Friday, April 10

karena (cara) menyapih adalah pilihan

halo! 
ini sudah hari kelima sejak saya dan masery menjalani keseharian kami tanpa pagi. saya merelakan pagi menghabiskan sepuluh hari penuh di lampung bersama eyang putri juga dua kakak sepupunya. duh, sudah jangan ditanya rasanya berpisah berhari-hari. sebagian besar hati ini seperti kosong dan hilang. tapi kalau balik lagi ke tujuan utama, ya harus ikhlas dan berbesar hati sih. toh ini karena ketidakmampuan saya sendiri. jadi memang misi utama saya adalah menyapih pagi.

kalau dulu sekali saya punya cita-cita akan terus menyusui sampai nanti, sampai pagi yang memutuskan untuk menyelesaikan kebiasaannya sendiri. mengingat perjuangan menyusui di awal-awal kelahiran pagi dulu, rasanya tidak rela kalau harus cepat menyapih. tapi kalau dilihat berapa minggu kebelakang.. pagi semakin sering bangun malam, semakin susah makan, semakin latah untuk menempel terus pada ibunya. ntahlah, saya percaya semua itu berkaitan dengan extended breastfeeding-nya. jadi gagasan menyapih memang muncul dari situ. walaupun selain itu juga harus diakui kalau saya mulai lelah dan mmmm.. bosan.

soal cara menyapih, saya mengaku amat cemen. meski di usia pagi ke 25 bulan kemarin, saya pernah mencoba menyapih dan langsung menyerah. saya tidak sanggup jika harus mengulang dan mencoba melakukannya lagi. jadi setelah melewati proses diskusi yang cukup panjang, saya dan masery memutuskan untuk mengambil cara menyapih yang ini. lagipula sudah sejak lama ibu menawarkan membantu proses menyapih pagi. jadi kebetulan sekali kan? pertimbangan utamanya juga karena ibu mempunyai daycare. disana pagi bisa punya banyak teman dan bermain dengan fasilitas cukup, artinya pagi punya banyak pengalih yang menyenangkan. semoga.

dan benar saja, sejak hari pertama ditinggal, masalah utama pagi hanya saat memulai tidur. karena memang terbiasa tidur dengan menyusu, ketika saya tidak ada, ya dia tidak punya pengantar tidur. tapi alhamdulillah drama pengantar tidurnya hanya berlangsung tiga hari. selebihnya pagi mulai terbiasa tidur sendiri. bahkan tidur siang-pun sudah tidak perlu "diantar" lagi. mungkin karena meniru teman-temannya yang memang dibiasakan tidur sendiri. tapi, pagi masih bangun malam, sambil menangis tentu saja. meski frekuensinya sudah tidak sesering saat masih menyusui dulu.

ini sudah hari kelima, rencananya kemarin, saya dan masery akan menjemput pagi di jumat ini. tapi ibu menyarankan kami bersabar, toh dalam keseharian pagi tidak pernah rewel mencari saya. nafsu makannya membaik, sudah mau minum susu (tadinya tidak sama sekali) dan yang paling penting, setiap hari pagi gembira sekali karena punya banyak teman baru. dibilang rela, rela kok.. tapi ya rindu sekali. jadi mulai malam ini saya mulai menghitung hari.. tak sabar bertemu hari dimana saya bisa menjemput pagi. insyallah minggu depan ibu bapak ke lampung ya anak baik.

so, kalau diluaran sana ada banyak ibu yang berhasil menyapih dengan cinta, saya salut atas kesabarannya. yang juga sukses menyapih dengan "tega" karena memang sudah waktunya, saya angkat jempol atas kebesaran hatinya. karena saya bukan keduanya. tapi saya percaya every mom has her own battle, kan? termasuk soal cara menyapih :)


Saturday, March 21

belajar dari jatuh dan terluka

bisa dibilang saya bukan tipe ibu dengan perlindungan menyeluruh terhadap anak. saya ibu yang cenderung penuh risiko dalam artian begini, ketika pagi bisa berjalan.. saya lebih banyak membiarkan dia berjalan sendiri, tujuannya sederhana, supaya dia bisa lebih banyak bereksplorasi. meskipun dengan begitu saya tau peluangnya untuk terjatuh akan jadi semakin tinggi, dan terbukti memang begitu. tak jarang jatuhnya sampai menghasilkan lebam biru atau luka gores yang lumayan, tapi saya percaya dengan terjatuh pagi belajar. belajar bahwa dia tidak boleh berlari dijalan menurun, belajar untuk tidak terburu-buru ketika berjalan diatas tanah yang malamnya terguyur hujan.

begitu pula saat kami memutuskan untuk mengadopsi kana, si kucing berwarna abu. kalau soal kebersihan memang tak bisa kompromi, tapi kami ingin mengajarkan pagi tentang hubungan antara hewan dan manusia lewat kisah yang nyata. maka kami selalu bilang bahwa kana akan baik, jika pagi tidak mengganggunya. dan sebaliknya, dia akan mencakar jika pagi terlalu gemas menarik ekornya. langsung berhasil? tentu saja tidak, beberapa kali kami menemukan gores panjang di tangan dan kaki pagi. tapi pagi hampir tidak pernah menangis soal luka ini, mungkin dia mengerti bahwa sebenarnya kana hanya ingin mengajak bermain. meski pada akhirnya kami juga menghukum kana dengan mengurungnya didapur belakang :D

lain kisah lain cerita, kalau yang ini hampir setiap hari, pagi melihat aktivitas dapur ketika saya menyiapkan sarapan. dia melihat bagaimana saya mengupas bawang dengan menggunakan pisau, bagaimana saya memotong tempe menjadi iris-irisan kecil, pun menyaksikan saya mengulek ragam bumbu jadi satu didalam coet batu. itu baru pagi hari, malamnya, dia juga hampir selalu menemani saya menjahit, sehingga tau betul bagaimana caranya menggunakan gunting untuk memotong. dan tidak ada yang bisa membantah bahwa anak kecil adalah mesin scanner kualitas super. mereka memindai apapun kebiasaan orang dewasa yang terjadi dalam keseharian, lalu mencoba meniru dengan sangat yakin sekaligus keras kepala.

maka mau tidak mau, sejak umurnya belum genap dua tahun, saya mengijinkan pagi menggunakan gunting juga pisau sungguhan dengan syarat; dalam pengawasan. saya yakin ada banyak ibu yang histeris ketika melihat anak-anak kecilnya memegang benda tajam seperti gunting dan pisau, nah entah kenapa saya tidak. saya percaya bahwa memberi mereka kepercayaan jauh lebih baik ketimbang membatasi mereka dalam banyak hal. saya juga punya keyakinan bahwa anak-anak kecil adalah mahluk lucu sekaligus pintar meski mereka belum paham betul apa dan bagaimana cara berhati-hati.

malam ini pagi kembali belajar, dia terluka saat menggunakan gunting untuk memotong kertas bekas. ini adalah luka dengan darah mengalir pertamanya. saya sempat kaget, sepersekian detik. sampai saya menyadari bahwa pagi tidak mengangis histeris. kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah "ibuk.. sakit.." disusul dengan air mata yang mengalir perlahan tanpa suara. naluri keibuan saya mengatakan bahwa saya harus berbuat seolah semua akan baik-baik saja, meski didetik-detik pertama kali saya gelisah dengan mengintip darah yang mengalir dari tangan kecilnya.

ini adalah pelajaran kesekian pagi tentang terluka, bohong kalau saya tidak ngilu melihat tangan kecilnya disinggahi plester. tapi saya percaya pagi akan belajar banyak dari apa yang terjadi malam ini, lagi-lagi soal hati-hati, kali ini ditambah soal teliti. kalau ditanya apa besok saya tetap mengijinkannya menggunakan gunting? saya akan dengan mantap menjawab "iya.." dan jika malam ini ada perasaan yang membuat haru adalah bukan karena melihat tangannya terluka melainkan karena menyadari bahwa ternyata saya juga sedang dalam proses belajar, belajar untuk berjiwa besar dan menerima kenyataan bahwa semakin hari pagi semakin besar dan pintar :)


Thursday, March 19

diet swalayan

sudah sejak akhir tahun kemarin, saya dan masery memutuskan untuk berdiet swalayan. ide ini muncul dengan tidak disengaja saat kami berbicara tentang cost pengeluaran bulanan terbesar keluarga yang menurut kami disebabkan oleh kunjungan ke swalayan. memang sih, kebutuhan bulanan rumah tangga tetap tidak bisa dihindari. tapi setidaknya dengan diet swalayan saya tidak punya alasan untuk memasukkan banyak item tak terduga kedalam keranjang belanja dengan dalih lapar mata ketika berkeliling swalayan.

jadi kami kembali pada cara lama, membuat list kebutuhan setiap bulan dan mampir ke toko grosir jika memang ada kesempatan. hasilnya? tentu saja masih berantakan hahahahahahaha. seperti minggu lalu, saya kehabisan margarin selama berhari-hari dan baru saja kemarin saya lupa membeli garam dapur yang menyebabkan masery harus berkunjung ke warung terdekat disubuh buta. sedikit kecau karena memang sebelumnya kami terbiasa membeli apa saja dalam satu tempat, sekarang tidak lagi. tapi ada kalanya menunda membeli sesuatu yang dibutuhkan itu lebih baik ketimbang harus membeli sesuatu hanya karena merasa butuh saja, iya kan?

seorang teman bertanya soal selisih harga yang harus kami bayar jika berbelanja di toko grosir, pasti ada sih. tapi sejauh ini menurut saya tidak signifikan, berkisar 500 sampai (paling mahal) 1500 rupiah untuk satu item keperluan rumah tangga yang saya butuhkan. jika saya membeli 20 item dikali dengan selisih harga termahal artinya saya harus membayar 30000 lebih mahal. bandingkan jika saya berbelanja di swalayan, saya akan menghabiskan lebih dari 50000 rupiah untuk memenuhi hasrat lapar mata seorang ibu rumah tangga.

diet swayalan ini juga berlaku untuk kebutuhan sayur mayur. saya ingat ketiga pagi memulai mpasinya dulu, saya mengunjungi swalayan setidaknya tiga kali dalam seminggu untuk membeli bahan masakan (yang terlihat) segar, termasuk sayur mayur. kalau dulu alasan saya; hanya supermarket yang buka sampai malam, swalayan/supermarket bisa "menunggu" sampai saya selesai bekerja. waktu itu sama sekali tidak terpikir untuk bangun lebih pagi, mengunjungi mang mamat si tukang sayur yang menggelar dagangannya di lapangan basket komplek perumahan. kalau sekarang sih beda, saya sudah setia sama gerobak mang mamat, mulai ayam kampung sampai ubi cilembu siap makan semua ada, juwara!

eh saya bukan (atau belum) anti swayalan loh ya, apalagi untuk beberapa bahan makanan seperti sosis, nugget atau butter dengan merk tertentu, agak sulit ditemukan dipasar tradisional. jadi sesekali saya masih mampir swalayan untuk memburu minyak goreng diskon membeli yang benar-benar tidak bisa dicari ditoko grosir. dan menurut saya sejauh ini keputusan kami berdiet swalayan menantang sekaligus menyenangkan, meski karena belanja yang "dicicil" itu beberapa kali saya lupa membawa kantong belanja sendiri, nanti kalau masa adaptasinya sudah selesai, gak bakal lupa lagi kok *salim sama aktifis lingkungan seindonesia*

Wednesday, March 18

belum ikhlas jadi mantan

maret bisa dibilang bulan sibuk yang tak terduga, sampai saya terpaksa harus merelakan berminggu-minggu tanpa menulis. jangankan merangkai kata menjadi cerita, mengetik dua tiga kalimat saja, saya enggan. energi seolah terkuras habis sepanjang delapan jam dikantor, begitu sampai dirumah, sisa-sisa tenaga saya habiskan untuk menemani pagi bermain, lalu mengantarnya tidur dan tentu saja segera setelah itu saya ikut menyusul. saya meliburkan sesi menjahit dengan penuh kepasrahan, meninggalkan tumpukan kain dan antrian pesanan. tak jarang ritual makan malam juga ikut terlewat begitu saja. iya, lalu saya mengucapkan selamat datang di dunia pekerja kantoran.. dunia yang entah kenapa bisa saya cintai.

awal maret kemarin adalah mula cerita. setelah diijinkan libur berdinas menginap selama dua tahun penuh oleh pak bos baik hati, tanggal 6 maret lalu batas cuti dinas saya berakhir.. sesuai kesepakatan, saya harus berangkat, menginap, tiga hari dua malam. rasanya tidak pantas menolak.. sudah diijinkan bebas tugas menginap selama dua tahun saja bersyukur sekali, masih tega untuk minta lebih? coba.. kantor mana yang bosnya bisa sebaik bos saya? rela menggantikan bawahannya berdinas kemana-mana selama dua tahun, demi memenuhi permohonan saya untuk bisa menyusui selama dua tahun penuh. tapi, memenuhi surat perintah tugas itu juga berarti drama buat saya. pagi belum disapih, dan saya memang belum ingin menyapih. itu masalah utamanya.

seminggu sebelum berangkat, saya mencoba menyapih dadakan. salah, iya saya mengakui itu. menyapih tiba-tiba tanpa mau memberikan obat merah, atau plester atau mengoleskan bratawali. keras kepala, yes i am. entah kenapa saya sangat menghindari menyapih dengan cara-cara seperti itu.. menurut saya, akan jauh lebih bijak (dan tentu saja lebih sulit) berterus terang pada anak mengenai alasan kenapa dia harus berhenti menyusu, ketimbang harus membohonginya dengan cara halus. dan untuk hal ini, masery sependapat. maka yang terjadi selanjutnya adalah drama sepanjang malam hahahahahahahhaha..

singkat cerita, kami sudah melewati masa begadang karena harus menunggu pagi mengantuk. saya sudah berkali-kali berurai air mata karena tidak tega melihat pagi kehilangan sesuatu yang biasanya membuat dia nyaman. jam tidur pagi berkurang drastis, yang biasanya jam 7 malam sudah tidur, kali ini jam 10 malam masih gelisah. belum lagi kalau malam harus terbangun karena ritual minum susu yang tidak terpenuhi. pagi akan menangis, disusul kemudian oleh saya. duh, rasanya saat itu ingin segera melompati waktu. meskipun saya tau, mengkhayal tentang mesin percepat waktu yang mustahil itu malah akan membuat saya lebih terbebani.

sampai akhirnya hari H tiba. saya berkali-kali mengucap terimakasih pada masery yang bersedia menjaga pagi selama saya berdinas. saya pergi dengan berbekal satu hal sakti yang bernama sugesti. katanya, suasana hati anak sama dengan suasana hati ibunya. jadi saya berusaha ikhlas sambil terus mensugesti diri bahwa pagi akan baik-baik saja. benar saja, malam pertama berjalan mulus.. pagi lancar tertidur tanpa menangis mencari ibu. begitupun malam kedua yang akhirnya berlalu begitu saja. saya tidak menyangka, ternyata pagi jauh lebih pintar dan lebih pengertian dari yang saya duga. alhamdulillah. sepulang dari berdinas, saya kembali pada peran lama. banyak yang menyayangkan, termasuk ibu saya sendiri. tapi untuk yang satu ini, saya memang belum rela, saya belum ikhlas berganti status dari ibu menyusui menjadi mantan ibu menyusui :)


Friday, February 27

mudah (tapi sulit)

tau gak apa yang sebenarnya mudah tapi sulit? membiasakan bergaya hidup ramah lingkungan. saya yakin sekarang ini sudah banyak orang yang sadar bahwa menjaga lingkungan itu sangat baik. tapi tentu bukan berarti cukup dibayar lunas dengan hanya tidak membuang sampah sembarangan. dalam lingkaran besarnya, ramah lingkungan bukan cuma soal kewajiban membuang sampah pada tempatnya. tapi soal seberapa banyak "penghematan" sampah rumah tangga yang sudah kita lakukan, juga soal seberapa bijak kita mengendalikan kebutuhan sandang kita. karena gaya hidup ramah lingkungan seharusnya berbanding lurus dengan gaya hidup fungsional.

saya pernah membaca tautan link yang bercerita tentang lauren, perempuan muda yang dengan bahagianya bisa berkata "i haven't made any trash in 2 years". super cool! beneran lauren ini kecenya udah level dewa. saya sendiri masih jaaaaaauuuuh sekali dari zero waste lifestyle meski sudah menyediakan tas kain didalam ransel dan selalu berusaha untuk membawa bekal makan atau minum sendiri kemanapun saya pergi.. tapi tetap saja, ketika tiba-tiba ingin membeli camilan atau makanan karena malas memasak, saya akan dengan rela pergi ke warung makan dan membungkus semuanya dengan kantong plastik makan. padahal hobi menimbun tupperware didasari niat akan membawa kemanapun mereka dalam keadaan kosong untuk mengantisipasi keinginan bungkus makanan yang sering terjadi tiba-tiba :D

kalau disekitar saya, sudah banyak orang-orang kece nan inspiratif dengan gaya hidup ramah lingkungan yang jempolan banget. mulai dari yang paling sederhana, membawa tas kain, bekal makan dan minum sendiri.. sampai yang dengan niatnya membuat sendiri sabun cuci juga sabun mandi. sebagai perempuan dengan jiwa kompetitif yang sangat tinggi, awalnya saya gak mau kalah dong ya. pengen juga bikin body butter sendiri trus dipamerin di instagram. maka pagi ini saya coba browsing tutorialnya, ternyata.... ribet sodara-sodara *tutupin tab firefox* maksudnya untuk orang dengan tingkat kesabaran sangat rendah seperti saya, kayaknya gak cocok deh bikin-bikin begitu. atau sepertinya sih, saya memang harus konsisten berdiet kantong plastik dulu, baru bisa naik level membuat segala sesuatu dengan label homemade :p

Sunday, February 8

tahun kedua



Halo Pagi!
Selamat memasuki dunia selalu ingin tau di tahun kedua-mu. Tumbuhlah nak, tumbuhlah dengan sederhana dan bahagia :)
 

Template by BloggerCandy.com