RIP my Berry

Tuesday, June 28

akhirnya ponsel pintar saya menemui batas usianya. setelah hampir setiap saat ngehang dan muncul error message setiap habis direstart, ditambah trackball yang susah digerakkan ke kanan dan kiri. semalem karna gaya tidur saya yang lincah banget, tanpa sengaja si blackberry terjun bebas dari tempat tidur lalu mati total. saya jadi sedikit menyesal, padahal sebelumnya saya sudah menyadari dan punya banyak firasat tentang umur si hape yang tidak akan panjang lagi, tapi ntah kenapa saya tidak pernah menyempatkan untuk membackup data-data yang ada. sayang sekali, ada catatan nomer telpon semua teman, rekening, alamat, lirik lagu, ada banyak catatan dan tulisan yang belum sempat saya publish, ahh.. tentunya juga ada banyak sekali kenangan didalam benda kecil itu. rest in peace my berry :) 


*cheers!

meransel

Tuesday, June 21

"setiap pergi meransel saya selalu tertarik dengan masyarakat lokal. karna menurut saya, mereka adalah kekayaan indonesia yang sesusungguhnya"


Desa Manggar, Belitong. Juni 2011

kolong belitung

Monday, June 20

"ternyata di belitung banyak tambak udang, warna airnya kebiruan dan bentuknya tak beraturan" adalah kesimpulan satu detik yang saya ambil ketika untuk pertama kalinya saya melihat belitung dari jendela pesawat yang mengudara diketinggian. detik berikutnya, saya sadar kalau kesimpulan itu salah besar. bukan, lubang menganga seperti kawah kecil gunung berapi itu memang bukan tambak udang, melainkan tambang timah tradisional yang dan sejak jaman kolonial sudah menjadi mata pencaharian sebagian besar penduduk belitung. saya memang pernah dengar belitung negeri seribu kolong timah.. tapi saya benar tidak menyangka akan ada banyak sekali lubang yang menganga di tanah belitung. saya tidak menyangka bahwa seribu itu ya benar seribu, bukan sekedar kalimat hiperbola.

kolong (tambang) timah

belitung dari udara bukanlah sebuah kota yang cantik. tanah di kota kecil ini seperti tak henti tereksploitasi oleh segala hal yang merusak bumi. belitung sendiri memang salah satu pulau penghasil timah terbesar di indonesia. menurut tia, seorang teman baik yang berpuluh tahun tinggal di pulau bangka, sebenarnya dulu menambang timah tidak boleh sembarangan. harus punya standar operasional juga prosedur yang sesuai, harus punya surat izin penambangan dan lain sebagainya. namun ada peraturan yang akhirnya melegalkan adanya tambang rakyat, dalam istilah profesionalnya disebut tambang inkonvesional. mungkin pelegalan ini yang jadi pemicu terciptanya kolong-kolong timah baru. masyarakat lokal beramai-ramai menambang timah, lalu ketika sudah selesai dieksploitasi, dibiarkan begitu saja tanpa direklamasi atau dihijaukan kembali  

yang tereksploitasi

meskipun tambang inkonvensional dewasa ini sudah kembali diilegalkan, namun dalam hal apapun akan selalu ada yang gelap-gelap yang terus bergerilya di indonesia ini. asal uang cukup asal backing kuat, sudah jadi rahasia umum kan? mirisnya lagi, berapa banyak masyarakat atau lembaga yang sadar akan kondisi ini? kalaupun ada, pastilah mereka hanya kaum minoritas yang bersuarapun tak terdengar lantangnya. ahhhh.. nanti bila pohon terakhir telah di tebang, bila sungai terakhir telah mengering. bila ikan terakhir telah mati, manusia baru akan sadar bahwa uang tidak bisa dimakan.


negeri laskar pelangi

Wednesday, June 15

"jangan tanya bagaimana caranya saya bisa sampai ke kota kecil ini. karna hampir sama dengan teori jodoh, teori rejeki backpacker-pun emang gak bakal kemana dan selalu ada aja jalannya"

jadi mari kita mulai ceritanya dari naik pesawat menuju bandara hanandjoeddin, tanjung pandan. ermm.., masih sama dengan cerita yang lalu, kali inipun saya masih takut terbang. bisa dipastikan selama take off saya pucat pasi, selama terbang saya tegang dan ketika landing saya berdoa apa saja yang saya hafal untuk sekedar menenangkan hati. menurut saya, tidak ada yang lebih buruk daripada penerbangan domestik dengan pesawat yang kapasitasnya gak jauh beda sama bus antar kota antar provinsi. tapi bagaimanapun saya bersyukur karna penerbangan hanya 45 menit, kalo lebih dari itu kayanya kantung airsick yang ada di pesawat sriwijaya saya borong semua. sayangnya pemandangan yang dilihat dari atas kota tanjung pandan tidaklah menarik, lubang-lubang bekas penambangan timah tradisional menganga disana-sini. seperti luka yang tidak akan pernah sembuh.

partner in crime saya kali ini kak ade dan dine, calon pengantin yang sedang amat berbahagia, juga kak romdhi, si fotografer profesional yang udah beberapa kali meransel bersama saya sejak duduk di bangku sekolah dulu. kak ade adalah orang paling bertanggung jawab atas terbangnya saya sampai belitung, negeri dengan sejuta pesona pantai. dan tanjung kelayang adalah pantai pertama yang menjadi saksi saya melupakan sneakers, lalu dengan khilaf meninggalkan sendal jepit *trus ilang* dan berlarian kesana kemari tanpa alas kaki. benar-benar seperti anak nelayan yang sudah bertahun-tahun merantau ke uganda. abis pasirnya putih dan halus banget, air pantainya bening berwana hijau turquoise, belum lagi batu-batu granit besar di pinggir pantai, bahkan ada juga yang sampai bertumpuk membentuk pulau ditengah laut.

calon pengantin dan fotografernya

dari tanjung kelayang kami menyebrang ke pulau langkuas dengan menyewa perahu dari dua orang lokal yang ramah dan senang becerita. sepanjang penyebrangan menuju pulau langkuas dua nelayan ini tak segan berbagi cerita tentang pesona belitung. dari keceriaan nada bicaranya saya bisa memastikan kalau dua orang lokal ini sangat bangga dan cinta dengan tanah kelahirannya. jika saya putra asli belitung, saya mungkin akan merasakan hal yang sama. oiyah, pulau lengkuas terkenal dengan lokasi snorkeling dan mercusuar serta bekas penjara yang sudah ada sejak jaman belanda. sayangnya ketika sampai di pulau lengkuas, kami menghadapi kenyataan pahit sebagai masyarakat biasa. karna akan ada pejabat tinggi yang ingin mengunjungi pulau lengkuas jadi menara mercusuar ditutup untuk sementara waktu dengan alasan untuk menjaga kebersihan. tapi, bukan kami namanya kalau menyerah begitu saja.. dengan sedikit negosiasi, senyum manis dan mengamini beberapa syarat dari penjaga, akhirnya saya, dine, kak ade dan kak romdhi berhasil mendapatkan ijin untuk bisa naik mercusuar *yeay!*

mercusuar dan foto yang diambil dari puncaknya

ternyata menaiki menara mercusuar setinggi 20 lantai tanpa lift itu bukan sesuatu yang indah dan pantas dikenang. itu sih nyiksa luar biasa, tapi paling kasian sama dine. dine itu tipe cewe yang cewe banget.. cantik, putih dengan rambut panjang dan gerakan yang selalu gemulai. mana tujuan dia naik mercusuar ini kan buat dapetin foto prewedding yang aduhai. sebuah pengorbanan yang pantas diapresiasi. kalo saya, kak ade dan kak romdhi sih udah teruji anti karat dan tahan disegala cuaca dari jaman sma. hahaha.. untungnya jerih payah kami menaiki ratusan tangga sampai ke puncak mercusuar langsung dibayar lunas dengan pemandangan dari atas mercusuar yang subhanallah sekali. saya gak berhenti berdecak kagum, si fotografer-pun sepertinya puas banget bisa ngambil gambar dari dan diatas mercusuar dengan kamera profesionalnya. ah.. memang luar biasa. setelah cukup mengistirahatkan betis hasil naik ratusan anak tangga, kamipun turun dan lanjut snorkeling. saya yang punya bakat satu dua sama penyu dalam hal nyelem di aer jelas girang setengah mati. eh tapi sempet keki karna liat nelayan yang mengemudi perahu kami dengan leluasa terjun ke laut tanpa pelampung, kaki katak dan snorkle. sementara saya yang pake perlengkapan lengkap snorkeling aja masi butuh tenaga dan usaha ekstra biar gak kebawa sama arus air laut sampe selat sunda.

puas menantang matahari laut dengan ber-snorkeling, kami melanjutkan penyebrangan ke pulau babi, pulau burung dan beberapa pulau lagi yang saya lupa namanya. semua punya karakteristik yang hampir sama, pasir yang putih juga bebatuan besar yang menambah kesan eksotis. tapi ada satu pulau yang paling menarik perhatian saya, namanya pulau pasir, isinya benar-benar hanya pasir tok tanpa pohon atau ornamen-ornamen khas pantai lainnya, luasnya juga tak lebih dari empat kali tiga meter jika air pasang. konon katanya pulau itu adalah tempat bertemunya arus pantai yang membawa pasir laut. jadi pasir di pulau itu tak akan pernah habis, akan datang dan datang lagi meski ribuan kali tersapu ombak. pulau pasir juga pulau yang terkenal dengan bintang laut berwarna kemerahan segede wajan. pokoknya gedeeee dan cantik banget. bintang laut ini dengan mudah ditemukan disekeliling pulau pasir. kalau diperhatikan, jadi seperti bunga laut. warnanya berbias merah dan hijau turquoise dari air laut. cantik sekali.
 
si cantik penghuni pulau pasir

hari masih siang ketika perahu bersandar lagi di tanjung kelayang. masih ada satu pantai lagi yang wajib kami kunjungi. pantai yang terkenal dengan sejarah cerita laskar pelangi, pantai tanjung tinggi namanya. tapi sepertinya lambung sudah tak bisa lagi kompromi dan harus segera diisi. kami mampir ke sebuah rumah makan sederhana di pinggir pantai dengan khilaf memesan ini dan itu. hebatnya, menu pesanan kami benar-benar fresh form the sea! si pemilik rumah makan sampai naik perahu kecil ke tengah laut untuk mengambil kepiting dan ikan-ikan hasil tangkapan dengan caranya yang masih sangat tradisional. penampilan rumah makan yang satu ini boleh saja tidak meyakinkan. tapi apa yang dimasaknya benar-benar bikin perjalanan meransel saya ke belitung semakin komplit sempurna.

  enak, nikmat, maknyus, ntah apa lagi istilahnya

*cheers!

snorkeling bikin keling

Monday, June 13


pesan moral : snorkeling yang baru dimulai jam sebelas siang itu bukan ide bagus


*cheers!

jogja entah yang keberapa

Tuesday, June 7

selamat pagi, selamat hari selasa dan selamat kembali tenggelam dalam rutinitas karyawan teladan :)

kenapa baru selasa, karna senin kemarin otak saya masih sangat lambat untuk diajak merangkai kata jadi kalimat, biasalah.. efek kelamaan libur. oyah, jadi kemana saja kalian selama liburan yang hanya empat hari kemarin? banyak cerita dari kanan kiri yang saya dapat dari serunya liburan ala teman-teman. semua punya versi dan keseruan masing-masing ada yang touring keluar kota, yang bersepeda setiap pagi, yang nongkrong sana sini sampai ada yang menghabiskan liburan dengan memikirkan bagaimana caranya dateng ke resepsi mantan tanpa ada perasaan tertekan. hahaha.. kalau saya alhamdulillah dapet kesempatan liburan bareng bapak ibu mengunjungi panasnya yogyakarta.

yogyakarta memang seperti kota wajib kunjung buat saya. dari tahun 2004, setiap tahun sampai tahun 2011 saya belum pernah absen mengunjungi kota kental budaya ini. kadang setaun sekali, pernah sampai setahun empat kali kunjungan. kali ini bersama ibu, bapak juga om riyanto saya main ke dusun krebet, bantul, yogyakarta. om riyanto itu temannya ibu, beliau memang asli jogja, beliau juga seorang eksportir berbagai macam kerajinan yogyakarta. negara tujuannya dari malaysia sampai amerika. dusun krebet adalah yang hampir semua penduduknya berprofesi sebagai pengrajin batik kayu, membatik dengan media kayu. saya mengunjungi satu rumah produksi yang sepertinya milik seorang bos besar teman baik om riyanto. sekitar tiga puluh karyawan bekerja sesuai tugas dan fungsinya di rumah itu. ada yang membatik, ada yang bertugas mewarnai, ada yang memahat kayu, bahkan ada beberapa diantaranya mahasiswa institut kesenian yang sedang magang.

sayangnya, seperti kerajinan khas indonesia di berbagai daerah pada umumnya, industri kerajinan yang satu inipun luput dari perhatian pemerintah. akses jalan menuju desa krebet yang rusak parah, kehidupan penduduk sekitarnya juga masih didominasi oleh masyarakat miskin. kalau om riyanto bilang, industri ini baru merangkak lagi setelah moneter yang melanda indonesia beberapa tahun lalu. banyak yang bertahan dengan mengencangkan ikat pinggang produksi, tapi banyak juga yang gulung tikar karna tak punya apa-apa lagi. masih kata om riyanto, apresiasi terhadap budaya dan kerajinan khas indonesia justru banyak datang dari orang asing, sementara masyarakat asli seperti lebih sulit untuk menerima dan melestarikan budayanya sendiri. ah.. mudah-mudahan saja industri ini tak lantas menyerah termakan modernisasi budaya. 

setelah puas mengunjungi dusun krebet, saya dan ibu gak lupa melakukan ritual wajib di jogja yaitu seru-seruan di pasar batik bringhardjo. wah yang ini sih seru banget.. udara yang panas menyengat berkolaborasi dengan pasar sempit yang penuh wisatawan, dan batik batik yang dipajang seolah memanggil untuk ditawar. tips n trik belanja di pasar bringhardjo adalah : belajar bahasa jawa dan tawarlah harga setega anda.. hahahaha. biasanya saya ke bringhardjo sama sahabat saya dudunk yang alhamdulillah enam tahun di jogja jadi fasih berbahasa jawa. tapi kali ini saya jauh lebih beruntung karna belanja bareng ibu, masternya jawa kromo ditambah sudah banyak makan asam garam dalam hal tawar menawar di pasar tradisional. hahaha.. jadi inti dari liburan ini saya khilaf. ibu lebih khilaf.. bapak sih biasa aja. setiap waktu kewajibannya hanya mengantar, memastikan anak istrinya aman terkendali :p

tidak sampai dua kali dua puluh empat jam saya di jogja, saya memang tidak pernah sampai berhari-hari kalau berkunjung ke kota ini. tapi alhamdulillah selalu puas.. puas main, puas belanja, puas ngabisin gaji sebulan, puas menghitamkan diri, puas kuliner murah, puas menjelajah, kali ini saya juga puas berjalan kaki siang bolong dari malioboro ke pabrik bakpia dua lima yang jaraknya ntah berapa kilometer. HOT TRIP banget pokoknya. bye jogja, see you again!


dua puluh dua

Wednesday, June 1

tepatnya 27 juni 2005, pertama kalinya saya memberanikan diri mendonor darah. dengan alasan simple, saya masih mahasiswa, belum punya cukup uang, ide juga kreatifitas untuk bantu sesama dan bikin pahala. jadilah yang saya ingat waktu itu saya pergi menyambangi markas palang merah indonesia seorang diri untuk nyetor nyali. satu dua tiga kali sampai sekarang, sudah enam tahun saya jadi pelanggan setia markas palang merah bandung. dari donor yang pertama sampai terakhir yang ke dua puluh dua, rasanya ditusuk jarum masih tetap sama : sakit dan itu absolut. satu-satunya yang mengobati rasa sakit itu adalah ketika kita melihat kantung darah yang berasal dari tubuh kita terisi penuh siap untuk dibawa dan dibagi ntah kemana dan kepada siapa :)

maaf jarumnya gak di sensor :p

*give blood give live
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS