jogja dengan lorena

Monday, May 21


liburan yang empat hari kemarin memang cukup surga buat pegawai sipil seperti saya. rasanya terlalu pedih jika hanya dihabiskan dikota dengan seribu kendaraan plat jakarta, seperti bandung. tapi untuk memilih tempat berlibur yang tidak touristy dan yang tidak penuh sesak wisatawan juga bukan perkara mudah. meski sebenarnya ada banyak daftar tempat tujuan berlibur yang kami punya, tempat berlibur ala kami tentunya, yang tidak ramai dan tidak komersil, tapi kebanyakan tempat-tempat tersebut tidak visible secara waktu dan biaya. maklum, kami kami ini punya profesi yang mendesak untuk melakukan liburan cepat dan murah meriah. setelah melewati beberapa hari untuk diskusi bongkar pasang jadwal dan rute, akhirnya kami memutuskan untuk berlibur ke daerah gunung kidul, yogyakarta.

kamis pagi saya dan mas ery duduk dibangku paling depan bus lorena menuju jogja. bus cepat jurusan bandung denpasar ini memang berangkat setiap pagi dari terminal cicaheum. ini pertama kalinya saya meransel ke arah timur jawa dengan angkutan umum yang bukan kereta. saya sampai harus menegak sebutir antimo untuk mencegah kemungkinan terburuk dalam sebuah perjalanan panjang. ternyata benar saja, duduk didepan dalam perjalanan jalur selatan pulau jawa yang berkelok dengan sopir bernyali tinggi itu bikin saya berkali-kali menahan nafas dan menutup muka dengan dua telapak tangan. rasanya seperti nonton film 3D dengan efek suara klakson bus yang terngiang sampai pulang.

saya termasuk yang jarang melakukan perjalanan siang, ternyata pengalaman kemarin cukup menyenangkan. banyak yang bisa dilihat, diperhatikan dan dikomentari. pedagang yang hilir mudik dengan aneka produk dagangan adalah yang paling khas dari perjalanan menggunakan bus. saya dibuat kagum dengan apa yang mereka tawarkan, mulai dari al-quran seharga semangkuk bakso, buah-buahan, paket sarapan lontong featuring gorengan, sampai obeng multifungsi lengkap dengan cara penggunaan. semua dijajakan dengan cara yang hampir sama dan dengan kalimat rayuan yang sangat indonesia. saya juga sempat melihat seorang pemuda dengan blangkon dan baju jawa mengendarai folding bike di jalur selatan jawa, ntah akan kemana.. yang jelas pasti menuju satu tempat yang akan membuatnya bahagia.

saya dan mas ery sampai di jogja kamis menjelang dini hari, disambut duo tuan rumah dudung dan berang. rasanya tak perlu lagi saya ceritakan siapa dudung, sudah berkali-kali namanya saya sebut dalam hampir setiap perjalanan meransel yang saya lakukan. kalau berang, memang tokoh baru, tapi sepertinya saya butuh satu judul tulisan khusus untuk membahas keunikannya. tak cukup hanya dijelaskan dalam dua tiga kalimat :p mereka berdua sebagai tuan rumah tau benar kondisi lambung kami yang dari siang tak diisi. dua porsi besar nasi goreng kambing tersaji menemani kami melepas tawa dan cerita diruang tengah rumah kontrakan bergaya jawa. tak sampai lama kami bercengkrama, karena kami butuh energi untuk mengeksekusi rencana esok pagi. kami mau mengungsi dari keramaian kota, bergeser kepantai selatan jogja.


*cheers! 

2 comments:

  1. hahahaha...
    beda dg saya, bis malam macam lorena dan kramatdjati adalah tempat tidur kedua bagi saya dan tanpa antimo. Bis adalah kendaraan favorit saya. Naik Kereta? gak janji deh ...

    ReplyDelete
  2. ah masa mas? hahha..
    aku sih baru sekali banget naik bus ke timur jawa. biasanya always kereta :D

    ReplyDelete

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS