Monday, December 15

saya dan politik hore

saya bukan termasuk perempuan dengan pengetahuan politik diatas rata-rata. dibanding pak suami yang menjadikan majalah politik sebagai bacaan rutin mingguan, tentu kemampuan saya beranalisa soal politik malah bisa dibilang ada dibawah standar. saya masih sok tau, pendapat saya soal langkah dan kebijakan-kebijakan pemerintah saat ini sering tidak disertai pemikiran panjang. saya juga masih emosional, saya jengkel kalau pemerintah tidak mengambil kebijakan populer atau yang sering disebut dengan kebijakan pro rakyat, tanpa mencari tau kenapa dan untuk apa kebijakan tersebut diambil.

itu sebabnya saya jarang sekali berpendapat dan berkomentar di sosial media soal kejadian politik yang sedang hangat terjadi, bukan tidak tertarik, saya hanya takut salah. jaman sekarang penggiringan opini publik sudah masuk ke level mengerikan. susah untuk membedakan mana berita benar dan mana berita yang dibuat seolah benar. lagi pula saya juga sudah malas berdebat. saya cukup puas dengan pengalaman mendebat senior-senior saat menyusun laporan pertanggung jawaban yang dibahas di musyawarah besar himpunan mahasiswa dulu. sekarang sebisa mungkin saya menghindari itu. terlebih karena saat ini apa-apa yang berkaitan dengan isu politik hampir bisa dipastikan punya tingkat sensitifitas yang tinggi. orang gampang terpancing, gampang emosi.

tapi bukan berarti saya tidak pernah membahas situasi perpolitikan saat ini, ada satu akun messenger yang icon-nya selalu menyala available untuk membahas dan mengkritik habis pemerintahan kapanpun saya mau membahas. kami semacam brother sister in crime.. bersama-sama membahas apapun yang sedang hangat diberitakan dari sudut pandang dan teori ke-sok-tau-an kami. jangan membayangkan kami akur setiap saat, sama sekali tidak. bahkan beberapa hari yang lalu kami sempat saling adu argumen dengan keras, saling melontarkan komentar pedas yang membuat hati panas. tapi setelah emosi meluap puas, kami "kembali ke bumi" menurunkan ego dan saling meminta maaf. voilaaa ~ suasana kembali seperti semula.

sekarang ini menahan keinginan untuk tidak berkomentar dan berdebat soal apa yang dilakukan oleh tokoh tokoh perpolitikan (dan tentu saja keluarganya) memang jauh lebih berat ketimbang sekedar menahan lapar dan haus saat berpuasa. sayangnya, iya sayangnya. tidak banyak orang yang setelah drama adu pendapat dalam perdebatan bisa mengembalikan suasana hati dan pikirannya ke kondisi semula. kebanyakan dari mereka berpendapat, yang tidak setuju dengan pendapat saya adalah pihak oposisi. dan sampai kapapun pihak oposisi tidak akan pernah bisa ikhlas menerima pendapat apalagi kritikan. tapi alhamdulillah di sekitar saya tidak banyak yang seperti itu.

postingan blog ini memang saya dedikasikan untuk beberapa teman yang mungkin pernah saya sanggah opininya. walaupun seingat saya tidak lebih dari lima orang. percayalah saat itu saya khilaf dan saat ini berjanji untuk tidak mengulanginya lagi hahahahaha. santai gaes, santai.. menurut saya politik itu selingan. ini bukan soal berapa kali pak jokowi mengingkari janjinya, atau tentang kenapa ibu puan maharani yang diragukan banyak kalangan itu bisa jadi menteri koordinator, apalagi tentang pak yudhi crisnandi yang dengan luar biasanya bisa mengatur jumlah undangan pada resepsi pernikahan pegawai negeri sipil. yang terpenting buat saya sama sekali bukan soal itu. tapi soal bagaimana kita, bisa tetap santai berteman meski pandangan dan ke-sok-tauan kita tentang politik saling membelakangi.



Wednesday, December 3

tentang kebahagiaan


belakangan ini banyak teman facebook saya membagi tautan yang berisi video dengan tajuk the happy muslim. sebenarnya tautan video ini sudah beredar sejak lama, namun baru pagi tadi saya berniat menyimak video tersebut.. dan benar saja. semua yang dikatakan dan dijabarkan dalam video itu menusuk sekali. pak iskandar, pria yang ada di video itu adalah seorang muslim yang menceritakan pandangannya tentang kebahagian yang bisa didapatkan dari perilaku dan hubungan baik kita sebagai manusia terhadap lingkungan sekitar, juga hubungan manusia dengan manusia lainnya. beliau bilang sekarang ini kebahagian manusia lebih banyak ditentukan oleh produk hasil industri.

pak iskandar bilang
"this is a problem of our ego, we feel happiness is something that is within your hand"
iya gak sih? *nyari temen* kita ngerasa kebahagian adalah apa yang kita dapatkan. saya masih begitu.. masih banget. saya masih sering kecewa kalau apa yang saya ingin tidak bisa saya dapatkan. saya masih sering memasang target mau beli ini dan ingin punya itu. saya masih menggantungkan kebahagian saya pada apa yang saya dapat, yang saya pakai dan yang saya konsumsi. padahal seharusnya
"the happiness is something that basically even if you give you feel happy, it's not when you get that you feel happy"
duh, daleeeeem. ini kalau bukan pak iskandar yang bilang mungkin jadinya teori banget ya. tapi hasil berburu beberapa artikel yang terkait dengan beliau akhirnya membuat saya percaya, kenapa? karena beliau benar-benar melakukannya. pak iskandar bukan sekedar mengajarkan tapi juga membuktikan bahwa kebijaksanaan dan keterampilan yang diwariskan dari tradisi-tradisi luhur sebenarnya dapat kita pelajari dan sudah seharusnya kita aplikasikan kembali dalam kehidupan sehari-hari. bahwa seharusnya teknologi hadir untuk jadi solusi, bukan malah jadi awal permasalahan. beliau bilang kebahagiaan adalah keseimbangan, dan bahwa berbagi adalah hal yang paling membahagiakan.

akhirnya, pria paruh baya pemilik bumilangit intitute ini sukses bikin saya gamang, lalu flash back dan mengirim pertanyaan bertubi-tubi ke diri sendiri. tentang apa yang sudah saya lakukan? apa hal paling bermanfaat yang sudah saya bagi ke orang-orang disekitar saya? saya memang nyaris (nyaris, berarti kadang masih) tidak pernah iri dengan orang-orang yang berlimpah materi, tapi saya selalu sukses iri dengan orang-orang seperti pak iskandar, yang bisa berdamai dengan dirinya sendiri, dengan alam dan lingkungan sekitarnya.

saya juga sepakat sama kalimat "nature is where the best resources of happiness exist"  itulah kenapa saya dan masery senang sekali mengajak pagi berinteraksi dengan alam. karena kami percaya alam dan lingkungan adalah guru terbaik, darinya kita bisa belajar tentang banyak hal termasuk kebahagiaan. terakhir yang paling saya suka adalah kalimat penutupnya, bahwa kebahagian itu bukan hanya bagian dari islam, tapi universal, semua agama, semua budaya, semua orang bisa merasakannya.

video ini sengaja saya masukkan kedalam blog supaya suatu hari saat ego materi saya mulai meninggi, saya bisa mengingatkan diri dengan membuka lagi postingan ini. dan tentu saja tulisan ini bukan saya buat untuk membandingkan siapa lebih bahagia dari siapa, tapi tentang cara dan pilihan untuk menjadi bahagia :)



Monday, December 1

jadi sederhana


dipenghujung tahun saat banyak orang mereview resolusi, target dan meyiapkan tiket untuk liburan besar akhir tahun, saya dan masery malah resmi menyadur sapa mas dan mbak di spbu pertamina; "dimulai dari nol ya.." hahahahaha. bagaimana tidak, tepat dibulan november ini, pundi-pundi rupiah yang sedari dulu kami kumpulkan habis terpakai untuk melunasi sebidang tanah yang sudah jadi impian kami sejak lama. yang tersisa di buku tabungan hanya tinggal record angka pemindah bukuan dengan jumlah bilangan seadanya. sebidang tanah yang tidak terlalu luas ini adalah satu dari sekian banyak mimpi kami. drama negosiasi jual belinya nyaris berlangsung selama satu tahun. sampai akhirnya saya harus percaya kata-kata masery bahwa dalam hidup, kita akan berjodoh pada tiga hal; 1. pasangan, 2. kendaraan, 3. hunian.

dan alhamdulillah kami berjodoh. lalu setelah semua proses pindah kepemilikan ini hampir selesai, kami seolah mendapat energi berlipat untuk menata kembali skala prioritas dan merapikan susunan mimpi-mimpi kami. lagi pula ini semacam titik balik untuk saya. sejujurnya saya bukan istri/ibu yang cakap dalam kegiatan hemat berhemat. walaupun saya tidak sering membeli baju dan tidak punya banyak pilihan sepatu, pengeluaran "entertain"-pun tidak besar, saya tidak suka menonton bioskop, tidak harus mengabsen restoran ternama setiap akhir pekan, juga tidak suka bermanja-manja di salon langganan. memang sekilas tampak sederhana, tapi.. kacaunya saya tidak pernah membuat batas maksimal pengeluaran dalam satu bulan dan terlebih tidak pernah mengevaluasi jika dalam satu bulan jumlah uang yang saya keluarkan menjadi berlipat.

hari ini tepat satu bulan menuju tahun yang baru, saya mencoba keluar dari zona nyaman, saya ingin mulai belajar teratur, dan solusi termudah adalah mencatat. apapun, sekecil apapun, supaya semuanya bisa terukur. dan mungkin resolusi saya tahun depan akan dikemas jadi lebih sederhana, berkebun misalnya, memulai hidup sehat, membuat jadwal memasak dan meningkatkan intensitas berkemah atau sekedar piknik hore. harapan untuk memanggul ransel dan menginjakkan kaki di kathmandu tentu tetap ada, tapi tidak lagi utama mengingat kami masih harus ekstra menabung dan mengencangkan ikat pinggang supaya satu atau dua tahun lagi bisa membangun rumah mungil berhalaman yang luas dengan yu sing sebagai arsiteknya. amiiin :)


Friday, November 14

pertanyaan ibuk, jawaban bapak

karena baca blognya feni trus jadi ikut mengunjungi sumbernya disini, trus jadi pengen ikut ngasih pertanyaan-pertanyaan ini ke masery. sebagai suami dengan karakter pendiam luar biasa, masery memang nyaris tidak pernah bercerita tentang apa yang dirasakan secara detail. eh tapi memang benar saya dan masery adalah tipe pasangan yang baik-baik saja meski kami jarang terlihat ngobrol serius. urusan komunikasi kami lebih percaya dengan hati dan intuisi. tapi, bukan berarti kami sama sekali gak pernah ngobrol ya. nah kali ini saya penasaran ingin tau kalau diajak ngobrol ringan gini, jawaban masery seperti apa dan ini beneran jawaban asli tanpa rekayasa.

1. Apa sih yang pertama kali kepikiran saat Pagi baru lahir?
Saya jadi bapak. Kadang (pun sampe saat ini) masih suka tidak percaya.

2. Were you prepared?
Dibiarkan mengalir saja. Karena saya meyakini proses belajar (menjadi bapak) akan kita serap dengan sendirinya ketika kita menyelaminya.

3. Selama hampir 2 tahun jadi bapak, apa hal yang paling memorable?
Setiap kali anak memanggil kita 'bapak' dan datang menghampiri, tak mau lepas.

4. Apa memori favorit tentang Pagi?
Ketika berkomunikasi secara dua arah, saling menimbali, walau dengan bahasanya yang masih tidak jelas.

5. What’s your favorite thing about being a dad?
Memandikannya.

6. Apa hal paling memorable dari masa kecil yang ingin diulang ke Pagi?
Memberinya kepercayaan penuh ketika dia hendak pergi ke luar dari zona nyaman. Karena saya percaya, alam/lingkungan merupakan guru terbaik.

7. Apa visi buat Pagi?
Sama dengan jawaban no 9

8. Apa yang ingin dilakukan bersama Pagi saat dia sudah besar?
Backpacking ke dataran tinggi di Irlandia, bersama anggota keluarga yang lain tentunya

9. Apa yang mau masery tanamkan ke Pagi?
Jadilah orang yang membumi

10. What parts of yourself do you hope Pagi ends up with?
Hidup dalam kesederhanaan, setinggi apapun kedudukan kita di masyarakat

11. If you could do this all over again, what would you change?
Not to change, just receive that. Because all is God plans

yang sering bikin iri tentu saja nomor 3, hampir semua orang yang mengenal kami secara dekat setuju bahwa pagi dan masery adalah paket yang nyaris tidak bisa dipisahkan. mereka benar-benar klop secara karakter dan punya benang merah yang mengikat, membuat keduanya seolah saling mengisi. masery tanpa pagi tidak akan utuh, pun sama jika pagi tanpa masery. dan paling bikin #jleb adalah jawaban nomor 10. saya kenal dan saya mengagumi kesederhanaan masery yang sampai saat ini masih belum bisa saya imbangi. maka saya juga punya harapan yang sama untuk pagi. supaya kelak menjadi siapapun dia, apapun yang dia tekuni dan jalani, dia tetap jadi pribadi yang sederhana. ah.. terharu deh jadinya, terimakasih karena sudah memberikan semua yang terbaik yang dimiliki untuk kami berdua ya bap. ini mungkin penutup surat cinta yang standar, tapi beneran deh.. we love you bap. to the moon and back :)


Thursday, November 13

pagi di bukit bintang

segala sesuatu yang tidak terencana seringnya memang lebih menyenangkan. untuk beberapa hal menurut saya, hal-hal yang tidak direncanakan itu mencegah perasaan kecewa. sebenarnya bukan mencegah sih ya, tapi karena tidak terencana, jadi kita tidak punya ekspektasi lebih terhadap apa yang akan kita jalani dan hadapi. kalau ternyata jadinya seru, kita pasti senang sekali.. kalau ternyata biasa-biasa saja, kita lebih maklum, karena yaaa.. namanya juga tanpa rencana. sudah tak terhitung berapa kali kami pergi tanpa rencana, dan herannya kami tidak pernah jera. padahal bepergian tanpa perbekalan tentu saja berujung rasa lapar. ah buat saya yang penting pagi sudah makan.. kalau masery dan (terutama) saya sih asal piranti dokumentasi menyala sudah cukup. lagi pula kami sudah terbiasa dengan rasa lapar dalam praktek kegiatan survival ala pecinta alam tempo dulu. dulu sekali hahahahaha.

minggu pagi kemarin, tiba-tiba masery mengajak kami pergi ke daerah caringin. caringin tilu adalah salah satu dataran tinggi di bandung timur, kira-kira lima tahun lalu saya pernah kesana.. waktu itu malam hari, dan menakjubkan sekali. disana kita bisa memandang ribuan kerlip lampu kota dari atas bukit yang memiliki tinggi 1.200an meter diatas permukaan laut. tapi justru karena malam hari dan menggunakan mobil yang pengemudinya baru saja lulus dari ujian sim a, saya malah sama sekali tidak menikmati perjalanan. yang ada malah sibuk berdoa karena jalanan sempit yang diapit lembah tinggi membuat kadar cemas meningkat drastis. maka kali ini dengan sedikit analisa, masery memutuskan akan lebih mudah jika kami pergi dengan mengendarai sepeda motor karena jika ditempuh dari rumah ada jalan memotong menuju tempat tujuan yang membuat jarak tempuh jadi lebih dekat dan masery menduga jalan tersebut tidak bisa dilewati kendaraan roda empat.

sepanjang perjalanan, beberapa kali masery menepikan motor untuk bertanya pada penduduk setempat, arah jalan menuju caringin tilu. iya, kami memang pernah kesana tapi waktu itu menggunakan jalur umum yang tergambar di peta resmi kabupaten bandung. kami belum pernah melewati jalan pintas yang karakter jalannya bermacam-macam seperti kemarin. beberapa kilometer kami menemukan jalan menanjak yang ramah karena permukaannya rata oleh aspal beton. tapi kemudian kami harus menempuh jalan liku berbatu yang membuat mesin motor matic tua yang kami tumpangi mengeluh dan guncangan suspensinya jadi lebih dramatis. beberapa kali saya sempat tidak yakin dengan kemampuan motor dan menawarkan untuk turun, berjalan kaki sambil menggendong pagi, supaya masery lebih mudah mengendalikan laju motornya. tapi alhamdulillah sampai tempat tujuan, saya cukup turun satu kali, itupun karena kami salah jalan dan harus memutar dijalan yang sempit.

dan perjalanan tanpa rencana kami terbayar lunas dengan memandang barisan pohon pinus di kawasan bukit bintang, caringin tilu. masyaallah, kereeeen sekali. kata masery, kawasan ini memang dikelola oleh perhutani. dan memang terbilang baru dibuka untuk umum. jadi mungkin karena itu juga tempatnya bersih dan tertata rapi. keranjang tempat sampah dari jalinan bambu tersedia dihampir setiap meter, membuat pengunjung tidak punya alasan untuk membuang sampah sembarangan. pokoknya bersih, di tanahnya nyaris tidak ada sampah kecuali daun-daun pinus yang menumpuk mengering. katakan saya berlebihan, tapi hari itu saya bahagia sekali dan saya yakin pagi juga. selama disana dia gembira sekali lari kesana-kemari, lalu berhenti sebentar untuk mengumpulkan ranting-ranting kering (tetep) dan berlari lagi. jadi memang benar, sejauh ini menurut kami memang belum ada tempat yang lebih menyenangkan untuk mengajak pagi bermain selain taman kota dan hutan raya.




Tuesday, November 4

sandal dari emak

kalau bisa dibilang beruntung, saya adalah satu dari sedikit ibu bekerja yang beruntung dalam hal mencari asisten rumah tangga. emak, wanita berusia senja yang mengasuh pagi sekarang adalah sosok asisten rumah tangga idaman para ibu bekerja. bagaimana tidak, pengalaman emak sebagai ibu dari 3 anak, nenek dari 9 cucu dan uyut dari 1 cicit tentu sudah tidak diragukan lagi. meski usianya sudah cukup senja, tapi jam terbang yang sedemikian tinggi membuat emak masih terlihat tangkas dan cekatan.

awalnya, saya tidak punya ekspektasi berlebih terhadap emak. sekedar menjaga pagi selama saya bekerja saja sudah cukup. tidak perlu menyelesaikan pekerjaan melelahkan seperti mencuci dan menyetrika, yang penting hal-hal prinsip seperti cara memberikan asip, mpasi dan penggunaan clodi wajib ditaati. sisanya saya pasrah saja.. urusan jam tidur, jam minum susu, jam makan, sampai "manajemen" tangisan pagi saya serahkan sepenuhnya pada emak. sejak awal saya berusaha untuk menekan idealisme yang tak perlu, toh ibu bekerja kalau kebanyakan standar jadinya malah stress sendiri kan?

beruntung karena semakin hari, emak dan pagi semakin klop, saya? tentu saja bahagia. ketika beberapa teman masih disibukkan dengan derama art yang hilang, saya malah makin santai dan makin percaya sama emak. tidak hanya bisa dipercaya, emak juga baiknya luar biasa..  hampir setiap hari emak selalu membeli kue basah semacam pukis, nagasari, apem atau bubur lemu untuk pagi. emak membeli dengan uangnya sendiri dan selalu menolak kalau diganti. musim lebaran tempo hari, emak membelikan pagi sandal helo-kiti berwarna ungu. sandal yang menurut pengakuan emak ditukar dengan selembar uang dua puluh ribu rupiah menjadi sandal kesayangan pagi sebelum akhirnya tidak bisa dipakai lagi karena kekecilan. kebaikan emak tidak cukup sampai disitu, malam ini sepulang lembur, saya lihat pagi dengan bahagia memamerkan sandal barunya, sandal jepit berwarna merah.. yang lagi-lagi dibelikan emak.

selain baik, emak juga ekspresif sekali.. pernah suatu hari saya dan pagi meninggalkan bandung lima hari untuk menjenguk ibu di lampung, emak menangis.. katanya beliau tidak sanggup membayangkan lima hari kedepan tanpa pagi. tapi walaupun sedih karena kami tinggal, emak tetap tak lupa membeli sesisir pisang lumut untuk oleh-oleh ibu dilampung. saya pernah juga memergoki emak menangis sambil memijat pagi yang kala itu sedang tertidur karena sakit. emak memijat pagi dengan penuh rasa sayang, menggunakan ramuan tradisional yang dibuatnya sendiri dan dipercaya bisa membantu proses penyembuhan.. hal-hal sederhana semacam ini yang membuat saya yakin bahwa emak adalah asisten rumah tangga terbaik yang pernah saya temui.

ini mungkin berlebihan, tapi kenyataannya memang lebih mudah memilih presiden ketimbang mencari art yang cocok dan pas dihati. seringnya tidak pas.. giliran pas terkadang malah muncul perasaan iri. iri karena sementara kita bekerja, art malah punya lebih banyak waktu berkualitas bersama anak. tapi kalau saya percaya tidak ada yang bisa menggantikan posisi saya dihati pagi, pun posisi emak dihatinya karena kami adalah dua individu yang berbeda. saya mengijinkan pagi memberi ruang dihatinya untuk menyangi emak, sebagaimana dia menyediakan satu ruang khusus dihatinya untuk menyangi saya :)

 

Template by BloggerCandy.com