membagi kita dan apa saja

Monday, February 27

beberapa bulan lalu, saya dan teman-teman dari IF peduli bikin event sederhana. event yang ide awalnya gara-gara dedeph, adik tingkat saya yang bekerja disatu publisher ternama di bandung. waktu itu dia bilang kalau dikantornya sedang ada diskon buku besar-besaran. ah, saya yang kebetulan punya cita-cita bikin taman baca.. tanpa pikir panjang langsung memborong banyak buku cerita anak. katakan saja khilaf, karena setelah buku ada ditangan, saya malah bingung mau diapakan. hahahaha. pikir punya pikir, saya menghubungi seorang teman yang kebetulan sedang coass di RSUD Hasan Sadikin. awalnya cuma tanya prosedur berkunjung, tanya berapa jumlah pasien anak, tanya kemungkinan ini dan itu, lalu semuanya mengalir begitu saja. setelah diskusi lewat grup facebook, bbm sama beberapa teman, akhirnya kami memutuskan untuk sharing sedikit yang kami punya dan apa yang kami bisa ke bangsal anak kelas tiga di RSUD Hasan Sadikin.

ternyata tidak semudah yang saya bayangkan, karena bangsal kelas tiga itu diisi oleh banyak anak dengan rentang usia yang berbeda-beda. kami kan tidak mungkin memberi buku cerita untuk bayi mungil dalam inkubator. kami juga tidak mungkin memberi buku mewarnai pada seorang anak yang sudah kelas 5 sd. jadilah berkali-kali sepulang kerja saya mengunjungi bangsal anak untuk mendata, memastikan berapa banyak anak yang ada disana juga rentang usianya. tapi alhamdulillah, kerjasama semua personil IF peduli luar biasa solid. yang rela ninggalin tugas rumah setrikaan segunung demi beli susu dan kue ada, yang rela look like kurir paket kilat dengan kardus besar berisi puluhan papan gambar dibelakang motornya juga ada, bahkan sampe ada yang nyaris kecopetan karena harus desek-desekan belanja mainan.

ketika sampai di bangsal anak perasaan pedih, ngilu dan haru adalah yang paling mendominasi. melihat banyak selang disuntikkan kedalam kulit tipis tubuh-tubuh mungil, ruam-ruam biru bekas jejak jarum suntik yang sudah sering berpindah nadi ke nadi. sungai kecil beralur dipipi, hasil air mata yang lewat tak terkendali, pastilah nyeri. sang pemilik tubuh hanya terbaring lemah di kasur tua khas bangsal kelas ujung. bangsal anak kelas tiga, mungkin momok bagi semua orang tua, tak ada satupun dari mereka yang ingin anaknya terbaring disana jika keadaan tak memaksa. ketika kami datang.. orang tua atau siapapun yang mendampingi anak-anak itu tersenyum berbinar. lalu seolah sudah lama terpendam, mereka berbagi keluh kesah. tentang rasa khawatir, tentang keinginan semua cepat berakhir, tentang optimisme yang kalau saya jadi mereka, mungkin saya susah memilikinya.

cerita berbeda ketika akhir januari lalu saya dan rotaract bandung sentral berkunjung ke desa binaan di pengalengan, jawa barat. kalau yang ini acara senang-senang, bermain sambil belajar sama anak-anak di desa marga mukti. bermain bareng sampah belajar tentang lingkungan. kenapa targetnya anak-anak? karena ilmu dan sugesti itu memang paling mudah ditanamkan ke anak-anak ketimbang orang dewasa, kalau orang dewasa banyak ngeyelnya. hahaha. orang dewasa gak bisa bermain sambil belajar, harus serius.. kalo serius jadi ngantuk. kalo ngantuk jadi gak fokus. blunder kan? :p sedangkan saya dan rotaract waktu itu rindu sekali bersenang-senang. butuh begadang beberapa malam untuk membuat slide story telling tentang sampah dan kebersihan lingkungan. slidenya dari karton putih ukuran besar yang digambar manual menggunakan krayon warna warni. punya temen-temen yang tingkat kreatifitasnya diatas rata-rata emang gak ada ruginya. kebetulan event yang ini saya cuma terima beres dan terima eksis, karena emang jadwal kegiatan saya gak pernah pas untuk bisa bantu-bantu mewarnai dikamar kost naluri.

tepat dihari H, kami semua berangkat pagi sekali. karena lokasi yang kita tuju cukup jauh dari bandung. lagipula kami butuh waktu untuk menyiapkan dan instalasi macem-macem keperluan story telling. kami surprise karena jumlah anak-anak yang dikumpulkan oleh kakak pembina desa ternyata banyaaaak sekali. keceriaan semakin menjadi, tawa anak-anak juga makin mengudara apalagi trio kiki, ibel, naluri mengkonsep banyak permainan kreatif untuk dimainkan bersama. yang jelas suasana balai desa pagi itu hangat dan menyenangkan sekali. selesai main, saatnya kita story telling, tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, tentang bahaya sampah plastik dan tentang serunya tanam menanam yang dipraktekkan langsung dihalaman balai desa. setelah selesai semua rangkaian acara, baru deh kita cemil cemil ganjel perut sebelum makan siang. alhamdullah acara dengan persiapan yang tergolong mendadak ini berjalan lancar dan menyenangkan.


kalau saya boleh berpendapat (sekaligus berkaca), sering kesibukan dan rutinitas kita sehari-hari membuat kita lupa hal-hal kecil disekitar, kita sibuk membahagiakan diri dengan mengejar dan mewujudkan apa yang kita impikan. padahal bahagia itu tidak hanya bersumber dari kita semata. dari orang tak dikenal bisa saja, dari senyum mereka yang kita bagi juga bisa. berbagi apa saja, apapun yang kita punya, ke siapapun yang membutuhkannya. gak harus melulu materi, ilmu dan apa yang kita tau juga bisa dibagi. toh memang tak melulu perlu pergi ketempat rekreasi untuk wisata hati, cukup dengan berbagi, tak cuma bikin bahagia, tapi juga bikin hati makin kaya :)

*cheers!

life after marriage

Tuesday, February 14

banyak hal berubah setelah saya menikah, banyak hal baru, banyak yang seru.., overall semuanya menyenangkan. perubahan baru yang paling signifikan adalah soal memasak. teman yang tertawa soal hal ini tentu hampir semuanya. ikhlas menerima kenyataan seorang ajeng bisa memasak bagi mereka sama dengan ikhlas gak terima gaji selama dua bulan. sama-sama sulit, sama-sama pahit. memang tidak mudah membuat orang percaya saya sudah bisa melakukan sesuatu yang dulunya hampir tidak pernah saya lakukan, apalagi kalau bukan masak. iya, memang saya dulu terlalu “laki” untuk bermain-main dengan perangkat dapur. buat apa masak? menurut saya semua didunia ini sudah punya porsi dan ahlinya. saya tidak suka memasak, jadi serahkan saja pada simbak, eyang putri dan juru masak restoran, selesai urusan. tapi tidak sekarang.

semenjak memutuskan untuk menikah, salah satu cita-cita saya adalah jadi seorang ibu pekerja sekaligus juru masak juara untuk keluarga. kebetulan mas ery adalah juri masak terbaik. dia tidak fair, tapi justru itu yang saya suka. mas ery tidak pernah bilang tidak enak untuk apa yang saya masak. semua selalu lahap dikunyahnya, selalu habis bersih tak bersisa. mas ery pandai membesarkan hati. saya memang belum jago memasak, karena ketika masih sendiri dulu, saya tidak pernah melakukannya. saya tidak malu mengakui. kita semua lahir dengan kelebihan dan kekurangan. seorang perempuan yang tidak bisa memasak bukan akhir dari segalanya. tapi, bukan berarti akan berakhir dengan tidak bisa memasak selamanya.

oiyah, saya juga tetap berstatus pegawai dikantor rektorat ITB, tetap seven to five setiap weekdays, tetap sesekali overtime, tetap dibuat pusing dengan banyak hal khas pekerja kantoran. serunya semenjak menikah saya dituntut untuk lebih bisa manajemen waktu, anggap saja bagian dari resiko. kalau dulu saya mengurus diri sendiri, sekarang saya punya mas ery yang menemani. biasanya setiap pagi saya tak peduli perut mau atau tidak diisi, sekarang tak bisa lagi. bukan soal kewajiban menyiapkan sarapan, tapi soal kebutuhan. duduk bersama disatu meja setiap pagi itu priceless moment dan semenjak menikah, saya selalu butuh moment itu untuk “bahan bakar” satu hari. 

menyesuaikan satu ritme baru memang bukan hal mudah. tapi Alhamdulillah sejauh ini kami sama-sama belajar banyak hal, mas ery sangat penuh toleransi dan setiap hari saya terus menyesuaikan diri. karena memang saya lahir, tumbuh dan dibesarkan oleh orangtua yang keduanya berstatus pegawai, dari dulu tidak pernah terlintas dipikiran saya untuk resign dan menjadi full time wife. menurut saya tidak ada yang salah dengan perempuan pekerja. seorang ibu rumah tangga yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk keluarga memang luar biasa, tapi seorang ibu pekerja juga tak kalah istimewa. tetap bekerja, tetap bisa membagi waktunya. intinya selama pasangan kita bisa mendukung dan memaklumi, jalani dan syukuri, itu saja.




*cheers!

last rainy day

Tuesday, February 7


pagi itu hujan, maka kami menyebutnya dengan last rainy day in hanoi. seusai sarapan, kami berpayung berdua menusuri danau merangkul angin dingin, menikmati perilaku penduduk lokal juga deru klakson yang mengudara disepanjang jalanan kota, berjalan kaki kami berkeliling hanoi untuk terakhir kalinya. kami punya keyakinan yang sama bahwa keunikan setiap negara dipengaruhi oleh masyarakat, budaya dan sistem pemerintahaannya. kami juga percaya setiap perjalanan pasti menyisakan banyak pesan tentang kehidupan.

masih beberapa jam menjelang tengah hari ketika kami duduk dibangku belakang taksi berkecepatan tinggi, menuju bandara untuk menunggu pesawat yang akan menerbangkan kami pulang ke indonesia, kembali ke bandung... kota yang tak pernah punya alasan untuk kami tinggalkan berlama-lama.

hanoi, januari 2012
cheers!  

unforgettable dragon pearl

Friday, February 3

makan malam didalam gua adalah satu hal yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, bahkan dulu ketika masih berstatus siswa pecinta alam. tapi ceritanya kemarin dalam pelayaran sepanjang ha long bay, saya merasakan sensasi makan malam didalam gua. memang gua yang ini tidak angker, tidak terjal dan dramatis seperti yang biasa didokumentasikan wartawan national geographic. gua yang ini memang sudah disiapkan menjadi tempat layak kunjung, dengan tangga-tangga dari batu yang sudah terpahat rapi dilengkapi penerangan yang memadai. untuk bisa sampai ke gua, semua turis dan awak dragon pearl diboyong menyebrang laut menggunakan sekoci. dengan suhu dingin, penerangan seadanya, gerimis dan angin kencang, kami semua lebih mirip peserta fear factor ketimbang wisatawan yang sedang berlibur :p

kami harus menaiki banyak anak tangga untuk bisa sampai ke mulut gua yang kecil, lebar mulut gua kira-kira hanya bisa dilewati 2 orang dewasa asia secara bersama-sama. namun ternyata lambung gua cukup besar untuk menampung 20an orang, didalamnya bahkan sudah disiapkan sebaris meja untuk menyajikan berbagai hidangan makan malam. berbagai menu makanan tersaji lengkap dengan penghias dan filosofinya. seperti udang lemon dengan hiasan dua burung bangau diatasnya, atau cumi bakar dengan elang terbang dari buah nanas sebagai pelangkap, bahkan barbeque dengan miniatur kapal dragon pearl dari labu yang persis sama dengan aslinya. tak hanya itu, awak kapal memperlakukan kami semua dengan sangat istimewa, sampai malu sendiri rasanya. karena jujur ini kali pertama saya dan mas ery berlibur full service layaknya turis kaya eropa. biasanya, kami benar-benar hanya bermodal ransel, peta, nyali dan intuisi.

miniatur dragon pearl dari labu yang persis sama dengan aslinya

satu yang seumur hidup tidak mungkin kami lupakan adalah surprise dari awak kapal seusai makan malam. masih didalam gua, mereka yang tau kami sedang dalam rangkaian tour bulan madu, ternyata sudah menyiapkan surprise kecil. kue tart dengan tulisan happy honeymoon, kalung dari cangkang kerang dan nyanyian vietnam yang kami tak tau apa artinya. anne, erwin, melanie dan semuanya juga jadi ikut bernyanyi lagu ceria dari negara mereka masing-masing. sulit diceritakan betapa bahagia sekaligus malu rasanya kami kala itu. banyak doa yang terucap dari mereka, orang-orang yang kami tidak pernah kenal sebelumnya, membayangkan untuk bertemu-pun kami tidak pernah. bahkan pasangan paruh baya, seorang nenek dengan suami pesulap mendokan agar kami selalu berbahagia seperti mereka, juga agar mas ery jadi seperti suaminya. menjadi pribadi menyenangkan seperti suaminya tentu saya amini, tapi untuk menjadi sama dengan profesinya? NO! saya gak kebayang kalo harus punya suami pesulap. hahahaha..

tuhan selalu adil dengan mengharuskan kami menyudahi segala kesenangan ketika kami semua mulai akrab, mungkin supaya kami meninggalkan kesan baik satu sama lain. pelayaran berakhir disabtu pagi yang dingin dan berkabut. setelah saling bertukar email, kami harus rela meninggalkan ha long bay yang damai dan para awak dragon pearl yang menyenangkan. satu-satunya yang melegakan adalah setidaknya didarat kami tidak harus berputar-putar lagi mencari arah kiblat ketika sholat. karena selama dalam pelayaran dragon pearl, mas ery harus selalu awas dengan kompas untuk mengarah kiblat disebabkan arah kapal yang berubah ubah. well, kalau di twitter banyak orang bilang soal bahagia itu sederhana, sayapun ingin bilang hal yang sama. bahagia itu sederhana ketika kamu tidak mampu banyak berkomunikasi dengan orang asing karena keterbatasan bahasa, kamu tetap punya senyum dan tawa sebagai penyambung cerita. saya yakin meski tidak terucap kata, semua penghuni dragon pearl kemarin merasakan bahagia dalam porsi yang sama.

farewell dragon pearl

*cheers!
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS