedang berusaha saya terima sebagai keanekaragaman karakter manusia.

salah satu contoh lucu adalah waktu hari ibu, ketika banyak orang mengekspresikan rasa sayang ke ibunya dengan beragam rangkaian kata ditwitter, seketika itu juga banyak yang sinis dengan bilang "yang pada ngucapin hari ibu di twitter, emang yakin ibunya pada baca.." loh? emang kalo sekedar ekspresi gak boleh? kenapa mendadak twitter jadi banyak aturan yang ditetapkan oleh penggunanya, bukan oleh penggagasnya. trus pernah ada yang publish cerita amal ditwitter dan dikomentarin "kalo amal sih amal aja gak usah pamer, nanti gak jadi pahala" emang gak bisa ya berfikiran positif sedikit aja? menurut saya satu hal yang dipublish itu bukan melulu pamer. apalagi gerakan amal, itu bisa jadi inspirasi buat kita ikut berlomba cari pahala loh. trus satu lagi, ini jenis pengguna twitter level ekstrimis yang sering banget ngetwitt semacam "setiap buka twitter muak sama timeline" yaelah trus kenapa masih punya account twitter? make your life easier bray. cuma soal kesel sama beberapa personal di twitter langsung jadi pikiran. mau cepet tua cuma gara-gara sosial media? lagian itu kan ada menu mute dan block.. menu itu difasilitasi supaya kita gak kebanyakan dosa karena nyinyirin orang.

yang harus diinget dan yang selalu saya tanamkan dipikiran adalah namanya sosial media dan penggunanya, mau mereka ngobrol di twitter, mau mereka saling saut pake RT, mau mereka sibuk ngebentuk pencitraan.. kita tetep gak punya hak untuk ngatur alurnya gimana dan kemana. sana deh cobain tinggal di pluto kalo mau hidup damai tanpa orang-orang ngeselin. itupun kalo bisa tinggal di pluto, kenyataannya gak bisa kan? yaudah terimalah bumi dengan segala isi dan karakter penghuninya. cuma saran aja.. kalo mau sinis sama pendapat atau perilaku orang ya personal aja cerita sama sahabat kaya saya, atau ngeblog gini kaya saya juga, hahaha. biar lebih puas, karena sahabat dan blog itu ibarat rumah. mau cerita apa aja boleh, bebas tak berbatas 140 karakter. trus lagian biar orang yang gak pengen baca kesinisan kita ya gak harus dipaksa baca lewat running timeline yang ngapdet per berapa detik sekali itu. percayalah, damai itu indah :p



cheers!

konsistensi mimpi

Saturday, March 3

tiba-tiba saya menemukan kesimpulan yang lahir dari pemikiran sendiri, soal mimpi. seolah mengalir air jemari loncat kesana kemari mengetik rangkaian huruf jadi kalimat "bermimpi itu mudah. konsisten untuk mewujudkannya itu yang susah" seperti sengaja berkaca untuk menampar muka. saya memang merasakan itu, saya punya banyak mimpi, setiap hari saya membikin mimpi lagi dan lagi tanpa punya konsistensi untuk mewujudkannya. mungkin karena mimpi saya penuh toleransi. sering tak apa jika tidak bisa toh masih ada ini dan itu penggantinya. saya seperti sedang berada di zona nyaman. merasa sangat cukup merasa sangat bahagia, jadi sudah saja. bukankah hidup harus selalu penuh rasa syukur? lalu saya mulai ragu apakah saya sedang bersyukur ataukah saya malah sedang dibuai nyaman. keduanya mungkin punya ciri yang relatif sama.. hanya bedanya yang satu berpahala, satunya lagi berbahaya.


*cheers!

celoteh sepatu

Friday, March 2

fashionable buat saya itu relatif. menurut saya seseorang yang percaya diri dengan gaya khasnya sendiri itu jauh lebih oke, berkarakter namanya. bukan hanya yang ikut sini sana karena tak mau kalah gaya. jangan berprasangka, ini bukan bagian dari sinisme saya terhadap perempuan full gaya. tapi dari dulu saya bukan penganut paham dress to kill dimana harus mati-matian bergaya demi terlihat wow dimata orang yang kita tak kenal siapa. hahaha.. saya bukan tak senang melihat perempuan bergaya, saya malah kagum dengan mereka asal tak berlebihan dan tetap bersahaja. yah, nilai ber-fashion saya sepertinya memang masuk kedalam zona degradasi. buat saya semua yang dipakai itu asal nyaman dan asal sopan.

rumus nyaman versi saya itu : jeans, kaos berlapis kemeja flanel, tas punggung dan all stars. tapi, tentu saja tak bisa setiap saat mengenakan rumusan diatas. makanya tetep harus ada kata sopan, sopan dalam menyesuaikan suasana juga tempat yang tepat. kalau sedang menghadiri sebuah resepsi ya saya menyesuaikan diri, kalau kerja ya tetap seperti bergaya seperti karyawan pada umumnya. walaupun sesekali jika ke kantor dengan bersepeda, maka sehari itu saya mengenakan sneakers, tak lain karena daypack saya tak cukup jika harus membawa pakaian ganti dan satu sepatu kerja. lagi pula bersneakers itu tak melulu berkesan tak resmi, lihat saja seorang Dahlan Iskan yang mengenakan sepatu kets saat pelantikan jabatan mentri tempo hari.

bicara soal sepatu, berapa banyak sepatu yang kamu punya? kalau perempuan, pastilah tak cuma satu dua.. saya juga, punya sampai beberapa. saya pecinta sepatu meski tidak semua jenis sepatu.. saya maniac flat shoes dan addicted sama converse all star. merek dan model sepatu yang satu ini mampu membuat saya tak berpaling selama hampir sebelas tahun lamanya, dari hari pertama berseragam putih abu sampai detik ini. apalagi saya termasuk yang percaya bahwa semakin pudar warna sepatu all star yang kamu punya, maka semakin keren dia. hahaha..  kalau flatshoes memang harus, sejak awal bekerja dipabrik saya punya mobilitas yang tinggi, dari satu  gedung kegedung lain. waktu itu hanya sehari saya bertahan mengenakan heels. hari-hari berikutnya flatshoes jadi yang paling juara. meskipun katanya heels bisa membuat seorang perempuan jadi lebih anggun dan seksi. ah tapi menurut saya perempuan anggun itu karena santun, perempuan seksi itu karena intelegensi dan percaya diri.


cheers!
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS