Saturday, June 18

Tentang Pindah Sekolah

   Gambar diambil dari sini 


Kami dua kali mengalami momen pindah sekolah. Buat sebagian orang, baru dua kali. Tapi buat saya yang tipenya sangat menghargai setiap kecil momen dan proses, dan pak Ery yang tipenya mikir panjang banget sebelum memutuskan sesuatu. Urusan pindah-pindah sekolah ini jadi salah satu yang buat kami perlu dibahas panjang. Dalam cerita ini sebenarnya kami punya pilihan untuk tetap ada di sekolah yang sama, namun dengan berbagai pertimbangan akhirnya kami memutuskan pindah. 

Semua sekolah yang pernah disinggahi Pagi maupun Aksara adalah sekolah-sekolah terbaik yang pernah kami tau. Saat Pagi dulu pindah setelah 3 tahun PG dan TK di sekolah lamanya, saya bahkan menangis di pertemuan akhir kelas. Sedih karena saya tau lingkungan yang akan kami tinggalkan adalah lingkungan yang sangat baik, dan Pagi sangat nyaman berproses di sana, tapi kami memilih selesai dengan mempertimbangkan runutan prioritas dalam keluarga.

Jumat kemarin, giliran Aksara yang mengalami fase akhir sekolah Taman Kanak-kanaknya. Kalau yang mengikuti storygram sejak Aksara pertama kali sekolah, di kelas kecil yang disulap dari sebuah gudang, sampai sekarang sekolahnya punya bangunan dan lingkungan sekitar yang sangat ideal, pasti paham kenapa kami pantas bersedih. Sedih, tapi suasana hari terakhir sekolah kemarin bergembira sekali. Ada Syarikat Idola Remaja yang menyanyikan lagu-lagu syahdu, ada kegiatan mengenal rempah, bikin sate maranggi bersama, anak-anak yang berlarian kesana kemari, dan Aksara yang mungkin tau kemarin adalah hari terakhirnya berkegiatan di sekolah.. Maksimal banget beraktifitas fisik sama teman-temannya. Hari terakhir sekolah kemarin, jadi hari yang hangat sekali. 

Bercerita tentang sekolah anak. Banyak yang bertanya memangnya dulu Pagi (dan sekarang Aksara) sekolah dimana? Selanjutnya pindah kemana? dan tidak sedikit yang bertanya kenapa kami memutuskan untuk memindahkan anak-anak padahal kami punya pilihan untuk melanjutkan, sementara mereka juga nyaman berproses di sekolah sebelumnya? Kalau dibahas bisa panjang banget sih, dan enaknya sambil ngopi sore πŸ˜ƒ

Tapi yang jelas saat ini, sekolah anak-anak yang sekarang, adalah yang paling mendekati value keluarga kami, yang kami bayangkan cara dan tujuan pembelajarannya paling bisa kami terima dan sesuaikan. Buat kami (tentu saja di luar hal-hal yang berkaitan dengan agama yang jelas jadi prioritas utama); disiplin, bertanggung jawab, dan sederhana, jadi sebagian karakter yang harus ada dan diberi ruang untuk tumbuh dengan baik. Sekolah dengan jarak yang tidak jauh, kelas tidak paralel, jumlah murid yang tidak lebih dari 20 orang, tidak berkegiatan sehari penuh, dan juga heterogen, jadi syarat pendamping lainnya. Buat keluarga lain, mungkin berbeda.

Sebenarnya banyak sekali sekolah yang cukup bisa memenuhi value keluarga, tapi percayalah tidak ada sekolah yang 100% cocok untuk anak dan juga untuk kita sebagai orangtua. Maka di usia mereka yang sekarang, (menurut kami) mendampingi, memastikan anak-anak berkembang, mengikuti ritme kehidupan sebagai manusia mandiri, melihat dunia dengan lebih luas lagi, sekaligus tetap menjaga agar tidak terlalu jauh dari “lingkaran” yang menjadi batasan, amat diperlukan. Hal-hal tersebut yang tidak bisa diserahkan sepenuhnya ke sekolah. Sejauh ini saya belum sepakat jika ada yang bilang sekolah di manapun, sama saja, karena kenyataannya jelas berbeda. Tapi rasanya kita semua sepakat bahwa sekolah di mana saja, kita sebagai orangtua tetap perlu "hadir" dan mendampingi prosesnya.

Saat ngobrol malam bersama pak Ery, saya, yang tentu saja sebelumnya sering gundah soal urusan pindah-memindahkan sekolah ini meyakinkan diri, ibarat sama-sama ke Surabaya, yang satu memilih jalan lewat jalur utara agar lebih efisien secara waktu, yang satu memilih jalan lewat jalur selatan agar bisa mampir-mampir menikmati setiap kota yang dilewati. Tujuannya akhirnya sama, hanya proses mencapai tujuannya yang berbeda, dan itu yang perlu disesuaikan dengan nilai-nilai dalam keluarga ❤

Tuesday, May 10

Kehilangan

Ramadannya sudah selesai. Alhamdulillah Ramadan tahun ini banyak yang bisa disyukuri, salah satunya Aksara ikut puasa penuh! Sempat mengeluh lapar di hari pertama dan kedua, kemudian berakhir dengan buka puasa sebelum waktunya. Eh ternyata hari ke-tiga dan seterusnya lancar banget. Mungkin karena kami gak punya ekspektasi, jadi soal puasa penuh Aksara ini terasanya spesial sekali. Saya merasakan juga pasang surut semangat puasa, masih menyusui Riam, tapi bertekad ingin puasa sebanyak mungkin, karena Riam sudah cukup besar. Alhamdulillah (lagi) rasanya tidak seberat tahun lalu.

Ramadan kali ini kami juga "disapa" lewat ujian. Kamis malam, di minggu ke-dua bulan Ramadan, rumah kami didatangi (mungkin beberapa)-orang tidak dikenal, beberapa barang elektronik di bawa. Bersyukur kami semua tidur, mungkin tidur adalah bentuk perlindungan Allah untuk kami. Sampai beberapa hari setelah kejadian, satu hal yang paling kami syukuri dari peristiwa ini adalah malam itu kami semua terlelap. Tentang barang-barang yang dibawa pergi, anehnya saya tidak berlarut dalam kehilangan, selain menyesali dokumentasi/foto sejak Riam kecil yang saya simpan dalam laptop. Selebihnya saya menganggap memang sudah habis "masa pinjamnya", percaya bahwa apa-apa yang hilang dari saya memang bukan milik saya. 

Soal kehilangan ini, kami menerima banyak saran soal keamanan dan perlindungan rumah. Beberapa kami pertimbangkan untuk diterapkan, tapi dengan tidak mengurangi rasa terima kasih atas kekhawatiran-kekhawatiran yang muncul dari sekitar kami, pertimbangan yang akhirnya kami ambil mungkin tidak bisa langsung menenangkan orang-orang terdekat. Tapi kehilangan kemarin jelas mengajarkan kami tentang kewaspadaan. Pagi dan Aksara kami ceritakan tentang peristiwa yang terjadi saat semua tertidur, kami bercerita dengan tenang dan hati-hati, berharap tidak menimbulkan "bekas" yang berlebihan, selain hal-hal baik yang perlu diambil kesimpulannya.



 


Tuesday, April 12

Membaca Perlahan



Baru-baru ini saya mengenal kata slow reading, atau kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti membaca (dengan durasi) perlahan. Saya yang dulunya selalu ambisius soal durasi membaca buku, awalnya asing dengan istilah ini. Sampai akhirnya saat memutuskan untuk rutin menyelipkan buku-buku bergenre self improvement dalam daftar buku bacaan saya di awal tahun lalu, pandangan saya soal membaca buku berubah. 

Buku-buku self improvement (setidaknya buat saya) tidak bisa dibaca dalam dua tiga kali duduk. Tidak seperti buku fiksi yang memancing imajinasi serta rasa penasaran, sehingga memacu untuk cepat menyelesaikannya sampai  habis, membaca buku self improvement cenderung perlu kesadaran dan perenungan. Seringnya juga punya istilah-istilah yang perlu dipahami secara mendalam, atau setidaknya kita perlu memberi sticky notes untuk membantu mempermudah jika suatu hari kita dapat Aha! moment atau nemu permasalahan yang solusinya "kayaknya pernah baca di buku ini..", sehingga perlu mencari ulang poinnya dengan cepat. 

Sejauh ini membaca satu buku dalam durasi yang lama tidak se-membosankan seperti yang saya kira. Saya sedang membaca salah satu buku M. Quraish Shihab yang baru mulai saya baca di awal Ramadan lalu, dengan progress berkisar 5 sampai 10 halaman saja setiap harinya. Sebelumnya saya menyelesaikan Atomic Habits yang ditulis oleh James Clear dalam dua bulan, tapi justru merasakan efek baiknya untuk diri sendiri setelah pelan-pelan menyelesaikan membaca bukunya. Mungkin karena sering melompat mundur ke halaman-halaman yang telah dibaca karena lupa dengan inti bahasan sebelumnya, atau untuk memastikan halaman berikutnya akan sesuai dengan pemahaman yang saya terima sebelumnya, jadi malah meninggalkan pengalaman membaca yang lebih mendalam. 

Diambil dari salah satu artikel di https://www.theguardian.com/ tentang The art of slow reading "If you want the deep experience of a book, if you want to internalise it, to mix an author's ideas with your own and make it a more personal experience, you have to read it slowly

Kalau berdasarkan artikel di atas slow reading is an art maka menurut saya fast reading is a skill, yang untuk mengasahnya kita perlu punya privilese. Tentu saja ada banyak orang-orang yang memang punya kemampuan membaca cepat, dengan tetap dapat makna mendalam dari buku yang ia baca, tapi privilese juga menentukan kemampuan membaca cepat. Membaca cepat perlu konsentrasi tinggi, untuk membuat kita bisa berkonsentrasi maka privilese ikut berperan. Tidak semua orang punya keleluasaan mereduksi gangguan eksternal (untuk berkonsentrasi) saat membaca. Tiba-tiba ingat hutang pekerjaan belum beres, ingat besok harus pakai baju seragam yang belum dicuci, atau tiba-tiba ada mas-mas paket nganter barang.. dan momen "ahhh euy.." lainnya πŸ˜‚

Pada akhirnya membaca dengan cepat ataupun dengan perlahan cuma soal cara. Dua-duanya punya kelebihan dan kekurangan, yang lebih penting dari dua hal itu adalah minat untuk membaca. Pada buku Yang Hilang Dari Kita: Akhlak, dalam bahasan tentang kewajiban seorang muslim untuk menuntut ilmu yang salah satu caranya bisa diperoleh dengan membaca. Tentu saja ditafsir dari kata "Bacalah!" yang ada pada surat pertama yang diturunkan di bumi, Al-Alaq. Bahkan kata Iqra diulang kembali di ayat ke-3. Hal ini bisa diartikan secara sederhana sebagai perintah untuk kita sebagai muslim untuk membaca (dalam arti yang sangat luas). 

Friday, April 1

Buku-Buku Yang Saya Baca


Salah satu resolusi menyambut awal tahun 2022 kemarin adalah kembali rutin membaca buku. Mengaktifkan lagi https://www.goodreads.com/ untuk mempermudah mencatat buku-buku yang sudah, sedang, dan ingin saya baca. Ternyata seru banget, beberapa diantaranya saya tulis di sini sebagai buku yang saya rekomendasikan. 

1. Na Willa
Na Willa seorang gadis kecil yang tinggal di sebuah rumah di salah satu gang di kota Surabaya, kisahnya diceritakan dalam dua buku, satu buku berwarna merah, dan satu buku bersampul hijau dengan judul Na Willa dan rumah dalam gang. Cerita Na Willa sebenarnya sederhana, hanya seputar keluarga, teman-teman, tentang sekolah dan bermain. Yang membuat bukunya istimewa karena semua kisah tadi dilihat dari kacamata Na Willa, seorang anak usia TK yang cerdas sekaligus polos, dengan tutur bahasa yang apik sekali. 

2. Pulang
Sekitar pertengahan 2021 saya menonton film garapan Angga Sasongko, judulnya Surat dari Praha, sebenarnya film ini sudah ada dari tahun 2016. Buat saya yang gak terlalu suka menonton, film yang dibintangi Tio Pakusadewo ini indah. Indah karena pengambilan gambarnya berlokasi di kota Praha yang lazim dengan bangunan-bangunan heritage, jembatan megah, sungai yang membelah kota, dan suasana khas kota tua lain yang menyenangkan. 

Membaca Pulang yang di tulis oleh Leila S. Chudori, membuat saya membayangkan setting kota Paris dalam buku itu seperti Praha dalam film, dan Dimas Suryo (tokoh dalam bukunya) adalah Tio Pakusadewo jika diwujudkan dalam bentuk manusia nyata. Sama seperti Surat dari Praha, pulang juga bercerita tentang rangkaian peristiwa bersejarah yang terjadi di Indonesia, cerita dan tutur bahasa dalam novelnya sangat visual, nilai sejarah yang ada dalam buku ini membuatnya semakin menarik untuk dibaca.

3. Atomic Habits
Dulu saya menghindari membaca buku-buku bergenre self improvement, menghindari karena buku-buku sejenis ini selalu berhasil membuat saya merasa digurui, kesannya selama ini saya salah mengambil langkah. Tapi seiring bertambahnya usia, dan semakin ruwetnya permasalahan hidup, buku self improvement kok jadi menarik ya hahaha. 

Karena genre buku seperti ini adalah buku yang gak bisa selesai dalam sekali duduk, dan harus dibaca saat hening, dan saat mau, jadi saya baru bisa menyelesaikan buku ini dalam dua bulan. Itupun dengan tekad mencari jawaban kenapa selama ini saya banyak alasan banget kalau soal olahraga. Ketemu jawabannya? ketemu, trus jadi rajin olahraganya? belum πŸ˜† 

Saya gak ulas isi bukunya, karena banyak banget inti isinya, kalau meminjam kalimat pembawa acara webinar "ini materinya daging semua". Ya karena memang banyak banget hal baik yang bisa disimpulkan dari buku ini. Mungkin lebih seru lagi kalau baca versi buku import yang bukan terjemahan ya, beberapa istilah memang sulit dipadankan dengan kata dalam bahasa Indonesia. Tapi karena buku import harganya bisa dibuat beli tiga buku terjemahan atau buku penulis dalam negeri, dan saya juga ga jago-jago banget baca buku bahasa inggris, jadi saya berusaha untuk gak masalah hahaha. 

Seorang teman bertanya, apakah saya punya buku yang dibeli namun tidak pernah dibaca? sejauh ini gak ada. Semua buku saya (setidaknya) sudah lepas dari plastik yang membungkusnya. Setidaknya sudah pernah saya baca, meski ada buku-buku yang saya putuskan untuk tidak menyelesaika membacanya. Seperti baru saja bulan kemarin, saya membeli Cantik Itu Luka yang ditulis oleh Eka Kurniawan. Saya membeli karena tergoda melihat teman baik saya memberi rating 5 pada buku tersebut. Tapi saya tidak bisa menyelesaikannya karena menurut saya bahasa dan ceritanya terlalu kasar, terlalu vulgar, dan saya memang tidak suka membaca buku-buku dengan suasana kelam. Dan demi menghindari perasaan berdosa karena tidak menyelesaikan membacanya, akhirnya buku itu berpindah tangan. Lagi-lagi membaca buku adalah soal selera, ya? 😊 

Sunday, March 27

Berkemah



Seperti tahun-tahun sebelumnya, Februari adalah bulan wajib berkemah bagi kami. Kali ini Curug Bentang Padjajaran jadi lokasi pilihan kami. Barangkali ada yang belum tau, curug berarti air terjun dalam bahasa Sunda. Berjarak kurang lebih 60 km dari kota Bandung, lokasi berkemah ini bisa ditempuh dalam durasi kurang lebih 2 jam perjalanan dengan kendaraan roda empat. 

Bentang Padjajaran memiliki pintu masuk yang sama dengan Punceling camping ground, bedanya kalau Punceling bisa langsung berkemah, atau menggelar tenda di sekitar kendaraan, untuk Bentang Padjajaran lokasi berkemahnya perlu ditempuh dengan hiking terlebih dahulu. Hikingnya tentu saja dengan jalan menanjak khas pegunungan, tapi jaraknya tidak terlampau jauh kok, kurang lebih 1 kilometer dari area parkir mobil. 

Kemarin kami pergi bersama tiga keluarga dengan total tujuh anak, karena perlengkapan berkemah kami yang aduhay, kami dibantu warga lokal, kang Budi namanya. Kang Budi bersama beberapa temannya, membantu kami mengangkut barang-barang dengan menggunakan kendaraan roda dua untuk sampai ke lokasi. sehingga kami hanya membawa ransel dan barang pribadi saja. Sebagai bayangan hiking, anak-anak sanggup menempuh jarak dengan riang. Jadi seharusnya medannya juga tidak terlalu berat untuk orang dewasa. Biaya yang dikeluarkan untuk berkemah di Bentang Padjajaran adalah 25.000 untuk setiap orang, sudah termasuk tiket masuk dan bantuan membawa barang-barang. 

Diantara kawasan berkemah yang sering kami kunjungi seperti Rancacangkuang, Curug Mandala, dan Gunung Puntang, Bentang Padjajaran ini menduduki peringkat teratas rekomendasi kami.. kawasannya bersih, buat main air juga tidak telalu jauh, dan yang lebih seru, lokasinya masih sepi pengunjung. Mungkin karena untuk menuju ke sini perlu berjalan kaki, jadi kebanyakan lebih memilih berkemah di Punceling untuk kemudian pagi harinya berjalan menuju ke sini. Satu-satunya yang jadi pertimbangan, kawasan berkemah ini ada di kawasan lembah, sehingga angin seolah bertiup-berputar di sekitar kami sepanjang malam tanpa henti. Padahal biasanya puncak berkemah adalah obrolan malam hari saat anak-anak sudah tidur. Tapi karena kemarin angin cukup kencang, kami menyerah masuk ke tenda masing-masing pukul sepuluh malam. 

Di sekitar Bentang Padjajaran ada warung sederhana milik sepasang suami istri. Di warung ini juga ada toilet yang layak untuk ukuran bumi perkemahan (jumlahnya banyak, airnya lancar) meskipun tidak ada cahaya penerangannya. Kalau niat berkemah di sini, tidak perlu membawa banyak perbekalan, karena di pagi hari pemilik warung menyediakan gorengan hangat, lengkap dengan sambal cabai hijau yang nikmat banget. Kami menukar satu nampan gorengan dengan tiga lembar uang sepuluh ribu; gehu, bala-bala dan tempe secara ajaib tersedia di depan mata. Saat berkemah, memakan sesuatu yang hangat selain mie instan adalah kemewahan 😁

Abah dan Ibu pemilik warung juga memiliki kebun stroberi, kemarin kami ditawari petik sendiri, satu kilo stroberi dihargai empat puluh ribu rupiah. Percayalah itu harga yang murah untuk ukuran buah yang besar, dan rasa yang manis. Kemarin saya membeli satu kilo stroberi dan langsung habis keesokan harinya tanpa perlu melewati proses pengolahan macam-macam. 

Oh iya, ini adalah kali pertama kami berkemah dengan keluarga dari sekolah Aksara, serunya karena punya teman sebaya, semua anak-anak mendadak gak kenal sama kata bosan. Sepanjang hari main bersama, saling mengunjungi tenda, berkejaran ke sana kemari, mencari daun dengan bentuk yang unik, mengumpulkan ranting untuk di bawa ke sekolah (kemudian tertinggal di parkiran), main air lalu kedinginan, makan-ngemil, main api, begitu terus diulang sampai pulang. 

Esok harinya rombongan kami berpisah sekitar pukul sebelas siang, setiap habis berkemah rasanya enggan menempuh perjalanan pulang. Selain karena energinya sudah menipis, mengarungi macet kota Bandung juga tantangan banget hahaha. Dalam perjalanan pulang kami mampir makan bakso di sekitar Jln. Soreang-Ciwidey, lokasinya persis di seberang Victory Waterpark. Cukup banget buat memulihkan energi yang menipis. Berkemah memang selalu melelahkan, tapi sejauh ini selalu berhasil bikin ketagihanπŸ˜…