akhirnya bumi manusia

Monday, May 23

saya bukan termasuk orang yang senang baca buku atau novel, apalagi sampai mengkoleksi ribuan jenis di lemari atau rak yang tersusun rapi. saya lebih senang menyewa buku, membacanya dirumah selama beberapa hari, lalu dikembalikan dan selesai urusan. tapi saya punya pengecualian untuk beberapa penulis, saya suka trinity dengan gaya bahasanya yang ringan dan menghibur, saya suka pidi baiq, yang jujur dalam penyampaian cerita dengan bahasa yang pidi sekali. saya pengagum remy sylado yang karyanya seolah menarik kita untuk berimajinasi ke jaman yang mungkin eyang putri saja belum merasakan oksigen dunia. juga pramoedya ananta toer, yang karya roman tertraloginya sudah saya cita-citakan sejak beberapa tahun yang lalu. untuk semua penulis yang saya kagumi itu, saya tidak membaca bukunya dengan menyewa, saya rela menunda membaca meskipun ada yang bersedia meminjamkan dengan cuma-cuma hanya karna saya bertekad memiliki wujud bukunya. saya menabung, membeli dan dengan bangga menyusunnya di lemari kecil koleksi buku saya ketika sudah selesai membaca. 

sabtu malam kemarin akhirnya salah satu impian lama saya terwujud. dengan sadar saya memborong roman tetralogi pramoedya ananta toer, walaupun selalu feel guilty tiap lihat struk belanja bukunya dengan total beratus-ratus ribu. tak apalah, untuk yang ini saya ikhlas hidup berhemat-hemat. apalagi pramoedya dengan struktur kata juga ceritanya yang bikin imajinasi meledak-ledak membayangkan indonesia di abad ke 19 dan saya makin mencintai negara ini karenanya. tak salah rasanya saya memilih untuk membeli buku yang isinya menyoal budaya jawa dahulu dimana perempuan tidak punya hak apapun atas bicara apalagi mengambil keputusan, kepercayaan kuat akan leluluhur, kebudayaan jawa yang luar biasa, karakter masyarakat aceh yang mengagumkan. membacanya sekaligus membuat saya menyadari betapa eropaisme sudah merajai bangsa indonesia sejak dulu.. tentang hukum dua sisi mata uang berlaku disegala jaman tidak ada yang seratus persen baik pun sebaliknya, juga ketidak adilan yang suatu mendarah daging dalam kelompok besar manusia. diakhir saya membaca roman bumi manusia untuk kesekian kalinya saya menyetujui teori bahwa sekolah bukan satu-satunya cara untuk menjadi bisa.  


  












"Berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan."
— Pramoedya Ananta Toer

3 comments:

  1. yg ini sya tidak akan tergoda utk beli, cukup pinjam saja ya mbak..
    krn tulisan sebelumnya sudah siap menguras tabungan :P

    ReplyDelete
  2. Pram ya, sejauh ini memang banyak yang bilang kalau tetralogi adalah yang terbaik.

    Tapi saya pikir itu mengada-ada. karya ini bukan karya kebanggan Pram.
    sejauh yang saya ingat saat bertemu di Utan Kayu, Pram sangat ingin 'Panggil Aku Kartini Saja' di baca.

    itu karya pembebasan. bukan sebagai feminis. tapi sebuah upaya untuk bisa 'adil sejak dalam pikiran'

    saya pribadi lebih suka Bukan Pasar Malam dan Arok Dedes.
    Bukan pasar malam adalah sisi paling manusiawi dan paling rapuh Pram yang dikenal sebagai orang yang keras keala. sedang Arok Dedes adalah dekonstruksi sejarah singosari dan kediri. well itu pendapat saya lo


    #kemintermaneh

    ReplyDelete
  3. @ bardjo : udah nih.. mau? sejam goceng deal?

    @ mas dhani : wah mas dhani.. sudah khatam semua buku pram tampaknya :) aku tetralogi aja bacanya harus pelan-pelan mas.. hihi.

    ReplyDelete

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS