kolong belitung

2:41:00 pm

"ternyata di belitung banyak tambak udang, warna airnya kebiruan dan bentuknya tak beraturan" adalah kesimpulan satu detik yang saya ambil ketika untuk pertama kalinya saya melihat belitung dari jendela pesawat yang mengudara diketinggian. detik berikutnya, saya sadar kalau kesimpulan itu salah besar. bukan, lubang menganga seperti kawah kecil gunung berapi itu memang bukan tambak udang, melainkan tambang timah tradisional yang dan sejak jaman kolonial sudah menjadi mata pencaharian sebagian besar penduduk belitung. saya memang pernah dengar belitung negeri seribu kolong timah.. tapi saya benar tidak menyangka akan ada banyak sekali lubang yang menganga di tanah belitung. saya tidak menyangka bahwa seribu itu ya benar seribu, bukan sekedar kalimat hiperbola.

kolong (tambang) timah

belitung dari udara bukanlah sebuah kota yang cantik. tanah di kota kecil ini seperti tak henti tereksploitasi oleh segala hal yang merusak bumi. belitung sendiri memang salah satu pulau penghasil timah terbesar di indonesia. menurut tia, seorang teman baik yang berpuluh tahun tinggal di pulau bangka, sebenarnya dulu menambang timah tidak boleh sembarangan. harus punya standar operasional juga prosedur yang sesuai, harus punya surat izin penambangan dan lain sebagainya. namun ada peraturan yang akhirnya melegalkan adanya tambang rakyat, dalam istilah profesionalnya disebut tambang inkonvesional. mungkin pelegalan ini yang jadi pemicu terciptanya kolong-kolong timah baru. masyarakat lokal beramai-ramai menambang timah, lalu ketika sudah selesai dieksploitasi, dibiarkan begitu saja tanpa direklamasi atau dihijaukan kembali  

yang tereksploitasi

meskipun tambang inkonvensional dewasa ini sudah kembali diilegalkan, namun dalam hal apapun akan selalu ada yang gelap-gelap yang terus bergerilya di indonesia ini. asal uang cukup asal backing kuat, sudah jadi rahasia umum kan? mirisnya lagi, berapa banyak masyarakat atau lembaga yang sadar akan kondisi ini? kalaupun ada, pastilah mereka hanya kaum minoritas yang bersuarapun tak terdengar lantangnya. ahhhh.. nanti bila pohon terakhir telah di tebang, bila sungai terakhir telah mengering. bila ikan terakhir telah mati, manusia baru akan sadar bahwa uang tidak bisa dimakan.


You Might Also Like

1 comments

  1. Kalo di Kalimantan Timur kurang lebih sama, mbak. Tapi yang dieksploitasi batu bara :(

    ReplyDelete