buka mata, braga 43

Thursday, July 7

mungkin saya seperti kebanyakan remaja perantau lainnya. berangkat dari kota kecil, merantau ke kota besar lalu akhirnya tidak mau kembali pulang. yang seperti saya ini memang umum terjadi, kalau ditanya kenapa, jawaban yang saya berikan sering hanya sekenanya. habis kalau mau dijawab serius, jawabannya akan panjang dan bijaksana sekali. hahaha.. ermm, eh tapi kali ini saya mau membagi satu dari sekian banyak alasan kenapa saya betah di bandung. 

kemarin sore ceritanya saya main sama kang doddy dan dudung. dua pria metal idealis yang sangat menghargai karya seni dan budaya ini mengajak saya ke suatu tempat di kawasan di pusat kota bandung, jalan braga, tentu tidak asing lagi namanya. kawasan yang sudah ada sejak jaman kolonial ini memang menjadi salah satu tempat yang paling ramai di kunjungi wisatawan, sekedar untuk foto dengan latar belakang bangunan tua atau hanya berjalan-jalan sore di sepanjang trotoar menikmati sedikit heritage yang masih tersisa di kota bandung.

kang dody si seniman yang juga aktivis lingkungan ini mengajak saya masuk ke sebuah galeri lukisan besar di jalan braga nomor 43. awalnya saya kira tempat ini hanya galeri lukisan biasa, yang biasa dimiliki oleh banyak seniman besar. sampai kang dody mengajak dudung dan saya makin masuk kedalam, menuruni satu persatu anak tangga. ternyata ada semacam basement yang sangat luas dibawah galeri lukisan. basement pertama untuk bengkel lukis juga tempat tinggal, basement kedua untuk ruang publik lengkap dengan ruang terbuka hijau. bahkan beberapa menit pertama saya masih gak percaya ada tempat sehangat ini ditengah kota besar yang kanan dan kirinya sudah dikelilingi bangunan beton bertingkat. semua yang ada di bangunan itu unik menurut saya. kamar-kamar tinggalnya, ruangan-ruangan yang berundak, bahkan toilet yang seperti kamar kos seharga 300 ribu perbulan, luas sekali.

    bale bambu dengan tiga pemusik tradisional

saya sedang menunggu dudung menyelesaikan ashar ketika melihat bale bambu yang didalamnya duduk beberapa orang sedang asik memainkan alat musik tradisional. alat musik yang saya sendiri baru pertama kali melihatnya. berbentuk tabung, seperti biola namun terbuat dari bambu, nada yang dihasilkan juga persis seperti nada biola, menyayat mendayu-dayu, diiringi petikan kecapi dan calepung yang dipukul kesana-kemari menyesuaikan irama. kolaborasi tiga alat musik itu menghasilkan nada yang unik namun tetap seirama. saya lalu ikut duduk dengan gembira disebelah mereka. memberondong banyak sekali pertanyaan ketika para pemusik itu berhenti sejenak untuk beristirahat. mereka memainkan lagu-lagu sunda dengan sangat indah dan dengan senang hati mencoba lagu surabaya ketika saya bercerita kepada mereka dari kota mana saya berasal.

 alat musik tradisional yang saya lupa namanya :p

gak hanya itu, salah satu ruang berukuran kurang lebih tiga kali lima meter yang ada braga 43 ini juga dijadikan ruang publik, siapa saja boleh memakai dan memfungsikannya sebagai tempat pertemuan, nonton bareng, rapat kecil-kecilan atau apapun. ketika saya disana kemarin,ruangan itu sudah penuh dengan pemuda, mahasiswa, pekerja yang sedang asik nonton bareng film dari national geographic tentang sebuah ekspedisi. saya semakin kagum dengan seniman pemilik tempat ini yang lagi-lagi saya lupa namanya. seorang bapak dengan tubuh tambun dan wajah yang penuh senyum. 

memang ada banyak hal yang menarik di kota ini dan tidak saya temukan di kota lain, termasuk di kota kelahiran saya. keramahan, keterbukaan pikiran, cita-cita, idealisme remaja dan anak muda, kepedulian masyarakat terhadap banyak hal, kreasi kreatifitas tanpa batas, penghargaan atas budaya, seni dan nilai-nilai tradisional yang mengagumkan. terlepas dari macet dan keruwetan khas kota besar, bandung memang punya daya tarik tersendiri. kita hanya tinggal membuka mata, banyak bertanya dan peka, lalu temukan banyak hal luar biasa yang bahkan tidak pernah kalian bayangkan sebelumnya :) 


*cheers!

3 comments:

  1. apa termasuk sampahnya juga....???

    ReplyDelete
  2. termasuk. justru sampah itu yang membuat banyak aktivis lingkungan ngariung dan kampanye kesana kemari bikin aksi..

    nah ngariungnya itu yang bikin bandung unik :p

    ReplyDelete
  3. hihihi harusnya ajeng tanya siapa yang jadi curator yang ngelaunching tempat ituh...

    ReplyDelete

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS