negeri laskar pelangi

9:55:00 am

"jangan tanya bagaimana caranya saya bisa sampai ke kota kecil ini. karna hampir sama dengan teori jodoh, teori rejeki backpacker-pun emang gak bakal kemana dan selalu ada aja jalannya"

jadi mari kita mulai ceritanya dari naik pesawat menuju bandara hanandjoeddin, tanjung pandan. ermm.., masih sama dengan cerita yang lalu, kali inipun saya masih takut terbang. bisa dipastikan selama take off saya pucat pasi, selama terbang saya tegang dan ketika landing saya berdoa apa saja yang saya hafal untuk sekedar menenangkan hati. menurut saya, tidak ada yang lebih buruk daripada penerbangan domestik dengan pesawat yang kapasitasnya gak jauh beda sama bus antar kota antar provinsi. tapi bagaimanapun saya bersyukur karna penerbangan hanya 45 menit, kalo lebih dari itu kayanya kantung airsick yang ada di pesawat sriwijaya saya borong semua. sayangnya pemandangan yang dilihat dari atas kota tanjung pandan tidaklah menarik, lubang-lubang bekas penambangan timah tradisional menganga disana-sini. seperti luka yang tidak akan pernah sembuh.

partner in crime saya kali ini kak ade dan dine, calon pengantin yang sedang amat berbahagia, juga kak romdhi, si fotografer profesional yang udah beberapa kali meransel bersama saya sejak duduk di bangku sekolah dulu. kak ade adalah orang paling bertanggung jawab atas terbangnya saya sampai belitung, negeri dengan sejuta pesona pantai. dan tanjung kelayang adalah pantai pertama yang menjadi saksi saya melupakan sneakers, lalu dengan khilaf meninggalkan sendal jepit *trus ilang* dan berlarian kesana kemari tanpa alas kaki. benar-benar seperti anak nelayan yang sudah bertahun-tahun merantau ke uganda. abis pasirnya putih dan halus banget, air pantainya bening berwana hijau turquoise, belum lagi batu-batu granit besar di pinggir pantai, bahkan ada juga yang sampai bertumpuk membentuk pulau ditengah laut.

calon pengantin dan fotografernya

dari tanjung kelayang kami menyebrang ke pulau langkuas dengan menyewa perahu dari dua orang lokal yang ramah dan senang becerita. sepanjang penyebrangan menuju pulau langkuas dua nelayan ini tak segan berbagi cerita tentang pesona belitung. dari keceriaan nada bicaranya saya bisa memastikan kalau dua orang lokal ini sangat bangga dan cinta dengan tanah kelahirannya. jika saya putra asli belitung, saya mungkin akan merasakan hal yang sama. oiyah, pulau lengkuas terkenal dengan lokasi snorkeling dan mercusuar serta bekas penjara yang sudah ada sejak jaman belanda. sayangnya ketika sampai di pulau lengkuas, kami menghadapi kenyataan pahit sebagai masyarakat biasa. karna akan ada pejabat tinggi yang ingin mengunjungi pulau lengkuas jadi menara mercusuar ditutup untuk sementara waktu dengan alasan untuk menjaga kebersihan. tapi, bukan kami namanya kalau menyerah begitu saja.. dengan sedikit negosiasi, senyum manis dan mengamini beberapa syarat dari penjaga, akhirnya saya, dine, kak ade dan kak romdhi berhasil mendapatkan ijin untuk bisa naik mercusuar *yeay!*

mercusuar dan foto yang diambil dari puncaknya

ternyata menaiki menara mercusuar setinggi 20 lantai tanpa lift itu bukan sesuatu yang indah dan pantas dikenang. itu sih nyiksa luar biasa, tapi paling kasian sama dine. dine itu tipe cewe yang cewe banget.. cantik, putih dengan rambut panjang dan gerakan yang selalu gemulai. mana tujuan dia naik mercusuar ini kan buat dapetin foto prewedding yang aduhai. sebuah pengorbanan yang pantas diapresiasi. kalo saya, kak ade dan kak romdhi sih udah teruji anti karat dan tahan disegala cuaca dari jaman sma. hahaha.. untungnya jerih payah kami menaiki ratusan tangga sampai ke puncak mercusuar langsung dibayar lunas dengan pemandangan dari atas mercusuar yang subhanallah sekali. saya gak berhenti berdecak kagum, si fotografer-pun sepertinya puas banget bisa ngambil gambar dari dan diatas mercusuar dengan kamera profesionalnya. ah.. memang luar biasa. setelah cukup mengistirahatkan betis hasil naik ratusan anak tangga, kamipun turun dan lanjut snorkeling. saya yang punya bakat satu dua sama penyu dalam hal nyelem di aer jelas girang setengah mati. eh tapi sempet keki karna liat nelayan yang mengemudi perahu kami dengan leluasa terjun ke laut tanpa pelampung, kaki katak dan snorkle. sementara saya yang pake perlengkapan lengkap snorkeling aja masi butuh tenaga dan usaha ekstra biar gak kebawa sama arus air laut sampe selat sunda.

puas menantang matahari laut dengan ber-snorkeling, kami melanjutkan penyebrangan ke pulau babi, pulau burung dan beberapa pulau lagi yang saya lupa namanya. semua punya karakteristik yang hampir sama, pasir yang putih juga bebatuan besar yang menambah kesan eksotis. tapi ada satu pulau yang paling menarik perhatian saya, namanya pulau pasir, isinya benar-benar hanya pasir tok tanpa pohon atau ornamen-ornamen khas pantai lainnya, luasnya juga tak lebih dari empat kali tiga meter jika air pasang. konon katanya pulau itu adalah tempat bertemunya arus pantai yang membawa pasir laut. jadi pasir di pulau itu tak akan pernah habis, akan datang dan datang lagi meski ribuan kali tersapu ombak. pulau pasir juga pulau yang terkenal dengan bintang laut berwarna kemerahan segede wajan. pokoknya gedeeee dan cantik banget. bintang laut ini dengan mudah ditemukan disekeliling pulau pasir. kalau diperhatikan, jadi seperti bunga laut. warnanya berbias merah dan hijau turquoise dari air laut. cantik sekali.
 
si cantik penghuni pulau pasir

hari masih siang ketika perahu bersandar lagi di tanjung kelayang. masih ada satu pantai lagi yang wajib kami kunjungi. pantai yang terkenal dengan sejarah cerita laskar pelangi, pantai tanjung tinggi namanya. tapi sepertinya lambung sudah tak bisa lagi kompromi dan harus segera diisi. kami mampir ke sebuah rumah makan sederhana di pinggir pantai dengan khilaf memesan ini dan itu. hebatnya, menu pesanan kami benar-benar fresh form the sea! si pemilik rumah makan sampai naik perahu kecil ke tengah laut untuk mengambil kepiting dan ikan-ikan hasil tangkapan dengan caranya yang masih sangat tradisional. penampilan rumah makan yang satu ini boleh saja tidak meyakinkan. tapi apa yang dimasaknya benar-benar bikin perjalanan meransel saya ke belitung semakin komplit sempurna.

  enak, nikmat, maknyus, ntah apa lagi istilahnya

*cheers!

You Might Also Like

5 comments

  1. oalah, bareng si romdhi koplak itu to? mantap dah :D foto2nya kurang gede mbak :D

    ReplyDelete
  2. kakrom kemaren bilang "nuran ke jerman dek, tau gak lo? sialan emang anak itu!!" hahahahaha..

    iyah. ini cuma pake kamera yang nempel di bodi hape. kalo bawa yang profesional takut ada yang merasa tersaingi, bwahaha..

    ReplyDelete
  3. pucat pasi...???
    nggak salah ?
    sepucat-pucatnya loe amang bisa putih?? wkwkwkwkwk piss

    ReplyDelete
  4. @ mas agus : hei, sesama komunitas membenci terbang dilarang saling menghinaaa..

    ReplyDelete