balada berbagi dan liwet nasi

Thursday, August 11

waktu awal pindah ke bandung, saya gak pernah sekalipun membayangkan punya keluarga kedua atau kesekian, saat itu tujuan yang ada di kepala saya cuma kuliah, dapet nilai bagus, lulus lalu bekerja. yaaa.. agak eksis dikit dengan ikut aktif di himpunan lah. walaupun waktu itu gak banyak juga cita-cita saya disana, sekedar dapet lebih banyak temen dan lebih banyak pengalaman aja. tapi dua tahun menjabat sebagai sekretaris himpunan, berkali-kali bikin kegiatan disertai kalimat dangdut "susah senang kecewa bahagia dibagi bersama" akhirnya bikin saya bener ngerasain apa yang disebut keluarga kesekian, keluarga yang punya logo warna merah putih dan bersemboyan "ulu biung riung mungpulung" keluarga besar yang besaaaaarrr sekali. pokok dan intinya sih ngariung atau berkumpul. karna memang segitu lamanya kami-kami ini lulus dan bergelar alumni, tetep aja rajin maen dan ngumpul di kampus. buat kami yang alumni, kampus adalah tempat paling strategis nan murah untuk melepas penat menghibur diri. sekedar soan sama temen-temen, maen kartu sampe dikusi gak mutu. modal gehu pedas sama es teh manis saja.. obrolannya bisa sampe kemana-mana.

berawal dari obrolan ringan antar kami-kami, para alumni yang gak pernah ngerasa tua :p akhirnya IF peduli terbentuk. IF peduli sebenernya hanya punya cita-cita sederhana, yaitu siaga berbagi. karena kita gak pernah tau rencana tuhan.. kita gak pernah tau kapan musibah dan bencana datang. siaga berbagi itu artinya insyaallah kami siap dan sigap berbagi kapan saja. dalam berbagi, kami-kami gak selalu ngeluarin dana dalam jumlah besar kok, sering kami hanya bermodal ilmu, mengajar di panti asuhan, pernah juga bermodal tenaga dan jaringan, ngumpulin baju layak pakai buat disumbang ke korban bencana gempa jogja. waktu itu kami nekat rock n roll ke jogja dengan dua mobil pinjeman, pergi dari bandung.. numpang tidur di masjid, mampir ke posko deru UGM untuk menyerahkan bantuan, numpang mandi di kosan temen, makan dijalan, lalu pulang lagi. yang penting itukan niat dan semangat berbaginya, ya kan? nah malam minggu kemarin ceritanya IF peduli ngadain event lagi, namanya SABAR IF (Sahur Bareng IF) ini pertama kalinya kami mengadakan sahur bareng dan ternyata seru penuh haru.

i share

saya pernah menulis satu argumen bahwa jalanan adalah tempat paling adil. kemarin ketika sahur bareng, saya merasakan keadilannya. saya yakin kita semua tau, dijalanan ada banyak penghuni 24 jam yang menghabiskan hidup dijalanan sepanjang waktu setiap harinya. memulung, mengayuh becak, mendorong gerobak berisi harta rongsokan. tapi pernahkah kalian bertemu dan langsung memandang mata orang-orang itu? rasanya, luar biasa haru. mata-mata tua yang lelah, mata-mata tua yang seolah hampir tak punya mimpi lain selain melanjutkan hidup yang apa adanya itu. bahkan sisi humanis sayapun gak bisa ikut merasakan bagaimana rasanya tidur di dalam becak dengan menekuk semua badan dan diterobos angin dari berbagai sisi atau di depan kios yang tutup dengan beralas kardus dan berselimut kain lusuh setiap hari. ah.. mengharu biru rasanya. memang tidak banyak yang bisa kami bagi pagi itu. tapi setidaknya bisa jadi satu mimpi IF peduli, tahun depan.. kami harus melakukan ini lagi, dengan lebih banyak yang dibagi. amiiin. lalu sepanjang perjalanan pulang, kami yang ada di dalam mobil jadi hening. saling berjibaku dengan pikiran masing-masing. haru, mungkin juga malu, that's human.  

selesai ritual berbagi, kami semua yang tadinya dipecah kedalam beberapa team kembali ke kampus untuk sahur bareng yang sebenar benarnya. kalo yang ini, serunya beneran seru. bayangkan jumlah peserta liwetnya tiga puluhan orang.. sangat panjang dan rusuh! hahahaha.. ada yang belum pernah ngeliwet beramai-ramai beralas daun pisang? ah.. rugi, beneran deh nikmatnya gak ada dua. masakan yang dimasak sama chef juna dan marinka lewaaaaat! sampe pesen menu tambahan nasi goreng, telor dadar, mie dan capcay goreng, karna liwet yang cuma dua panci saya yakin banget gak bakal cukup memenuhi request lambung tiga puluh orang yang rata-rata anak kost. oyah, FYI kampus saya yang ada di daerah dago bandung ini kalo malem gak punya penerangan yang memadai. sengaja sih.. katanya biar mahasiswa gak pada betah ngumpul dan bikin keributan. tapi buat kami yang seperti itu bukan penghalang yang penting bisa dapet ijin membuat kerusuhan dari satpam.. berbekal lampu senter dan layar hape, ngeliwet nasi kali ini jalan teroooss! karena teorinya justru makin penuh derita makin kerasa hangatnya sebuah keluarga, ini dia mereka keluarga kesekian yang saya punya :)

ngeliwet dalam kegelapan, mirip-mirip sama konsep blind resto :p



*cheers!

No comments:

Post a Comment

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS