fase-musim-nikah

Friday, November 18

berapa umur kalian sekarang? kalau dua puluh empat-lima-enam, berarti kurang lebih sedang ada di fase yang sama seperti saya. fase musim nikah, dimana undangan pernikahan sahabat, teman, rekan kerja, kenalan, datang silih berganti setiap hari. memang mungkin umur sesaya ini adalah umur lazimnya perempuan indonesia menikah. tapi saking banyaknya undangan untuk menghadiri sebuah pernikahan, malah sering jadi merasa bukan diundang, melainkan disindir bertubi-tubi dengan kalimat tak kasat mata "eh gue udah, lo kapan?" hahahaha..

kenapa menikah? kalau seseorang ditanya begitu tentu akan banyak sekali ragam jawabannya. menikah adalah mimpi hampir semua perempuan, termasuk saya. memang tidak asal mimpi dan tidak asal diwujudkan. yang saya tau memutuskan untuk menikah adalah bukan perkara mudah, tapi kalau niatnya ibadah, insyaallah jadinya juga gak susah. eyang putri bilang, kalau benar jodohnya barokah, biasanya semua urusan sebelum dan sesudah menikah akan selalu dipermudah. (masih) menurut saya, menikah itu bukan melulu soal umur dan gak ada istilah dikejar umur. kalau sudah "siap" ya memang untuk apa ditunda lagi, tapi kalau memang belum.. buat apa dipaksakan agar jadi. 

saya tidak mau banyak membahas teori musim nikah yang meresahkan perempuan seumuran saya hahaha.. takut kualat karena saya memang belum pernah merasakan seperti apa rasanyanya menikah, tapi saya bisa bilang kalau mempersiapkan (pesta) pernikahan itu seru. apalagi kalau semua keperluan a sampai z diurus sendiri.. dua isi kepala jadi satu, dua ego saling beradu dengan waktu yang terus memburu. hampir mirip seperti menyiapkan sebuah event pentas seni dimasa remaja dulu. bedanya, dievent ini kita adalah panitia, pengatur acara, penyelenggara, sekaligus bintang tamu utama :)














*cheers!

drama pekerja

Thursday, November 17


lembur itu biasa, jangan mengaku pernah dapat predikat karyawan teladan kalau tidak pernah merasakan duduk di kursi menghadap seperangkat teknologi sampai beberapa jam menjelang dini hari. lelah sudah pasti, fisik, mental, pikiran, emosi seolah diuji. mengunyah sesuatu sambil mendengarkan lagu mutlak jadi hiburan penahan jemu. belum lagi harus lebih disiplin mengatur jadwal lain agar bisa berdamai dengan sisa waktu. memang agak susah menikmati, tapi perlahan saya coba syukuri. ini hanya salah satu episode drama setiap pekerja. dari lantai tiga gedung berlambang ganesha, semoga apa yang saya kerjakan malam ini tidak sia-sia :')


*cheers!

masih dua lima

Monday, November 14

dua puluh lima kemarin sangat luar biasa. dimalam pergantian usia saya diajak keliling bandung sama mas ery sambil traktir "orang jalanan" dengan beberapa bungkus nasi goreng. sabtu siangnya ketika lembur, tetiba ada iyay, teh ivy, dini dan beri, berdiri di depan kantor sambil bawa cake dan lilin lilin kecil untuk saya make a wish, dua diantara mereka di eksport langsung sama mas ery dari jakarta. lalu esok paginya kami menyatroni kawah ratu, kebun teh dan berakhir di hutan pinus tangkuban perahu untuk numpang botram. ah, rasanya sulit untuk diceritakan betapa bahagianya jadi saya. beautiful surprise, beautiful weekend.



*cheers!

bahagia dua lima

Friday, November 11


bahagia itu saya diusia dua puluh lima. dihari baik, tanggal cantik, diusia yang katanya sempurna dalam fase yang luar biasa. dua tiga mimpi saya mungkin tidak terwujud di tahun sebelum dua lima, tapi alhamdulillah sudah digantikan ratusan lainnya

atas keluarga istimewa, atas mereka dan dia yang mencintai saya, atas teman-teman luar biasa, atas pekerjaan yang saya suka, atas hidup sederhana penuh ria, tawa dan warna. ya Allah, terimakasih ya.. hari ini ijinkan saya mengharu bahagia :) 


Bandung,
sebelas sebelas sebelas

yang sederhana yang luar biasa

Tuesday, November 1


"tau apa kamu tentang kotamu? kota yang kamu akui sebagai kampung halamanmu, kota kelahiran yang katanya selalu membuatmu rindu.."

minggu pagi kemarin jadwalnya saya dan mas ery meransel tanpa tujuan, ini memang bukan kali pertama, dulu kami pernah sekedar berjalan kaki dari mulai pagi hingga siang hari, menelusuri gang gang sempit dan lembab dibelakang gedung bertingkat. terus saja berjalan sampai lelahnya kaki tak peduli sampai mana nanti. begitu juga kemarin, kami pergi tanpa punya tujuan pasti. pokoknya selama masih ada jalan, ya kami telusuri.

perjalanan dimulai tidak jauh dari kawasan sekitar rumah, ada jalan menanjak separuh beraspal yang selama hampir delapan tahun di bandung belum pernah saya tapaki. diawal perjalanan kami sering berpapasan dengan banyak grup pesepeda lengkap dengan baju yang basah oleh peluh hasil mengayuh. menit menit selanjutnya perjalanan memang tidak semakin mulus, jalan menanjak berbatu dengan aspal mengelupas yang dilalui sangat tidak bersahabat dengan motor bebek yang kami kendarai. sesekali saya melompat turun dari motor demi keseimbangan tetap terjaga. (selalu) ada banyak hal tak terduga yang kami temui, bahkan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. segerombolan anak-anak lokal berlari kesana kemari, petani kentang, ratusan kilogram tomat cabai siap panen, tengkulak menghitung laba, lahan-lahan yang baru dibuka, bibit bibit yang siap disemai. potret masyarakat sederhana yang bisa ditemui tidak jauh dari mewahnya kehidupan kota. 

matahari semakin tinggi, saat kami berjalan pulang ke kota melewati jalan berbeda. tujuan kami selanjutnya adalah hutan kota babakan siliwangi. awalnya saya hanya ingin melihat kawasan yang beberapa waktu lalu sempat jadi sengketa antara masyarakat dan pemerintah kota. tapi beruntung karena ternyata disana sedang ada event tahunan (me)ngadu domba, ini pertama kalinya saya melihat acara adu domba, ratusan pria gagah berbaju hitam bertopi koboi, dengan rokok kretek dan domba-domba bertanduk besar kepunyaannya. saya berdecak kagum, tidak bisa mengira berapa harga setiap domba yang dipetarungkan disana, domba-domba itu diperlakukan dengan sangat istimewa dan hati-hati. sesekali empunya bersorak, ikut berjoget mengiringi, menyemangati seolah para domba itu punya naluri untuk mengerti.

 

tidak butuh waktu lama untuk membuat saya menyerah medengar suara tanduk tanduk besar itu beradu. dua pertandingan dan saya sudah ngilu. kebetulan mas ery punya janji bertemu kawan lama di taman ganesha, jadi tidak susah membuatnya beranjak memotret dari pinggir lapangan dan kembali menapaki tanah coklat babakan siliwangi. hutan kota babakan siliwangi adalah salah satu tempat terindah ditengah kota yang pernah saya temui, dengan banyak pohon beringin tua yang rimbun dan akar gantung yang eksotik, wajar saja jika petisi "save babakan siliwangi" waktu itu disuarakan lantang sekali, memang tidak bisa dibayangkan jika lahan hijau ini dibuka dijadikan mall atau bangunan tinggi lainnya demi memenuhi kepuasan sebagian kalangan.

ditaman ganesha kami bertemu kang niki, seorang berperawakan sedang, dengan gaya khas aktivis, menyandang ransel dan bersepatu lapangan. kang niki adalah penggiat kegiatan sosial dibidang anak-anak. punya satu komunitas belajar untuk anak-anak yang diberi nama rumah bintang, lokasi rumah bintang sendiri ada sekitar kawasan rawan banjir wastukencana, dimana anak-anak yang saya temui kemarin rata-rata sudah biasa bercerita ceria soal banjir yang kerap datang sebagai tamu rumahnya. kegiatan rumah bintang di taman ganesha kemarin cukup sederhana.. mengajak jalan-jalan, bercerita dengan tema, menggambar dan belajar dari alam, lalu diakhiri dengan botram, saling berbagi makan bekal bersama-sama. satu gerakan sosial sederhana yang nyata, yang harusnya bisa dilakukan oleh banyak anak muda yang (katanya) mencintai bangsa.


jadi jangan sering mengumpat penat kotamu. taukah kamu ada banyak hal sederhana yang luar biasa yang ditawarkan ditengah mewahnya kota(besar)mu ini? hal disekitarmu yang tidak membutuhkan banyak biaya untuk menikmatinya juga waktu lama dan jarak yang jauh untuk menemukannya. berjalanlah.. nikmati kotamu, toh semua hal sederhana bisa dinikmati dengan rasa luar biasa asal kamu peka :)

*cheers!
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS