bergeser ke-selatan jogja

Wednesday, May 23

jumat pagi, eksekusi rencana berlibur berjalan mulus dan tepat jadwal. memang pembagian tugas sudah dilakukan sejak malam. saya dan mas ery kebagian belanja ke pasar, berang membeli bebek untuk diolah jadi amunisi, lalu dudung sebagai penanggungjawab kembalinya kami ke bandung, jadi dia pergi memesan tiket pulang untuk saya dan mas ery. petugas masaknya jelas bukan saya karena tentu tidak ada satupun yang mau ambil resiko tidur tak nyenyak, makan tak enak. jadi yang bersedia menyumbang tenaga untuk masak namanya mbak tanti, mbak tanti dan mas bunar sepasang suami istri yang tinggal persis disebelah rumah kontrakan dudung. mereka bertiga dengan falla, anaknya yang baru kelas lima memang sengaja kami ajak ikut berkemah menginap di pantai wediombo.

perihal amunisi lambung ini kami memang sepakat untuk mengolahnya sendiri, jadi saya dan mas ery ke pasar ngasem membeli sarapan dan bahan makanan untuk keperluan berkemah. saya juga dengan khilaf membeli sepiring kue-kue khas yang saya belum pernah lihat sebelumnya. oiya, pedagang dipasar ngasem banyak didominasi mbah-mbah berkebaya jawa dengan rambut putih yang digelung sanggul. disini saya harus rela membeli tanpa prosedur tawar menawar. selain karena bukan daerah jajahan, juga karena saya gak bisa bahasa jawa. seusai dari pasar, saya sempat membantu berang membersihkan bulu-bulu bebek yang baru dipotong. berang ini tipe pemuda pecinta alam yang sudah malang melintang dilapangan, orangnya sigap dan praktis, saking praktisnya sampe bersihin bebek aja pake pisau lipet :p


dari jogja ke daerah gunung kidul memakan waktu sekitar 2.5 jam dengan jalan sempit, menanjak dan berkelok. sepanjang perjalanan menuju wediombo saya hanya bisa melihat pemandangan ladang tandus yang ditumbuhi ratusan pohon jati. gunung kidul memang sebuah daerah pegunungan kapur yang juga terkenal dengan kuliner belalangnya. mbak tanti bilang bisa mengolahnya, sejujurnya saya sama sekali gak minat makan belalang.. membayangkannya saja sudah geli sendiri. tapi rasa ingin tau membuat saya setuju untuk membeli belalang jika memang ada yang menjajakan. sayangnya sampai kami pulang, tidak ada satupun pedagang yang menjual belalang, mungkin memang bukan musimnya.  

senja sudah menjelang ketika kami sampai dipantai wediombo. saya suka sekali suara ombaknya, dan hijau air lautnya.. juga pelanginya. iya! saya sempat lihat pelangi. nah enaknya pergi dengan tiga pemuda jebolan organisasi pecinta alam itu tinggal terima beres. mereka inisiatifnya tinggi, begitu dateng langsung buka tenda, beres buka tenda langsung bikin kipas dari daun kelapa, beres bikin kipas cari kayu bakar, trus langsung bikin api, beres bikin api mulai panggang bebek, sambil panggang bebek sambil masak air untuk bikin kopi. sip kan? udah berasa ratu pantai banget deh pokoknya. eh, kalau berkemah dipantai pasti lebih ceria dibanding berkemah digunung, soalnya gak pake mendaki, gak cape, perbekalan yang dibawa bisa banyak ditambah udara yang cenderung bersahabat. 


bebek bakar yang lengkap dengan kerupuk, tempe dan sambel terasi adalah rekor makanan paling mewah sepanjang saya menggeluti dunia perkemahan. biasanya mentok di mie rebus dan nasi goreng dengan rasa alakadarnya. haduh jangan ditanya deh gimana rasanya. apalagi dimakan bersama, duduk beratap langit, bersinar api unggun, sambil berbagi cerita dan gelak tawa, nikmaaaatttttt. tapi yang lebih nikmat dari itu semua adalah menunaikan sholat sambil  menghadap kearah pantai, dengan latar belakang suara ombak, jangkrik dan ribuan bintang terang dilangit. ahhh.. silahkan coba dan rasakan sendiri sensasi bersyukurnya :D

semua yang ada disini nyaris indah dan mengagumkan. apalagi dari datang sampai menjelang pulang kami adalah satu-satunya yang menginap dipantai wediombo, serasa pantai pribadi. yang paling disesali dari liburan yang sekarang, saya gak punya banyak dokumentasi yang bisa dipamerkan. si handphone pintar saya tersiram ombak, tepat didetik-detik menjelang pulang disaat matahari mulai muncul untuk mendukung gerakan narsis. meski hanya mati suri, tapi kameranya jadi tidak berfungsi. tapi gapapa, artinya kali ini saya cukup baik hati dengan tidak membuat histeris iri banyak teman :p well akhirnya kami mengakhiri liburan disabtu pagi yang cerah. memang selalu ada lelah yang harus dibayar dalam setiap liburan, tapi percayalah, akan ada jutaan kesenangan, pengalaman dan pelajaran yang bisa didapat dalam setiap perjalanan yang kita lakukan.



*cheers!

No comments:

Post a Comment

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS