cerita ramadhan dulu

9:23:00 am

pagi tadi ketika sahur, saya tiba-tiba ingat masa kecil. waktu saya masih bocah-bocahnya, waktu masih belajar puasa, masih nangis kalau dibangunin sahur, masih lemes-lemesan kalo menjelang maghrib, masih semangat tarawih ke masjid karena sambil main petasan dan jajan somay, dan yaa.. masih dibayar puasanya, untuk kemudian diakumulasi dengan jumlah THR ketika lebaran. hampir semua yang baca posting ini pasti pernah mengalami masa yang sama dengan saya, ya kan? masa-masa dimana kita gak mau tau ibu masak apa yang penting bangun sahur dan makan. masa-masa dimana kita gak peduli ibu dan bapak punya uang atau gak, yang penting kita dapet THR. 

yang saya ingat, ketika saya kecil ibu dan bapak belum cukup mapan secara ekonomi. bapak belum bisa membelikan saya, mbak sari dan mas dim susu dengan aneka rasa. sehingga ketika sahur, ibu menambahkan essen (pewarna kue) agar susu kami warna warni dan kami mau meminumnya. kadang hijau, kadang coklat, kadang merah muda. saya ingat dulu nata de coco adalah makanan mewah buat saya, jadi kalau berbuka dengan nata de coco bahagiaaaa banget rasanya hahahaha. ketika lebaran, ibu bikin sirup sendiri.. soalnya kalau beli mahal. jadi sirup buatan ibu tanpa rasa asam dan rasa buah seperti kebanyakan sirup pada umumnya, hanya manis dan warnanya saja yang seperti sirup sungguhan.  

dulu saya hampir gak pernah punya baju baru. karena ibu selalu membuat sendiri baju-baju lebaran untuk saya dan mbak sari, tentunya karena alasan ekonomi. walaupun ketika beranjak dewasa saya mulai mengagumi semua usaha yang ibu lakukan, tapi dulu namanya anak kecil, tetep iri setengah mati ya sama temen-temennya yang pamer beli baju di swalayan, sementara baju saya cuma hasil mesin jahit tua. tapi ibu selalu banyak akal, sebelum membuatkan kami baju, ibu mengajak kami berdua ke swalayan dan membiarkan kami memilih model baju untuk ditiru semirip mungkin nantinya, mungkin supaya saya dan mbak sari gak terlalu kecewa dan tetap gak ketinggalan gaya.

yang seru lagi, kalau pas jadwal mudik ke surabaya. dulu belum punya mobil bagus dan bapak adalah orang tersibuk nomer satu di dunia. bapak hampir gak pernah ikut mudik karena selaluuuu kebagian jaga posko lebaran. jadilah ibu mudik sendiri dengan angkutan umum, membawa serta ketiga anaknya. lampung-surabaya itu jauh banget loh.. yang namanya anak kecil diajak jalan jauh, naik kendaraan umum, pasti ada aja rewelnya. tapi ibu memang luar biasa, apalagi meski bapak karyawan PT. Kereta Api, bapak masih belum punya uang lebih untuk membelikan kami tiket kereta eksekutif dengan AC yang nyaman. jadi kami naik yang gratis, kereta bisnis. lalu ibu akan mengalah, menggelar koran tidur dibawah karena kursi keretanya untuk saya, mbak dan mas dim tidur.

sambil menulis ini, rasanya saya ingin memeluk dan menciumi ibu. mengingat semua yang berat yang sudah berhasil dilewati ibu dan bapak dulu membuat saya haru. sampai akhirnya saya bisa duduk dengan nyaman di meja kerja di satu instansi ternama ini pastilah juga karena susu dengan pewarna kue warna warni yang ibu beri ketika sahur bertahun-tahun lalu. sampai sekarang ketika saya sudah dewasa dengan perut yang makin membuncit, ibu masih semangat dan senang hati membuatkan saya baju hamil, sekalian untuk baju lebaran katanya. ahh, kali ini saya janji bu, tidak akan iri dengan siapapun yang membeli baju lebaran di swalayan :)



*cheers!

You Might Also Like

3 comments

  1. hampir sama, ceritanya, mirip2 lah.

    ReplyDelete
  2. bedaaa.. mas agus kan gak hamilll. HAHAHAHAHA..

    etapi semua kita pasti bangga sama orang tua masing-masing ya mas :D

    ReplyDelete