geng cewek

Friday, July 29

meda, ajeng, rena, tehciw, butri, tehnenny

siapa bilang saya gak punya geng cewek. saya punya kok. liat tuh.. bajunya udah sama.. gayanya juga udah maksimal banget. hahaha. iyah.. ini geng saya di kantor. saya memang gak seruangan dan gak sedivisi sama mereka. meda, rena, tehciw, butri dan tehnenny ini ada dibagian keuangan yang kerjanya ngurusin gaji, rapel, insentif, uang ini dan itu. kalo gak ada mereka, seITB bisa gak gajian, ayo semua pegawai ITB yang baca blog ini jangan lupa bilang makasih sama mereka yaaa :) nah.. saya di geng ini adalah satu-satunya anak ilang alias anggota lintas ruangan lintas divisi. jenis pekerjaan kita yang beda jauh bikin saya dan mereka jarang banget bisa makan siang bareng. tapi biarpun jarang, saya seneng banget kalo bisa pas nemu waktu makan siang dan gosip bareng mereka.


*cheers!

menyebrang dulu dan sekarang

Tuesday, July 26

hampir setiap lebaran dan liburan selama enam tahun belakangan ini saya selalu menyebrang pulau untuk tradisi mudik dan pulang kerumah. bisa dibilang saya masih dan akan terus jadi pelanggan setia kapal ferry selat sunda. memang cukup mengherankan, ditengah jaman serba pesawat seperti sekarang ini saya masih saja doyan berlama-lama dijalan menggunakan angkutan darat dan laut. saking seringnya saya pulang menggunakan bus antar provinsi dan kapal ferry, semua pengalaman sepanjang perjalanan darat dan laut sudah pernah saya alami. yang terbaik dan yang terburuk bahkan yang paling buruk, sepertinya memang sudah. sayangnya menurut saya selama enam tahun kemarin nyaris tidak ada perubahan ke arah yang lebih baik. yang dulunya baik malah cenderung jadi kurang baik.. yang dulunya kurang baik, tetap saja begitu.

teman saya pernah berkicau di akun twitternya "kalau mau lihat ribuan truk berbaris, silahkan datang ke pelabuhan merak sekarang.." ribuan truk memang tidak pernah habis terparkir di pelabuhan merak selama bertahun-tahun. herannya, semakin lama antrian truk itu bukan semakin pendek, malah semakin panjang terus dan terus. perbaikan dermaga pasti dan selalu jadi alasan utama. selebihnya jalanan yang dilalui, sama.. dulu rusak, maka semua pengguna jalan harus lewat jalan alternatif yang memakan waktu lebih lama. ketika sudah dinyatakan baik.. tetap saja kualitas aspal hanya bertahan hitungan bulan. lalu rusak lagi, diperbaiki lagi, terus saja begitu seolah tidak pernah ada habisnya. usia armada penyebrangan yang sudah renta juga tak bisa dipisahkan dari alasan berbarisnya ribuan truk di pelabuhan merak dan bakauheni. apalagi soal kualitas dan fasilitas kapal.. masih teramat jauh dari kata juara.

dulu ketika bus masuk dan terparkir dilambung kapal setiap penumpang bebas memilih mau tetap ada didalam bus, atau turun ke deck kapal. kebanyakan penumpang akan memilih yang pertama, karena tidak ada yang bisa menjamin keamanan dan kenyamanan diatas kapal. di kabin juga deck kapal, kalau sudah begitu semua bus mau tidak mau harus tetap menyalakan ac dan mesin di dalam lambung kapal, walaupun sebenarnya tidak boleh. kejadian terbakarnya kapal ferry lautan teduh di selat sunda beberapa waktu lalu memang jadi pelajaran, walau hanya untuk sebagian kalangan. karna semenjak kejadian itu, pengamanan dna keselamatan penumpang selama menyebrang jadi lebih diperhatikan. beberapa waktu lalu ketika ada kesempatan pulang kerumah, saya mengalami pengamanan yang "diperketat" selama penyebrangan. ketika bus sudah masuk ke lambung kapal semua penumpang bus wajib naik ke atas deck kapal. yang jadi soal adalah fasilitas kapal yang sama sekali gak memadai. kabin untuk penumpang yang kecil benar-benar gak cukup menampung banyaknya penumpang. akhirnya koridor kapal jadi sasaran, penuh dengan gelimangan penumpang dan sopir truk yang ingin beristirahat. 

    cuma ada di indonesia

saya membayangkan lelahnya mereka yang melakukan perjalanan darat super jauh seperti bandung-medan, jakarta-aceh, atau surabaya-padang. jalanan rusak.. antrian panjang.. bonus fasilitas kapal tidak memadai, padahal katanya pembeli adalah raja. sudah beli tiket, harusnya dilayani dan difasilitasi dengan baik dong yah? harusnya.. ya memang hanya harusnya. dulu sekitar tahun 2005-2007, menyebrang selat sunda sering hanya satu setengah jam, perjalanan bandung-lampung bisa ditempuh kurang dari 10 jam, malah jika beruntung bisa hanya 8 jam saja. sekarang? beberapa minggu lalu terakhir saya pulang kerumah, total perjalanan yang saya tempuh nyaris 16 jam. yah.. menyebrang dulu dan sekarang memang jauh berbeda.


*cheers!

menjadi penulis

Tuesday, July 19

saya memang pernah dan masih punya cita-cita jadi seorang travel blogger, tapi dan tapi.. kadang kondisi hati gundah gulana plus gak-tiap-bulan-traveling bikin saya gak konsisten sama tulisan-tulisan saya di blog. kadang dalam beberapa kali posting saya hanya benar-benar nyampah tulisan hasil metamorgalau yang sebenernya sangat gak penting. kalo seperti kebanyakan orang yang punya lebih dari satu blog untuk tetap menjaga warna... saya gak bisa. satu blog aja gak saya update tiap hari. apalagi dua.. tiga.. belum lagi sign up di banyak jejaring jejaring sosial, bikin kegiatan menyampah semakin mudah sekaligus bikin semangat dan kreatifitas menulis saya menurun lumayan parah.

memang sih, untuk jadi seorang travel blogger gak harus traveling ke tempat jauh dan touristy. yang deket-deket aja, yang biasa-biasa aja asal kita bisa melihat dan menuliskan tempat yang kita kunjungi dari sisi yang tidak umum, pasti jadinya menarik juga, nah yang begitu itu yang susah. well.., memang pada akhirnya saya iri sama mereka-mereka yang menulis santai dan konsisten tanpa meninggalkan ciri khas dan warnanya. banyak yang bilang tulisan saya gak selugu dan sepolos dulu. ada yang bilang saya kehilangan konsistensi menulis. ihhh.. rasanya saya pengen bilang "gaya tulisan saya berubah seiring bertambahnya nilai-nilai kehidupan dalam diri saya.." lempar sendal

sejauh ini memang saya masih menulis untuk diri saya sendiri. belum ada asas MIND THE READER yang berlaku dalam kamus menulis saya. tapi terlepas dari itu semua, bener deh.. salah satu resolusi saya lima tahun kedepan adalah saya harus sudah menerbitkan buku. saya pengen banget jadi penulis walaupun saya gak punya dasar ilmu jurnalistik. saya sampe pernah niat banget nanya ke salah satu temen yang bekerja di sebuah publisher ternama. pas udah ketemu jawaban syarat sebuah tulisan yang layak diterbirtkan.. saya langsung semangat ngadep komputer, lima menit kemudian saya sadar kalo saya sebenernya bingung mau ngetik apa.

pastinya butuh usaha lebih keras untuk mewujudkan cita-cita yang baru nongol diusia yang tidak lagi muda, tapi kan bukan berarti gak bisa. pokoknya saya tetap ingin jadi travel blogger, saya tetap ingin berpergian meskipun saya berstatus karyawan dengan jatah cuti seadanya, atau bahkan nanti ketika saya sudah jadi ibu dari beberapa orang anak.. saya masih dan tetap ingin menikmati kota demi kota di seluruh belahan dunia lalu merekam semuanya dalam tulisan.

 
*cheers!

mencintai jalanan

Monday, July 18

"dijalanan, tak peduli siapa.. semua boleh saja" - gambar : link

menurut banyak teori, sebenarnya yang paling menarik di-se-isi dunia ini adalah manusia dan tingkah lakunya. kalau saya punya spesifikasi yang lebih mengerucut, buat saya manusia memang menarik, tapi yang paling menarik dari manusia itu adalah sisi jalanannya. hampir semua manusia pernah berpindah dari satu tempat ke tempat lain, ada yang hanya sesekali, ada yang hampir jadi rutinitas setiap hari. semua manusia pernah melalui proses berjalan dan dijalan. tapi hanya sedikit yang bisa menikmatinya.

untuk sebuah rutinitas, jalanan memang jadi tempat paling menjemukan. angkot ngetem, pengemudi motor sembarangan, tukang becak bikin macet, mobil pribadi bikin jalan makin penuh, bus kota yang mengeluarkan asap hitam, pedagang kaki lima menyumbang keruwetan, belum lagi soal panas matahari dan perannya sebagai pelengkap penderita. semua hal menyebalkan memang seolah bergabung jadi satu dijalanan.

semua perwakilan karakter manusia juga ada di jalanan. yang tidak sabar membunyikan klakson berkali-kali ada banyak sekali. yang hanya bisa pasrah geleng-geleng kepala juga sudah sering terlihat. jalanan adalah tempat bersatunya semua manusia dengan beragam profesi. pengusaha, pemulung, pengamen, pelajar, pencopet, pedagang asongan dan banyak lainnya. coba kalian ingat-ingat, dimana lagi tempat paling komplit dengan ragam karakter dan kedudukan selain dijalanan? jalanan memang tempat paling terbuka, tak peduli siapa, semua boleh saja ada disana.

nah menurut saya semua hal sederhana dan hal biasa yang ada di jalanan itu yang sangat menarik. kalau sedang bosan dirumah, saya beberapa kali bersepeda hingga larut.. atau sering mengendarai motor kesana kemari tanpa tujuan. aneh memang, tapi buat saya jalanan adalah tempat terbaik untuk bersyukur dan bercerita.  


*cheers!

gendis

Tuesday, July 12

 i love you baby Gendis :)

gendis sekarang udah satu setengah tahun. udah bisa macem-macem salah satu yang bikin kangen adalah cium bebek dan penggilannya untuk saya "tiya adek". yang lucu, dia sudah lancar menghitung satu sampai sepuluh, tapi setiap ditanya dengan akhiran kata "berapa?" jawabannya selalu "duaaaaa". gendis selalu bisa membuat suasana rumah makin hangat, penuh tawa dan bikin saya jadi homesick.


*cheers!

buka mata, braga 43

Thursday, July 7

mungkin saya seperti kebanyakan remaja perantau lainnya. berangkat dari kota kecil, merantau ke kota besar lalu akhirnya tidak mau kembali pulang. yang seperti saya ini memang umum terjadi, kalau ditanya kenapa, jawaban yang saya berikan sering hanya sekenanya. habis kalau mau dijawab serius, jawabannya akan panjang dan bijaksana sekali. hahaha.. ermm, eh tapi kali ini saya mau membagi satu dari sekian banyak alasan kenapa saya betah di bandung. 

kemarin sore ceritanya saya main sama kang doddy dan dudung. dua pria metal idealis yang sangat menghargai karya seni dan budaya ini mengajak saya ke suatu tempat di kawasan di pusat kota bandung, jalan braga, tentu tidak asing lagi namanya. kawasan yang sudah ada sejak jaman kolonial ini memang menjadi salah satu tempat yang paling ramai di kunjungi wisatawan, sekedar untuk foto dengan latar belakang bangunan tua atau hanya berjalan-jalan sore di sepanjang trotoar menikmati sedikit heritage yang masih tersisa di kota bandung.

kang dody si seniman yang juga aktivis lingkungan ini mengajak saya masuk ke sebuah galeri lukisan besar di jalan braga nomor 43. awalnya saya kira tempat ini hanya galeri lukisan biasa, yang biasa dimiliki oleh banyak seniman besar. sampai kang dody mengajak dudung dan saya makin masuk kedalam, menuruni satu persatu anak tangga. ternyata ada semacam basement yang sangat luas dibawah galeri lukisan. basement pertama untuk bengkel lukis juga tempat tinggal, basement kedua untuk ruang publik lengkap dengan ruang terbuka hijau. bahkan beberapa menit pertama saya masih gak percaya ada tempat sehangat ini ditengah kota besar yang kanan dan kirinya sudah dikelilingi bangunan beton bertingkat. semua yang ada di bangunan itu unik menurut saya. kamar-kamar tinggalnya, ruangan-ruangan yang berundak, bahkan toilet yang seperti kamar kos seharga 300 ribu perbulan, luas sekali.

    bale bambu dengan tiga pemusik tradisional

saya sedang menunggu dudung menyelesaikan ashar ketika melihat bale bambu yang didalamnya duduk beberapa orang sedang asik memainkan alat musik tradisional. alat musik yang saya sendiri baru pertama kali melihatnya. berbentuk tabung, seperti biola namun terbuat dari bambu, nada yang dihasilkan juga persis seperti nada biola, menyayat mendayu-dayu, diiringi petikan kecapi dan calepung yang dipukul kesana-kemari menyesuaikan irama. kolaborasi tiga alat musik itu menghasilkan nada yang unik namun tetap seirama. saya lalu ikut duduk dengan gembira disebelah mereka. memberondong banyak sekali pertanyaan ketika para pemusik itu berhenti sejenak untuk beristirahat. mereka memainkan lagu-lagu sunda dengan sangat indah dan dengan senang hati mencoba lagu surabaya ketika saya bercerita kepada mereka dari kota mana saya berasal.

 alat musik tradisional yang saya lupa namanya :p

gak hanya itu, salah satu ruang berukuran kurang lebih tiga kali lima meter yang ada braga 43 ini juga dijadikan ruang publik, siapa saja boleh memakai dan memfungsikannya sebagai tempat pertemuan, nonton bareng, rapat kecil-kecilan atau apapun. ketika saya disana kemarin,ruangan itu sudah penuh dengan pemuda, mahasiswa, pekerja yang sedang asik nonton bareng film dari national geographic tentang sebuah ekspedisi. saya semakin kagum dengan seniman pemilik tempat ini yang lagi-lagi saya lupa namanya. seorang bapak dengan tubuh tambun dan wajah yang penuh senyum. 

memang ada banyak hal yang menarik di kota ini dan tidak saya temukan di kota lain, termasuk di kota kelahiran saya. keramahan, keterbukaan pikiran, cita-cita, idealisme remaja dan anak muda, kepedulian masyarakat terhadap banyak hal, kreasi kreatifitas tanpa batas, penghargaan atas budaya, seni dan nilai-nilai tradisional yang mengagumkan. terlepas dari macet dan keruwetan khas kota besar, bandung memang punya daya tarik tersendiri. kita hanya tinggal membuka mata, banyak bertanya dan peka, lalu temukan banyak hal luar biasa yang bahkan tidak pernah kalian bayangkan sebelumnya :) 


*cheers!

i love monday

Monday, July 4

biar keliatan sibuk :p



19.50 @ Direktorat Kepegawaian ITB
Gedung CCAR Lantai. 3
Jalan Taman Sari No. 64 Bandung

ibu buat saya

bicara tentang ibu, rasanya hampir semua ibu di dunia ini luar biasa, menginspirasi juga mengagumkan, paling tidak dimata keluarga dan anak-anaknya. saya pun sama seperti kebanyakan anak di dunia ini, saya sangat mengagumi ibu. sosok termungil di keluarga yang sekarang usianya menginjak lima puluh sembilan taun namun tetap enerjik dan bersemangat. ibu buat saya adalah nyaris segalanya.

yang paling saya suka dari ibu adalah kemampuannya untuk membuat saya nyaman bercerita tentang apa saja. kalau pas ada ibu di bandung, saya mendadak gak doyan maen, gak doyan kumpul sama temen, gak doyan baca buku, gak doyan kerja walaupun alhamdulillah masih doyan terima gaji. saya langsung menjelma jadi ekor yang ngikutin kemana aja ibu pergi. ibu ke dapur, saya ikut. ibu jahit baju di ruang jahit, saya ikut. ibu tiduran di kamar, saya ikut untuk bercerita tentang apa saja. tentang teman, pekerjaan, organisasi, tentang mimpi dan cita-cita saya. kalau sudah habis ceritanya saya akan tetap mengekor kesana kemari, karna ada perasaan everything gonna be alright kalau deket ibu.

yang paling saya kagumi dari ibu adalah kreatifitas dan aktifitas yang seolah tanpa batas. ibu masih rajin banget bikinin saya baju kerja, hampir semua batik yang saya kenakan ke kantor asli buatan ibu. ibu masih sering menghias rumah dengan sarung bantal, taplak meja sulam buatannya sendiri. diusianya yang menjelang senja, ibu masih aktif mengajar. mengajar apa saja kepada siapa saja. ibu adalah guru di salah satu sekolah menengah atas di bandar lampung, ibu juga mengajar untuk ibu-ibu pengajian, arisan dan remaja masjid di daerah sekitar rumah. sekarang ibu makin aktif jadi volunteer mengajar bahasa inggris dan keterampilan di salah satu lembaga swadaya masyarakat.

dan yang paling menginspirasi dari sosok ibu, menurut saya adalah kemandiriannya yang luar biasa. ibu seolah bisa melakukan apapun sendiri. mungkin karna dulu sering ditinggal bapak bertugas ke luar kota, sampai sekarang ibu jadi terbiasa mengurus A-Z urusan rumah tangga seorang diri, ibu bekerja, melayani suami dan dengan sabar mengurus tiga anak yang sama sekali bukan penurut. ditambah saya dulu termasuk siswa "berprestasi" yang lumayan sering masuk daftar buku hitam. jadi ya.. gak sekali dua kali ibu mampir ke sekolah. sekedar untuk menjelaskan ke wali kelas kenapa saya bolos upacara 17 agustus dan kenapa saya rajin banget menghilang di jam pelajaran terakhir. saya gak pernah bosen minta maaf sama ibu untuk semua kenakalan remaja yang pernah saya lakukan. i am proud to be your daughter, mom :)



 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS