menjahit mimpi

Wednesday, August 24

keinginan awalnya sederhana, sebagai karyawan yang punya jam kerja saklek senin sampai jumat dengan jenis pekerjaan yang sering bikin stressful saya pengen punya kegiatan yang bisa mencegah kebosanan, juga yang bisa menambah warna di rutinitas yang itu itu saja. berjejaring, berorganisasi dan bersosial itu pasti, berlibur dan ngebolang sudahlah tentu. tapi ada semacam kebutuhan lain, kebutuhan akan kegiatan yang melibatkan diri, usaha juga kemampuan saya sendiri. tentunya yang berdasarkan hobi, biar makin seneng melakukannya.

berhari-hari memfilter banyak ide di kepala memang gak mudah, yang bikin susah itu membedakan mana yang seimbang antara kebutuhan-keinginan dan mana yang hanya sekedar ide selewat. saya benar-benar memikirkan beberapa kemungkinan, dari mulai ingin kursus bahasa inggris atau bahasa asing lainnya, kursus membuat kue, kursus menjahit, mengembangbiakkan kucing ras bahkan sempet baca-baca tips dan trik sukses budidaya ikan cupang. hahaha.. pokoknya saya mencari kegiatan apapun yang kira-kira bisa bikin saya jadi ahli di bidang itu. pengennya sih bisa ambil banyak kegiatan sekaligus tapi dengan mempertimbangkan waktu dan juga biaya, akhirnya satu pilihan jatuh pada kursus menjahit. 

kenapa kursus menjahit, karna sejujurnya saya punya kekaguman yang luar biasa sama ibu. ibu bisa menjahit apa saja. hampir semua baju kerja saya dan baju main gendis, kebaya, juga seprei dan sarung bantal kursi tamu, kemarin bahkan ibu mengganti dengan menjahit sendiri kain kursi malas yang sudah usang. buat saya ibu adalah perempuan yang sangat menginspirasi. dengan berbekal inspirasi itu jadilah hari kemarin saya resmi mendaftar jadi siswa disalah satu tempat kursus menjahit. karena kepotong sama libur lebaran, jadinya saya baru mulai kursus awal september nanti, gak sabar! sepertinya menyenangkan ketika kita bisa menghasilkan sesuatu dari kebisaan kita sendiri. walaupun gak sedikit yang mengaggap aneh, karena memang menjahit sudah jauh dari kata populer.. kebanyakan orang lebih suka membeli daripada harus menunggu jahitan yang ngantri lama dengan hasil yang belum tentu memuaskan. ahh, apapun itu saya tetap ingin menjahit mimpi-mimpi saya dengan menjahit :)

*cheers!

bye bruno...

Tuesday, August 23



menulis blog ini seperti menghidupkan kembali kesedihan saya beberapa hari kemarin.  yeah, he's gone :( si puss yang bersama saya selama lebih dari enam tahun. i love him so much, bahkan bukan cuma saya, ibu, mbak, masdim dan semua orang yang pernah ketemu bruno pasti sayang dan pasti merasa kehilangan. bruno memang menggemaskan sekali, tubuhnya tambun, pipinya berisi, seperti menyalahi kodratnya sebagai kucing, bruno suka sekali sama sesuatu yang manis, gula atau coklat. tidak pernah rewel walau makanannya telat datang sampai berjam-jam, tidak pernah mencakar meski dimandikan dengan air dingin, bruno terlalu lembut, mungkin itu juga alasan kenapa bruno selalu pulang dengan membawa luka oleh-oleh berantem dengan kucing tetangga dan hampir selalu gagal menangkap belalang atau cicak buruannya. dia juga yang selalu menemani saya mulai dari nonton tv, sampai mengerjakan skripsi. bruno yang diam saja kalau saya ajak bercerita, yang selalu saya peluk dengan gemas dan yang selalu saya ganggu tidur pulasnya. bye bruno.. ahh, ternyata enam tahun itu sebentar sekali :(



rip bruno. we love you 

pilihan bekerja

Saturday, August 13

banyak orang bilang paling enak itu berwiraswasta, jadi pengusaha. bisa atur waktu kapan saja kita mau, bisa berpenghasilan dengan hanya bekerja dirumah, bisa mengatur diri kita sendiri tanpa harus ini dan itu, bisa liburan kapan saja tanpa khawatir kehabisan cuti, penghasilannya pun tidak terbatas, bisa meningkat tajam dalam satu dua bulan tanpa harus bikin surat pengajuan dengan birokrasi yang menjemukan dan masih banyak iming-iming lainnya. memang benar, tapi jadi pekerja kantoran juga tidak salah, itukan cuma soal pilihan. buat saya jadi pekerja kantoran tetep punya seni tersendiri, rutinitas pastilah membosankan, hidup dan berjalan di kanan kiri peraturan juga tak jarang membuat kita merasa "ditekan". tapi kalo pekerjaannya pas dan bikin enjoy? rasa senang dan ikhlas bekerjanya itu gak bisa dijelasin deh.  

kalau saya memang tipe orang yang harus diatur, saya harus punya rutinitas, kewajiban dan orang yang lebih tinggi untuk mengatur saya. kalo gak, hidup saya bakal berantakan banget. bisa tiap hari bangun siang, tiap minggu kelayapan, bahkan bisa traveling everytime sesuka hati saya. itu beneran bahaya :)) makanya saya lebih memilih jadi pekerja kantoran, karena bisa membuat hidup saya lebih teratur, terkendali dan pastinya jadi bisa belajar memanfaatkan waktu yang hampir setiap hari dihabiskan di kantor. mungkin semua hanya soal kebiasaan, saya tumbuh dan dibesarkan oleh keluarga pegawai, dimana bapak dan ibu sama-sama bekerja. jadi ada semacam rasa kagum ketika melihat ibu sukses mengurus kami sambil tetap menjalankan kewajiban kesekiannya sebagai pekerja kantoran. lalu dua kakak sayapun sama, mengikuti jejak bapak dan ibu, jadi gak salah kan kalo dari dulu cita-cita saya memang jadi pegawai di perusahaan A, B, C di instansi X, Y, Z sampe akhirnya nyangkut di ITB :p

jadi pekerja kantoran gak selamanya membosankan kok, ada banyak hal lain yang bisa dinikmati dengan menjadi pekerja kantoran, ada banyak pengalaman yang bisa ditemui hampir setiap harinya, ada banyak kebisaan-kebisaan baru yang belum pernah saya tau sebelumnya dan satu hal yang paling kerasa adalah serunya manajemen waktu. saya memang pekerja kantoran, tapi tetap punya waktu untuk ikut komunitas dan organisasi sana sini, bertraveling dan juga ngebolang kesana kemari tentunya dengan hasil jerih payah sendiri. banyak pengusaha dan wiraswasta sukses yang "katanya" punya banyak waktu dan uang, tapi pergi ke provinsi sebelahpun mereka tidak pernah. berliburpun mereka masih punya banyak pertimbangan ini dan itu. nah jadi disitulah seninya pekerja kantoran, gak mau kalah sama pengusaha dan wiraswasta yang konon punya waktu lebih fleksibel. mereka mungkin punya banyak waktu, tapi saya bisa memanfaatkan waktu.

sekarang, sabtu siang ini saya ada di kantor, sambil asik duduk bersila, membiarkan banyak penyanyi menari di telinga. overtime ditengah banyak orang yang menghabiskan waktu liburnya untuk berbelanja, bermanja diri dan juga mata menjelang lebaran tiba. saya malah lembur dan asik mengerjakan berbagai olahan data. saya menikmatinya? tentu saja.. karna bekerja itu berpahala. bekerja bisa membuat saya menemukan keluarga baru, bekerja bisa mengantar saya pergi bertraveling kemana saja, bekerja bisa menghasilkan pundi-pundi yang menjadikan saya mandiri :)


*cheers!
dari cubicle paling belakang Direktorat Kepegawaian ITB

balada berbagi dan liwet nasi

Thursday, August 11

waktu awal pindah ke bandung, saya gak pernah sekalipun membayangkan punya keluarga kedua atau kesekian, saat itu tujuan yang ada di kepala saya cuma kuliah, dapet nilai bagus, lulus lalu bekerja. yaaa.. agak eksis dikit dengan ikut aktif di himpunan lah. walaupun waktu itu gak banyak juga cita-cita saya disana, sekedar dapet lebih banyak temen dan lebih banyak pengalaman aja. tapi dua tahun menjabat sebagai sekretaris himpunan, berkali-kali bikin kegiatan disertai kalimat dangdut "susah senang kecewa bahagia dibagi bersama" akhirnya bikin saya bener ngerasain apa yang disebut keluarga kesekian, keluarga yang punya logo warna merah putih dan bersemboyan "ulu biung riung mungpulung" keluarga besar yang besaaaaarrr sekali. pokok dan intinya sih ngariung atau berkumpul. karna memang segitu lamanya kami-kami ini lulus dan bergelar alumni, tetep aja rajin maen dan ngumpul di kampus. buat kami yang alumni, kampus adalah tempat paling strategis nan murah untuk melepas penat menghibur diri. sekedar soan sama temen-temen, maen kartu sampe dikusi gak mutu. modal gehu pedas sama es teh manis saja.. obrolannya bisa sampe kemana-mana.

berawal dari obrolan ringan antar kami-kami, para alumni yang gak pernah ngerasa tua :p akhirnya IF peduli terbentuk. IF peduli sebenernya hanya punya cita-cita sederhana, yaitu siaga berbagi. karena kita gak pernah tau rencana tuhan.. kita gak pernah tau kapan musibah dan bencana datang. siaga berbagi itu artinya insyaallah kami siap dan sigap berbagi kapan saja. dalam berbagi, kami-kami gak selalu ngeluarin dana dalam jumlah besar kok, sering kami hanya bermodal ilmu, mengajar di panti asuhan, pernah juga bermodal tenaga dan jaringan, ngumpulin baju layak pakai buat disumbang ke korban bencana gempa jogja. waktu itu kami nekat rock n roll ke jogja dengan dua mobil pinjeman, pergi dari bandung.. numpang tidur di masjid, mampir ke posko deru UGM untuk menyerahkan bantuan, numpang mandi di kosan temen, makan dijalan, lalu pulang lagi. yang penting itukan niat dan semangat berbaginya, ya kan? nah malam minggu kemarin ceritanya IF peduli ngadain event lagi, namanya SABAR IF (Sahur Bareng IF) ini pertama kalinya kami mengadakan sahur bareng dan ternyata seru penuh haru.

i share

saya pernah menulis satu argumen bahwa jalanan adalah tempat paling adil. kemarin ketika sahur bareng, saya merasakan keadilannya. saya yakin kita semua tau, dijalanan ada banyak penghuni 24 jam yang menghabiskan hidup dijalanan sepanjang waktu setiap harinya. memulung, mengayuh becak, mendorong gerobak berisi harta rongsokan. tapi pernahkah kalian bertemu dan langsung memandang mata orang-orang itu? rasanya, luar biasa haru. mata-mata tua yang lelah, mata-mata tua yang seolah hampir tak punya mimpi lain selain melanjutkan hidup yang apa adanya itu. bahkan sisi humanis sayapun gak bisa ikut merasakan bagaimana rasanya tidur di dalam becak dengan menekuk semua badan dan diterobos angin dari berbagai sisi atau di depan kios yang tutup dengan beralas kardus dan berselimut kain lusuh setiap hari. ah.. mengharu biru rasanya. memang tidak banyak yang bisa kami bagi pagi itu. tapi setidaknya bisa jadi satu mimpi IF peduli, tahun depan.. kami harus melakukan ini lagi, dengan lebih banyak yang dibagi. amiiin. lalu sepanjang perjalanan pulang, kami yang ada di dalam mobil jadi hening. saling berjibaku dengan pikiran masing-masing. haru, mungkin juga malu, that's human.  

selesai ritual berbagi, kami semua yang tadinya dipecah kedalam beberapa team kembali ke kampus untuk sahur bareng yang sebenar benarnya. kalo yang ini, serunya beneran seru. bayangkan jumlah peserta liwetnya tiga puluhan orang.. sangat panjang dan rusuh! hahahaha.. ada yang belum pernah ngeliwet beramai-ramai beralas daun pisang? ah.. rugi, beneran deh nikmatnya gak ada dua. masakan yang dimasak sama chef juna dan marinka lewaaaaat! sampe pesen menu tambahan nasi goreng, telor dadar, mie dan capcay goreng, karna liwet yang cuma dua panci saya yakin banget gak bakal cukup memenuhi request lambung tiga puluh orang yang rata-rata anak kost. oyah, FYI kampus saya yang ada di daerah dago bandung ini kalo malem gak punya penerangan yang memadai. sengaja sih.. katanya biar mahasiswa gak pada betah ngumpul dan bikin keributan. tapi buat kami yang seperti itu bukan penghalang yang penting bisa dapet ijin membuat kerusuhan dari satpam.. berbekal lampu senter dan layar hape, ngeliwet nasi kali ini jalan teroooss! karena teorinya justru makin penuh derita makin kerasa hangatnya sebuah keluarga, ini dia mereka keluarga kesekian yang saya punya :)

ngeliwet dalam kegelapan, mirip-mirip sama konsep blind resto :p



*cheers!

diah dan sekolah(nya)

Monday, August 8


namanya diah ratna sari, dia baru resmi bergabung sebagai anggota baru keluarga beberapa minggu lalu dan sekarang tinggal bareng saya di rumah bandung. umurnya enam tahun lebih sedikit, sebelum pindah ke bandung, diah tinggal bersama orang tuanya di lampung. diah juga sempet ngerasain sekolah disana, walau cuma betah satu minggu, katanya karena selalu dimarahi ibu guru. kalau ditanya, dia akan menjawab dengan malu "gak pernah ngerjain pr" dan saya langsung tau kenapa bisa begitu. orang tua diah buta huruf, satu kakaknya pun sama, dua kakak lainnya bekerja sebagai tukang bangunan yang jarang pulang dan satu kakak perempuannya bekerja di pabrik kue di bandung, iya.. kakak perempuannya adalah si mbak yang tinggal bersama saya. jadi itulah yang membuat diah tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah, karena memang tidak ada yang bisa mengajarinya.

cerita punya cerita, akhirnya saya dan ibu sepakat untuk memindahkan diah ke bandung. maksudnya biar diah sekolah di bandung saja. minimal ada simbak dan saya yang bisa membantu dan mengajarinya. beberapa hari setelah diah sampai di bandung, saya ditugasi ibu untuk mencarikan sekolah. jadilah waktu itu hari sabtu, saya pergi ke sd negeri yang ada di dekat rumah untuk menghadap kepala sekolah dan mengurus segala macam keperluan pendaftarannya. lokasi sekolahnya memang hanya beberapa ratus meter saja dari rumah, kalau berjalan kaki paling hanya membutuhkan waktu sepuluh menit. ini pertama kalinya saya jadi wali murid, ternyata prosedurnya tidak sesulit yang saya bayangkan, hanya perlu mengisi formulir, lalu membeli seragam olahraga dan batik sekolah. keesokan harinya diah bisa langsung sekolah. wow..


kepala sekolah yang saya temui ramah sekali, berkulit putih dan sedikit tambun. beliau bercerita sedikit soal keluarganya, lalu soal sekolah kecil yang dipimpinnya dan tentang murid-muridnya. dari beliaulah saya tau kalau sd kecil ini punya banyak murid yang berasal dari jalanan yang usianya sudah menginjak delapan sembilan tahun tapi belum bisa membaca dan menulis. di sekolah ini hanya ada lima belas tenaga pengajar, itupun sebagian diantaranya hanya berstatus guru honorer. soal bentuk sekolahnya, hanya satu baris bangunan yang terdiri dari beberapa kelas, dengan lapangan bendera yang semennya tidak rata, lalu anak-anak berlarian ditengahnya mengejar bola, ada sepetak taman kecil yang tanamannya hijaupun tidak. juga kantin dari papan yang mencoba berdiri tegak menyandar didinding samping sekolah. semua serba seadanya. tapi saya yakin ada banyak mimpi luar biasa yang tergantung di langit-langit tua sekolah seadanya itu :)



*cheers!

lebaran sekarang

Wednesday, August 3


foto ini diambil tahun kemarin, waktu lebaran hari pertama dirumah eyang. rumah eyang ada di surabaya yang juga sebagai kampung halaman bapak dan ibu. di kota inilah dulu bapak dan ibu tumbuh besar, disini juga keluarga besar bapak ibu dan para sepupu saya berdomisili. ceritanya dulu bapak dan ibu memutuskan untuk merantau sampai jauh ke sumatra, sampai sekarang. maka jadilah surabaya sebagai kota tujuan mudik kami sekeluarga. memang tidak setiap tahun, biasanya dua tiga tahun sekali kalau bapak dan ibu sudah kangen sama keluarga besar dan kampung halamanannya. tuh kan, jadi sebenarnya saya memang turunan jawa asli. hanya saja saya lahir, tumbuh dan besar di lampung. jadi darah jawa yang tersisa di saya memang hanya tertinggal di nama :p

cerita soal tradisi mudik, yang namanya mudik emang gak ada yang gak cape, pasti cape, tapi pasti seru juga. apalagi kalo mudiknya sangat menjiwai, pake bagasi diatap mobil dengan plat nomer mobil yang jauh-jauhan dan bodi mobil yang dekil-dekilan. makin jauh dan makin dekil, bakal keliatan makin gagah. kalo mudik ya nyebrang dan ngelewatin kota-kota panas di sepanjang sepulau jawa, istilah kerennya hot trip. sepanjang jalan mudik itu juga gak kalah serunya. saya sebagai si bungsu yang dulu masih gak punya skill apa-apa pasti kebagian tempat duduk di paling belakang yang paling berguncang, hahaha. sepanjang jalan sambil cerita ini itu sama seisi mobil, sambil merhatiin pemudik lain, sambil mampir sana sini beli oleh-oleh, sambil macet-macetan juga. saya sampe udah pernah ngalamin macem-macem mudik. mulai dari naik transportasi umum, mudik pake mobil kecil, sampe mudik pake mobil keluarga yang diisi full. seru deh.. seru banget.

tapi lebaran sekarang sepertinya kami semua gak mudik ke surabaya. insyaallah tahun ini lebarannya di lampung. soalnya gendis lagi lincah-lincahnya saya gak kebayang di mobil sepanjang 20an jam ada balita yang sedang berada di fase aktif, FYI aja yah.. mudik taun kemaren gendis selalu tertarik liat persneling dan selalu ngotot masukin benda itu kemulutnya. kebayang sekarang dia ada didelapan level lebih aktif dari taun kemaren. plus mbak sari hamil (lagi) dan usia kehamilannya masih muda jadi tiap hari kena semacam morning sick, dimana semua orang yang deket sama dia bisa kena omel sepanjang hari. hahaha... jadi demi kenyamanan bersama, akhirnya tahun ini kami sepakat untuk gak mudik dulu. eh tapi sebenernya, mau lebaran di surabaya atau di lampung, saya tetap akan selalu mudik. karna saya menetap di bandung dan jauh dari keluarga. hmmmmh.. walaupun ini masih H minus 20an.. walaupun lebaran masih jauuuuuh tapi semangat saya untuk ketemu macet dan ngantri di pelabuhan udah ada dari sekarang nih :)


*cheers!

si behel pensiun

Tuesday, August 2

apa yang sudah melekat dalam diri dan jadi keseharian kita selama bertahun-tahun itu memang susah yah buat dilepasin gitu aja. saya juga gitu... sabtu besok saya mau melakukan ritual lepas behel. which is ini behel udah genep empat tahun bareng sama saya kemana-mana. sedih deh.. tapi saya gak bisa gak mau. karna dulu tujuan pasang behel kan untuk bikin gigi jadi rapih, sekarang udah rapih.. ya jadi memang sudah harus dicopot.

waaaahh, tapi rasanya memang berat banget, ngelepas apa yang udah jadi trademark keseharian saya. berjilbab, berbehel dan berkacamata. hahaha..jadi inget dulu waktu pertama kali pasang behel. penyiksaan demi penyiksaan harus dilewati, nahan rasa sakit berhari-hari, linu, ditambah musti makan segala macem dengan sangat pelan biar gak ada breket yang copot. bener-bener deh.. jadi siapa yang bilang pake behel gaya. sakit yang ada :p  

semenjak dokter memutuskan untuk mempensiunkan si behel. saya jadi sering banget liat orang-orang yang gak pake behel dan membayangkan saya jadi seperti itu. tapi tetep aja gak kebayang *nyengir* abis susah sihhh, udah jadi ciri khas bertahun-tahun. ah.. ya tapi akhirnya bye my behel. empat tahun sudah.. saatnya pensiun. makasih udah bikin gigi saya luar biasa rapih. magic! hahaha..


*cheers!
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS