tongkang derita

7:46:00 am

setelah menunggu kurang lebih satu jam (lagi) di pelabuhan muara angke, akhirnya kapal kedua kami datang. nama kapalnya anterja, dengan pak teguh sebagai pemiliknya. pak teguh ini tokoh lokal dengan gaya interlokal, tidak seperti kebanyakan "anak pantai" lainnya, pak teguh dengan gaya yakin, sepatu aladin dan kemeja licin sukses membuat kami terpesona. kami mengenang pak teguh sebagai salah satu tokoh yang paling berjasa dalam menyelamatkan liburan kali ini karena akhirnya kami bisa naik kapal tongkang miliknya dengan lega dan sangat gembira, duduk di dek atas baris paling depan, sudah siap tempur, sudah minum obat anti mabuk perjalanan, life jacket sudah terpasang di badan. pokoknya siap berlayar mengarungi lautan.

sejam pertama, kami berdelapan masih duduk tegak dan cengar cengir girang, masih sempet ngomentarin orang, masih bisa update status di twitter. sejam berikutnya satu persatu personil tumbang. markuy adalah yang paling pertama tidur dengan ikhlas, disusul andris, bardjo yang sampe keukeuh gak mau bangun sebelum kapal merapat ke dermaga, sementara abud bertahan duduk dengan wajah pucat pasi dan berry mencari solusi cari bahan cerita dengan mengajak bicara sang nahkoda walaupun dalam hitungan menit tumbang juga. laut siang itu memang menegangkan. hujan disertai gelombang tinggi tanpa henti menerjang kapal tongkang yang kami tumpangi, memberikan efek naik turun persis seperti wahana kora-kora di dunia fantasi ancol.

memang cuaca tak bisa diduga, tapi kalau begini caranya kami urung sombong ingin ke karimun jawa. dua jam saja sudah luar biasa derita, apalagi harus enam-delapan jam. ditambah nahkoda kapal dengan wajah biasa-biasa saja, sambil mengangkat sebelah kaki plus mengutak atik ponsel, sementara kapal sudah miring kanan kiri dengan brutalnya. kabin penumpang sudah penuh dengan semerbak minyak oles penahan gejolak lambung. semua memang nyaris pasrah dan menyerah, termasuk saya. ini jauh lebih buruk dari perkiraan kami semua. sungguh minta ampun tersiksanya.

satu jam pertama

satu jam berikutnya

tapi alhamdulillah, akhirnya kami lulus melewati dua setengah jam perjalanan laut penuh derita. rasanya ketemu daratan tuh campur aduk, ya lega, ya lelah, ya laper, ya macem-macem lainnya. saya langsung mencari pak amsir, orang lokal yang jasanya saya pakai untuk mengorganisir liburan kali ini. dengan cepat kami diantar mengambil sepeda lalu bersepeda dari dermaga ke sebuah rumah pinggir pantai tempat kami menginap. makan siang sudah tersaji, bahagia banget rasanya meski tidak boleh lama, karna kami memburu waktu untuk snorkeling sebelum senja tiba.

*cheers!

You Might Also Like

0 comments