(not) friendly food

2:10:00 pm

hari-hari berikutnya selalu kami awali dengan sarapan di hotel. kebetulan fasilitas yang ini memang sudah include rate hotel, menunya aman dan standar hotel seperti roti dengan selai strawberry, sosis, omelette cheese, cornflakes dan beberapa macam buah potong. alhamdulillah, karena sedikit banyak menyelamatkan kami dari kelaparan karena kesulitan mencari makan. kami simpulkan hampir semua makanan dikota ini tidak aman untuk dikonsumsi seorang muslim. masyarakat hanoi gemar mengkonsumsi bermacam mie dengan tambahan bacon. meski ada banyak pilihan menu, tapi kami hampir 100% yakin pasti ada saja minyak penyedap dari sari hewan yang tidak boleh dikonsumsi seorang muslim didalam setiap makanan yang disajikan di warung-warung pinggir jalan dikota ini.

masyarakat hanoi sepertinya memang tidak punya budaya masak dirumah. disepanjang jalan dipusat kota hanoi banyak sekali saya temukan warung makan sederhana yang penuh dikunjungi pelanggan, mereka duduk di kursi plastik sederhana, menyantap berbagai jenis mie dalam mangkuk besar, bermacam kerang-kerangan laut, mengunyah kacang dan minum bir. semua itu jadi pemandangan biasa dihampir sepanjang trotoar jalanan kota. untuk kami yang sangat selektif memilih makanan tentulah ini semua jadi ujian tersendiri. harum rempah dalam kuah-kuah mie yang tersaji memang sukses bikin si lambung susah diajak kompromi.  

pernah satu hari kami terlalu lapar setelah seharian berjalan kaki, saya melihat seorang perempuan berjualan Xôi. kami membeli dan menyantapnya sambil duduk dipinggir danau, awalnya kami biasa saja sampai akhirnya lidah mengecap satu rasa daging, tak mau mengambil resiko, kami langsung sepakat untuk mengakhiri cemilan sore itu. sesampainya di hotel karena penasaran saya browsing untuk mencari tau apa saja isi bahan yang membentuk sebungkus Xôi tadi dan menemukan fakta bahwa Xôi adalah ketan hangat yang ditanak dicampur dengan berbagai bahan sederhana seperti kuning telur dicampur sari daging sapi. dasar memang perjalanan tanpa persiapan, yang enakpun terpaksa kami akhiri karena kurang informasi :D setelah kejadian itu makan siang dan malam kami berganti hanya dua menu, KFC dan mie instan, yang pasti-pasti aja deh.. KFC pasti ayam, mie instan pasti macam bumbunya terlampir dikemasan.

oiya kalau soal asinan, bangsa keturunan cina memang juaranya. jadi saya seperti menemukan surga makanan kesukaan disini. banyak sekali asinan pedas dari buah yang dijajakan dipinggir jalan, berbagai jenis acar untuk menemani makan tersaji disetiap menu makanan bahkan ketika kami memesan satu paket ayam goreng KFC :p ada satu camilan yang saya yakin aman dan saya tak kapok memakannya. karena ini hanya sejenis roti yang terbuat dari olahan tepung ketan lalu ditaburi wijen dan gula diatasnya. lumayan untuk menenangkan lambung yang setiap hari dipakai berjalan kaki disuhu dingin. memang hanya itu yang menurut kami aman dikonsumsi. rasanya waktu itu kami rindu sekali kupat tahu dan jajanan bandung yang bertabur label halal.

camilan manis yang saya lupa namanya :p

*cheers!

You Might Also Like

3 comments

  1. seruuu :)
    disana pke bhasa apa teh?

    ReplyDelete
  2. satu hal positif ada kamu jeng, berani keluar negeri. Sedangkan saya sekalipun ada kesempatan tidak saya gunakan, takut gak bisa balik ke Indonesia... Karena Indonesia begitu great.. dan banyak tempat yg belum saya tahu... hohohohohoho

    ReplyDelete
  3. @ dedep : belum selesai ini serunya masih 3 episode lagi. selama disana pake bahasa inggris.. orang-orang disana welcome turis kok :)

    @ mas agus : aku sih kemana aja yang penting jalan mas. mau indonesia mau luar negeri, asal ransel dipunggung sneakers dikaki.. BERANGKAT!

    ReplyDelete