Thursday, January 21

selow bu

sebagai istri sekaligus seorang ibu, pasti pernah dong mengalami masa-masa tegangan tinggi. apalagi kalau standar dasar kehidupan rumah tangga tidak tercapai, seperti pulang kerja dapet laporan anak tidak mau makan, atau tidak melakukan ritual tidur siang karena terlalu asik bermain sehingga berujung rewel tak bertepi. wihh.. rasanya alhamdulilllah sekali ya. untuk ibu dengan sumbu sabar super pendek seperti saya, kalau sudah ada kejadian seperti diatas tadi, ada yang mancing sedikit saja bisa langsung meledak. nah kalau saya, tipikal ledakannya bukan ke anak, tapi ke pak ery. silahkan ditanya selama empat tahun menikah berapa kali pak ery kikuk menghadapi luapan kemarahan saya. diam salah, berkomentar lebih salah hahahahaha.. 

logikanya, siapa lagi sosok yang bisa dijadikan tempat menyalurkan ketegangan selain suami kan? meskipun saya sepenuhnya sadar logika yang ini sama sekali tidak baik. jujur sebagai ibu biasa saya juga pernah meluapkan kemarahan pada pagi, tapi setelahnya bukan cuma menyesal.. saya juga terluka. apalagi pagi kan? perasaan bersalah seolah tidak pernah hilang jika kembali membayangkan matanya yang takut karena kemarahan saya. maka setelah kejadian itu saya berjanji untuk tidak pernah lagi bicara dengan menaikkan intonasi suara semarah apapun saya. jika sudah ada dipuncak kemarahan, biasanya saya hanya bilang dengan intonasi suara yang tetap biasa "ayo berhenti dulu nangisnya, ibu gak suka. nanti ibu marah.."

setelahnya, apa lalu tensi menurun? karena saya bukan kloningan bu elly risman, jawabannya tentu saja tidak hahahaha. maka disinilah peran suami akan sangat menentukan. dear para suami, mengertilah kalau sejak jaman dahulu kala, perempuan itu selalu berpegang teguh pada perasaan. itulah kenapa fluktuasi emosinya bagai silver star-nya europa park. sebenarnya cara menurunkan tensi seorang istri itu sederhana saja kok.. macam ajak berdiskusi yang menyenangkan, atau bercerita tentang resensi buku dan film favorit, maka perlahan tensi seorang istri yang tadinya naik akan menurun dengan sendirinya. tapi biasanya dibalik setiap kemarahan-yang-akhirnya-tidak-jadi itu, seorang ibu pasti banyak belajar dan beberapa diantaranya pasti langsung mencari solusi.

sebenarnya setiap ibu, termasuk saya percaya, tidak ada satupun masalah yang bisa selesai dengan marah. maka akhir-akhir ini saya menemukan solusi terbaik (menurut saya) yaitu mulai mencoba menurunkan standar kehidupan. hal remeh temeh yang masih bisa ditoleransi seperti kelebihan screen time dan "jajan sembarangan" mulai saya abaikan. standar ideal kehidupan rumah tangga bahagia seperti hanya memakan makanan sehat setiap hari, membacakan buku setiap jelang tidur, membatasi intensitas bertatap layar juga mulai saya turunkan. berkacamata kuda saja, toh kadang mengabaikan standar ideal itu perlu untuk menjaga kita tetap waras. dan sepertinya saya memang harus mulai menyugesti diri dengan mantra "selow, bu.. dibawa kalem.."


Saturday, December 12

balada ibu hamil

semua yang kenal saya sejak awal kuliah dulu sampai sekarang sudah 10 tahun lebih, rata-rata tidak pernah pangling dengan penampilan saya. secara fisik, gaya dan wajah ya memang gini-gini aja sih hahahaha. kalaupun ada beberapa yang berubah, paling sekedar tidak pernah lagi memakai jeans sobek dan gelang yang menumpuk ditangan. selebihnya bisa dibilang sama, saya masih setia dengan all star, cenderung tidak fesyenebel dan tidak pernah tertarik dengan make-up. nah tapi tidak tertarik dengan make-up bukan berarti saya cuek dan gak peduli dengan perawatan kulit loh ya. terutama kulit wajah, buat saya tetap wajib.. lah kalau sudah gak ber-make-up ditambah wajah kusam yang biasanya sepaket sama jerawat kan gak bagus juga dong.

sejak punya penghasilan sendiri saya memang sudah rutin perawatan kulit wajah, meskipun tidak pernah cocok dengan satupun produk yang beredar dipasaran. kulit saya yang cenderung berminyak dan aktifitas berkendara roda dua membuat jerawat rajin banget mampir ke wajah. setelah tanya sana-sini, mulai deh coba-coba ke dokter kulit, tapi hanya bertahan kurang dari satu tahun, itupun dalam rangka mau jadi pengantin makanya dibetah-betahin. saya sebenarnya benci banget facial. buat saya slogan beauty is pain masih belum bisa diterima dengan logika hahahaha. akhirnya berhenti bertepatan dengan momen hamil pertama. yaudahlah ya.. udah dasarnya gampang banget jerawatan, ditambah hormon hamil dan tanpa treatment apapun, bye bye hamil cantik.

setelah melahirkan dan melewati masa asi ekslusif, saya bertekad menerapkan kembali perawatan kulit. kekhawatiran akan masalah jerawat seperti ini nih yang bikin saya yakin kalau saya benar perempuan normal hahahaha. oke, jadi waktu itu pilihannya jatuh ke klinik estetika asuhan dokter suud. konon katanya perawatan dilakukan tanpa facial dan gak perlu bolak balik konsultasi sama dokternya. mahal? iya hahahaha. pertama kali bayar harus rela membuat tabungan akhir tahun cuma mampir sebentar ke rekening. trus cocok? banget! jadi mahalnya terobati sekali dengan hasilnya. duh.. rasanya saat itu jadi masa-masa paling percaya diri datang ke kantor atau resepsi pernikahan hanya bermodal bedak dan lipstik tipis karena kulit wajah kinclong jauh dari problem jerawat.

februari 2015, kehamilan kedua mulai direncanakan. sejak hamil pagi, saya sudah sadar soal efek negatif produk kimia yang masuk/terserap kedalam tubuh ibu. jadi sejak saat merencanakan kehamilan kedua sayapun memlilih jalan yang sama, berhenti (lagi) melakukan perawatan wajah. satu dua bulan pertama sih belum terlalu berpengaruh, kalaupun ada jerawat paling dimasa-masa pms saja. nah seiring dengan kabar bahagia di bulan juni, hormon pendukung jerawat mulai menunjukkan eksistensinya. si jerawat datang dan pergi silih berganti, apalagi perut belum buncit kan ya, jadi tiap ketemu orang-orang pertanyaan paling populernya adalah "loh kok jadi jerawatan?"

sempat gundah gulana selama berbulan-bulan sih, rasanya rindu dokter suud. tapi sadar betul kok "keras"-nya krim malam untuk ibu hamil, bahkan dokternya sendiri sangat tidak merekomendasikan. jadi aku harus gimana? hayati lelah bang.. *ea* browsing sana sini, nyobain lagi produk yang beredar di pasaran yang terkenal karena ke-halal-annya, dengan harapan cocok. tapi ternyata hasilnya nihil. sempat berniat dan berencana menggunakan krim perawatan yang beredar di istagram, yang diklaim aman untuk ibu hamil dan menyusui, tapi ternyata saya tidak cukup nyali hahahaha.

sampai pada suatu hari setelah blog walking kemana-mana, saya nyangkut di hashtag #TBSBlogger dan langsung baca segala macem review produknya sampai khatam. the body shop! kenapa sih gak kepikiran dari dulu? sejujurnya kepikiran sih, lagi pula saya sudah setia dengan body mist dan lotionnya sejak awal menikah. tapi untuk produk yang lain, keburu minder duluan liat harganya, gak ada yang murah kak. hahahahahahaha. sebenarnya kalau di compare sama perawatan dokter mungkin sebelas dua belas sih. hanya saja karena TBS ini organik, jadi efeknya pasti gak bakal secepat dan sedahsyat produk kimia. tapi buat keadaan darurat seperti saya sekarang sih, yang penting aman titik.

jadi setelah melewati masa browsing setiap hari untuk meyakinkan apa yang harus dibeli dan bisa ditunda, maklum buat saya kalau beli sekaligus bisa bikin syok, jadi mesti pintar memilih mana yang prioritas. akhirnya saya memutuskan untuk beralih ke rangkaian tea trea-nya TBS. sebelum mulai dipakai, mesti belajar mengikhlaskan diri dulu, kalau-kalau sudah merelakan terkurasnya tabungan akhir tahun (lagi) trus tetep gak cocok hahahaha. tapi meskipun mungkin efeknya kurang signifikan, setidaknya tidak "meracuni" kan? cie.. iya deh belajar pasrah bijak. nah ketika saya menulis ini, artinya sudah memasuki minggu kedua pemakaian tea trea series-nya TBS. alhamdulillah cocok *menangis haru* meskipun gak langsung cling kayak treatment-nya dokter suud, tapi minimal masih bisa ngerasain hamil minim jerawat deh. 



Thursday, December 10

secuil drama akhir tahun

oh, hai blog!
bisa-bisanya saya gak posting dibulan istimewa kemarin, rasanya memang tidak butuh alasan apapun selain mm.. malas, hahahaha. terlebih ini akhir tahun, memangnya kenapa? ya masa-masanya kantor penuh drama kakak. ih luar biasa banget. sampai senin kemarin setelah tercatat sebagai hamil paling kebo, anti karat dan tahan disegala cuaca karena nyaris tidak pernah mengeluhkan apapun, akhirnya ibu hamil ini mengukir tragedi dikantor dengan menangis. iyaaa.. didepan bos juga loh kak, kurang drama apalagi coba? rasanya pengen bilang "hayati lelah bang.." hahahaha. besoknya bisa ditebak dong, dipanggil ke ruangan pak bos dan ditanya dengan ekspresi khawatir. dan saya harus bolak-balik meyakinkan bahwa "pak, saya gak kenapa-napa pak. bener deh."

memang bukan sekali dua kali sih urusan dan pekerjaan kantor berujung air mata, apalagi semenjak dapat amanat lebih, beban lainnya seolah mengikuti. load kerja semakin tinggi, tanggung jawab semakin banyak, penghasilan semakin besar sementara energi, tenaga dan emosi terbatas segitu-gitu saja kan. tapi biasanya saksi matanya cuma pak ery. kalau sudah sampai di puncak lelah, sampai rumah, nunggu si anak kecil tidur, trus nyungsep disebelah pak ery yang lagi nonton tv langsung deh sesegukan. saya sih sebenarnya cuma butuh meluapkan saja kok, gak perlu ditanggepin, nanti juga reda sendiri. kalau udah reda ya balik jadi waras lagi hahaha.

yagitu deh pokoknya :p




Wednesday, October 28

istri bahagia

beberapa teman facebook saya mungkin familiar dengan artikel yang membahas soal perbedaan uang belanja dan nafkah untuk istri. sebenarnya asal muasal dan tujuan artikel sendiri itu menurut saya baik-baik saja sih. hanya terlihat lucu ketika beberapa diantaranya menyalahartikan bahwa nafkah istri (yang selanjutnya saya sebut nafkah ekslusif) adalah sesuatu yang hukumnya wajib dibayarkan oleh para suami.

jujur kalau saya kurang sepaham dengan semua suami dianggap harus bisa memberikan dan membedakan antara uang belanja dan nafkah ekslusif. beruntunglah kita yang memang disediakan fasilitas berupa pemberian dengan dua pos pengeluaran berbeda, tapi beberapa istri diluar sana tidak. kenyataannya ada berapa banyak suami yang sudah membanting tulang sekeras yang mereka bisa, tapi jangankan penghasilan untuk memberi nafkah ekslusif, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari berupa uang belanja saja kadang masih kurang dan tambal sana sini. jika kita ada diposisi mereka apa harus tetap menuntut terpenuhinya nafkah ekslusif?

buat saya, nafkah untuk istri itu bukan semata-mata diukur dari kemampuan suami memberi kelebihan materi. tapi ada banyak lagi parameter lain yang mendukung. kalau saya dan pak ery berprinsip hidup adalah udunan. baik materi maupun tenaga. dalam hal materi, kebetulan karena saya bekerja.. apa yang bisa saya bantu ya saya bantu. kami sama-sama mengumpulkan pundi rupiah demi rumah idaman, kami berdiskusi soal pengeluaran, pemasukan dan apa-apa yang ingin kami wujudkan. dalam hal tenaga buat pak ery, memandikan pagi, menyapu halaman, mencuci piring adalah hal yang biasa dilakukan setiap pagi. kami bekerjasama melebur dalam satu sistem bernama rumah tangga. meskipun tetap ada batas-batas prinsip yang harus kami patuhi.

saya setuju kalau sebagai perempuan yang sudah berkeluarga kita harus tetap cantik, setidaknya tetap menyenangkan jika dilihat. normal kalau berbagai cara ditempuh yang katanya; demi suami. seperti sebagian yang menjadwalkan rutin berkunjung ke salon, beberapa memilih wajib update fashion supaya selalu terlihat segar dan kekinian. tapi saya kenal banyak ibu yang cantik dengan cara mereka sendiri, tanpa harus blow rambut setiap hari dan menjadi fashionable setiap saat. mereka menurut saya adalah istri-istri sederhana yang bahagia. yang ikhlas menjalani kehidupan rumah tangga, bersyukur dengan apa yg diberikan Allah lewat tangan suami dalam bentuk apapun dan dengan jumlah berapapun. 

Tuesday, October 6

kelas jauh, kampung cileeur

masih euphoria dengan keriaan rombongan sirkus akhir pekan kemarin. jadi, ceritanya rombongan sirkus adalah kami orang-orang dengan latar belakang yang sangat random. beberapa diantara kami berprofesi sebagai pengajar, ada juga penggerak lingkungan yang pertemuan semuanya bermula dari satu komunitas bernnama aleut. saya sendiri mengenal beberapa diantara mereka melalui pak ery. saat menikah dulu, opan dan budhi, adalah dua orang yang berjasa menjadi pemain musik dipernikahan kami. singkat cerita, rombongan sirkus yang jarang banget bertemu ini, dipertemukan kembali dalam acara pernikahan salah satu personilnya. yang mana kami semua tiba-tiba menjelma jadi panitia dekorasi profesyenel hahahaha, eh tapi acaranya sakssses loh! dan karena dianggap sukses (oleh kami sendiri), sebulan kemudian.. kami berkumpul kembali di acara pernikahan yang lain sebagai panitia dengan status yang tetap sama.

disela-sela mempersiapkan acara pernikahan teman baik kami itulah, muncul ide berkunjung ke cileeur, salah satu kampung di kawasan gunung patuha, jawa barat. beberapa diantara kami termasuk pak ery, sudah pernah berkunjung kesana. teh yuni, salah satu anggota rombongan sirkus adalah guru lepas yang banyak berbagi tenaga dan pikirannya untuk anak-anak di desa kecil tujuan kami itu. kebetulan momennya tepat berdekatan dengan hari raya qurban, jadi kami menyimpan sebagian daging kurban untuk dibagikan disana. setelah melalui proses rapat seadanya karena nyaris selalu dilakukan via ponsel pintar. akhirnya kami tiba pada hari H.

berjumlah 8 orang dewasa dan 1 anak kecil yang sedang ada dalam fase selalu ingin tau, kami berangkat hari sabtu menggunakan satu kendaraan yang alhamdulillah cukup, meskipun harus berdesakan dengan barang bawaan dan puluhan kantong daging hahahaha. bersyukur karena sepanjang perjalanan pagi cukup kooperatif, yaa.. kalau rewel dikit pasti ada, namanya anak kecil diajak bepergian dengan jarak tempuh jauh, waktu tempuh lama, medan tempuh cukup ekstrim dan menggunakan kendaraan yang minim kenyamanan pula. tapi, pada dasarnya pagi senang bepergian dan senang jika banyak orang dewasa yang turut pergi bersamanya. terlebih karena orang-orang disekitarnya gembira, maka pagipun mudah terbawa suasana. sepanjang jalan dia selalu bernyanyi dan hanya benar-benar berhenti ketika tidur.

perjalanan ditempuh nyaris selama 5 jam untuk sampai ketempat tujuan. haduh jangan tanya gimana rasanya ibu hamil berguncang berjam-jam diatas jalan rusak berbatu menggunakan landrover, rontok deh rasanya pinggang ini hahahaha.. tapi, senang sekali karena lelahnya perjalanan langsung terbayar lunas dengan apa yang tersaji didepan mata. kabut turun dan perkebunan teh hijau yang luas berbukit-bukit. desa persinggahan pertama kami bernama sintok, kami kesana untuk berkunjung kerumah pak ustad, beristirahat sholat dan... mmm, (numpang) makan siang. hahahahaha. disini pertama kalinya saya mengenal tumis pucuk waluh yang dipetik langsung dari kebun, dan langsung menjadikannya sebagai salah satu makanan surga dunia. ya ampun, enak banget *nangis haru*
 


diatas ini adalah foto kampung sintok dari kejauhan sesaat setelah kami meninggalkannya untuk menuju cileeur. berada di perkebunan ini kadang membuat saya tidak percaya bahwa ini adalah jawa barat, bahwa lokasi ini tidak terlalu jauh dari pusat keramaian kota, bahwa anak-anak disini kesulitan mendapat akses pendidikan yang layak dan bahwa kampung-kampung kecil berada diantara lembah hijau yang membentang dengan jalan berbatu yang kerusakannya mencapai 95%. kalau saya dengar cerita dari teh yuni, mereka yang tinggal disini memang bukan penduduk asli, melainkan pekerja perkebunan teh. jadi kampung-kampung mereka sebenarnya adalah kavling "rumah dinas" pekerja.

kami tiba di kampung cileeur sekitar 45 menit kemudian, alhamdulillah. kelegaan saya yang pertama adalah; akhirnya kami berhenti digoyang jalan berbatu. entahlah kalau perjalanan masih dua jam lagi, mungkin saya akan memutuskan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki saja, hahahahaha. kelegaan yang kedua, karena disini sama sekali tidak ada sinyal provider. kapan lagi bisa berkumpul dengan teman-teman baik yang kesemuanya berpuasa media sosial. iya kan? pagi kecil tentu saja langsung gembira, tidak perlu lama untuk dia beradaptasi dan berlarian kesana kemari. ada banyak tempat baru untuk bereksplorasi, ada banyak anjing kecil lucu dan malu-malu untuk disapa. kami akan menghabiskan malam disini, menginap disalah satu rumah penduduk yang baik hati berbagi tungku masak dan ruang seadanya untuk kami.

sore harinya kami berbagi tugas antar personil, ada yang bertugas membagikan daging, memasak, mengajak pagi bermain; ini termasuk bagian dari tugas karena anaknya gak bisa diem banget, hahahahaha. saya dan kris bertugas membuat hiasan kertas kokoru untuk pinsil yang akan dibagikan sebagai hadiah untuk anak-anak yang bisa menjawab pertanyaan kami disesi dongeng selepas magrib yang akan dipimpin bapak dongeng dunia, pak budhi. ah, rasanya hangat sekali melihat anak-anak duduk melingkar dan memperhatikan dengan antusias. menjelang pukul 9 malam, suhu kampung cileeur seolah turun drastis. satu persatu kami berguguran dalam kantung sleeping bag. sayup saya mendengar pak farhan sang tuan rumah masih bercerita banyak hal tentang kampungnya kepada beberapa diantara kami yang masih terjaga. saya masih bisa menangkap inti cerita meski tidak ikut terlibat dalam pembicaraan itu, inti cerita yang hampir selalu dialami setiap masyarakat dari kampung yang tertinggal; tentang kesejahteraan dan pendidikan layak untuk anak-anak. 


 


         


Monday, September 14

ngidam dulu dan sekarang

banyak orang bilang bahwa ngidam itu bawaan bayi. tapi mungkin ini sedikit gak berlaku buat saya, soalnya saya ini tipe yang gak ada bayi diperut saja sudah banyak maunya hahahahaha. makanya kalau dibilang ngidam mungkin enggak juga, lebih cocok dibilang sebagai karakter bawaan. apalagi saya ini kalau kepengen sesuatu masih bisa ditunda sampai berhari-hari. seperti saat pak ery dines ke malang dan saya pengen banget mie jawa tapi males kalau harus makan sendirian, jadi mesti menunggu pak ery pulang beberapa hari kemudian. yang seperti itu gak jadi bikin saya kepikiran apalagi sampai gak bisa tidur. pokoknya selama bisa digantikan dengan makanan lain, saya sih santai aja. toh yang penting sama-sama enak dan bikin kenyang.

waktu hamil pagi dulu, saya cenderung senang semua makanan yang manis.. saya suka pisang, sepertinya diantara semua jenis makanan.. yang paling sering saya beli itu pisang molen. kalau buah, saya suka sekali belimbing yang diiris tipis dan dibumbui garam buah. meski saya juga tetap suka semua makanan yang pedas tapi level kepedasan saya masih jauh lebih manusiawi dibanding sekarang. di hamil kedua ini, rasa pedas itu harga mati, saya sampai pernah makan pepaya yang ditaburi bubuk boncabe level 15. lalu saya juga suka semua jenis mie dan bistik. entah berapa kali saya membayangkan ramen, mie jawa dan mie ayam. kalau untuk mie ayam sebenarnya enteng saja ya.. selain bisa ditemui dimana saja, harganya juga sangat ramah kantong. nah, yang agak bahaya adalah bistik, dimana yang saya pengen itu hanya bistik pasedena dan harga seporsinya mencapai delapan puluh ribu rupiah. kebayang kan? kalau sering-sering gaji saya sebagai PNS dijamin gak balik modal hahahahaha.

selain ingin ini itu yang berbentuk makanan, setiap hamil saya juga selalu tiba-tiba menyukai lagu atau pemain band. kalau dulu saya tergila-gila sama lagu payung teduh dan semua arransement-nya balawan, yang sekarang saya demen banget lihat chris martin.. serius bukan coldplay-nya tapi spesifik sama chris martin, ya ampun.. ya ampun.. ya ampun. tiap nyetel youtube rasanya pengen teriak histeris saking senengnya. iya.. norak, tapi ini memang beneran kok. selera musik saya ini cenderung payah, dalam artian, biasanya saya suka lagu yang itu-itu lagi dengan penyanyi yang itu-itu juga. tapi terakhir saya ingat, saya masih suka memutar paradise-nya coldplay sebelum hamil. dan sekarang saya sama sekali gak tertarik dengan lagu itu hanya karena chris martin di videoklipnya pakai topeng gajah hahahahaha. jadi chris martin yang paling saya suka adalah yang ada dalam videoklip yellow. sementara komentar teman saya "kayak orang bangun tidur gitu serius lo demen?". iya!


ah, dasar ibu hamil. 
 

Template by BloggerCandy.com