Thursday, September 18

ibu gamang

hari ini entah kenapa rasanya berat sekali meninggalkan pagi untuk berangkat kerja. ketika saya mulai berkemas isi tas dan memakai jaket hendak mengeluarkan motor, pagi menghampiri sambil bilang "ibuk.. ikut.." lalu berjalan ke arah rak sepatu dan memilih sepatunya sendiri. sambil bercanda saya tawarkan sepatu yang dipilihnya untuk berganti dengan sepatu lain pilihan saya, pagi bilang "bukan.." dan tetap ingin memakai sepatu pilihannya sendiri. saya sukses terharu dibuatnya. duh nak, kenapa kamu seolah cepat sekali tumbuh besar.

mungkin benar kata banyak orang bahwa sebenarnya masa terberat meninggalkan anak untuk kembali bekerja adalah bukan saat selesai cuti, tapi justru saat anak sudah mulai mengerti kemana ibunya pergi, saat mereka sudah bisa punya keinginan untuk ikut bersama ibunya. saya rasa sepuluh detik pagi hari tadi adalah masa tergamang sepanjang karir saya sebagai seorang ibu. sebagai yang terkenal dengan ibu yang jarang sekali drama, saya memang belum pernah seperti hari ini, yang sepanjang perjalanan menuju kantor membayangkan mata pagi yang menatap saya pergi. ah, semoga perasaan ini cepat normal kembali.

tidak, saya tidak berharap pagi cepat mengerti kemana dan untuk apa saya pergi. tapi saya selalu berharap semoga saat pagi besar nanti provider blog ini masih ada, supaya pagi tau kalau sepanjang tumbuh kembangnya saya sering bercerita tentangnya, meninggalkan jejak rindu yang dalam dari sudut belakang sebuah kantor disebelah jembatan layang.

Wednesday, September 17

kana the cat


sudah sejak lama saya dan masery ingin punya hewan peliharaan, dengan tujuan supaya bisa jadi teman pagi tumbuh besar. pilihan pertama, jelas yang paling kami suka yaitu kucing. ketika pagi belum genap setahun tempo hari, kami pernah membawa pulang kucing kampung yang kami beri nama afrika. namun tidak bertahan lama, si kucing menghilang, entah kemana. lalu saat kunjungan ke rumah abah di musim lebaran kemarin, kami melihat barisan kura-kura berjemur diatas kolam, nah! saat itu saya langsung terfikir untuk memelihara hewan bertempurung itu dengan pertimbangan perawatan yang mudah dan usianya cukup panjang. tapi kesibukan lain-lain membuat saya akhirnya lupa pada niatan membeli kura-kura.

sampai akhirnya minggu lalu masery bercerita bahwa ada seorang teman yang ingin memberi kami kucing keturunan angora. singkat cerita, kamis malam lalu kana the cat tiba dirumah dengan selamat. ah, dasar rejeki.. saya tidak menyangka kalau ternyata kana lucu sekali, bulunya panjang halus dan berwarna abu-abu gelap. butuh beberapa hari untuk kana melepas rasa insecure-nya karena menempati rumah baru. dihari pertama kana hanya sibuk berkeliling rumah dengan telinga dan mata yang super waspada. dia hanya bisa tidur jika bersembunyi dibawah tangga dan akan kembali ketempat yang sama setiap mendengar suara yang menurutnya tidak biasa. sekedar suara membuka pintu atau menghidupkan mesin kendaraan saja sudah bisa membuatnya kaget dan lari bersembunyi.

memasuki hari ketiga kana mulai terbiasa dengan suasana rumah, dia mulai menemukan spot favorit, dibawah meja, makan dalam jumlah yang banyak dan mulai sering berinteraksi dengan kami. saya juga jadi tau apa yang menurutnya paling menarik untuk dijadikan permainan; kaki dibalik selimut. duh yaa.. kalau nemu yang seperti ini, kana gembira bukan kepalang. udah deh, itu kaki bakal habis jadi bulan-bulanan.. gak peduli itu kaki saya, masery atau pagi. selain itu seperti kucing pada umumnya, kana senang segala sesuatu benda yang bergerak meskipun tau kalau yang bergerak ya itu-itu saja, lucu deh. pokoknya yang jelas kami senang, kami berharap semoga pagi dan kana bisa tumbuh besar bersama. supaya pagi belajar menghargai kehidupan lain seperti tumbuhan dan juga hewan. 

Wednesday, September 10

balada bbm bersubsidi

jujur saja, baru awal agustus kemarin saya mulai membiasakan si kendaraan pribadi mengkonsumsi bbm non subsidi. kenapa? karena memang baru sekarang saya ingin menjadi bagian dari solusi permasalahan negara ini. terdengar sedikit naif, tapi benar, sepenuh hati saya ingin mendukung pemerintahan yang sekarang. saya memang masih masuk kedalam golongan kelas menengah, tapi saya tidak mau menjadi bagian dari kelas-menengah-ngehek. punya mobil bagus, gadget canggih, tujuan liburan lombok, bali, singapore, ngopi haha hihi di cafe setiap minggu tapi sekalinya bbm langka dan isi petramax langsung merasa dirugikan oleh pemerintah. posting status keluh kesah menunggu antrian bbm subsidi, didalam mobil pribadi dengan menggunakan perangkat komunikasi yang baderol harganya tiga sampai lima jutaan. seems familiar? iya, di timeline facebook saya masih banyak yang seperti itu.

berganti konsumsi bahan bakar menjadi petramax memang tidak murah. saya juga tidak menyalahkan mereka yang pada akhirnya masih memilih bbm bersubsidi. teman saya yang bekerja disalah satu bank swasta ternama secara terang-terangan menyatakan tidak sanggup jika kendaraannya harus "jajan" bahan bakar non subsidi, dengan teori beban kpr, biaya hidup sehari-hari dan ongkos yang harus dia keluarkan setiap minggu untuk mengunjungi istri tercintanya. oke, fair gak masalah kok. yang masalah itu kalau sudah memakai bahan bakar subsidi tapi masih jadi menyebalkan dengan mengumpat, menyalahkan, menyerahkan semuanya sebagai tanggung jawab pemerintah. gerombolan orang-orang seperti ini sepertinya tidak pernah mengambil pelajaran berharga atas kekejaman senior saat ospek dulu.

saya sama sekali tidak mendukung pemerintah mencabut subsidi bbm jika kondisinya tidak dibarengi dengan pembenahan-pembenahan lain, semacam "mempersulit" proses kepemilikan kendaraan pribadi. seorang teman bercerita bahwa ketika musim lebaran kemarin, di salah satu pasar tradisional ada gelaran promo kendaraan roda dua. siapa yang berminat tinggal bermodal kartu tanda penduduk, kartu keluarga dan uang tunai dua ratus lima puluh ribu rupiah saja sudah bisa membawa pulang kendaraan gress.. fresh from the dealer. masalahnya masih banyak masyarakat indonesia yang belum bisa mengukur kemampuan finansialnya sampai dua tiga tahun kedepan. dengan bangga mengambil cicilan motor baru, satu tahun pertama lancar, tahun kedua pembayaran tersendat, tahun ketiga bunga cicilan bersemi lalu berujung penyitaan. motor melayang hutang terpampang nyata. tragis.

sebenarnya menurut saya, yang paling penting dari balada tak bertepi ini adalah soal penyediaan transportasi publik yang memadai, pemerintah harusnya memang tidak pernah menyerah pada usaha perbaikan transportasi publik. memang harus diakui masih banyak masyarakat yang ogah naik kereta, metromini, transjakarta bahkan angkot. alasan pembelaannya bisa macam-macam mulai dari angkot ngetem memakan waktu tempuh lebih lama sampai soal keamanaan transportasi publik yang rawan sekali. tapi ditengah ngetemnya angkot, ngebulnya emisi bus damri tua beberapa teman kece yang saya kenal masih konsisten menggunakan transportasi publik, atau beberapa teman lain yang lebih memilih bersepeda dengan sehat dan bahagia bahkan ada sekolompok yang membentuk komunitas pejalan kaki meski trotoar jalan sering termakan separuh oleh pedagang kaki lima.

beberapa dari kita mungkin masih jauh dari predikat keren seperti teman-teman pengguna transportasi publik dan sepeda. saya sendiri sama, dengan beberapa alasan untuk kegiatan sehari-hari saya berpendapat masih lebih efisien jika menggunakan kendaraan roda dua. yaaah.. intinya masing-masing harus mulai sadar bahwa kita semua, iya KITA SEMUA adalah bagian dari sistem. kalau menuntut semua membaik tapi tidak memulainya dari diri sendiri ya akan percuma jadinya. jangan bermental bossy, apa-apa maunya selesai tuntas dan cepat. jangan jadi generasi yang tinggal terima hasil tidak peduli seperti apa kerumitan prosesnya. dan yang terpenting jangan jadi beban teman-teman baik disekitar kita dengan menebar energi negatif :D

  

Monday, September 8

bulan pertama halopagi



usia halopagi memang baru satu bulan tapi setidaknya saya sudah belajar banyak hal baru. terutama soal manajemen waktu. mungkin memang benar untuk sebagian orang menjadi karyawan sepenuhnya adalah perihal nyaman yang tak terelakkan. asal bekerja sesuai peraturan, mengerahkan seluruh kemampuan, menjaga hubungan baik antar rekan sepekerjaan, maka semua aman. tinggal sabar menunggu gajian, tidak perlu repot mempertahankan harga dalam proses tawar menawar dan memikirkan testimoni tentang kualitas barang yang kita produksi. tapi buat sebagian orang yang ngeyel seperti saya, keluar dari zona nyaman tentu jauh lebih penting dari sekedar menunggu tanggal gajian. artinya ragam risiko dan sepaket hal lainnya harus siap diterima.

dari sebulan ini, saya menghitung sudah beberapa kali mendapati hal menarik soal hubungan antara penjual dan pembeli. sudah tidak perlu dibahas soal pembeli yang menawar dengan harga sekenanya, lumrah lah itu. namanya juga seni berdagang. tapi lucunya ada pembeli yang hitung berhitung modal berdasarkan versinya sendiri.. lalu bertanya dengan modal xx kenapa saya menjual dengan harga xxy? menjawabnyapun perlu helaan nafas panjang yang tidak cukup satu kali. atau ketika beberapa lainnya mengira orang seperti saya yang saya berkecimpung di dunia kain, benang dan jarum artinya bisa menjahit apapun. tidak ada alasan untuk menolak request membuat sesuatu selagi masih berbahan dasar kain, benang dan jarum juga. jika menolaknya, maka ragam labelpun saya dapatkan, mulai dari tidak mau berinovasi sampai menolak rejeki. hahahahaha.. lucu.

siang ini tadi saya terpancing dengan berkeluh kesah mengenai "konsumen rewel" di twitter. habis sudah rasanya kelapangan saya, sudah lelah, berusaha menjawab dengan ramah masih juga dibilang kurang usaha karena tidak mau meluangkan waktu mencari lagi bahan seperti yang diminta oleh salah satu calon pembeli. sampai ingin sekali rasanya saya menjawab dengan caps lock menyala. tapi sudahlah ya.. benar kata kak romdhi bahwa calon pembeli seperti yang saya sebutkan diatas tadi cukup di maintenance saja, tidak perlu diributkan. ada baiknya jadi catatan untuk diri saya sendiri, sebagai konsumen yang sedang belajar jadi produsen, percayalah bahwa untuk sebagian orang aktivitas jual beli itu bukan melulu soal berapa pundi dan keuntungan yang didapat setelahnya, tapi juga soal kerja keras dan passion.

diluar cerita itu semua, alhamdulillah ada banyaaaak sekali konsumen yang menyenangkan. biasanya tipe yang seperti ini sering membuat hati saya hangat dan jadi mood booster tidak hanya seharian, bahkan seminggu penuh. ah terpujilah wahai kalian. intinya masing-masing dari kita pasti pernah jadi konsumen dan (suatu hari mungkin akan jadi) produsen, jadi mari belajar saling menghargai dan memposisikan diri #notetomyself

masih semangat jeng? masih dong! \m/

Monday, September 1

cerita pagi, ransel kecil dan totebag mini

sejak pagi lahir, kami tidak pernah punya diaper bag. kami lebih memilih ransel kecil untuk mengemas semua perlengkapan pagi jika bepergian. kebetulan saat usia pagi masih hitungan minggu, kami mengunjungi salah satu toko outdoor di bandung, dan langsung jatuh cinta pada deuter waldfuch berwarna biru. singkat cerita, akhirnya ransel kecil inilah yang setia menemani kemanapun pagi (dan ibuk bapaknya) pergi. ransel kecil ini sebenarnya lebih dari cukup karena saya memang tidak pernah membawa banyak baju cadangan untuk pagi saat bepergian, sekedar dua atasan-bawahan untuk kejadian tak terduga dan satu stel baju untuk perjalanan pulang kalau berencana pergi seharian. meskipun berukuran kecil, ransel ini tetap masih terlalu besar untuk pagi bisa menggendongnya sendiri, mungkin nanti dua tiga tahun lagi. sementara sekarang kami cukup bahagia dengan membiarkan pagi dan ransel kecilnya merangkai cerita.

soal tumbuh kembang pagi, saat ini pertumbuhan dan keingintauan pagi sedang tumbuh bersama. semakin dia tumbuh besar, semakin besar juga rasa ingin taunya. setiap main di taman atau hutan kota, pagi selalu gembira karena banyak menemukan benda (yang menurutnya) baru seperti buah ceremai, pinus, daun sukun kering, biji pohon mahoni atau bahkan batu-batuan. entah kenapa pagi memang punya ketertarikan berlebih terhadap segala jenis bebatuan. mungkin karena bentuknya tidak pernah sama, jadi pagi selalu menganggap setiap batu itu unik. sayangnya setiap kali bermain ke taman itu pula saya selalu lupa membawa tempat untuk menyimpan hasil penemuannya. jadi setelah ditemukan, ya ditinggal begitu saja. makanya sudah lama saya ingin punya ember kecil, supaya pagi bisa membawa pulang hasil penemuannya. tapi ternyata mencari ember kecil yang sesuai bayangan saya, susah sekali.

sepulang dari tangerang sabtu malam kemarin, kami berencana mengajak pagi bermain sambil mencari tupai dikampus itb esok harinya. masalahnya saya belum juga menemukan wujud ember idaman, sebenarnya bukan jadi masalah besar ya, tapi suka ikut sedih kalau melihat pagi yang setiap selesai bermain pagi seolah meratap tidak rela, karena hasil-hasil temuan tidak bisa ikut pulang bersamanya. jadi saya sudah pasrah mau berbekal kantong plastik kecil saja untuk pagi. supaya dia bisa menyimpan dan membawa pulang hasil penemuannya. sampai tiba-tiba masery bilang "bikinin totebag aja.." NAH! yang tadinya sudah super lunglai karena menempuh perjalanan bandung-tangerang-bandung selama total empat belas jam langsung seger lagi dikasih ide begitu. membayangkan pagi akan punya satu totebag mini yang akan dibawa sendiri dan menjadi tanggung jawabnya sendiri, pasti lucu sekali.

berbekal sisa-sisa tenaga yang berkolaborasi dengan stok kain seadanya. tepat jam sebelas malam kemarin si ransel kecil resmi punya teman, totebag mini berhias kamera. niat awalnya si kamera mau dijahit manual pakai tangan biar lebih rapi dan match sama jenis bahannya. tapi mungkin karena saya sudah keburu capek, akhirnya malah gak bisa fokus, nyari jarum sulam ditempat biasa nyimpen gak ketemu, yasudahlah jahit mesin aja. dan namapun ibuk super drama, hiasan kamera diatas totebag mini ini tentu bukan tanpa filosofi. supaya pagi bisa merekam apapun hal baru yang dia temui. karena sekarang masih kecil, jadi gambarnya dulu ya nak. kalau sudah saatnya nanti, mudah-mudahan ibuk bisa belikan kamera sungguhan, biar bisa jadi teman perjalananmu kesana kemari :) 



Monday, August 25

soal mimpi dan #halopagi



ceritanya mau sombong karena sekarang sudah mulai terbiasa dengan jam tidur yang maksimal hanya enam jam, walaupun pernah juga kecolongan tidur dari habis isya sampai subuh. ya anggep aja rapel kak, tunjangan kinerja aja boleh dirapel kan, masa tidur gak boleh hahahahaha. soal manajemen waktu memang sudah tidak se-ekstrim awal-awal kemarin walaupun rangkaian adaptasi masih terus berlangsung. beberapa kali masih kesiangan dua tiga menit pas absen kantor, tapi kaitannya sama hal teknis macam ngantri kamar mandi atau pagi yang nempel kelamaan. emm, paling sama satu lagi, belum dapet clue untuk urusan masak. pengennya sih semua dikerjain sendiri, tapi belum nemu selahnya. mesti rajin cari resep masakan yang bergizi, sudah pasti enak dan bisa selesai kurang dari setengah jam. emang ada ya? :p

kalau sabtu-minggu dari bangun tidur sampai sore, insyaallah masih mengutamakan keluarga. masih sering pergi kemana-mana sepaket lengkap bertiga. kalau pas sedang dirumah kadang disambi motong bahan, keluar rumah sebentar untuk ngobras tepi kain, atau nyiapin renda, benang dan kain untuk dijahit malam harinya. saya sebisa mungkin melibatkan pagi dalam semua kegiatan yang berkaitan dengan halopagi, supaya dia tau apa saja yang dikerjakan ibuknya. kalau saya menjahit, sesekali pagi saya pangku. kalau mulai cranky, biasanya saya mengalah, berhenti menjahit dan menemani dia bermain benang, menghitung kancing dalam botol atau bermain lipat kain. kebayang gak sih, kumpulan benang dan kancing, tumpukan kain yang tadinya sudah tersusun rapi, "dirapikan" lagi oleh si tangan mungil. capeknya double, tapi bahagianya juga kok.

walaupun pada praktiknya usaha menciptakan harmoni seperti apa yang saya sebutkan tadi sering tidak berjalan mulus, hehehe. tapi setidaknya saya berusaha agar pagi tidak terlalu sering kehilangan saya. setelah sudah tentu kehilangan saat saya bekerja, masa sih harus merasakan kehilangan untuk kedua kalinya saat saya menjahit. kalau masery? sejauh ini alhamdulillah belum terlihat keberatan dengan tambahan aktivitas baru saya. padahal sering banget saya cuekin kalau lagi asik menjahit. masery malah mendukung dengan membuatkan logo halopagi yang super keceh dan sesekali ngasih ide supaya halopagi cepat tumbuh besar dan "sehat". mungkin hal itu masuk kedalam kategori sikap romantis versinya sendiri. ihik, terimakasih ya pak suami.

soal mimpi, inginnya suatu hari nanti halopagi bisa jadi tempat saya menuang karya, bisa punya ciri khasnya sendiri seperti teh tarlen (vitarlenology) dan mbak dita (cemprut) oh i so adore you both!! memang sebenarnya masih terlalu dini kalau ingin bercerita banyak soal apa dan bagaimana nanti halopagi. ibarat anak, halopagi yang sekarang ini masih bayi. masih ingin mencoba banyak hal sebelum akhirnya nanti mantap memilih warnanya sendiri. tapi yang jelas sama sekali bukan persoalan berapa banyak pundi yang bisa saya hasilkan dari a-happy-side-job ini, tapi soal seberapa saya harus "keras kepala" untuk mewujudkan apa yang sudah menjadi mimpi saya selama bertahun-tahun. dan dari semua proses yang baru berjalan ini ada kalimat yang akan selalu saya ingat; live your dream and share your passion.


 

Template by BloggerCandy.com