merencanakan pagi

8:11:00 pm

melewati minggu demi minggu kehamilan, saya semakin sering membaca, mendapat informasi dan memikirkan segala kemungkinkan melahirkan. dan sejujurnya tagline gentlebirth adalah yang sangat menarik perhatian saya. masuk akal, meskipun belum pernah merasakan persalinan, saya berfikir melahirkan harusnya memang seperti itu.. gentle, intim dan sakral. saya setuju dengan semua tentang gentlebirth tapi, bohong kalau saya tidak punya rasa cemas. mmmm.. maksudnya, hari gini.. punya uang cukup, dikasih fasilitas kantor untuk kontrol dan bersalin dirumah sakit terbesar sekalipun kok masih cari bidan yang konsultasinya tanpa USG, yang gak bisa lihat kondisi bayi dengan nyata, gak bisa kangen-kangenan lihat tangan, kaki mungilnya setiap bulan. belum rela belum tega.. apalagi orang-orang disekitar saya juga masih awam gentlebirth. mereka benar-benar mengerutkan dahi, heran ketika saya bercerita tentang keinginan yang dianggap tidak biasa. 

niat mencari bidan untuk membantu proses melahirkan memang sempat ada diawal kehamilan saya. mas ery juga mendukung.. sekali lagi bukan soal biaya, tapi soal keintiman dan kesakralan melahirkan. saya jujur iri setengah mati dengan mereka yang sukses ber-gentlebirth ria.. saya percaya melahirkan itu tidak se-drama adegan sinetron. tapi ini kehamilan pertama, sejujurnya saya belum punya cukup nyali untuk memutuskan dan menyerahkan sepenuhnya kehamilan ini pada seorang bidan yang bergelar senior sekalipun. semacam sudah tertanam pola pikir bahwa dokter spesialis kandungan pastilah lebih profesional dan mumpuni dalam menangani kelahiran. walaupun, saya tau dihampir semua negara maju.. seperti jerman dan belanda, hampir 90% proses persalinan dibantu bidan. dokter spesialis hanya untuk kasus persalinan yang benar-benar membutuhkan tindakan khusus. 

tapi akhirnya kebingungan membuat saya menyerah.

karena semua (calon) ibu akan mengalah demi apapun yang terbaik buat (calon) anaknya. saya memutuskan untuk tetap mempercayakan kehamilan saya pada dokter spesialis kandungan dan merencanakan kelahiran saya nanti di sebuah rumah sakit ibu dan anak. meskipun pada akhirnya saya (tetap) memilih dokter yang praktek di satu rumah sakit kecil yang tidak cukup populer. sebenarnya alasan kenapa saya memilih RSIA Tedja sederhana saja. saya suka suasananya.. homy, tidak besar, lokasinya juga strategis, dekat dari kantor, tidak jauh dari rumah. saya memilih dokter irna atas rekomendasi beberapa teman dan kerabat, kebetulan prakteknya pas dengan jam istirahat kantor, tidak harus lama mengantri dan tidak borongan memberi resep obat. cocok. tapi sayangnya hari ini saya dapat kabar mengejutkan, RSIA Tedja akan berhenti beroperasi per tanggal 10 Desember 2012. penyebabnya simpang siur, ada yang bilang karena lokasinya akan dijual dan dijadikan sebuah restoran oleh pemiliknya :(

selama enam bulan terakhir ini saya mengetahui perkembangan pagi lewat layar monitor mesin USG  dokter irna di RSIA Tedja. mendengar kabar RSIA Tedja akan segera ditutup membuat saya kembali memikirkan kemungkinan gentlebirth, rasanya seperti diamini. saya memang tidak pernah berfikir untuk melahirkan disebuah rumah sakit besar. dalam keadaan sehat saja, saya tidak pernah merasa nyaman ada di rumah sakit berkoridor panjang dengan banyak suster berlalu-lalang. apalagi nanti dalam kondisi kontraksi yang mengakibatkan nyeri. kalau hidup itu adalah benar sebuah pilihan, maka saya lebih memilih melahirkan disebuah rumah bersalin sederhana dengan bantuan bidan yang mengusung gentlebirth, inisiasi menyusui dini, rooming-in dan asi ekslusif. meskipun saya, mas ery, atau siapapun tidak pernah tau, apa yang akan terjadi nanti.. didetik-detik akhir menjelang persalinan. tapi setidaknya saya lega, bisa merencanakan pagi lahir ke bumi, dengan hati dan dengan apa yang saya yakini :)



*cheers!

You Might Also Like

0 comments