Friday, May 20

ditinggalkan

saya sering mendengar beberapa orang menyarankan agar kita cepat punya anak, mumpung masih muda katanya, dan (biasanya) setelah punya satu anak, disarankan untuk punya lagi (dan lagi) supaya ketika tua nanti ada banyak yang membantu mengurus kita. atau, jangan sampai tidak punya anak perempuan, karena biasanya kepada anak perempuanlah kita "pulang" saat senja usia nanti, dan masih banyak lagi saran lainnya yang menurut saya sebenarnya sama sekali bukan hak kita sebagai manusia untuk menentukannya.

saya lahir di keluarga kecil sebagai anak bungsu dengan dua kakak. satu laki-laki yang sekarang menetap di pekanbaru, satu lagi perempuan yang tinggal di maluku utara, saya sendiri di bandung sementara bapak dan ibu berdomisili di kota rantauan pertamanya, bandar lampung. berbeda dengan pak ery yang terlahir dari keluarga yang super besar, pak ery adalah bungsu dari 13 bersaudara. silahkan bayangkan sebesar apa keluarganya jika pagi dan aksara berturut-turut adalah cucu ke 34 dan 35. meskipun sebagian besar keluarga pak ery masih menetap di provinsi yang sama. tapi ada kesamaan antara bapak-ibu (saya) dan apa-mamah (pak ery) yaitu berapapun jumlah anaknya, ketika semua anak-anak sudah membangun keluarganya sendiri, maka orangtua akan kembali ke mula; dirumah berdua saja.

kadang saya bertanya pada pak ery, kira-kira seperti apa kami saat tua nanti? mungkin kami akan menghabiskan masa tua dengan membaca buku dan traveling dengan tetap menggunakan backpack, atau mungkin kami akan rajin jalan pagi bersama; mengunjungi pagi, aksara dan mungkin anak-anak mereka. kami akan sering mengunjungi tempat-tempat yang mungkin jadi legenda kota bandung, seperti garasi merdesa misalnya. tapi dari kesemuanya itu yang paling mungkin adalah saya akan tetap banyak bicara dan pak ery tetap setia dengan diamnya hahahaha. ah, apapun yang jelas kami akan lebih banyak menghabiskan waktu berdua. seperti bapak dan ibu, apa dan mamah, atau kakek dan nenek.

bercerita tentang kakek dan nenek, beliau berdua adalah satu-satunya keluarga dekat (dari pihak bapak) yang berdomisili di bandung. kakek adalah paman bapak. sudah sejak belasan tahun lalu, kakek dan nenek tinggal berdua karena putranya (yang kebetulan hanya satu) berkeluarga dan menetap di jakarta. sepanjang ingatan saya, mengunjungi kakek dan nenek adalah hiburan tersendiri, beliau berdua sering berdebat tentang hal-hal kecil dihadapan kami. tentang kolak bikinan kakek yang menurut nenek terlalu manis, atau tentang nenek yang menurut kakek selalu mendadak sembuh dari sakit lutut jika diajak berbelanja. dimata saya, kakek dan nenek selalu tampil mesra dengan caranya sendiri. setiap habis berkunjung, saya membayangkan kakek dan nenek adalah sosok bapak dan ibu lima tahun lagi, atau mungkin pak ery dan saya puluhan tahun mendatang.

sedihnya rabu siang kemarin, kami mendapat kabar duka. nenek berpulang. innalilahi wainnailahirojiun,  berita kepergian nenek tentu membuat saya dan pak ery kaget, terakhir kami mengunjungi kakek dan nenek saat aksara berusia dua bulan. bahkan awal bulan lalu bapak dan ibu masih bersilaturahmi. malah menurut cerita ibu saat itu nenek terlihat sehat dan ceria seperti biasa meskipun sesekali mengeluhkan lututnya yang semakin sering sakit. meski dihari kepulangan nenek, kakek terlihat sangat besar hati tapi saya lantas menjadi haru, membayangkan setelah hari kemarin, kakek akan melewati hari-harinya seorang diri. membayangkan kakek yang mungkin tidak punya lagi teman bercerita dan berbagi tawa. membayangkan sepinya rumah dinas sederhana yang sudah puluhan tahun mereka tempati berdua, tanpa nenek.

untuk kembali menjadi berdua saja saat senja usia, kita memang sudah seharusnya siap. tapi untuk ditinggalkan? saya sendiri tidak bisa membayangkan apa rasanya ditinggalkan seseorang yang sudah hidup bersama selama berpuluh tahun? apa rasanya sendiri setelah sebelumnya terbiasa berbagi tentang apa saja dengan seseorang yang kita cintai? apa rasanya menangis dalam doa yang kita kirimkan untuk seseorang yang telah berpulang, yang pada hatinya kita menemukan rumah dan kehangatan? entahlah.. sejatinya manusia adalah mahluk lemah yang mungkin tidak akan pernah siap (ditinggalkan) berpulang.


Friday, May 6

diet sampah rumah tangga

grup #1minggu1cerita yang saya ikuti sejak dua bulan kemarin punya kesepakatan baru; menulis dengan tema yang sama diminggu pertama setiap bulannya. buat saya jadinya menantang sekaligus menggemaskan. gemas karena dengan tema yang ditentukan ini bikin saya berlama-lama didepan komputer dengan alasan merangkai cerita tapi malah selalu berujung dengan dua atau tiga perlengkapan bayi yang dibeli dari halaman belanja online. internet memang racun buat ibu baru seperti saya hahahaha.

oke, jadi karena tema minggu ini adalah lingkungan.. maka mari bercerita santai tentang lingkungan dari kacamata saya sebagai ibu dengan dua anak. sampai sekarang buat saya menjaga lingkungan itu gampang-gampang susah. saya yakin, sebagian besar dari kita yang sudah dewasa sadar kok kalau menjaga lingkungan tidak cukup sampai tindakan buang sampah pada tempatnya. melainkan jauh lebih luas dari itu. ada prinsip mengurangi, menggunakan kembali dan mendaur ulang atau yang lebih populer dengan sebutan reduce, reuse, recycle. kita tau artinya, paham maksudnya tapi butuh kebulatan niat dan tekad yang kuat untuk benar-benar bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

kalau saya sendiri kesadaran menjaga lingkungan dilakukan lebih karena alasan logis. seperti ketika pagi bayi dulu, saya lebih memilih menggunakan popok kain ketimbang popok sekali pakai. repot? tentu saja. tapi saya membayangkan tentu tidak nyaman memakai popok sekali pakai seharian selama berbulan bulan. gerah. meskipun jika sudah ada dititik lelah sesekali saya berlibur dari rutinitas mencuci popok kain dan memanjakan diri sendiri dengan menggunakan popok sekali pakai seharian hahahaha. alasan kedua, tentu karena pengeluaran untuk popok sekali pakai akan jauh-jauh-jauh lebih besar ketimbang jika menggunakan popok kain. bayangkan jika dalam satu hari membutuhkan minimal lima popok sekali pakai seharga masing-masing dua ribu rupiah maka silahkan hitung berapa yang harus kita keluarkan dalam satu tahun. 

seiring bertambahnya usia pagi, saya mulai menyadari bahwa limbah  rumah tangga terbesar bukan hanya berasal dari popok sekali pakai, melainkan juga dari mainan. sesungguhnya panggilan untuk membahagiakan anak salah satunya memang datang dalam bentuk memberi mainan. orangtua mana sih yang tidak bahagia melihat anak gembira karena membuka bungkus plastik mainannya (-yang nyampah banget itu). tapi coba deh dipikir lagi, sebenarnya yang diperlukan anak-anak itu jenis mainannya, atau orangtua yang duduk dan ikut main bersamanya? lagipula percayalah, tidak ada mainan yang benar-benar awet untuk anak balita yang masih ada difase selalu ingin tau. anak usia satu tahun melihat semua mainannya sebagai teether and pacifier, pokoknya apapun mainan yang diberikan akan digigit dan dicicipi. lalu ketika dua tahun kemampuannya meningkat, menjadi ahli dalam melempar dan melenyapkan mainan. setelah tiga tahun  rasa ingin taunya disalurkan untuk merusak membongkar dan memisahkan bagian-bagian mainannya. begitu seterusnya sampai akhirnya mainan-mainan itu berlabuh ditempat sampah.

pemikiran itu jugalah yang akhirnya membuat saya memutuskan untuk lebih sering mengajak pagi membuat mainannya sendiri. saya mencari banyak ide bermain dan membuat mainan dengan memanfaatkan barang bekas yang sudah tidak terpakai seperti kardus, map, kertas bekas dan toilet roll paper. ini salah satu cara saya berdiet sampah rumah tangga dan saking seringnya saya mengumpulkan barang-barang tidak terpakai seperti itu, petugas kebersihan toilet kantor sampai sering berinisiatif menyetorkan toilet roll paper setiap jumat sore untuk saya bawa kerumah :p oh iya, dokumentasi mainan yang saya buat bersama pagi ada dalam satu album dan hashtag berjudul #pagimain dilaman facebook dan instagram. tapi meskipun sering membuatkan mainan untuk pagi, saya juga masih membeli mainan pabrikan kok, tentunya dengan frekuensi yang bisa dibilang jarang. terakhir saya membelikan ambulance bertenaga baterai yang bisa berkeliling rumah untuk pagi. mungkin karena lebih sering punya mainan yang terbuat dari kardus bekas, pagi terlihat sangat gembira ketika menerima dan membuka bungkusnya :)

jujur saja, saya sendiri masih jauh sekali dari perilaku nol sampah seperti yang sudah khatam dilakukan teteh kece yang ini. suatu hari sih cita-citanya pengen jauh lebih punya niat dan tekat dalam usaha diet persampahan rumah tangga. kalau sekarang ini sih ke supermarket saja beberapa kali masih nambah plastik karena tas belanjanya gak cukup *salim teh anil* :p tapi setidaknya berusaha dan (masih) gagal adalah jauh lebih baik ketimbang diam dan tidak peduli, kan?


Friday, April 29

jodoh

bulan april buat saya adalah bulan bertemu jodoh. tahun ini artinya sudah april ke delapan sejak pertama kali saya bertemu pak ery dalam sebuah rapat koordinasi aksi hari bumi di sekretariat wahana lingkungan hidup. saya masih inget kesal yang saat itu saya rasakan karena menunggu koordinator aksi yang datang terlambat, pun ketika berbicara memimpin pertemuan suaranya pelan sekali. jauh dari kesan garang yang selama ini disandang aktivis lingkungan. iya, itu adalah pak ery.

delapan tahun lalu, jangankan membayangkan akan berjodoh, bertemu saja kami nyaris tidak pernah. apalagi pak ery sama sekali tidak termasuk kategori pria idaman saya yang dulu sama seperti standar menantu idaman banyak mertua di indonesia; rapi, wangi, berkemeja, ramah dan terdaftar sebagai salah satu karyawan perusahaan ternama. memangnya siapa yang tertarik dengan pria gondrong irit bicara yang terkesan angkuh dan bekerja sebagai jurnalis lepas, ditengah hutan terpencil pula?

singkat cerita kami melewati hari, minggu, bulan dan tahun dengan hubungan yang memang tidak ada apa-apa dan bukan siapa-siapa. lokasi tinggal kamipun berjauhan saya di meriahnya kota bandung, pak ery di sepinya perbatasan kalimantan. maka jika kisah diangkat dalam sebuat layar FTV nyaris mustahil ceritanya berakhir dengan happy ending :p

tapi tentu beda ceritanya kalau tangan Tuhan yang bermain. tahun berlalu ketika suatu pagi sepulang dari kalimantan, pak ery mengajak saya berkeliling kota dengan berjalan kaki. kami menelusuri aspal basah jejak hujan malam sebelumnya dan jalan-jalan sempit yang ada dibelakang gedung-gedung pencakar langit. jangan bayangkan kami akan ngobrol asik sepanjang jalan. sama sekali tidak. tapi kalau boleh norak, disitulah untuk pertama kalinya saya merasakan he's the right one. semacam ini yang saya cari sejak dulu. seseorang yang tidak  banyak bicara tapi bisa membuat saya merasa cukup.

cerita dibalik layarnya tentu saja tidak semulus ini. drama? ada dooong. banyak malah. terlebih bukan tidak pernah saya menjalani hubungan yang nyaris serius dengan orang lain sebelumnya *batuk cantik* yah, kalau anak muda bilang namanya galau, nyaris tiap hari ada perdebatan hati antara "saya yakin ini orangnya" dengan "tapi yang itu gimana" hahahahahaha syedep. jelang melaksankan resepsi pernikahan juga tak kalah drama, karena jodoh tidak hanya berhenti didua kata; saya dan dia. tapi juga ada keluarga, budaya dan hal lainnya yang melekat dan mengikat.

pernikahan yang masih seumur kacang hijau berubah jadi kecambah ini juga bukan tidak pernah diwarnai persoalan. percayalah, kehidupan rumah tangga tidak selamanya berjalan semulus foto mesra di sosial media :p jangan bayangkan ketika sudah bertemu jodoh maka segalanya berubah jadi indah tanpa cela. karakter saya dan pak ery yang jauh berbeda membuat gesekan kerap terjadi. tapi ya sebatas drama-drama kecil yang 98%nya banyak diperankan oleh saya hahahahaha.

sekali lagi pepatah namanya jodoh gak bakal kemana membuktikan keabsahannya. mau kita terpisah jarak waktu kayak apa juga, kalau garis takdirnya sudah sama C, D atau E(ry) maka jadilah. akhirnya kami menikah empat tahun setelah pertemuan pertama yang jauh dari kesan romantis itu. pria yang tadinya bukan tipe saya banget itu, lama-kelamaan jadi pria yang paling tau saya banget, yang kepadanya saya bisa tiba-tiba jadi ratu drama, menangis dan bercerita tentang apa saja.

sampai hari ini, saya masih sering tersenyum membayangkan bagaimana saya dan pak ery bisa menikah. betapa kata jodoh itu ajaib sekali ya. seandainya rapat hari bumi tidak pernah ada, seandainya jalan kaki berkeliling kota tidak terlaksana, mungkin saya tidak pernah sebahagia hari ini :)

Thursday, April 21

mencatat ide

pasti pernah dong, mengalami satu masa dimana tiba-tiba kita jadi semangat banget melakukan banyak hal. tiba-tiba kepikiran banyak sekali ide (yang kita anggap) cemerlang, ide-ide yang bermunculan dalam waktu yang nyaris bersamaan, dengan jumlah yang sering tak hingga. tentu saja sepaket dengan perasaan menggebu-gebu juga keyakinan semesta akan mendukung dan dunia berpihak pada kita. tsah, cakep.

yang bikin gak cakep adalah, (selalu) ketika si ide itu terlalu deras mengalir kita mulai halu. tidak bisa membedakan mana yang sebenarnya paling masuk akal untuk segera di realisasikan dan yang sebenarnya bisa ditunda bahkan sampai satu dua tahun kedepan. tidak bisa mengurutkan prioritas, semua utama, semua ingin segera. lalu berujung dengan tragis, gagal fokus. si ide melebar ambyar gak karuan. sounds familiar? iya. dulu saya juga sering jadi "korban" dari ide yang terlalu banyak itu. kalimat too much idea will kill you buat saya nyata adanya. si ide yang terlalu banyak seringnya malah bikin capek mikir, apalagi status sebagai pekerja kantoran membuat saya sering mencari pembenaran untuk akhirnya tidak merealisasikan ide-ide tersebut. kalau orang bilang "zona nyaman" bikin otak kanan banyak nganggur, mau tidak mau saya setuju.

minggu-minggu ini adalah masa dimana saya kebanjiran ide. tiba-tiba saya rindu menjahit, tiba-tiba saya merasa #HaloPagi harus mulai produksi ini ini ini dan ini lagi. saya mencuri waktu untuk merealisasikan ide-ide itu disela keriaan mendampingi satu balita dan bayi mungil berusia dua bulan yang tentu saja sudah menguras 75% energi saya setiap hari. dan saya sadar sepenuhnya, bahwa dengan keadaan saya yang sekarang ide-ide ini tidak bisa dibiarkan menghuni kepala saja. bisa-bisa tertumpuk dengan urusan biaya sekolah pagi dan rencana masak apa seminggu kedepan :p
maka saya memilih melakukan manajemen ide dengan cara "tradisional". karena secanggih apapun teknologi, saya tetap jatuh hati dengan kertas dan pena. sampai sekarang saya masih setia dengan jurnal catatan gado-gado yang seringnya saya gunakan untuk mencatat hasil rapat, padahal didalamnya kertas berisi tulisan dan gambar yang sama sekali tidak relevan dengan pekerjaan kantor hahahaha *salim pak direktur*. karena memang menurut saya menyimpan catatan di media digital itu kurang greget (lah trus kenapa ngeblog? hahahaha) maksudnya untuk kasus-kasus mencatat pikiran dadakan, lebih seru dituangkan diatas kertas, bisa kelihatan spontanitas dan jejaknya, karena di kertas tidak ada tombol delete dan backspace.

selain itu mencatat ide juga bisa membuat kita lebih selo dan waras, karena ketika dibaca ulang, kita akan otomatis merunut ulang mana yang memungkinkan atau masuk akal dan mana yang sebaiknya ditunda atau bahkan dicoret dari daftar. pengalaman saya sih, kalau membaca ulang catatan ide, rencana dan target jadinya malah banyak yang dicoret karena disesuaikan dengan keadaan saat ini. seringnya jadi makin mengerucut dan makin fokus. malah jauh lebih baik kan? jadi, sudahkah anda mencatat ide yang muncu tiba-tiba hari ini?



Friday, April 8

siapa yang lebih lelah?

masih ingat tentang artikel perbedaan uang nafkah dan uang belanja untuk istri yang tempo hari sangat heits di situs jejaring facebook? seolah mendapat pembenaran, tautan artikel tersebut-pun dibagikan oleh banyak perempuan berstatus istri dengan mengikutsertakan atau men-tag sosial media milik pasangannya sambil disertai kode-kode manja atau kalimat perintah "nih, baca ya ayah.." meskipun tujuan sebenarnya tentu tidak berhenti sampai membaca, melainkan agar pasangannya segera mewujudkan apa yang katanya sudah menjadi sunnah agama tersebut. sebenarnya selain bahasan artikelnya yang tidak bisa membuat saya mengangguk setuju sampai akhirnya membahas dalam satu posting blog ini, saya juga cukup heran dengan fenomena tagging pasangan tadi, memangnya obrolan dapur seperti itu tidak bisa dibahas saat pillow talk ya?

nah, kali ini yang tidak kalah viral adalah soal pengakuan bahwa menjadi ibu itu super sekaligus luar biasa melelahkan. saya setuju. yang saya tidak setuju kemudian jadi banyak ibu yang merasa paling lelah karena sudah mengurus pekerjaan rumah tangga 1x24 jam sehari, 7 hari seminggu tanpa libur. buat saya kurang fair sih. karena sadar atau tidak, meskipun terlihat cool, pasangan kita juga mungkin merasakan lelah yang sama, bahkan kadang lebih. karena ada tanggung jawab keluarga yang ia pikul, secara dunia, terlebih secara agama. yang membuat terlihat jauh berbeda adalah kemampuan mereka (laki-laki) menyembunyikan ekspresi lelahnya. laki-laki cenderung tidak butuh pengakuan dalam kasus ini. beda banget sama kita (perempuan) yang ekspresif dan moodnya fluktuatif sekali. capek dikit, nangis. ada yang gak sesuai dikit baper *ngetik sambil ngaca*

memang perempuan diciptakan dengan kemampuan multitasking yang akan semakin mumpuni ketika ia sudah berstatus ibu. kemampuan yang sayangnya bisa jadi kelebihan sekaligus kekurangan. kelebihannya tentu saja jadi banyak pekerjaan yang bisa diselesaikan lebih cepat dalam satu waktu. dear para suami, tolong akui kehebatan kami yang satu ini hahahahaha. tapi sekaligus menjadi kekurangan karena sejujurnya multitasking itu melelahkan sekali. belum selesai urusan ini sudah disambi pekerjaan yang itu. sambil membereskan mainan, sambil mengecek persediaan makanan di kulkas. raga masih dikantor, pikiran sudah mendarat sampai pasar baru di rumah. sambung menyambung, terus menerus. kalau pengalaman pribadi, inilah yang akhirnya membuat perempuan lebih mudah lelah baik secara fisik maupun psikis.

tapi tetap bukan berarti bisa jadi pembenaran untuk setiap perempuan merasa paling berhak atas gelar lelah loh ya.. dalam kehidupan berumahtangga misalnya, menurut saya yang membedakan hanya jenis tanggung jawabnya saja. suami atau laki-laki tanggungjawabnya lebih future alias masa depan, meskipun misalnya berjodoh dengan istri yang bekerja, tetap saja tanggung jawab nafkah dan masa depan keluarga ada di pundak suami. sedangkan istri lebih mengurus keperluan yang lebih present, alias saat ini. mulai motong wortel sambil ngantuk dari sebelum adzan subuh, sampai tidur sambil duduk setiap malam demi menyusui. memastikan semua anggota keluarganya sehat, cukup makan, cukup istirahat dan bahagia. dalam lingkup keluarga, tanggung jawab perempuan biasanya memang lebih domestik. nah dalam bagian tanggung jawab itu pasti ada porsi lelahnya masing-masing. selebihnya susah-senang ditanggung bersama, kan sudah teken kontrak sehidup semati sama yang diatas.

jadi menurut saya baik istri ataupun suami, sama lelahnya, sama hebatnya. karena suami istri itu satu tim, dipertemukan dalam ikatan keluarga untuk saling menguatkan dan memberi dukungan. hanya saja kalau istri lebih cerewet banyak bercerita, ya dimaklum saja. itu memang sudah kodratnya. namanya juga perempuan :D

Monday, March 21

jadi ibu(-ibu)

hari ini aksara berusia satu bulan, artinya tepat satu bulan juga saya kembali mengulang rutinitas tiga tahun lalu; bangun ditengah malam, menyusui, mengganti popok nyaris setiap satu jam sekali. berdasarkan pengalaman pagi dulu, artinya saya harus menghapus kamus "tidur enak" dari kehidupan setidaknya selama dua tahun kedepan.

sudah satu bulan, saya punya status baru sebagai ibu(-ibu) dengan dua anak. biasanya beberapa teman yang kebetulan baru mempunyai satu anak datang menjenguk dengan pertanyaan "gimana rasanya?" sedangkan yang sudah lebih dulu berstatus seperti saya sialnya hanya tersenyum menggoda penuh makna sambil melontarkan pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu dijawab; "seru kan, jeng?" hahahahaha.

jadi ibu untuk yang kedua kalinya tidak lantas membuat saya khatam segala hal berbau parenting. justru, jadi ibu dengan dua anak membuat saya belajar lebih banyak lagi dan lagi. kalau saya berpendapat, punya anak pertama itu sangat melelahkan secara fisik maka punya anak untuk yang kedua kalinya sangat membutuhkan kesiapan emosional.

biasanya, ketika punya anak pertama.. pasangan muda hanya euphoria pada kehadiran bayi mungilnya, tapi tidak menyiapkan mental dan stamina untuk proses setelahnya yang jauh lebih panjang. iya, itu saya dan pak ery dulu. kami benar lupa (atau tidak tau) bahwa sebenarnya selain waktu kelahiran yang membahagiakan ada waktu yang tidak kalah penting untuk disiapkan kedua orangtua, yaitu satu bulan pertama setelah kelahiran. kami tidak menyangka bahwa satu bulan pertama setelah kelahiran adalah waktu yang sangat menguji ketahanan fisik. belum pulih dari proses melahirkan yang melelahkan, sudah harus kekurangan jam tidur secara drastis, kebingungan membaca ritme bayi, ditambah harus tetap menerima banyak tamu yang datang berkunjung. badan rasanya remuk redam saat itu.

kelahiran anak kedua, saya jauh lebih siap. saya tau bahwa satu bulan pertama kehadiran aksara akan sangat menguras energi. tapi, tetap ada yang luput, bahwa selain menguras energi, ada kesabaran yang juga sering ikut tergerus. kesabaran yang erat sekali kaitannya dengan si anak pertama. sebenarnya, pagi tidak cemburu atas kehadiran adiknya. bahkan sejauh ini dia cukup kooperatif, dia selalu gembira membantu jika saya memintanya mengambilkan handuk, kapas, atau baju adik. tapi, pagi tetaplah anak kecil berusia tiga tahun dengan segala fase yang sedang dijalaninya.. kadang drama, kadang membantah, kadang tantrum, dan kadang ibu belum siap menerima itu.

diam-diam saya berharap supaya pagi tidak perlu menangis untuk hal-hal sepele, berharap supaya interaksi saya dan dia less-drama, lebih mudah jika diminta mandi, membereskan mainan atau mematikan televisi. saya seperti kehabisan stok untuk merayu dan membuat kesepakatan damai seperti yang biasa kami lakukan. tiba-tiba sumbu sabar jadi lebih pendek dari biasanya.. harus diakui, sejak fisik yang terkuras dibulan pertama aksara lahir, kadang saya tidak cukup ikhlas memenuhi permintaan pagi yang sebenarnya sah saja, seperti meminta dibacakan buku ketiga sebelum tidur, atau menjawab pertanyaan-pertanyaannya yang ajaib. pokoknya saya jadi lebih sering menuntut pagi untuk jadi lebih dewasa dari usianya.

tentu saja perasaan sedih dan bersalah kerap datang ketika pagi tidur. kalau sudah ada disituasi itu saya jadi drama, berurai air mata. saya percaya hampir semua ibu yang menaikkan intonasi suara ketika berbicara dengan anak kecilnya sadar bahwa mereka tidak seharusnya melakukan itu. sayangnya tidak semua ibu tercipta dengan level kesabaran setinggi bu elly risman atau teh kiki barkiah kan? dan dalam kehidupan nyata, ilmu parenting tidak semudah teori yang tautannya selalu kita bagikan lewat sosial media, yang tentu sudah khatam kita baca berkali-kali. saya sendiri masih jauh dari kategori ibu ideal, masi perlu banyaaaaakk belajar meluaskan hati dan meninggikan tingkat kesabaran diri.

 

Template by BloggerCandy.com