kampung nelayan ha long

Monday, January 30

pagi dihari kedua pelayaran, kami menghabiskan banyak sekali waktu untuk makan. karena jujur saja, masakan sang koki kapal yang kami tumpangi semuanya lezat. sekali waktu makan, menu yang dikeluarkan bisa 6-8 dalam kondisi masih hangat mengepul asap menebar wangi khas rempah vietnam. ah juara! sambil menyuap bermacam makanan kami bertukar bicara dengan partner semeja. mereka bercerita tentang belanda, negara asalnya. kami tak mau kalah juga bercerita tentang indonesia, bandung tepatnya. rata-rata orang asing (eropa) yang kami temui akan terkejut ketika mengetahui jatah berlibur kami yang hanya 7 hari. karena kebayakan dari mereka berlibur hingga 4 minggu! ah kami iri, jika tabungan memadai 1 bulan tentunya adalah waktu yang sangat cukup untuk berkeliling asia tenggara.

setelah menjelang siang, kapal menurunkan jangkar tak jauh dari lokasi perkampungan nelayan yang ada di ha long bay. kami diantar mengujungi perkampungan oleh kapal-kapal kecil nelayan lokal. kata mas ery, perkampungan ini mirip dengan perkampungan nelayan yang ada di kalimantan. buat saya yang baru pertama kali melihat langsung perkampungan nelayan, tentulah kunjungan yang ini membuat kepala tak henti terkagum dan bertanya. ada banyak rumah-rumah sederhana yang terapung membentuk gugusan khas perkampungan. berbaris rapi tertambat pada dinding tebing, saling besebrangan seolah punya nama jalan, ada sekolah juga balai desa, tak lupa beberapa pot bunga dan anjing-anjing penjaga menyalak diteras depan rumahnya. hampir tidak ada yang membedakan selain pondasi yang menyusunnya bukan dari batu melainkan dari drum-drum plastik dan balok-balok besar sterofoam. tak ada aliran listrik, tak ada televisi apalagi loper koran yang mau melempar koran ke teras sederhana mereka, tentulah penduduk disini tak tau polemik yang mungkin sedang terjadi di negaranya sendiri. sepertinya damai sekali ya?

rumah perahu, kampung nelayan ha long

oleh nelayan kami diajak berkeliling celah celah bukit yang tidak bisa dilewati oleh kapal sebesar dragon pearl. dua anak nelayan yang ikut mengantar berteriak-teriak memanggil kera yang hidup di hutan sepanjang ha long bay, menurut cerita biasanya kera-kera akan mudah terlihat jika musim panas tiba. memang kala itu suhu terlalu dingin untuk hewan-hewan tak lapar keluar dari rumahnya. selama berkeliling celah-celah kecil ha long bay kami sempat melihat ubur-ubur seukuran wajan besar berenang disekitar perahu kami. anak-anak nelayan berebut ingin mengganggu dengan jaring kecil yang mereka punya, lucu sekali. beberapa kali kami berpapasan dengan nelayan yang sedang mencari ikan, mereka mecoba tersenyum walau terlihat kaku. satu hal yang membuat saya kagum adalah ketika memperhatikan setiap perahu kecil nelayan selalu terdapat jaring kecil yang berisi sampah laut. salah satu potret arif penduduk lokal yang saya kagumi.

setelah berkeliling kami mampir untuk mengunjungi balai desa  di perkampungan nelayan tersebut. kami disambut oleh kepala desa nelayan dengan segelas teh hijau hangat. selanjutnya sang kepala desa berbicara dalam bahasa vietnam, dan diterjemahkan dengan baik oleh tour guide kami. sang kepala desa bercerita tentang kampung yang dipimpinnya, tentang penduduknya, tentang pembibitan ikan sederhana yang mereka punya, juga tentang badai taifun yang sering melanda. ada sekolah kecil disebelah balai desa yang rasa-rasanya tak layak disebut sekolah karena bangunan sederhana itu hanya terdiri dari satu ruang yang disekat jadi dua. hanya ada sekitar 6 murid dan 1 guru, dinding-dindingnya penuh dengan hasil karya mewarnai dengan warna tak menyala, papan tulis kecil, tidak ada ornamen warna warni penghias khas sekolah dasar, apalagi perangkat edukasi yang memadai. sepertinya dibelahan dunia manapun "yang terlupakan" seperti mereka akan selalu ada. 

kami kembali ke kapal untuk menyelesaikan makan siang, suhu yang dingin membuat tubuh seolah cepat sekali bekerja mengosongkan lambung. sampai menjelang sore kami menghabiskan sisa waktu dengan duduk-duduk diatas geladak, mencoba terus bertukar cerita dengan sesama penumpang dari berbagai belahan dunia. ada seorang kakek pelukis (yang ternyata juga pesulap) dengan gaya nyentrik yang berasal dari perancis, sayangnya dia tidak bisa berbahasa inggris, jadi sulit untuk menyapa dan mengajaknya bicara. ada tiga nenek berasal dari australia, satu pasangan paruh baya dari canada dan dua perempuan dari amerika. masing-masing dari mereka punya cerita dan tentunya menularkan semangat meransel sampai terus nanti meski usia sudah tak lagi terbilang muda.

memasuki celah-celah kecil ha long

*cheers!

mengelilingi naga

Tuesday, January 24

ha long bay

bercerita tentang ha long bay tentulah bukan suatu nama yang asing ditelinga para penggemar travelling. ha long adalah sebuah teluk yang berlokasi diutara vietnam dan mendapat julukan rock wonder of the sky. teluk yang berbatasan langsung dengan perairan china ini terdiri dari hampir 2000an pulau-pulau kapur yang tersebar dengan sangat indah. nama Ha Long sendiri memiliki arti tempat turunnya sang naga, karena konon dipercaya keindahan alam yang ini adalah jelmaan batu-batu permata yang dimuntahkan oleh keluarga naga ketika menolong rakyat vietnam yang sedang menghalau serangan tentara cina. segala keindahan yang ada diteluk ini membuat UNESCO menetapkan ha long bay sebagai salah satu situs warisan dunia. tidak sulit menemukan penyedia jasa tour ha long bay di hanoi, hampir semua paket wisata disini menjadikan ha long bay sebagai salah satu tempat tujuan wisata utama di vietnam. pilihan paket wisatanyapun macam-macam, mulai hanya menginap 2 hari 1 malam, sampai 4 hari 3 malam.

pagi dihari ketiga, kami dijemput oleh salah satu provider yang menyediakan layanan tour ha long bay. perjalanan hanoi - ha long bay membutuhkan waktu sekitar 3.5-4jam dengan sopir travel yang punya nyali cukup besar untuk menerobos perlintasan kereta api yang sudah ditutup. selama menuju ha long bay tidak ada yang bisa diceritakan selain dingin dan kabut abu-abu menyelimuti jalanan. sekitar tengah hari kami sampai disebuah dermaga kecil yang sudah penuh dengan wisatawan asing, standar turis paling banyak sih pasti dari eropa. sisanya ada beberapa dari india, china dan kami berdua dari indonesia, minoritas sekali. selama menunggu giliran berlayar ada seorang guide yang menempatkan kami kedalam kelompok-kelompok kecil, untuk selanjutnya meminta kami mengingat nama grup "dragon pearl number one". suhu di dermaga waktu itu dingin sekali, sepanjang mata memandang ke teluk ha long hanya ada bayangan-bayangan kapal kayu berwarna kehitaman tertutup kabut. persis seperti kumpulan kapal perang menunggu aba-aba menyerang. kapal-kapal kayu tersebut rata-rata berkapasitas 16 turis dan sekitar 8 awak kapal. dari dermaga, kami menggunakan sekoci untuk menuju kapal yang sedang terparkir ditengah laut.

 dragon pearl, kapal yang membawa kami berlayar

ternyata, fasilitas didalam kapal mungil ini tak kalah dengan fasilitas hotel berkelas. beberapa kamar dengan jendela luas yang langsung menghadap pemandangan ha long bay, shower dan air hangat, tak lupa bonus awak kapal yang mudah tersenyum. kapten kapalnyapun berseragam lengkap angkatan laut dengan topi dan lencana dikedua bahunya. kami mengawali pelayaran hari itu dengan berkenalan sesama penghuni kapal dilanjutkan dengan makan siang sambil si kapal berlayar perlahan mengelilingi pulau-pulau kapur. pulau-pulau kapur disini banyak yang berprofil lucu seperti kura-kura, anjing bahkan ekspresi laki-laki berjenggot yang sedang marah. sulit digambarkan betapa ha long bay sangat indah dengan air jernih berwarna kehijauan, goa goa menganga, burung-burung pemangsa ikan melayang diudara dan sesekali menukik menyambar mangsa.

selesai menenangkan lambung, kami semua bermain kayak, melihat keindahan pulau-pulau kapur dari jarak dekat. awalnya saya enggan, mengingat suhu dingin lalu membayangkan perahu ringan dan mungil berkapasitas dua orang itu seolah rapuh dan bisa terbalik kapan saja, tapi rasa ingin tau membunuh segala ketakutan dikepala. satu pesan moral yang saya dapat adalah, bermain kayak disuhu luar biasa dingin berangin dengan berat badan dibawah standar bule eropa bukanlah ide bagus. cape ngedayung kebawa angin.. hahahaha. eh tapi saya sih gak ngedayung.. saya sibuk foto-foto sambil menguji cinta dan talenta mas ery yang dulu katanya sempat menduduki jabatan ketua dalam divisi rafting :p 

malam harinya kapal berhenti berlayar ditambatkan ditengah laut sambil kami menyantap makan malam, mungkin ini pertama kalinya saya melewati makan malam sepanjang dua jam. lamaaaa banget, saking banyak dan enaknya menu yang disajikan. alhamdulillahnya kami tak perlu khawatir menyoal jenis makanan dikapal ini, karena semua sudah by request "no pork" jadi sang koki membedakan beberapa menu khusus untuk kami. selesai ritual makan malam, beberapa turis kembali pada aktifitasnya masing-masing, ada yang bermain kartu, ada yang uji nyali menantang angin dengan berdiri diatas geladak kapal, ada sekedar duduk-duduk dibar sambil meneguk bergelas-gelas wine, bahkan ada juga yang memancing ikan dilaut bersama para awak, tanpa umpan tapi tetap menghasilkan beberapa ikan dan cumi-cumi besar. memang dengan arus tenang dan kawasan yang sangat terjaga pastilah teluk ha long ini kaya "penghuni".


*cheers!

tour the museum

Friday, January 20

tepatnya di district 1 tempat kami menginap adalah wilayah padat dengan lalu lintas semrawut dan hiruk pikuk klakson mengudara. tapi hanoi adalah kota yang unik, tidak heran ada banyak wisatawan asing yang betah berkeliling di kota ini. hanoi adalah negara dengan sistem pemerintahan komunis yang anti kapitalis, jangan berharap ada mall atau franchaise menjamur seperti alfamart dan carefour di kota ini, sama sekali tidak ada. KFCpun saya rasa hanya ada satu di hanoi, tidak ada mc.donald apalagi pizzahut dan starbuck. yang ada dikota ini hanya pasar tradisional dan toko toko kecil dijalanan yang padat. pusat keramaian di hanoi bisa puas dikelilingi hanya dengan waktu dua hari dengan berjalan kaki. sekali-kalinya kami naik taksi adalah ketika ingin mengunjungi mausoleum Ho Chi Minh. itupun karena kami terlambat bangun dan takut mengambil resiko nyasar yang bisa menyebabkan kami ketinggalan jam operasional mausoleum.

mausoleum Ho Chi Minh adalah tempat bersemayamnya bapak bangsa vietnam yang berhasil membawa vietnam merdeka dari penjajahan. untuk masuk kesini semua serba ketat, kami wajib menitipkan semua barang yang kami bawa dengan petugas yang tidak ramah, mesti baris ala tentara bersama dengan pengunjung lain, sampe harus melewati mesin sensor elektronik untuk memastikan kami tidak membawa apapun barang perekam dan pengambil gambar. haduh, gimana mau bisa ngambil gambar kalo tentaranya aja galak banget, keburu ciut nyali. dari pintu masuk kami digiring dengan tetap harus berbaris menuju lapangan dimana mausoleum dibangun dengan gagah. dari luar tampak seperti bangunan aula pertemuan dengan batu alam berwarna abu kehitaman yang menghias keseluruhan dinding, lengkap dengan pengamanan tentara berseragam putih disetiap meternya. 

ritual kunjungan belum cukup sampai disitu, setibanya dilapangan kami tetap harus antri menunggu untuk dapat giliran masuk kedalam mausoleum. tapi semuanya sebanding dengan pemandangan yang kami lihat didalam. melihat paman Ho terbaring dipeti kaca sukses membuat bulu kuduk saya berdiri. benar-benar pembalseman yang sempurna, sampai ekspresinya pun seperti hanya sedang tertidur sambil tersenyum seolah siap terbangun kapan saja ada yang membangunkan. peti kaca didalam ruangan itu sedikitnya dijaga oleh 6-10 tentara. hanya beberapa menit kami masuk kedalam ruangan itu, karena dari awal pintu masuk sampai selesai dipintu keluar kami harus tetap berjalan tidak boleh berhenti.

dari kejauhan, mausoleum Ho Chi Minh dan antrian masuk pengunjung

selesai mengunjungi persemayaman paman ho, kami mampir kebeberapa museum yang letaknya berdekatan satu sama lain. disini saya menyimpulkan masyarakat vietnam adalah masyarakat yang menghargai seni juga sejarah perjuangan anak bangsa, terbukti dari banyaknya museum yang menampilkan riwayat perjuangan kemerdekaan vietnam, bukan berupa foto-foto sejarah seperti yang biasa kita temui di museum indonesia tapi berupa lukisan dan poster stensil propaganda. ketika mengunjungi beberapa museum kami berbarengan dengan segerombolan pemuda berseragam militer vietnam. sepertinya siswa baru yang sedang belajar sejarah. masing masing mereka membawa buku dan mencatat apa yang disampaikan oleh seorang perempuan yang saya tebak adalah guide museum. dasar pemuda, sepertinya ditiap negara sama saja.. yang serius mencatat ada, yang mengekplorasi museum ada, yang berpisah dari rombongan dan merokok diluar juga banyak.

untuk masuk ke tempat-tempat bersejarah di hanoi tidak perlu mengeluarkan banyak uang. apalagi posisi rupiah memang lebih kuat daripada dong, mata uang vietnam. untuk satu tempat rata-rata kita hanya mengeluarkan 10000-20000 dong atau setara dengan 5000-10000 rupiah. murah kan? berikutnya kami mengunjungi sebuah kuil yang dikenal dengan nama Van Mieu, untuk melihat beberapa patung, karya sastra, dan berbagai karya seni lainnya yang berusia berabad-abad. lucunya ketika kami duduk untuk beristirahat di kuil ini, ada seorang yang menyapa kami dengan bahasa melayu terbata-bata "dari mana?" agak terkejut karena ketika kami mencari sumber suara ternyata yang menyapa kami adalah seorang pemuda lokal vietnam. cerita punya cerita, ternyata dulu dia sempat bekerja di malaysia. lalu dengan bahasa melayu sekedarnya, dia berusaha membantu kami merekomendasikan tempat-tempat lain yang wajib dikunjungi.  

setelah puas mengunjungi banyak tempat bersejarah di hanoi kami memutuskan untuk berjalan kaki pulang ke hotel. memang kami mesti berjalan agak jauh, tapi buat kami jalan kaki adalah satu hal menyenangkan yang bisa dilakukan dengan murah dan mudah, karena selain akan lebih menghemat biaya, kita juga bisa memperhatikan banyak hal unik, perilaku penduduk lokal, dan banyak lagi yang tidak bisa kita lihat atau kita perhatikan jika kita berada didalam taksi. selain itu berjalan kaki diudara sedingin hanoi adalah salah satu cara lelah mudah menghangatkan tubuh :p

salah satu dari sekian banyak poster tentara dihampir setiap sudut kota

*cheers!

(not) friendly food

Thursday, January 19

hari-hari berikutnya selalu kami awali dengan sarapan di hotel. kebetulan fasilitas yang ini memang sudah include rate hotel, menunya aman dan standar hotel seperti roti dengan selai strawberry, sosis, omelette cheese, cornflakes dan beberapa macam buah potong. alhamdulillah, karena sedikit banyak menyelamatkan kami dari kelaparan karena kesulitan mencari makan. kami simpulkan hampir semua makanan dikota ini tidak aman untuk dikonsumsi seorang muslim. masyarakat hanoi gemar mengkonsumsi bermacam mie dengan tambahan bacon. meski ada banyak pilihan menu, tapi kami hampir 100% yakin pasti ada saja minyak penyedap dari sari hewan yang tidak boleh dikonsumsi seorang muslim didalam setiap makanan yang disajikan di warung-warung pinggir jalan dikota ini.

masyarakat hanoi sepertinya memang tidak punya budaya masak dirumah. disepanjang jalan dipusat kota hanoi banyak sekali saya temukan warung makan sederhana yang penuh dikunjungi pelanggan, mereka duduk di kursi plastik sederhana, menyantap berbagai jenis mie dalam mangkuk besar, bermacam kerang-kerangan laut, mengunyah kacang dan minum bir. semua itu jadi pemandangan biasa dihampir sepanjang trotoar jalanan kota. untuk kami yang sangat selektif memilih makanan tentulah ini semua jadi ujian tersendiri. harum rempah dalam kuah-kuah mie yang tersaji memang sukses bikin si lambung susah diajak kompromi.  

pernah satu hari kami terlalu lapar setelah seharian berjalan kaki, saya melihat seorang perempuan berjualan Xôi. kami membeli dan menyantapnya sambil duduk dipinggir danau, awalnya kami biasa saja sampai akhirnya lidah mengecap satu rasa daging, tak mau mengambil resiko, kami langsung sepakat untuk mengakhiri cemilan sore itu. sesampainya di hotel karena penasaran saya browsing untuk mencari tau apa saja isi bahan yang membentuk sebungkus Xôi tadi dan menemukan fakta bahwa Xôi adalah ketan hangat yang ditanak dicampur dengan berbagai bahan sederhana seperti kuning telur dicampur sari daging sapi. dasar memang perjalanan tanpa persiapan, yang enakpun terpaksa kami akhiri karena kurang informasi :D setelah kejadian itu makan siang dan malam kami berganti hanya dua menu, KFC dan mie instan, yang pasti-pasti aja deh.. KFC pasti ayam, mie instan pasti macam bumbunya terlampir dikemasan.

oiya kalau soal asinan, bangsa keturunan cina memang juaranya. jadi saya seperti menemukan surga makanan kesukaan disini. banyak sekali asinan pedas dari buah yang dijajakan dipinggir jalan, berbagai jenis acar untuk menemani makan tersaji disetiap menu makanan bahkan ketika kami memesan satu paket ayam goreng KFC :p ada satu camilan yang saya yakin aman dan saya tak kapok memakannya. karena ini hanya sejenis roti yang terbuat dari olahan tepung ketan lalu ditaburi wijen dan gula diatasnya. lumayan untuk menenangkan lambung yang setiap hari dipakai berjalan kaki disuhu dingin. memang hanya itu yang menurut kami aman dikonsumsi. rasanya waktu itu kami rindu sekali kupat tahu dan jajanan bandung yang bertabur label halal.

camilan manis yang saya lupa namanya :p

*cheers!

adrift in hanoi

Tuesday, January 17

setelah resmi jadi pasangan sehidup semati *amiiin*, alhamdulillah kami mendapat hadiah dua tiket untuk menghabiskan sisa cuti ke negara tetangga, hari senin setelah resepsi. karena mengejar pesawat pagi, maka kamipun berangkat dini hari dengan kondisi badan yang masih lelah karena minim istirahat selama mempersiapkan pernikahan. tapi jangan bayangkan kami berangkat berbulan madu dengan travelbag beroda, karena alhamdulillah selama ini saya dan mas ery sehati soal me(nggunakan)ransel kapanpun, kemanapun kami pergi berlibur. jujur ini adalah perjalanan tanpa persiapan, bayangkan saya baru tau kami jadi berangkat tepat dihari saya menikah, hanya punya waktu kurang dari 1x24 jam untuk packing dan mempersiapkan semua keperluan, bahkan saya sama sekali gak tau kondisi cuaca apalagi kebiasaan masyarakat disana. tapi justru disitu serunya.

dari indonesia kami transit di bandara changi, singapura untuk beberapa jam kemudian melanjutkan penerbangan ke hanoi. begitu pesawat mendarat dibandara noi bai, kami melewati tahapan imigrasi, alhamdulillah tidak ada kendala berarti, bahkan menurut saya pengamanannya jauh lebih longgar, petugas imigrasinyapun tidak segalak imigrasi arab saudi tempo hari. lucunya begitu keluar bandara kami harus menelan keki dengan kondisi cuaca yang ternyata sedang musim dingin berangin dengan pemandangan langit berkabut abu-abu, perkiraan suhu sekitar 15 derajat celcius waktu itu. sementara semua pakaian yang kami kemas dibackpack adalah standar pakaian wilayah tropis bermatahari tidak ada satupun yang bergenre wool atau polar. hanya bisa pasrah dan tersenyum geli, bertekad apapun yang terjadi, kami harus tetap senang-senang dikota ini.

dari bandara menuju hotel memakan waktu sekitar 45 menit. sepanjang perjalanan diatas aspal keriting itu kami mulai menyimpulkan beberapa kesan pertama tentang kota hanoi yaitu soal bangunan rumah yang 98%nya bergaya ruko atau rumah toko, kotak berlahan sempit dengan minimal 3-4 lantai menjulang keatas persis seperti sarang burung walet. arsitek rumah sudah pasti tak laku di negara ini :p  kesan kedua adalah soal skill menyupir semua pengemudi di hanoi yang ada dilevel stuntman. jalan kecil, ugal-ugalan, salip kanan kiri tak lupa berbonus klakson nyaring berkali-kali saling bersahutan dari semua pengemudi. oyah, disini kendaraan menggunakan stir kiri, jadi otomatis segala peraturan lalu lintasnya terbalik dan berbeda dengan di indonesia. nah dengan "peraturan" yang tidak biasa menurut kami maka kami simpulkan tingkat stress pejalan kaki di hanoi lebih tinggi dibanding pejalan kaki di beberapa kota padat wisata di indonesia. nyebrang jalannya bingung ditambah pengemudi disini murah klakson sekali.

sesampainya di hotel, semua kesimpulan kami sepanjang jalan dari bandara tadi seperti di-amini. hotel disini seperti ruko, jalan didepannya hanya cukup untuk dua mobil berpapasan dengan kecepatan maksimal 10 km/jam. trotoar jalan dipakai untuk menampung kaki lima, parkir motor, sepeda dan juga pemuda bergerombol yang nongkrong sambil makan semangkuk besar mie atau minum bia hoi dan mengunyah kuaci. jadi pejalan kaki, mobil, motor, sepeda, pedangang keliling, becak semua jadi satu saling adu nyali dijalan-jalan kecil didalam kota, wow sekali. tidak ada bangunan indah disini, semua bangunan kecuali hotel nyaris usang dengan cat dinding yang tak jelas apa warnanya dan kabel-kabel listrik yang semakin mempertegas rumitnya wajah pusat kota hanoi.

sayangnya hari itu kami tak sanggup untuk langsung berjalan-jalan keliling hanoi, kelopak mata terlalu enggan bertahan bahkan untuk satu dua jam kedepan. akhirnya dengan sukses kami melewati hari pertama di hanoi dengan tidur sepanjang hari, anggap saja sambil tubuh menyesuaikan kondisi cuaca tak terduga. biar esok hari tenaga pulih, badan fit dan siap mengeksplorasi hanoi dengan berjalan kaki :p

xich lo (sejenis becak) merupakan salah satu alat transportasi di hanoi


bia hoi : adalah minuman keras khas vietnam berupa hasil fermentasi beberapa bahan. ular dan kalajengking-pun bisa termasuk didalamnya. yaik.
*cheers!

finaly.. finaly.. finaly

Monday, January 16

"someday kalau kamu jadi pengantin, kamu pasti punya mimpi-mimpi sendiri yang pengen diwujudin, punya pertimbangan-pertimbangan yang kamu pikirin, kemungkinan-kemungkinan yang kamu bayangin, keputusan-keputusan yang akhirnya kamu ambil. dan percaya deh, segala persiapan yang diurus berdua, adu ego, kepanikan, konflik kecil, amarah, ngalah itu semua indah. this is my-last-night-single... i am really happy, gak bisa diungkapin gimana rasanya"
bandung, 6 januari 2012

berkali-kalipun rasanya tak cukup untuk saya mengucap syukur. ceritanya mulai darimana ya? mm.. dari rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. deg-degan dari ujung rambut sampai ujung kaki, peluk erat dari teman-teman sekolah dulu bikin aliran darah terkadang terasa berhenti. apalagi ketika menyadari saya sudah berbalut kebaya putih dan siap di-akad-kan sementara mas ery waktu itu kelihatan tenang sekali. ah, untuk ekspresi itu mas ery memang jagonya. oyah, mas ery lancar mengucap akad. sah. alhamdulillah akhirnya saya resmi menyandang status istri mulai pagi di 7 januari. rasanya? lega, haru dan luar biasa bahagia. ntah kenapa untuk yang satu ini saya susah mendeskripsi. menikahlah dan rasakan sendiri :p

alhamdulillah (lagi) dari akad pagi, resepsi siang sampai syukuran malam hari semua lancar. padahal satu hal yang jadi kekhawatiran adalah soal hujan. konsep pernikahan dengan pesta kebun ditengah musim hujan memang tergolong nekat. apalagi saya dan mas ery sepakat untuk tidak pakai pawang hujan apapun yang terjadi. buat kami que sera sera, apa yang terjadi terjadilah. panas, mendung maupun hujan itu berkah sang pengatur siklus alam, tak perlu sampai dicegah apalagi ditolak mentah-mentah.

cape sudah jelas dan pasti. kami memang bikin semua orang geleng-geleng kepala karena hari itu dari pagi sampai malam hari kami full jadi pengatur acara sekaligus bintang tamu utama. overall semua berjalan lancar, hujan turun sore hari tepat ketika pihak katering selesai membereskan piring-piring sisa resepsi siang hari, dan berhenti tepat ketika syukuran malam akan dimulai. apalagi namanya kalau bukan berkah menikah? kalau saya boleh bilang, salah satu mimpi saya terwujud dengan sempurna awal tahun ini. semoga yang mimpi yang lain segera terwujud mengikuti. amiiin. 


*cheers!

hajat komunitas

Wednesday, January 4



konsep awal sebenarnya lahir dari ego kami berdua. ketika awal merencanakan pernikahan, kami memang sudah enggan menggelar resepsi mewah didalam gedung. apapun yang terjadi kami hanya ingin sebuah resepsi sederhana, hangat dan akrab. kebetulan saya tau sebuah rumah nikah bernama rumah kebon cengkeh yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumah saya. sempat mengintip konsep tempatnya dari layar internet, lalu kami mampir untuk melihat "faktor kemungkinan", ah tapi tanpa basa basi kami langsung jatuh hati. sebuah rumah kayu dengan halaman besar, berhias hijau tanaman rumput dan semilir wangi cengkeh.

waktu itu kami sudah tau rumah kebon cengkeh adalah bukan tempat untuk resepsi dengan banyak tamu. kapasitasnya dibatasi, tak lebih dari 200 undangan. sedikit sekali memang untuk ukuran sebuah pesta pernikahan yang dihadiri rekan kantor, keluarga besar ditambah sahabat komunitas yang luar biasa banyak. tapi apa boleh buat, kami terlanjur cinta pada tempatnya. segala resiko seolah tak lagi tampak dimata.

baru setelah menghitung daftar tamu undangan kami sadar, ternyata makin hari daftar tamu makin bertambah dan terus bertambah. ternyata memang tak bisa sesederhana yang kami inginkan. ternyata menikah itu bukan cuma soal pesta atau resepsi, tetapi juga tradisi. untung saja, bu nani sang pemilik tempat bermurah hati. kami diijinkan membuat resepsi dari pagi hingga malam hari. alhamdulillah, kami segera atur strategi untuk mewujudkan mimpi yang tadinya nyaris diambang mustahil. mau tak mau resepsi akhirnya dibuat jadi dua sesi, siang dan malam. siang adalah acara benar resepsi. dihadiri keluarga besar dan rekan kerja. seperti standar tradisi orang indonesia.

acara malam, kami lebih senang menyebutnya syukuran atau hajat komunitas. karena acara akan berlangsung dengan sederhana, yang kami undang adalah teman-teman dari berbagai komunitas. pengisi acara dan panitia juga kami ambil dari lingkaran komunitas. the power of folks! ada banyak tamu istimewa yang datang dari berbagai kota, ada banyak keceriaan yang kami hadirkan di syukuran sabtu malam nanti, ada ribuan detik kenangan dalam penggalan film bisu yang akan berputar sepanjang malam, ada suguhan manis yang diwakili kue balok dan cemilan bertabur gula, ada bercangkir-cangkir kehangatan dari kopi aroema juga bandrek juara. jadi? datang ya!



*cheers!

you're invited!

Monday, January 2


*cheers!
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS