ijen all in one

6:44:00 am

memulai perjalanan dari jember pukul 1 dinihari ternyata bukan ide bagus, apalagi kalau hanya dilakukan dengan 2 motor. cuaca dingin, kondisi jalan rusak parah, gelap gulita, horor, dramatis, memakan waktu berjam-jam dan stamina yang semakin menurun, nyaris membuat kami putus asa. we're in the middle of nowhere!! tanpa sinyal hp, tanpa rumah penduduk yang terlihat, tanpa satupun dari kami yang tau dan hafal wilayah ini. sempurna! cukup sekali deh saya melakukan perjalanan gila seperti ini. perjalanan panjang yang seolah gak ada habisnya. sampai akhirnya sekitar pukul 4 pagi kami berhenti sejenak untuk berdiskusi. sempat ragu karna medan perjalanan yang dirasa terlalu berat dan lama. bahkan dengan berat hati akhirnya kami sepakat untuk melupakan ijen dan pulang ke jember lewat banyuwangi.

ditengah perjalanan pulang itulah kami menemukan perkampungan. alhamdulillah dan beruntung ada warga lokal yang bisa kami tanya. kabar baiknya adalah, jalan yang kami tempuh berjam-jam tadi memang jalan menuju kawah ijen. artinya kami gak kesasar. dari desa tempat kami berada butuh waktu setengah jam lagi untuk menuju kaki gunung ijen. ok, berangkat!! sampai ketika subuh tiba, suhu udara semakin turun berbarengan dengan jalanan aspal yang semakin menanjak naik. rasa kantuk dan lelah tanpa disadari membuat saya berhalusinasi, ini pengalaman halusinasi saya yang pertama. dudunk yang bersama saya menyadari hal itu dan berusaha tetap mengajak saya berbicara apa saja demi menjaga kesadaran saya. saya mulai meracau tak jelas. saya berbicara banyak hal tanpa terkendali. mengerikan.

untungnya tak lama kami sampai di kaki gunung ijen tepat pukul 5.30 pagi, setelah parkir motor, lapor dan minta ijin dengan petugas keamanan setempat kamipun sepakat untuk tidak menyia-nyiakan waktu.. langsung mendaki. daaaan jalur penyiksaan dimulai. walaupun kami berempat dulunya adalah anggota aktif pecinta alam di SMA. tapi hal itu tidak berpengaruh banyak, kami jadi pecinta alam 7 tahun lalu, apalah artinya, ditambah sekarang sudah jarang olahraga, kebanyakan hidup senang dan nyaman di kota jadilah pendakian kawah ijen terasa amat menyiksa. jalanan menanjak tanpa ampun, kami berjalan perlahan dan gak pasti. kadang berhenti 5 meter sekali, kadang hanya beberapa langkah maju, lalu berhenti untuk membiarkan paru-paru bekerja, menangkap oksigen sesukanya.

tepat 1 jam lebih 5 menit, penyiksaan berakhir berganti dengan pemandangan menakjubkan di depan saya. puncak yang tandus, kawah blerang berwarna hijau tosca, kabut tebal dan beberapa penambang blerang terlihat hilir mudik mengangkut buruan'nya. persis seperti apa yang pernah saya baca di national geographic. belerang dengan berat lebih dari 60kg dibawa turun dengan hanya bertumpu pada bahu. kami baru beberapa menit di puncak ijen ketika hujan turun disertai angin kencang dan kabut tebal yang membuat jarak pandang jadi sangat terbatas. buru-buru kami merapat ke tebing, menyelamatkan kamera dan menyusun rencana. rencana'nya adalah kami harus turun, sesegera mungkin sambil berlari. yap! kami berlari menembus badai di puncak ijen. satu dua penambang belerang yang hanya-bisa-berjalan-pelan-tanpa-jaket-ditengah-badai kami lalui, akhirnya naluri kemanusiaan saya muncul. mungkin kalian akan merasakan hal yang sama jika bersama saya waktu itu. separuh perjalanan turun menuju kaki gunung ijen saya lalui dengan menangis.

celaka karna sebelumnya, kami sama sekali tidak memperkirakan akan terjebak hujan di ijen. pakaian ganti yang kami bawapun seadanya. saya hanya bawa atasan, dudunk hanya bawa celana pendek, sementara semua yang kami kenakan sudah basah terguyur hujan selama perjalanan turun tadi. kami semua menggigil kedinginan, jaket yang jadi barang paling penting juga ikut kuyup tertembus badai. pasrah. saya akhirnya pinjem sarung dudunk untuk sekedar menahan angin walau sebenarnya tidak banyak berguna. setelah menunggu beberapa jam sampai hujan sedikit reda, kami memutuskan turun ke kota. kak romdhi dan mas ery yang memburu waktu berangkat lebih dulu.

kira-kira 2km perjalanan turun, feeling saya mulai gak enak karna mesin motor yang sesekali 'terbatuk'. benar saja tepat di depan genangan air di tengah hutan belantara dalam perjalanan pulang menuju banyuwangi, si mesin mega-pro pinjeman wafat.. waaaaa, bisa apa saya? sudah cukup shock membayangkan 18km sisa perjalanan dihabiskan dengan mendorong motor, mega-pro pula. WHAT THE!!!! astagfirullahaladzim, akhirnya saya dan dudunk hanya bisa tertawa dan saling menghibur. itulah gunanya sahabat bukan? (masih) beruntung karna jalan yang kami lalui hampir selalu menurun, walaupun kami tetap punya adegan dramatis ketika harus mendorong melewati tanjakan tajam berbarengan dengan hujan yang turun dengan amat-sangat-lebat dan kabut-tebal-nan-sadis. cocok deh buat bikin iklan ekstrajoss :p

saya sudah sering melakukan perjalanan bareng dudunk, mulai dari ekspedisi antar gunung semasa SMA dulu, arung jeram, sekedar jalan-jalan di suatu kota, tapi baru sekarang mengalami kejadian dramatis seperti ini. mungkin sampai salah satu dari kami menikah nanti, ini adalah perjalanan paling konyol yang pernah kami lalui berdua. manusia selalu bisa punya rencana, tapi siapa yang berhak menentukan? benar-benar petualangan, perjuangan dan perjalanan tak terlupakan.. ijen all in one. hampir semua pelajaran perjalanan liburan saya dapat di ijen secara kumulatif. senang, takut, lelah, nyaris putus asa, tertawa, rasa syukur tak terhingga, bahagia bahkan untuk pertama kalinya saya menangis dalam liburan.. di ijen.












*cheers!
next blog : jogja rumah ketiga
Sent from my BlackBerry® smartphone

You Might Also Like

2 comments

  1. hweh,, ijen.. deket rumahku.. jadi pengen pulang.. haaa

    ReplyDelete
  2. wuaaa.. fotonya kurang banyak

    ReplyDelete