kampung nelayan ha long

Monday, January 30

pagi dihari kedua pelayaran, kami menghabiskan banyak sekali waktu untuk makan. karena jujur saja, masakan sang koki kapal yang kami tumpangi semuanya lezat. sekali waktu makan, menu yang dikeluarkan bisa 6-8 dalam kondisi masih hangat mengepul asap menebar wangi khas rempah vietnam. ah juara! sambil menyuap bermacam makanan kami bertukar bicara dengan partner semeja. mereka bercerita tentang belanda, negara asalnya. kami tak mau kalah juga bercerita tentang indonesia, bandung tepatnya. rata-rata orang asing (eropa) yang kami temui akan terkejut ketika mengetahui jatah berlibur kami yang hanya 7 hari. karena kebayakan dari mereka berlibur hingga 4 minggu! ah kami iri, jika tabungan memadai 1 bulan tentunya adalah waktu yang sangat cukup untuk berkeliling asia tenggara.

setelah menjelang siang, kapal menurunkan jangkar tak jauh dari lokasi perkampungan nelayan yang ada di ha long bay. kami diantar mengujungi perkampungan oleh kapal-kapal kecil nelayan lokal. kata mas ery, perkampungan ini mirip dengan perkampungan nelayan yang ada di kalimantan. buat saya yang baru pertama kali melihat langsung perkampungan nelayan, tentulah kunjungan yang ini membuat kepala tak henti terkagum dan bertanya. ada banyak rumah-rumah sederhana yang terapung membentuk gugusan khas perkampungan. berbaris rapi tertambat pada dinding tebing, saling besebrangan seolah punya nama jalan, ada sekolah juga balai desa, tak lupa beberapa pot bunga dan anjing-anjing penjaga menyalak diteras depan rumahnya. hampir tidak ada yang membedakan selain pondasi yang menyusunnya bukan dari batu melainkan dari drum-drum plastik dan balok-balok besar sterofoam. tak ada aliran listrik, tak ada televisi apalagi loper koran yang mau melempar koran ke teras sederhana mereka, tentulah penduduk disini tak tau polemik yang mungkin sedang terjadi di negaranya sendiri. sepertinya damai sekali ya?

rumah perahu, kampung nelayan ha long

oleh nelayan kami diajak berkeliling celah celah bukit yang tidak bisa dilewati oleh kapal sebesar dragon pearl. dua anak nelayan yang ikut mengantar berteriak-teriak memanggil kera yang hidup di hutan sepanjang ha long bay, menurut cerita biasanya kera-kera akan mudah terlihat jika musim panas tiba. memang kala itu suhu terlalu dingin untuk hewan-hewan tak lapar keluar dari rumahnya. selama berkeliling celah-celah kecil ha long bay kami sempat melihat ubur-ubur seukuran wajan besar berenang disekitar perahu kami. anak-anak nelayan berebut ingin mengganggu dengan jaring kecil yang mereka punya, lucu sekali. beberapa kali kami berpapasan dengan nelayan yang sedang mencari ikan, mereka mecoba tersenyum walau terlihat kaku. satu hal yang membuat saya kagum adalah ketika memperhatikan setiap perahu kecil nelayan selalu terdapat jaring kecil yang berisi sampah laut. salah satu potret arif penduduk lokal yang saya kagumi.

setelah berkeliling kami mampir untuk mengunjungi balai desa  di perkampungan nelayan tersebut. kami disambut oleh kepala desa nelayan dengan segelas teh hijau hangat. selanjutnya sang kepala desa berbicara dalam bahasa vietnam, dan diterjemahkan dengan baik oleh tour guide kami. sang kepala desa bercerita tentang kampung yang dipimpinnya, tentang penduduknya, tentang pembibitan ikan sederhana yang mereka punya, juga tentang badai taifun yang sering melanda. ada sekolah kecil disebelah balai desa yang rasa-rasanya tak layak disebut sekolah karena bangunan sederhana itu hanya terdiri dari satu ruang yang disekat jadi dua. hanya ada sekitar 6 murid dan 1 guru, dinding-dindingnya penuh dengan hasil karya mewarnai dengan warna tak menyala, papan tulis kecil, tidak ada ornamen warna warni penghias khas sekolah dasar, apalagi perangkat edukasi yang memadai. sepertinya dibelahan dunia manapun "yang terlupakan" seperti mereka akan selalu ada. 

kami kembali ke kapal untuk menyelesaikan makan siang, suhu yang dingin membuat tubuh seolah cepat sekali bekerja mengosongkan lambung. sampai menjelang sore kami menghabiskan sisa waktu dengan duduk-duduk diatas geladak, mencoba terus bertukar cerita dengan sesama penumpang dari berbagai belahan dunia. ada seorang kakek pelukis (yang ternyata juga pesulap) dengan gaya nyentrik yang berasal dari perancis, sayangnya dia tidak bisa berbahasa inggris, jadi sulit untuk menyapa dan mengajaknya bicara. ada tiga nenek berasal dari australia, satu pasangan paruh baya dari canada dan dua perempuan dari amerika. masing-masing dari mereka punya cerita dan tentunya menularkan semangat meransel sampai terus nanti meski usia sudah tak lagi terbilang muda.

memasuki celah-celah kecil ha long

*cheers!

No comments:

Post a Comment

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS