sebuah perjalanan

Tuesday, August 31

saya menulis ini di dalam kereta yang sedang menderu berlari menembus gelap, dari jogja menuju bandung. sementara sebagian teman-teman mengadu iri karna saya hampir setiap bulan pergi ke tempat-tempat yang menurut mereka bagus dan menyenangkan.. sekaligus melelahkan. hehehe.. tapi semuanya apapun itu akan terasa menyenangkan ketika kita menikmati, iya kan? kalau saya sih hobi, jangankan jogja, jakarta-pun bisa jadi perjalanan luar biasa karna saya memang pecinta jalanan.

dulu ketika saya masih jadi seorang yang 'objek wisata oriented' saya punya kebanggaan tersendiri kalau bisa mengunjungi suatu tempat yang touristy, tempat terkenal yang sering diliput di acara traveling di televisi, diidam-idamkan banyak orang dan jadi wish list beberapa teman saya tiap awal tahun.. tapi setelah sering melakukan perjalanan, saya sadar bahwa seru'nya bepergian itu ya dijalan'nya.. diproses menuju ke tempat tujuan.

mungkin sedikit yang menyadari, bahwa ada banyak sekali yang bisa kita saksikan ketika melakukan suatu perjalanan. potret-potret kehidupan yang hanya bisa dilihat sepintas, satu kali seumur hidup namun akan terus terekam dalam pikiran dan mungkin akhirnya punya pengaruh besar dalam kehidupan. kita bisa saja pergi ke taman nasional bromo-tengger 2-3 kali, tapi saya yakin dalam 2-3 kali kunjungan itu pasti punya cerita perjalanan yang jauh berbeda satu dengan yang lainnya. dan sadar atau tidak, ketika kita berkumpul dengan kawan, berbagi pengalaman, maka cerita yang panjang dan penuh tawa adalah cerita perjalanan menuju tempat tujuan. cerita tentang keindahan, tentang detik-detik melihat sunrise, perlahan menyaksikan barisan gunung batok, bromo dan semeru hanya akan berlangsung sebentar saja.

memang selalu ada tujuan dalam setiap perjalanan yang kita lakukan, tapi cobalah menikmati tujuan dengan cara yang lain.. dari rangkaian proses yang terjadi, dari cara kita mencapai dan mengusahakan untuk bisa sampai. jadi mulai sekarang belajarlah untuk menikmati setiap perjalanan yang kamu lakukan, kemanapun kamu pergi. karna akan ada jutaan momen kecil tak terduga yang terjadi dan terekam dengan sempurna disetiap kilometernya..

















*cheers!

sambil bergoyang diatas kereta bisnis mutiara selatan menuju kota kembang
Sent from my BlackBerry® smartphone

pengangguran curhat colongan

Monday, August 23

"Job seeking really could drain your energy, really. Beside that, it could also make you broke" ini kata temen saya (prita) dan saya langsung setuju 100 persen..!! to the point hari ini saya benar-benar merasa terkuras energi, waktu dan juga lembaran-lembaran uang kertas yang ada di dompet.

dengan sedikit berapi-api saya bilang kalau jadi pegawai pemerintah atau negara itu mahal. gimana enggak.. saya harus mengeluarkan paling tidak 200.000 rupiah untuk mengurus segala macam berkas yang diperlukan demi bisa lolos seleksi administrasi tahap awal. mulai dari pembuatan surat keterangan catatan kepolisian (skck), yang prosedurnya berawal dari ngadep RT, RW, kelurahan, kecamatan, polsek sampe polres. trus kartu kuning, trus surat keterangan sehat dari dokter pemerintah, dan terakhir surat keterangan bebas narkoba. kenapa bisa semahal itu? silahkan kalikan dengan 5.000-10.000 rupiah setiap tahapan dimulai dari kelurahan. tiap bergeser meja, ada saja uang administrasi yang diminta. belum lagi di satu tempat pengurusan berkas, polres misalnya.. ada beberapa tahapan yang mengharuskan kita merogoh saku sampai beberapa kali. makin panjang mejanya, makin banyak uang yang harus kita keluarkan. perlukah kita membayar mahal untuk semua berkas itu? apalagi yang paling bikin keki adalah pembuatan surat keterangan bebas narkoba. seratus lima belas ribu rupiah!!

katakanlah saya alhamdulillah punya rejeki untuk mengurus semua berkas itu berikut sejumlah uang yang harus dikeluarkan. lalu bagaimana dengan mereka yang punya keinginan dan kemauan bekerja tapi belum punya rejeki untuk membayar si persyaratan itu tadi? haruskah mereka menghibur hatinya dengan bolak balik berkata "sabar aja.. belum rejekinya..". mungkin bisa saja diusahakan pinjam dari tetangga, tapi ketika hati kecil bertanya "kalau ndak diterima? saya bayar hutang pakai apa?" memang realistis sekaligus miris. tentunya bukan sebuah dilema, karna sudah jelas lebih baik melengos pergi tanpa banyak bermimpi daripada berakhir dengan gigit jari.

pertanyaan saya klasik, kalau perusahaan swasta bisa menekan dan memperpendek rangkaian birokrasi, memperlakukan pencari kerja sesuai dengan asas simbiosis mutualisme, perusahaan butuh karyawan butuh perusahaan. kenapa instansi pemerintah tidak? jangan berdalih demi mencari pegawai berkualitas, karna kualitas pegawai itu berasal dari kata cerdas, bukan berkas.



*dem!

berkas berkas kertas

Saturday, August 21

Tiba-tiba malam ini saya terbesit untuk membongkar lemari buku, mencari sesuatu yang harusnya masih ada di lemari itu. Sesuatu berbentuk buku yang dulu penuh sekali artinya buat saya. Tak perlu waktu lama untuk mencari, saya menemukannya. Ya, buku harian semasa saya di SMA dulu. Tersenyum saya membacanya, membaca setiap penggalan cerita khas remaja dimasanya.

01-Januari-2004 tertulis dihalaman pertama, saya mendoakan seorang yang sedang melakukan ekspedisi Gunung Rinjani. Ya Tuhan, 6 tahun lalu! tapi saya masih ingat waktu itu saya berdoa sepenuh hati karna ada cinta anak muda di dalam setiap doa yang saya haturkan pada Sang Maha Kuasa. Lalu soal hubungan pertemanan yang penuh bahagia dan juga konflik sederhana, lalu soal hukuman berdiri di lapangan upacara berjam-jam hingga nyaris pingsan, lalu soal harapan saya lulus ujian nasional, lalu soal surat-surat cinta yang tak ada duanya, lalu soal bungkus beng beng yang terselip rapi di buku harian itu, disebelahnya ada gambar hati dan sepenggal puisi. Tertawalah saya karenanya, sulit untuk percaya bahwa ternyata saya dulu juga mengalami fase-fase khas remaja.

Sayangnya ketika dewasa, seolah tidak ada lagi sesuatu yang harus diingat bahkan ditulis dan disimpan rapi dalam selipan buku. Tak ada nostalgia ala remaja dewasa, yang harusnya jika didokumentasikan akan jauh lebih santun. Sedikit menyesal karena saya tidak pernah menulis buku harian lagi, apalagi menyimpan tiket-tiket perjalanan saya keliling jawa semasa kuliah dulu, atau mengarsipkan surat-surat dari dia yang mencintai saya. Betapa berkas berkas kertas usang enam tahun lalu adalah yang membangkitkan rasa rindu, bahagia dan nostalgia luar biasa malam ini.










*cheers!
note : nadya! ternyata dulu kita norak sekaligus mengagumkan yah!! ampunnn deh.. hahahaha. love you girl!!

temans

Wednesday, August 18

kalau beberapa orang diminta mendeskripsikan arti kata "teman", berani jamin jawabannya gak bakal ada yang sama (kecuali kalau mereka nyontek :p) tapi dari semua jawaban itu, saya yakin kalau semuanya punya satu makna. di dunia ini semua orang punya teman. mmm.. bahkan chuck yang mengalami kecelakaan pesawat dan akhirnya terdampar di pulau seorang diri di film castaway-pun, diceritakan tetep punya teman.. walaupun emang sih cuman bola voli.

buat saya pribadi teman adalah sebuah permulaan. ketika kita bertemu dengan orang baru lalu berjabat tangan, maka prosedur awal pertemanan dimulai. untuk alur mula sampai (mungkin) endingnya nanti.. adalah waktu dan peristiwa yang akan menguraikannya menjadi sebuah esai cerita :)
















*cheers!

mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat

Thursday, August 12

tidak ada tulisan "sent from.." di baris paling bawah tulisan blog saya kali ini. yap... kali ini saya memang posting langsung menggunakan web. saya sedang terapi. terapi blackberry addicted, suka atau tidak dengan berat hati saya mengakui saya kecanduan teknologi dalam genggaman itu. apalagi beberapa teman sudah mulai mempermasalahkan kecanduan saya. mereka biasanya menyindir dengan kalimat "duh.. autisnya" yang berarti saya sedang sibuk dengan gadget paling polpuler di indonesia itu, sekedar membalas pesan di layanan messenger atau membaca timeline di twitter yang rata-rata isinya kurang penting.

mendekatkan yang jauh menjauhkan yang dekat. mungkin sindiran itu paling pas disematkan kepada si pemakai teknologi blackberry. selama punya blackberry dari awal bulan maret, saya belum pernah berhenti langganan layanan blackberry internet service, atau biasa disebut BIS. layanan internet yang memungkinkan blackberry terkoneksi ke internet dalam waktu 1x24 jam 7 hari nonstop. karna sudah biasa, jadilah saya punya perasaan tergantung sama layanan BIS, meskipun kadang dalam satu hari, belum tentu saya menerima satu email penting.

keputusan saya untuk berhenti sementara dari layanan BIS memang bukan suatu keputusan besar yang menyangkut kehidupan orang banyak. saya sekedar ingin menormalisasi kehidupan sehari-hari. paling tidak saya jadi punya hak untuk mengatur kapan waktunya bersowan dengan dunia maya dan kapan harus kembali sepenuhnya ke dunia nyata. teknologi memang mempermudah banyak hal, teknologi memungkinkan kita mengakses informasi kapanpun dimanapun. alih-alih memperpendek jarak, mempercepat rangkaian-aksi yang dulu dilakukan sampai berhari-hari, memudahkan menjalin silaturahmi, tapi jika salah fungsi, teknologi bisa jadi teknologi yang mempersempit dunia dalam arti yang sebenarnya.
















*cheers!

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS