Tuesday, June 21

rumah

memasuki tahun ke lima usia pernikahan, isu rumah kembali muncul disetiap obrolan saya dan pak ery. sejujurnya, proses membangun rumah sudah jadi impian kami sejak dulu. tapi mau bagaimana lagi, keinginan kami yang satu ini selalu kalah dengan kenyataan deretan angka disaldo tabungan hahahaha. kebetulan saya dan pak ery punya prinsip sama yang kurang lebih begini; kalau ada uang, beli. kalau belum cukup, ya nanti. terlihat sangat selo kan? tapi percayalah, prinsip ini sangat ampuh untuk meringankan beban hidup dimasa sekarang. ditengah banyak orang yang berlomba memiliki ini dan itu secepatnya, kami malah saling berbalas emoticon happy cry ketika menyadari uang yang kami kumpulkan masih jauh dari kata cukup untuk membangun sebuah rumah.

biasanya untuk menghibur hati yang gemas-gemas bahagia itu, kami akan saling berbagi tautan gambar rumah yang paling mewakili karakter saya dan juga pak ery. rumah kecil dengan banyak jendela, rumah dengan halaman luas dan pohon-pohon rindang. tak lupa, kami juga saling bercerita tentang ruang keluarga yang nyaman, kamar kerja beraroma kopi, teras rumah yang hangat, semak liar yang kami biarkan tumbuh dihalaman juga tentang ayam-ayam yang akan kami pelihara. dari sekedar obrolan dalam layar ponsel, biasanya akan berlanjut seru sampai meja saat makan malam tiba. kami terus berandai-andai tentang apapun yang bisa menambah semangat dan keyakinan bahwa suatu saat nanti mimpi ini akan kami wujudkan dalam hari-hari yang nyata.

beberapa orang yang mungkin prihatin melihat kami terlalu selo menyarankan "pinjam saja.. keburu harga material naik" dan lain sebagainya. tapi selain karena prinsip, saya dan pak ery juga keras kepala, buat kami rumah punya nilai filosofi yang tinggi sekali. kami ingin membangunnya perlahan, dari hasil pendapatan yang kami sisihkan. tidak peduli pendapat pakar ekonomi sekalipun yang menyatakan bahwa semakin hari harga semakin naik dan tabungan kami tidak akan bisa mengejar kenaikan harga itu. lagi pula kami percaya, selalu ada banyak pelajaran yang bisa didapat dari bersabar.. intropeksi diri salah satunya. kalau kami belum "diizinkan" membangun rumah, mungkin karena ikhtiar yang belum cukup, ibadah yang belum sempurna dan rasa syukur yang harus diperbanyak lagi. iya kan? :)

gambar dari pinterest

Tuesday, June 7

hamil, menyusui dan puasa ramadan

ramadan, bulan penuh berkah yang menyimpan "pro dan kontra" untuk ibu-ibu dengan kondisi khusus seperti saya; hamil dan (atau) menyusui. perbedaan pendapat antar ulama terkait hukum wajib berpuasa atau boleh tidak berpuasa untuk ibu hamil dan menyusui selalu bersliweran di beranda laman facebook saya ketika jelang ramadan. saya sendiri sudah dua kali merasakan hamil dan menyusui di bulan ramadan. ketika hamil pagi dulu, usia kehamilan saya sekitar 4 bulan. saya menyelesaikan 20 hari puasa. ramadan tahun berikutnya, saya berganti status, sebagai ibu menyusui. usia pagi saat itu belum genap 6 bulan, sehingga saya masih memberikan asi ekslusif. saya puasa? iya, hanya 12 hari dengan kondisi fisik saat puasa yang menurut saya lebih berat dibanding saat hamil dulu.

"puasa aja, sekalian melatih bayinya.. biar nanti pas besar gak susah diajak puasa.." atau "kok gak puasa? saya dulu bisa kok asal yakin" dan masih banyak tanggapan bernada serupa yang sering saya dapat dari seseorang ketika mendengar saya tidak berpuasa.

dulu ketika memutuskan untuk berpuasa dalam kondisi hamil dan menyusui sayapun punya keyakinan penuh kalau saya bisa berpuasa. nyatanya tubuh kita punya alarm-nya sendiri. saya ingat ada hari dimana saya terpaksa membatalkan puasa dua jam jelang adzan magrib. saya sakit kepala, salah satu penyebabnya mungkin kurang asupan cairan, karena saat itu saya tetap memerah asi. setiap bangun dari duduk saya harus berpegangan selama beberapa detik karena padangan gelap. saat itu pula menyusui pagi selepas ashar menjadi hal yang memberatkan. pagi kecil yang bahkan bicarapun belum bisa, sering saya tunda waktu menyusuinya supaya saya juga bisa menunda rasa haus dan memperkecil kemungkinan serangan sakit kepala sampai jelang berbuka. kalau diingat lagi sedih sekali rasanya.

tahun lalu, saya kembali merasakan ramadan dalam kondisi hamil, bedanya saat itu usia kehamilan aksara masih sangat muda dan alhamdulillah saya juga tidak merasakan gejala morning sick. jadi saya santai saja menjalankan ibadah puasa. hanya saja di akhir ramadan dokter menyarankan untuk tidak berpuasa karena saya akan melakukan perjalanan jauh, stamina ibu, nutrisi dan kondisi janin kecil harus dijaga betul. dan tahun ini adalah ramadan kedua yang akan saya lewati dengan status sedang memberi asi ekslusif. sebelum cuti berakhir tempo hari, saya membaca (lagi) banyak pendapat ulama tentang ibu menyusui dan puasa, salah satunya artikel ini. maka berbeda dengan saat menyusui pagi dulu, tahun ini sejak awal ramadan saya memutuskan untuk tidak berpuasa.

keinginan untuk berpuasa tentu saja ada. memangnya siapa yang bahagia makan siang sendiri sementara yang lain menjalankan ibadah ramadannya? terlebih pertanyaan "kok gak puasa?" beserta saran-sarannya cukup mengusik dan membuat sedih. apa iya saya yang kurang yakin dan kurang berusaha? atau mungkin saya yang terlalu berlebihan menanggapi kondisi fisik yang lemah ketika berpuasa? tapi kalau melihat aksara dengan wajah bundar dan mata sipitnya yang lucu, saya seperti punya keyakinan baru. ya, saya memang tidak berpuasa karena ada bayi kecil yang menunggu ibunya pulang bekerja dengan oleh-oleh beberapa botol asi perah setiap hari :)

jadi, bersyukurlah ibu hamil/menyusui yang tetap bisa santai dan sehat saat menjalani puasa. percayalah, itu anugerah istimewa. tapi jangan lupa untuk berempati pada ibu yang memilih untuk tidak menjalankan puasa. tolong jangan menghakimi, karena keputusan seorang ibu hamil/menyusui untuk tidak berpuasa pastilah sudah melalui proses pertimbangan yang matang, pertimbangan yang diambil semata-mata untuk kebaikan ibu dan bayinya. lagipula kita toh tidak pernah ada di posisi mereka, tidak pernah merasakan fisik yang sama dengan mereka, jadi kita tidak pernah tau seberat apa perjuangan yang mereka rasakan saat hamil atau menyusui. iya kan?


Friday, May 27

kenapa bekerja?

gambar dari sini

akhirnya minggu ini saya kembali resmi menyandang status sebagai ibu bekerja. setelah masa cuti tiga bulan yang bulan pertamanya dilewati dengan banyak drama tentu saja hahahaha. senin kemarin, saya kembali merasakan rutinitas istimewa; bangun sebelum adzan subuh berkumandang, memasak, memerah asi, memandikan pagi dan aksara, menyiapkan semua yang mereka perlukan selama saya bekerja. menyelesaikan semuanya lima belas menit sebelum jam keberangkatan agar masih punya waktu untuk menyusui aksara dan berbincang dengan pagi yang sudah mulai banyak mengerti. memintanya untuk makan makanan yang saya masak, tidak banyak nonton televisi dan membereskan mainannya sendiri jika sudah selesai bermain.

saya kembali merasakan jalanan kota bandung di awal hari, berkendara menuju bangunan besar berlambang gajah yang berdiri gagah disebelah jembatan layang icon kota bandung. bangunan yang selalu ditunjuk pagi dengan gembira ketika melewatinya "itu kantor ibu! besaaaar ada gajahnya diatas!". mulai senin kemarin saya mengulang kebiasaan yang nyaris selalu sama; memarkir kendaraan, menyapa petugas taman dan satpam penjaga, menunggu lift, membubuhkan sidik jari di mesin absen yang tidak pernah lelah mengucap terimakasih, disambut hangat oleh mereka yang sudah saya kenal sejak lama, duduk di meja kerja, menyalakan perangkat kerja, lalu bergantian menatap layar komputer dan jendela, dan seketika saya merasa hidup saya lengkap. memang agak gengsi mengakuinya, tapi mungkin benar saya rindu bekerja.

sejujurnya, ada banyak yang hilang ketika saya tidak bekerja. kemampuan untuk disiplin dan produktif salah satunya. saya sendiri heran, ketika saya bekerja.. saya hampir bisa memastikan semua "kewajiban" selesai sebelum jam tujuh pagi. yang mana hal tersebut sulit sekali dilakukan ketika angka di kalender berwarna merah, atau ketika saya cuti panjang seperti kemarin. saya mungkin satu dari sedikit sekali ibu yang merasa cocok menjadi pegawai kantoran. menjalani profesi yang akhir-akhir ini tingkat kepopulerannya semakin menurun, seiring banyaknya anjuran dan ajaran untuk menjadi enterpreneur atau freelancer. iya, memangnya siapa yang tidak tergoda dengan waktu kerja yang bisa ditentukan sendiri? tapi apakah semua orang bisa pas dengan pola seperti itu? sebagian mungkin malah menemukan feel "gue banget" ketika berada dalam rutinitas seven to five itu tadi, dan kemungkinan besar itu saya hahahaha.

meski kadang ada juga masa-masa chaos seperti ketika beban pekerjaan menekan lebih dari biasanya, salah satu personil keluarga sakit atau malah saya yang staminanya turun naik karena terlalu sering kehujanan, sementara kewajiban rumah tetap harus berjalan seperti biasa. kalau sudah begitu, biasanya dukungan dari pak ery adalah obat paling mujarab. apalagi kalau sudah jadi ibu, standar kebahagiaan memang jadi jauh lebih sederhana; dikasih kesempatan menikmati waktu tidur satu atau dua jam lebih panjang dari biasanya, sekedar didengarkan ketika mulai menangis drama atau dibawakan dua-eskrim-cair-karena-belinya-di-minimarket-yang-jauh-dari-rumah seperti malam ini saja sudah bisa bikin semangat kembali penuh. dan memang yang exhaustion dan out of balance itu sesekali perlu terjadi supaya kita tau batasan diri kan? tau kapan harus berhenti, atau mengurangi..  itu saja. selebihnya jika ada yang bertanya kenapa saya masih betah melakukan rutinitas bekerja yang menurut sebagian orang membosankan? maka jawabannya akan saya copy paste dari quote diatas :) 


Friday, May 20

ditinggalkan

saya sering mendengar beberapa orang menyarankan agar kita cepat punya anak, mumpung masih muda katanya, dan (biasanya) setelah punya satu anak, disarankan untuk punya lagi (dan lagi) supaya ketika tua nanti ada banyak yang membantu mengurus kita. atau, jangan sampai tidak punya anak perempuan, karena biasanya kepada anak perempuanlah kita "pulang" saat senja usia nanti, dan masih banyak lagi saran lainnya yang menurut saya sebenarnya sama sekali bukan hak kita sebagai manusia untuk menentukannya.

saya lahir di keluarga kecil sebagai anak bungsu dengan dua kakak. satu laki-laki yang sekarang menetap di pekanbaru, satu lagi perempuan yang tinggal di maluku utara, saya sendiri di bandung sementara bapak dan ibu berdomisili di kota rantauan pertamanya, bandar lampung. berbeda dengan pak ery yang terlahir dari keluarga yang super besar, pak ery adalah bungsu dari 13 bersaudara. silahkan bayangkan sebesar apa keluarganya jika pagi dan aksara berturut-turut adalah cucu ke 34 dan 35. meskipun sebagian besar keluarga pak ery masih menetap di provinsi yang sama. tapi ada kesamaan antara bapak-ibu (saya) dan apa-mamah (pak ery) yaitu berapapun jumlah anaknya, ketika semua anak-anak sudah membangun keluarganya sendiri, maka orangtua akan kembali ke mula; dirumah berdua saja.

kadang saya bertanya pada pak ery, kira-kira seperti apa kami saat tua nanti? mungkin kami akan menghabiskan masa tua dengan membaca buku dan traveling dengan tetap menggunakan backpack, atau mungkin kami akan rajin jalan pagi bersama; mengunjungi pagi, aksara dan mungkin anak-anak mereka. kami akan sering mengunjungi tempat-tempat yang mungkin jadi legenda kota bandung, seperti garasi merdesa misalnya. tapi dari kesemuanya itu yang paling mungkin adalah saya akan tetap banyak bicara dan pak ery tetap setia dengan diamnya hahahaha. ah, apapun yang jelas kami akan lebih banyak menghabiskan waktu berdua. seperti bapak dan ibu, apa dan mamah, atau kakek dan nenek.

bercerita tentang kakek dan nenek, beliau berdua adalah satu-satunya keluarga dekat (dari pihak bapak) yang berdomisili di bandung. kakek adalah paman bapak. sudah sejak belasan tahun lalu, kakek dan nenek tinggal berdua karena putranya (yang kebetulan hanya satu) berkeluarga dan menetap di jakarta. sepanjang ingatan saya, mengunjungi kakek dan nenek adalah hiburan tersendiri, beliau berdua sering berdebat tentang hal-hal kecil dihadapan kami. tentang kolak bikinan kakek yang menurut nenek terlalu manis, atau tentang nenek yang menurut kakek selalu mendadak sembuh dari sakit lutut jika diajak berbelanja. dimata saya, kakek dan nenek selalu tampil mesra dengan caranya sendiri. setiap habis berkunjung, saya membayangkan kakek dan nenek adalah sosok bapak dan ibu lima tahun lagi, atau mungkin pak ery dan saya puluhan tahun mendatang.

sedihnya rabu siang kemarin, kami mendapat kabar duka. nenek berpulang. innalilahi wainnailahirojiun,  berita kepergian nenek tentu membuat saya dan pak ery kaget, terakhir kami mengunjungi kakek dan nenek saat aksara berusia dua bulan. bahkan awal bulan lalu bapak dan ibu masih bersilaturahmi. malah menurut cerita ibu saat itu nenek terlihat sehat dan ceria seperti biasa meskipun sesekali mengeluhkan lututnya yang semakin sering sakit. meski dihari kepulangan nenek, kakek terlihat sangat besar hati tapi saya lantas menjadi haru, membayangkan setelah hari kemarin, kakek akan melewati hari-harinya seorang diri. membayangkan kakek yang mungkin tidak punya lagi teman bercerita dan berbagi tawa. membayangkan sepinya rumah dinas sederhana yang sudah puluhan tahun mereka tempati berdua, tanpa nenek.

untuk kembali menjadi berdua saja saat senja usia, kita memang sudah seharusnya siap. tapi untuk ditinggalkan? saya sendiri tidak bisa membayangkan apa rasanya ditinggalkan seseorang yang sudah hidup bersama selama berpuluh tahun? apa rasanya sendiri setelah sebelumnya terbiasa berbagi tentang apa saja dengan seseorang yang kita cintai? apa rasanya menangis dalam doa yang kita kirimkan untuk seseorang yang telah berpulang, yang pada hatinya kita menemukan rumah dan kehangatan? entahlah.. sejatinya manusia adalah mahluk lemah yang mungkin tidak akan pernah siap (ditinggalkan) berpulang.


Friday, May 6

diet sampah rumah tangga

grup #1minggu1cerita yang saya ikuti sejak dua bulan kemarin punya kesepakatan baru; menulis dengan tema yang sama diminggu pertama setiap bulannya. buat saya jadinya menantang sekaligus menggemaskan. gemas karena dengan tema yang ditentukan ini bikin saya berlama-lama didepan komputer dengan alasan merangkai cerita tapi malah selalu berujung dengan dua atau tiga perlengkapan bayi yang dibeli dari halaman belanja online. internet memang racun buat ibu baru seperti saya hahahaha.

oke, jadi karena tema minggu ini adalah lingkungan.. maka mari bercerita santai tentang lingkungan dari kacamata saya sebagai ibu dengan dua anak. sampai sekarang buat saya menjaga lingkungan itu gampang-gampang susah. saya yakin, sebagian besar dari kita yang sudah dewasa sadar kok kalau menjaga lingkungan tidak cukup sampai tindakan buang sampah pada tempatnya. melainkan jauh lebih luas dari itu. ada prinsip mengurangi, menggunakan kembali dan mendaur ulang atau yang lebih populer dengan sebutan reduce, reuse, recycle. kita tau artinya, paham maksudnya tapi butuh kebulatan niat dan tekad yang kuat untuk benar-benar bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

kalau saya sendiri kesadaran menjaga lingkungan dilakukan lebih karena alasan logis. seperti ketika pagi bayi dulu, saya lebih memilih menggunakan popok kain ketimbang popok sekali pakai. repot? tentu saja. tapi saya membayangkan tentu tidak nyaman memakai popok sekali pakai seharian selama berbulan bulan. gerah. meskipun jika sudah ada dititik lelah sesekali saya berlibur dari rutinitas mencuci popok kain dan memanjakan diri sendiri dengan menggunakan popok sekali pakai seharian hahahaha. alasan kedua, tentu karena pengeluaran untuk popok sekali pakai akan jauh-jauh-jauh lebih besar ketimbang jika menggunakan popok kain. bayangkan jika dalam satu hari membutuhkan minimal lima popok sekali pakai seharga masing-masing dua ribu rupiah maka silahkan hitung berapa yang harus kita keluarkan dalam satu tahun. 

seiring bertambahnya usia pagi, saya mulai menyadari bahwa limbah  rumah tangga terbesar bukan hanya berasal dari popok sekali pakai, melainkan juga dari mainan. sesungguhnya panggilan untuk membahagiakan anak salah satunya memang datang dalam bentuk memberi mainan. orangtua mana sih yang tidak bahagia melihat anak gembira karena membuka bungkus plastik mainannya (-yang nyampah banget itu). tapi coba deh dipikir lagi, sebenarnya yang diperlukan anak-anak itu jenis mainannya, atau orangtua yang duduk dan ikut main bersamanya? lagipula percayalah, tidak ada mainan yang benar-benar awet untuk anak balita yang masih ada difase selalu ingin tau. anak usia satu tahun melihat semua mainannya sebagai teether and pacifier, pokoknya apapun mainan yang diberikan akan digigit dan dicicipi. lalu ketika dua tahun kemampuannya meningkat, menjadi ahli dalam melempar dan melenyapkan mainan. setelah tiga tahun  rasa ingin taunya disalurkan untuk merusak membongkar dan memisahkan bagian-bagian mainannya. begitu seterusnya sampai akhirnya mainan-mainan itu berlabuh ditempat sampah.

pemikiran itu jugalah yang akhirnya membuat saya memutuskan untuk lebih sering mengajak pagi membuat mainannya sendiri. saya mencari banyak ide bermain dan membuat mainan dengan memanfaatkan barang bekas yang sudah tidak terpakai seperti kardus, map, kertas bekas dan toilet roll paper. ini salah satu cara saya berdiet sampah rumah tangga dan saking seringnya saya mengumpulkan barang-barang tidak terpakai seperti itu, petugas kebersihan toilet kantor sampai sering berinisiatif menyetorkan toilet roll paper setiap jumat sore untuk saya bawa kerumah :p oh iya, dokumentasi mainan yang saya buat bersama pagi ada dalam satu album dan hashtag berjudul #pagimain dilaman facebook dan instagram. tapi meskipun sering membuatkan mainan untuk pagi, saya juga masih membeli mainan pabrikan kok, tentunya dengan frekuensi yang bisa dibilang jarang. terakhir saya membelikan ambulance bertenaga baterai yang bisa berkeliling rumah untuk pagi. mungkin karena lebih sering punya mainan yang terbuat dari kardus bekas, pagi terlihat sangat gembira ketika menerima dan membuka bungkusnya :)

jujur saja, saya sendiri masih jauh sekali dari perilaku nol sampah seperti yang sudah khatam dilakukan teteh kece yang ini. suatu hari sih cita-citanya pengen jauh lebih punya niat dan tekat dalam usaha diet persampahan rumah tangga. kalau sekarang ini sih ke supermarket saja beberapa kali masih nambah plastik karena tas belanjanya gak cukup *salim teh anil* :p tapi setidaknya berusaha dan (masih) gagal adalah jauh lebih baik ketimbang diam dan tidak peduli, kan?


Friday, April 29

jodoh

bulan april buat saya adalah bulan bertemu jodoh. tahun ini artinya sudah april ke delapan sejak pertama kali saya bertemu pak ery dalam sebuah rapat koordinasi aksi hari bumi di sekretariat wahana lingkungan hidup. saya masih inget kesal yang saat itu saya rasakan karena menunggu koordinator aksi yang datang terlambat, pun ketika berbicara memimpin pertemuan suaranya pelan sekali. jauh dari kesan garang yang selama ini disandang aktivis lingkungan. iya, itu adalah pak ery.

delapan tahun lalu, jangankan membayangkan akan berjodoh, bertemu saja kami nyaris tidak pernah. apalagi pak ery sama sekali tidak termasuk kategori pria idaman saya yang dulu sama seperti standar menantu idaman banyak mertua di indonesia; rapi, wangi, berkemeja, ramah dan terdaftar sebagai salah satu karyawan perusahaan ternama. memangnya siapa yang tertarik dengan pria gondrong irit bicara yang terkesan angkuh dan bekerja sebagai jurnalis lepas, ditengah hutan terpencil pula?

singkat cerita kami melewati hari, minggu, bulan dan tahun dengan hubungan yang memang tidak ada apa-apa dan bukan siapa-siapa. lokasi tinggal kamipun berjauhan saya di meriahnya kota bandung, pak ery di sepinya perbatasan kalimantan. maka jika kisah diangkat dalam sebuat layar FTV nyaris mustahil ceritanya berakhir dengan happy ending :p

tapi tentu beda ceritanya kalau tangan Tuhan yang bermain. tahun berlalu ketika suatu pagi sepulang dari kalimantan, pak ery mengajak saya berkeliling kota dengan berjalan kaki. kami menelusuri aspal basah jejak hujan malam sebelumnya dan jalan-jalan sempit yang ada dibelakang gedung-gedung pencakar langit. jangan bayangkan kami akan ngobrol asik sepanjang jalan. sama sekali tidak. tapi kalau boleh norak, disitulah untuk pertama kalinya saya merasakan he's the right one. semacam ini yang saya cari sejak dulu. seseorang yang tidak  banyak bicara tapi bisa membuat saya merasa cukup.

cerita dibalik layarnya tentu saja tidak semulus ini. drama? ada dooong. banyak malah. terlebih bukan tidak pernah saya menjalani hubungan yang nyaris serius dengan orang lain sebelumnya *batuk cantik* yah, kalau anak muda bilang namanya galau, nyaris tiap hari ada perdebatan hati antara "saya yakin ini orangnya" dengan "tapi yang itu gimana" hahahahahaha syedep. jelang melaksankan resepsi pernikahan juga tak kalah drama, karena jodoh tidak hanya berhenti didua kata; saya dan dia. tapi juga ada keluarga, budaya dan hal lainnya yang melekat dan mengikat.

pernikahan yang masih seumur kacang hijau berubah jadi kecambah ini juga bukan tidak pernah diwarnai persoalan. percayalah, kehidupan rumah tangga tidak selamanya berjalan semulus foto mesra di sosial media :p jangan bayangkan ketika sudah bertemu jodoh maka segalanya berubah jadi indah tanpa cela. karakter saya dan pak ery yang jauh berbeda membuat gesekan kerap terjadi. tapi ya sebatas drama-drama kecil yang 98%nya banyak diperankan oleh saya hahahahaha.

sekali lagi pepatah namanya jodoh gak bakal kemana membuktikan keabsahannya. mau kita terpisah jarak waktu kayak apa juga, kalau garis takdirnya sudah sama C, D atau E(ry) maka jadilah. akhirnya kami menikah empat tahun setelah pertemuan pertama yang jauh dari kesan romantis itu. pria yang tadinya bukan tipe saya banget itu, lama-kelamaan jadi pria yang paling tau saya banget, yang kepadanya saya bisa tiba-tiba jadi ratu drama, menangis dan bercerita tentang apa saja.

sampai hari ini, saya masih sering tersenyum membayangkan bagaimana saya dan pak ery bisa menikah. betapa kata jodoh itu ajaib sekali ya. seandainya rapat hari bumi tidak pernah ada, seandainya jalan kaki berkeliling kota tidak terlaksana, mungkin saya tidak pernah sebahagia hari ini :)

 

Template by BloggerCandy.com