SMA atau SMK

Friday, September 21

sudah hampir dua tahun saya duduk di kursi belakang Direktorat Kepegawaian kampus ganesha. selama itu pula sudah tiga kali saya kedatangan siswa magang dari tiga SMK di bandung. melihat mereka membuat saya mengingat masa SMA. sejak terdaftar menjadi siswa SMA saya sering bertanya kenapa saya harus belajar kimia? saya tidak tertarik dengan unsur unsur kimia bernama aneh yang punya nilai asam basa dan harus dihafal diluar kepala. kenapa saya harus membawa buku akuntansi yang besar sekali? menggaris-garisi lalu mengisinya dengan rupiah yang tak pernah terealisasi. pertanyaan-pertanyaan itulah yang mungkin membuat saya tidak pernah punya angka akademik yang membanggakan disetiap pembagian raport. kalau kata ibu, harusnya tanda tanya di kepala saya ini bisa laku ditimbang dilapak besi tua, saking banyaknya :D

mungkin harusnya dulu saya masuk SMK saja. bukankah SMK membuat seseorang siswa lebih dini dan lebih siap mendalami bidangnya tanpa harus merasakan pahit dan sulitnya mempelajari apa yang tidak mereka sukai. analoginya sederhana saja 3 jam belajar fokus membongkar sebuah mesin motor akan jauh lebih baik ketimbang 3 jam mempelajari 3 mata pelajaran fisika, kimia dan matematika. bukankah dengan lebih fokus pada satu bidang maka kita akan lebih ahli dan menguasai? bukan tidak setuju dengan pola pendidikan SMA. tapi memang untuk apa saya menghafal lambang dan nomor atom dari unsur aktinium, galium atau helium kalau pada akhirnya saya mengambil kuliah jurusan teknik informatika? dimana akhirnya unsur-unsur itu saya lupakan begitu saja tanpa sisa.

secara teori opini saya diatas tadi mungkin banyak benarnya. tapi kenyataan dilapangan SMK masih menjadi pendidikan kelas dua. masih banyak orang tua yang ragu untuk memasukkan anaknya ke sekolah menengah kejuruan, sebagus apapun klaimnya. bapak dulu lulusan SMK, tapi beliau bilang SMK dulu dan sekarang jauh berbeda, entah dilihat dari sudut pandang siapa dan sebelah mana. kalau menurut saya, mungkin karena saat ini tidak banyak yang mau dan mampu bersinergi dengan SMK. contoh kecilnya saja, ujian masuk perguruan tinggi yang seolah tidak "menghargai" lulusan SMK, untuk dapat diterima pada jurusan teknik mesin pada perguruan tinggi ternama misalnya, soal yang diberikan pada ujian masuknya bukan menyoal karburator, suspensi atau injeksi mesin tapi soal tentang pengetahuan umum yang memang diberikan dan dipelajari dibangku SMA dengan "porsi" yang jauh lebih banyak.   

terlepas keberpihakan saya dengan pola pembelajaran di SMK, saya tetap tidak sreg dengan satu hal, yaitu waktu magang siswa SMK. tiga kali kedapatan siswa magang, tiga kali juga rentang waktunya hanya dua bulan saja. kurang? iya. sangat kurang. menurut saya dua bulan tidak cukup untuk menyerap ilmu sesuai bidang keahlian mereka. belum lagi, pembimbing di lingkungan kerja tempat para siswa magang bukan seperti guru pembimbing disekolah yang bisa standby dijam-jam belajar mereka. seperti saya contohnya, saya bisa saja menjelaskan lalu memberi "pekerjaan" kepada para siswa magang sesuai dengan bidang ilmunya. tapi saya tidak bisa full mendampingi selama delapan jam setiap hari. kadang harus saya tinggal rapat, sering harus saya biarkan karena pekerjaan saya sendiri menguras waktu dan konsentrasi.

mungkin masalah utamanya ya ketiadaan sinergi itu tadi. kebanyakan sistem pendidikan di SMK menjadikan magang hanya sebagai syarat. syarat bahwa siswanya pernah merasakan berpraktek di lapangan, kadang pihak sekolah juga tidak mendalami si instansi itu bergerak dibidang apa, unitnya apa, ada atau tidak bidang dalam instansi tersebut yang berelasi dengan keilmuan siswa magangnya. lebih banyak lagi instansi dan perusahaan yang tidak tau persis seperti apa goal yang diharapkan si SMK itu sendiri dari kegiatan magang tersebut. sehingga banyak yang asal terima, asal bekerja, asal dinilai saja. saya sih masih berharap suatu saat penerapan pendidikan di indonesia berpola seperti SMK menyiapkan keahlian sedini mungkin dan fokus pada satu bidang tertentu. dengan syarat, pola tersebut harus didukung kesinergian banyak pihak seperti pendidikan SMA.



*cheers!

No comments:

Post a Comment

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS