relaksasi.,

Thursday, November 5

saya lupa menulis. dengan berat hati saya katakan "iya". sekarang saya lebih suka mengabadikan jutaan momen yang terjadi lewat sebuah gambar yang tentunya dihasilkan dari mata kamera yang berkedip. seperti slogan sebuah produk rokok ternama "every picture tells a story". saya mengamini slogan itu.

ditengah kericuhan KPK dan pembuktian 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II. yang membuat banyak orang indonesia jadi rajin mantengin stasiun TV dan internet.. saya malah lebih memilih menghabiskan akhir minggu di kota jogyakarta. keluar dari rutinitas bertemu komputer dan perangkat teknologi lainnya yang berpengaruh meningkatkan level ke-autisan saya. bersama si septi. perempuan mungil sedikit gila yang sudah 12 tahun jadi sahabat saya. kami-pun berangkat dari bandung menuju jogyakarta dengan kereta api lodaya kelas bisnis sambil mengantongi perkataan teman saya "jika kamu ingin mencintai indonesia, maka datanglah ke pelosok negeri dimana belum ada ketamakan, keserakahan dan kesombongan yang menyentuh nadi masyarakatnya..maka itulah indonesia" howgh!

di jogja, saya mampir ke daerah tamansari, masih di lingkungan kraton jogja. masih sering terlihat abdi dalem yang memakai pakaian kraton jogja, lengkap dengan blangkon dan sepeda ontel yang membuat saya semakin jatuh cinta pada negeri ini. masih banyak mbah-mbah yang berjalan terbungkuk-bungkuk dengan kebaya tipis dan jarik batik sambil menggendong bakul berisi barang dagangannya yang sederhana. membuat saya bertanya, mungkin hanya dibutuhkan beberapa tahun lagi sampai akhirnya kostum khas mbah-mbah jawa itu menghilang dari indonesia. berganti dengan t-shirt print bersablon warna warni. lalu saya melengos dan tersenyum miris.

percaya atau tidak. Pak Edi, seorang seniman lukis yang saya temui di tamansari, yang tidak lain adalah tetangga depan rumah kontrakan teman saya.. tidak mempunyai televisi di rumahnya. tapi ketika saya tanyakan soal KPK dan Pemerintah Indonesia, maka kalimat-kalimat lugas dan cerdas mengalir lancar dari pikirannya di sertai kritik pedas dan tawa lepas ala seniman. WOW!

jutaan pertanyaan muncul dikepala tentang mereka yang sederhana. apa mereka merasa cukup? apa mereka tidak ingin menjadi kaya, banyak harta dan bisa membeli apa saja, yang kemudian diartikan oleh masyarakat kota dengan kata "bahagia"? itulah yang akhirnya memberikan saya satu pelajaran, bahwa hidup bahagia adalah tentang bagaimana cara kita menikmati apa yang kita punya bukan tentang bagaimana kita mendapatkan apa yang belum kita punya.. bahwa hidup bahagia adalah bersyukur bukan berobsesi.

jutaan hal kecil terjadi dalam hidup setiap harinya. begitu juga dalam hidup saya. hidup yang (baru) akhir-akhir ini saya resapi dan benar-benar saya sadari sebagai suatu nikmat yang luar biasa. alhamdulillah.



*to be continue......

6 comments:

  1. sayah juga lagi suka poto2an jeng .. insya Alloh bulan depan bisa beli canon EOS biar bisa photo2an hahaha

    ReplyDelete
  2. hmm.. itu baru satu, kayaknya memang sudah menjadi ciri khas seniman di jogja, bahwa kelengkapan berkesenian mereka, unsur politik menjadi bagian dari ide ekspresif mereeka..

    ReplyDelete
  3. @ jimon : jimooooonn.. kemana ajaaa.. kangen taooo...
    ih ih ih.. nanti kalo udin beli. main-main ke bandung. aku nebeng poto-potonya.. hahay..

    @ senoaji : iya mas..semua seniman memang out of box.. hehehehe..

    ReplyDelete
  4. gambar yg visual emang lebih menarik di banding sekedar untaian kata2 :D

    ReplyDelete
  5. setuju bener deh ama mbak ajeng...
    asal jgn poto yang macem macem aja :P:P

    ReplyDelete
  6. @ desiera : iyah. seneng banget kalo bisa narsis.. loh?? hahaha..

    @ bucil : yang aneh-aneh maksudnya, dipoto dengan pose lagi malak tukang bandros..gitu? gak kok, alhamdulillah saya gak pernah kaya gitu.

    ReplyDelete

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS