diah dan sekolah(nya)

Monday, August 8


namanya diah ratna sari, dia baru resmi bergabung sebagai anggota baru keluarga beberapa minggu lalu dan sekarang tinggal bareng saya di rumah bandung. umurnya enam tahun lebih sedikit, sebelum pindah ke bandung, diah tinggal bersama orang tuanya di lampung. diah juga sempet ngerasain sekolah disana, walau cuma betah satu minggu, katanya karena selalu dimarahi ibu guru. kalau ditanya, dia akan menjawab dengan malu "gak pernah ngerjain pr" dan saya langsung tau kenapa bisa begitu. orang tua diah buta huruf, satu kakaknya pun sama, dua kakak lainnya bekerja sebagai tukang bangunan yang jarang pulang dan satu kakak perempuannya bekerja di pabrik kue di bandung, iya.. kakak perempuannya adalah si mbak yang tinggal bersama saya. jadi itulah yang membuat diah tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah, karena memang tidak ada yang bisa mengajarinya.

cerita punya cerita, akhirnya saya dan ibu sepakat untuk memindahkan diah ke bandung. maksudnya biar diah sekolah di bandung saja. minimal ada simbak dan saya yang bisa membantu dan mengajarinya. beberapa hari setelah diah sampai di bandung, saya ditugasi ibu untuk mencarikan sekolah. jadilah waktu itu hari sabtu, saya pergi ke sd negeri yang ada di dekat rumah untuk menghadap kepala sekolah dan mengurus segala macam keperluan pendaftarannya. lokasi sekolahnya memang hanya beberapa ratus meter saja dari rumah, kalau berjalan kaki paling hanya membutuhkan waktu sepuluh menit. ini pertama kalinya saya jadi wali murid, ternyata prosedurnya tidak sesulit yang saya bayangkan, hanya perlu mengisi formulir, lalu membeli seragam olahraga dan batik sekolah. keesokan harinya diah bisa langsung sekolah. wow..


kepala sekolah yang saya temui ramah sekali, berkulit putih dan sedikit tambun. beliau bercerita sedikit soal keluarganya, lalu soal sekolah kecil yang dipimpinnya dan tentang murid-muridnya. dari beliaulah saya tau kalau sd kecil ini punya banyak murid yang berasal dari jalanan yang usianya sudah menginjak delapan sembilan tahun tapi belum bisa membaca dan menulis. di sekolah ini hanya ada lima belas tenaga pengajar, itupun sebagian diantaranya hanya berstatus guru honorer. soal bentuk sekolahnya, hanya satu baris bangunan yang terdiri dari beberapa kelas, dengan lapangan bendera yang semennya tidak rata, lalu anak-anak berlarian ditengahnya mengejar bola, ada sepetak taman kecil yang tanamannya hijaupun tidak. juga kantin dari papan yang mencoba berdiri tegak menyandar didinding samping sekolah. semua serba seadanya. tapi saya yakin ada banyak mimpi luar biasa yang tergantung di langit-langit tua sekolah seadanya itu :)



*cheers!

2 comments:

  1. sungguh mulia hatimu nak
    adopsi aja jRenk, km jd mamah

    ReplyDelete
  2. saya yakin sekolah seperti itu masih menjunjung tinggi harkat seorang guru untuk mencerdaskan anak bangsa, krn skrg banyak sekali sekolah negeri yg sok internasional. saya pernah ditolak mentah2 mendaftarkan sekolah sodara saya pindahan dari luar jawa, dg alasan rangking sekolahnya akan turun jika menerima siswa baru yg nilai raportnya tidak bagus. sangat mengecewakan.... lalu guru bagi dia hanya profesi bukan amanah.....

    ReplyDelete

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS