life after marriage

8:21:00 pm

banyak hal berubah setelah saya menikah, banyak hal baru, banyak yang seru.., overall semuanya menyenangkan. perubahan baru yang paling signifikan adalah soal memasak. teman yang tertawa soal hal ini tentu hampir semuanya. ikhlas menerima kenyataan seorang ajeng bisa memasak bagi mereka sama dengan ikhlas gak terima gaji selama dua bulan. sama-sama sulit, sama-sama pahit. memang tidak mudah membuat orang percaya saya sudah bisa melakukan sesuatu yang dulunya hampir tidak pernah saya lakukan, apalagi kalau bukan masak. iya, memang saya dulu terlalu “laki” untuk bermain-main dengan perangkat dapur. buat apa masak? menurut saya semua didunia ini sudah punya porsi dan ahlinya. saya tidak suka memasak, jadi serahkan saja pada simbak, eyang putri dan juru masak restoran, selesai urusan. tapi tidak sekarang.

semenjak memutuskan untuk menikah, salah satu cita-cita saya adalah jadi seorang ibu pekerja sekaligus juru masak juara untuk keluarga. kebetulan mas ery adalah juri masak terbaik. dia tidak fair, tapi justru itu yang saya suka. mas ery tidak pernah bilang tidak enak untuk apa yang saya masak. semua selalu lahap dikunyahnya, selalu habis bersih tak bersisa. mas ery pandai membesarkan hati. saya memang belum jago memasak, karena ketika masih sendiri dulu, saya tidak pernah melakukannya. saya tidak malu mengakui. kita semua lahir dengan kelebihan dan kekurangan. seorang perempuan yang tidak bisa memasak bukan akhir dari segalanya. tapi, bukan berarti akan berakhir dengan tidak bisa memasak selamanya.

oiyah, saya juga tetap berstatus pegawai dikantor rektorat ITB, tetap seven to five setiap weekdays, tetap sesekali overtime, tetap dibuat pusing dengan banyak hal khas pekerja kantoran. serunya semenjak menikah saya dituntut untuk lebih bisa manajemen waktu, anggap saja bagian dari resiko. kalau dulu saya mengurus diri sendiri, sekarang saya punya mas ery yang menemani. biasanya setiap pagi saya tak peduli perut mau atau tidak diisi, sekarang tak bisa lagi. bukan soal kewajiban menyiapkan sarapan, tapi soal kebutuhan. duduk bersama disatu meja setiap pagi itu priceless moment dan semenjak menikah, saya selalu butuh moment itu untuk “bahan bakar” satu hari. 

menyesuaikan satu ritme baru memang bukan hal mudah. tapi Alhamdulillah sejauh ini kami sama-sama belajar banyak hal, mas ery sangat penuh toleransi dan setiap hari saya terus menyesuaikan diri. karena memang saya lahir, tumbuh dan dibesarkan oleh orangtua yang keduanya berstatus pegawai, dari dulu tidak pernah terlintas dipikiran saya untuk resign dan menjadi full time wife. menurut saya tidak ada yang salah dengan perempuan pekerja. seorang ibu rumah tangga yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk keluarga memang luar biasa, tapi seorang ibu pekerja juga tak kalah istimewa. tetap bekerja, tetap bisa membagi waktunya. intinya selama pasangan kita bisa mendukung dan memaklumi, jalani dan syukuri, itu saja.




*cheers!

You Might Also Like

7 comments

  1. nah itu,aq ngga bisa masak juga. aga takut juga ketika semakin menginjak mantang dan dewasa tapi semakin ingin bisa. :D

    kata org tua
    'kalau hal itu mjd suatu kebutuhan kamu pasti bisa!' itu mgkin yg dirasakan mba ajeng. butuh :D. heu masa mau makan di warteg terus ;p

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. hahaha.. gak usah takut dep. dulu aku kurang laki apa coba :p sekarang lain cerita.. cinta itu bisa merubah apa saja tanpa terkecuali. hahaha..

    ReplyDelete
  4. edannn... bahasa kalian..edannn...
    itu namanya The Power of Kepepet

    ReplyDelete
  5. pantang bagi seorang suami bilang masakan istrinya tidak enak dan kita tidak menghabiskannya.... Karena saya sadar apa yang mereka lakukan jauh lebih sulit dari apa yg kita lakukan... itu sebuah prinsip bagi saya yg juga seorang suami...

    ReplyDelete
  6. sama banget :D
    tapi klo kata mamaku
    jadi istri dan ibu itu naluri

    ReplyDelete
  7. @ tia : hahaha. bahasa perempuan ya mbakti.. sisi premannya lagi ngilang.

    @ mas agus : kurang lebih suamiku sama :))

    @ oneins : naluri yang datang sendiri dari hati :*

    ReplyDelete