menyebrang dulu dan sekarang

Tuesday, July 26

hampir setiap lebaran dan liburan selama enam tahun belakangan ini saya selalu menyebrang pulau untuk tradisi mudik dan pulang kerumah. bisa dibilang saya masih dan akan terus jadi pelanggan setia kapal ferry selat sunda. memang cukup mengherankan, ditengah jaman serba pesawat seperti sekarang ini saya masih saja doyan berlama-lama dijalan menggunakan angkutan darat dan laut. saking seringnya saya pulang menggunakan bus antar provinsi dan kapal ferry, semua pengalaman sepanjang perjalanan darat dan laut sudah pernah saya alami. yang terbaik dan yang terburuk bahkan yang paling buruk, sepertinya memang sudah. sayangnya menurut saya selama enam tahun kemarin nyaris tidak ada perubahan ke arah yang lebih baik. yang dulunya baik malah cenderung jadi kurang baik.. yang dulunya kurang baik, tetap saja begitu.

teman saya pernah berkicau di akun twitternya "kalau mau lihat ribuan truk berbaris, silahkan datang ke pelabuhan merak sekarang.." ribuan truk memang tidak pernah habis terparkir di pelabuhan merak selama bertahun-tahun. herannya, semakin lama antrian truk itu bukan semakin pendek, malah semakin panjang terus dan terus. perbaikan dermaga pasti dan selalu jadi alasan utama. selebihnya jalanan yang dilalui, sama.. dulu rusak, maka semua pengguna jalan harus lewat jalan alternatif yang memakan waktu lebih lama. ketika sudah dinyatakan baik.. tetap saja kualitas aspal hanya bertahan hitungan bulan. lalu rusak lagi, diperbaiki lagi, terus saja begitu seolah tidak pernah ada habisnya. usia armada penyebrangan yang sudah renta juga tak bisa dipisahkan dari alasan berbarisnya ribuan truk di pelabuhan merak dan bakauheni. apalagi soal kualitas dan fasilitas kapal.. masih teramat jauh dari kata juara.

dulu ketika bus masuk dan terparkir dilambung kapal setiap penumpang bebas memilih mau tetap ada didalam bus, atau turun ke deck kapal. kebanyakan penumpang akan memilih yang pertama, karena tidak ada yang bisa menjamin keamanan dan kenyamanan diatas kapal. di kabin juga deck kapal, kalau sudah begitu semua bus mau tidak mau harus tetap menyalakan ac dan mesin di dalam lambung kapal, walaupun sebenarnya tidak boleh. kejadian terbakarnya kapal ferry lautan teduh di selat sunda beberapa waktu lalu memang jadi pelajaran, walau hanya untuk sebagian kalangan. karna semenjak kejadian itu, pengamanan dna keselamatan penumpang selama menyebrang jadi lebih diperhatikan. beberapa waktu lalu ketika ada kesempatan pulang kerumah, saya mengalami pengamanan yang "diperketat" selama penyebrangan. ketika bus sudah masuk ke lambung kapal semua penumpang bus wajib naik ke atas deck kapal. yang jadi soal adalah fasilitas kapal yang sama sekali gak memadai. kabin untuk penumpang yang kecil benar-benar gak cukup menampung banyaknya penumpang. akhirnya koridor kapal jadi sasaran, penuh dengan gelimangan penumpang dan sopir truk yang ingin beristirahat. 

    cuma ada di indonesia

saya membayangkan lelahnya mereka yang melakukan perjalanan darat super jauh seperti bandung-medan, jakarta-aceh, atau surabaya-padang. jalanan rusak.. antrian panjang.. bonus fasilitas kapal tidak memadai, padahal katanya pembeli adalah raja. sudah beli tiket, harusnya dilayani dan difasilitasi dengan baik dong yah? harusnya.. ya memang hanya harusnya. dulu sekitar tahun 2005-2007, menyebrang selat sunda sering hanya satu setengah jam, perjalanan bandung-lampung bisa ditempuh kurang dari 10 jam, malah jika beruntung bisa hanya 8 jam saja. sekarang? beberapa minggu lalu terakhir saya pulang kerumah, total perjalanan yang saya tempuh nyaris 16 jam. yah.. menyebrang dulu dan sekarang memang jauh berbeda.


*cheers!

2 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. aq banget pernah bandung-padang dan bandung-medan selama lebaran 2 taun berturut2. Aq lbh sng menggunakan jalan darat daripada pesawat yg ditempuh 3hari 3 malam :( itu memabokkan tapi seru bisa bikin cinta indonesia! bisa liat view di sumatera yg qta ngga pernah tau sebelumnya :D

    ReplyDelete

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS