rencana dan kejutan

8:51:00 am

sabtu pukul dua dini hari. setelah koordinasi kanan kiri selama beberapa hari sebelumnya, akhirnya kami berangkat berlibur menantang panasnya pantai tidung di kepulauan seribu, jakarta. kami adalah saya dan geng miyako plus plus yang terdiri dari tujuh makhluk unpredictable dengan tingkat kecerdasan diatas rata-rata. EXCITED! karena ini adalah liburan dengan jumlah personil terbanyak dan terlengkap yang pernah saya jalani. ceritanya setelah sowan sama jalan tol bandung-jakarta, kami langsung menuju kawasan cawang untuk sholat subuh sekaligus mengangkut duo berry dini, lalu lanjut menuju muara angke dengan bermodal gps.

muara angke adalah pelabuhan dengan predikat terburuk yang pernah saya lihat. buruk sekali sampai tidak ada yang bisa dibilang "lumayan" disana. puluhan preman, bau khas ikan, sampah, air muara yang berwarna hitam, kapal-kapal nelayan yang tidak layak jalan. di pelabuhan, kami bertemu mas enjen, pemuda lokal yang bertugas memandu kami menuju salah satu kapal tongkang yang akan mengantar menyeberang laut jakarta menuju pulau tidung. nama kapalnya raksasa, dengan awak yang cekatan, life jacket yang tersusun rapi dan siap dikenakan selama kurang lebih dua setengah jam pelayaran. kapasitas kapal tongkang sekitar seratus duapuluhan penumpang dengan fasilitas duduk lesehan sambil melipat kaki (baca : penuh sesak)

setelah melakukan prosedur syarat mengisi data manifest penumpang, akhirnya kami mulai meninggalkan angke sekitar pukul delapan pagi. tapi pelabuhan muara angke belum sepenuhnya hilang dari pandangan ketika satu speed boat berlogo kementrian mengikuti dari belakang lalu melakukan komunikasi dengan nahkoda dan awak dengan bahasa yang tidak saya mengerti sepenuhnya. tidak perlu menunggu lama, kapal dihentikan.. mesin kapal dipaksa mati, selanjutnya kapal tongkang kami harus bersandar di satu kapal besar milik polisi air setempat. feeling saya mulai gak enak, karena lebih dari setengah jam kami hanya terapung ditengah laut tanpa kepastian kapan bisa berangkat. 

sudah lama menunggu, mesin kapal dinyalakan. kami lega.. tapi ternyata kapal kami berputar. ya.. berputar seratus delapan puluh derajat. kapal kami kembali menuju pelabuhan muara angke dengan dikawal dua kapal polisi air. sampai pelabuhan muara angke, kami diturunkan, lalu kapal tongkang dibawa ke tanjung priok untuk melanjutkan proses hukum. sempurnanya lagi, kami diturunkan tanpa ada solusi dan kapal pengganti. $#%$%$^#*&!! ini pertama kalinya dalam liburan saya pengen banget ngajak berantem orang. sama sekali gak lucu, orang yang pengen saya damprat bukan pemilik dan awak kapal, melainkan oknum berseragam kementrian dengan tampang songong minta ditenggelemin ke muara. 

pertama, mereka itu aparat keamanan laut. oke sesuai prosedur, mereka benar, memproses kapal yang tidak punya kelengkapan berlayar. tapi apa iya ratusan penumpang didalamnya harus ikut merasakan masalahnya? kalau memang iya, apa mereka gak bisa kasih solusi dengan mencarikan kapal pengganti. kedua, kenapa mereka harus memeriksa kapal dengan tampang super ngeselin? emang dosa kalo sambil senyum ramah ke penumpang dan menjelaskan kenapa kapal yang kami tumpangi ditahan? jangan seolah kami ini ratusan tersangka yang siap dibui. ketiga, kalau emang mereka niat menjalankan tugas dengan baik, kenapa pemeriksaan kelengkapan gak dilakukan dari sebelum kapal berangkat? toh ketika kapal kami menaikkan jangkar, ada beberapa petugas berseragam juga yang ikut mengawasi. 

ah pokoknya mood kami berdelapan sukses diacak acak bahkan jauh sebelum kami sampai di tempat tujuan. bayangan snorkeling dan lari-lari girang dipantai mendadak buram nyaris diambang gagal. tapi.. percaya sama saya, semua kejadian buruk diluar rencana itu gak jadi kerasa kalau kita pergi dengan orang yang tepat. yes! sama tepatnya dengan saya yang pergi dengan miyako geng plus plus kali ini. semua tragedi diluar rencana itu langsung sirna dengan menyeduh mie, menyantap ketoprak dan cengar cengir bego dipinggir kali angke yang hitam. semua kejutan, segala yang diluar rencana, terjadi hanya atas ijin yang kuasa. kita bisa apa selain mencari sisi lain nikmatnya. itu salah satu seni berlibur dan berteman bukan? apapun yang terjadi, kami tetap senang dan pantang pulang!



*cheers!

You Might Also Like

0 comments