gado-gado surabaya

8:39:00 am

ramadhan selesai, lebaran juga baru usai. serunya cerita mudik hampir mendominasi semua jejaring maya. kali ini saya juga tak mau kalah ingin berbagi bahagia. alhamdulillah lebaran kali ini saya jadi mudik ke surabaya. banyak yang bingung kenapa surabaya, memang untuk orang-orang yang baru mengenal saya, taunya saya  lahir dan besar di sumatera, suamipun asli sunda. lalu kenapa bisa mudik jauh sampai timur pulau jawa? jawabannya adalah karena bapak dan ibu sejuta persen asli surabaya. jadi surabaya adalah kampung halaman bapak dan ibu. semua eyang, budhe, pakde, om, tante dan sepupu sepupu saya berdomisili disana.

sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini saya juga mudik sekeluarga, lengkap dengan bawaan seabreg dan dua bocah kecil gendis gandes yang masing-masing baru berusia 2.5th dan 8 bulan. seru? bangetttt. apalagi karena perbedaan jadwal libur kerja tiap anggota keluarga, rencana mudik ini memang cukup labil awalnya. bahkan kepastian jam berangkat baru ditentukan tiga hari menjelang keberangkatan. oia, kami memang belum pernah mudik naik pesawat, untuk yang satu ini kami kompak satu suara. buat kami terjebak macet berjam-jam, merasakan panasnya pantai di utara jawa, menempuh ratusan kilometer yang melelahkan adalah bumbu penyedap kebahagian di hari lebaran.

sampai surabaya, kami semua ngungsi di rumah eyang yang mendadak sempit oleh koper dan ramai dengan celoteh gendis. pokoknya rumah eyang yang penghuni sehari-harinya cuma berlima jadi berempat belas, heboh banget. ditambah esoknya kami harus bangun lebih awal karena mesti antri kamar mandi untuk sholat ied. dan saya dari lebaran ke lebaran belum pernah naik jabatan, selalu jadi tukang setrika baju koko dan gamis. nasib jadi sibungsu kan selalu begitu, hahaha. tapi tak apa karena ekstra tenaga untuk menyetrika langsung terbayar dengan beberapa ronde lontong sayur dan opor ayam juara.

perbedaan yang paling terasa di lebaran tahun ini tentu saja status saya yang sudah bersuami, dan perut yang sudah berpenghuni, syukur tak terkira rasanya. meski tak lama di surabaya, tapi saya puas dengan silaturahmi keluarga dan kuliner sana sini tentunya. mulai dari rujak cingur sampai es krim zrangandi. mas ery yang berlidah sunda nyatanya lahap saja mencicipi banyak pengangan khas surabaya. dipagi hari terakhir disana, saya dan mas ery menyempatkan diri berkeliling sebagian kecil kota surabaya. sebentar saja sudah cukup membuat kami terkagum-kagum dengan kotanya yang rapih tertata.  

sayangnya saya harus pulang lebih dulu karena tidak dapat hak cuti, maklum.. abdi negara. izin meninggalkan upacara saja harus menulis surat resmi untuk pimpinan tertinggi. maka jadilah saya dan mas ery pulang dari surabaya menuju bandung dengan menggunakan kereta bisnis mutiara selatan, kereta yang jadi moda transportasi idola saya karena ke-indonesia-annya. kereta dengan kipas angin yang berputar diatasnya, jendela yang susah dibuka, pedagang yang mengadu laba dan orang-orang yang menggelar alas tidur dilantai kereta seolah menghalalkan segala cara untuk menyimpan tenaga. 

ya begitulah hidup yang seperti gado-gado surabaya, ketika hari raya banyak peristiwa bahagia yang tercampur jadi satu didalamnya. tidak semua orang suka, banyak juga yang memandang sebelah mata, tapi toh yang penting kita menikmatinya. sekali lagi minal aidzin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin ya semuanya :)



*cheers!

You Might Also Like

1 comments

  1. jadi kuangeen suroboyo >.<

    saya termasuk penghuni surabaya cukup lama 10 tahun lebih :)

    sama aq juga belum menuliskan cerita lebaran, terganjal oleh masa depan (baca:Skripsi) :p

    ReplyDelete