Friday, April 29

jodoh

bulan april buat saya adalah bulan bertemu jodoh. tahun ini artinya sudah april ke delapan sejak pertama kali saya bertemu pak ery dalam sebuah rapat koordinasi aksi hari bumi di sekretariat wahana lingkungan hidup. saya masih inget kesal yang saat itu saya rasakan karena menunggu koordinator aksi yang datang terlambat, pun ketika berbicara memimpin pertemuan suaranya pelan sekali. jauh dari kesan garang yang selama ini disandang aktivis lingkungan. iya, itu adalah pak ery.

delapan tahun lalu, jangankan membayangkan akan berjodoh, bertemu saja kami nyaris tidak pernah. apalagi pak ery sama sekali tidak termasuk kategori pria idaman saya yang dulu sama seperti standar menantu idaman banyak mertua di indonesia; rapi, wangi, berkemeja, ramah dan terdaftar sebagai salah satu karyawan perusahaan ternama. memangnya siapa yang tertarik dengan pria gondrong irit bicara yang terkesan angkuh dan bekerja sebagai jurnalis lepas, ditengah hutan terpencil pula?

singkat cerita kami melewati hari, minggu, bulan dan tahun dengan hubungan yang memang tidak ada apa-apa dan bukan siapa-siapa. lokasi tinggal kamipun berjauhan saya di meriahnya kota bandung, pak ery di sepinya perbatasan kalimantan. maka jika kisah diangkat dalam sebuat layar FTV nyaris mustahil ceritanya berakhir dengan happy ending :p

tapi tentu beda ceritanya kalau tangan Tuhan yang bermain. tahun berlalu ketika suatu pagi sepulang dari kalimantan, pak ery mengajak saya berkeliling kota dengan berjalan kaki. kami menelusuri aspal basah jejak hujan malam sebelumnya dan jalan-jalan sempit yang ada dibelakang gedung-gedung pencakar langit. jangan bayangkan kami akan ngobrol asik sepanjang jalan. sama sekali tidak. tapi kalau boleh norak, disitulah untuk pertama kalinya saya merasakan he's the right one. semacam ini yang saya cari sejak dulu. seseorang yang tidak  banyak bicara tapi bisa membuat saya merasa cukup.

cerita dibalik layarnya tentu saja tidak semulus ini. drama? ada dooong. banyak malah. terlebih bukan tidak pernah saya menjalani hubungan yang nyaris serius dengan orang lain sebelumnya *batuk cantik* yah, kalau anak muda bilang namanya galau, nyaris tiap hari ada perdebatan hati antara "saya yakin ini orangnya" dengan "tapi yang itu gimana" hahahahahaha syedep. jelang melaksankan resepsi pernikahan juga tak kalah drama, karena jodoh tidak hanya berhenti didua kata; saya dan dia. tapi juga ada keluarga, budaya dan hal lainnya yang melekat dan mengikat.

sekali lagi pepatah namanya jodoh gak bakal kemana membuktikan keabsahannya. mau kita terpisah jarak waktu kayak apa juga, kalau garis takdirnya sudah sama C, D atau E(ry) maka jadilah. akhirnya kami menikah empat tahun setelah pertemuan pertama yang jauh dari kesan romantis itu. pria yang tadinya bukan tipe saya banget itu, lama-kelamaan jadi pria yang paling tau saya banget, yang kepadanya saya bisa tiba-tiba jadi ratu drama, menangis dan bercerita tentang apa saja.

pernikahan yang masih seumur kacang hijau berubah jadi kecambah ini juga bukan tidak pernah diwarnai persoalan. percayalah, kehidupan rumah tangga tidak selamanya berjalan semulus foto mesra di sosial media :p jangan bayangkan ketika sudah bertemu jodoh maka segalanya berubah jadi indah tanpa cela. karakter saya dan pak ery yang jauh berbeda membuat gesekan kerap terjadi. tapi ya sebatas drama-drama kecil yang 98%nya banyak diperankan oleh saya hahahahaha.

sampai hari ini, saya masih sering tersenyum membayangkan bagaimana saya dan pak ery bisa menikah. betapa kata jodoh itu ajaib sekali ya. seandainya rapat hari bumi tidak pernah ada, seandainya jalan kaki berkeliling kota tidak terlaksana, mungkin saya tidak pernah sebahagia hari ini :)

Thursday, April 21

mencatat ide

pasti pernah dong, mengalami satu masa dimana tiba-tiba kita jadi semangat banget melakukan banyak hal. tiba-tiba kepikiran banyak sekali ide (yang kita anggap) cemerlang, ide-ide yang bermunculan dalam waktu yang nyaris bersamaan, dengan jumlah yang sering tak hingga. tentu saja sepaket dengan perasaan menggebu-gebu juga keyakinan semesta akan mendukung dan dunia berpihak pada kita. tsah, cakep.

yang bikin gak cakep adalah, (selalu) ketika si ide itu terlalu deras mengalir kita mulai halu. tidak bisa membedakan mana yang sebenarnya paling masuk akal untuk segera di realisasikan dan yang sebenarnya bisa ditunda bahkan sampai satu dua tahun kedepan. tidak bisa mengurutkan prioritas, semua utama, semua ingin segera. lalu berujung dengan tragis, gagal fokus. si ide melebar ambyar gak karuan. sounds familiar? iya. dulu saya juga sering jadi "korban" dari ide yang terlalu banyak itu. kalimat too much idea will kill you buat saya nyata adanya. si ide yang terlalu banyak seringnya malah bikin capek mikir, apalagi status sebagai pekerja kantoran membuat saya sering mencari pembenaran untuk akhirnya tidak merealisasikan ide-ide tersebut. kalau orang bilang "zona nyaman" bikin otak kanan banyak nganggur, mau tidak mau saya setuju.

minggu-minggu ini adalah masa dimana saya kebanjiran ide. tiba-tiba saya rindu menjahit, tiba-tiba saya merasa #HaloPagi harus mulai produksi ini ini ini dan ini lagi. saya mencuri waktu untuk merealisasikan ide-ide itu disela keriaan mendampingi satu balita dan bayi mungil berusia dua bulan yang tentu saja sudah menguras 75% energi saya setiap hari. dan saya sadar sepenuhnya, bahwa dengan keadaan saya yang sekarang ide-ide ini tidak bisa dibiarkan menghuni kepala saja. bisa-bisa tertumpuk dengan urusan biaya sekolah pagi dan rencana masak apa seminggu kedepan :p
maka saya memilih melakukan manajemen ide dengan cara "tradisional". karena secanggih apapun teknologi, saya tetap jatuh hati dengan kertas dan pena. sampai sekarang saya masih setia dengan jurnal catatan gado-gado yang seringnya saya gunakan untuk mencatat hasil rapat, padahal didalamnya kertas berisi tulisan dan gambar yang sama sekali tidak relevan dengan pekerjaan kantor hahahaha *salim pak direktur*. karena memang menurut saya menyimpan catatan di media digital itu kurang greget (lah trus kenapa ngeblog? hahahaha) maksudnya untuk kasus-kasus mencatat pikiran dadakan, lebih seru dituangkan diatas kertas, bisa kelihatan spontanitas dan jejaknya, karena di kertas tidak ada tombol delete dan backspace.

selain itu mencatat ide juga bisa membuat kita lebih selo dan waras, karena ketika dibaca ulang, kita akan otomatis merunut ulang mana yang memungkinkan atau masuk akal dan mana yang sebaiknya ditunda atau bahkan dicoret dari daftar. pengalaman saya sih, kalau membaca ulang catatan ide, rencana dan target jadinya malah banyak yang dicoret karena disesuaikan dengan keadaan saat ini. seringnya jadi makin mengerucut dan makin fokus. malah jauh lebih baik kan? jadi, sudahkah anda mencatat ide yang muncu tiba-tiba hari ini?



Friday, April 8

siapa yang lebih lelah?

masih ingat tentang artikel perbedaan uang nafkah dan uang belanja untuk istri yang tempo hari sangat heits di situs jejaring facebook? seolah mendapat pembenaran, tautan artikel tersebut-pun dibagikan oleh banyak perempuan berstatus istri dengan mengikutsertakan atau men-tag sosial media milik pasangannya sambil disertai kode-kode manja atau kalimat perintah "nih, baca ya ayah.." meskipun tujuan sebenarnya tentu tidak berhenti sampai membaca, melainkan agar pasangannya segera mewujudkan apa yang katanya sudah menjadi sunnah agama tersebut. sebenarnya selain bahasan artikelnya yang tidak bisa membuat saya mengangguk setuju sampai akhirnya membahas dalam satu posting blog ini, saya juga cukup heran dengan fenomena tagging pasangan tadi, memangnya obrolan dapur seperti itu tidak bisa dibahas saat pillow talk ya?

nah, kali ini yang tidak kalah viral adalah soal pengakuan bahwa menjadi ibu itu super sekaligus luar biasa melelahkan. saya setuju. yang saya tidak setuju kemudian jadi banyak ibu yang merasa paling lelah karena sudah mengurus pekerjaan rumah tangga 1x24 jam sehari, 7 hari seminggu tanpa libur. buat saya kurang fair sih. karena sadar atau tidak, meskipun terlihat cool, pasangan kita juga mungkin merasakan lelah yang sama, bahkan kadang lebih. karena ada tanggung jawab keluarga yang ia pikul, secara dunia, terlebih secara agama. yang membuat terlihat jauh berbeda adalah kemampuan mereka (laki-laki) menyembunyikan ekspresi lelahnya. laki-laki cenderung tidak butuh pengakuan dalam kasus ini. beda banget sama kita (perempuan) yang ekspresif dan moodnya fluktuatif sekali. capek dikit, nangis. ada yang gak sesuai dikit baper *ngetik sambil ngaca*

memang perempuan diciptakan dengan kemampuan multitasking yang akan semakin mumpuni ketika ia sudah berstatus ibu. kemampuan yang sayangnya bisa jadi kelebihan sekaligus kekurangan. kelebihannya tentu saja jadi banyak pekerjaan yang bisa diselesaikan lebih cepat dalam satu waktu. dear para suami, tolong akui kehebatan kami yang satu ini hahahahaha. tapi sekaligus menjadi kekurangan karena sejujurnya multitasking itu melelahkan sekali. belum selesai urusan ini sudah disambi pekerjaan yang itu. sambil membereskan mainan, sambil mengecek persediaan makanan di kulkas. raga masih dikantor, pikiran sudah mendarat sampai pasar baru di rumah. sambung menyambung, terus menerus. kalau pengalaman pribadi, inilah yang akhirnya membuat perempuan lebih mudah lelah baik secara fisik maupun psikis.

tapi tetap bukan berarti bisa jadi pembenaran untuk setiap perempuan merasa paling berhak atas gelar lelah loh ya.. dalam kehidupan berumahtangga misalnya, menurut saya yang membedakan hanya jenis tanggung jawabnya saja. suami atau laki-laki tanggungjawabnya lebih future alias masa depan, meskipun misalnya berjodoh dengan istri yang bekerja, tetap saja tanggung jawab nafkah dan masa depan keluarga ada di pundak suami. sedangkan istri lebih mengurus keperluan yang lebih present, alias saat ini. mulai motong wortel sambil ngantuk dari sebelum adzan subuh, sampai tidur sambil duduk setiap malam demi menyusui. memastikan semua anggota keluarganya sehat, cukup makan, cukup istirahat dan bahagia. dalam lingkup keluarga, tanggung jawab perempuan biasanya memang lebih domestik. nah dalam bagian tanggung jawab itu pasti ada porsi lelahnya masing-masing. selebihnya susah-senang ditanggung bersama, kan sudah teken kontrak sehidup semati sama yang diatas.

jadi menurut saya baik istri ataupun suami, sama lelahnya, sama hebatnya. karena suami istri itu satu tim, dipertemukan dalam ikatan keluarga untuk saling menguatkan dan memberi dukungan. hanya saja kalau istri lebih cerewet banyak bercerita, ya dimaklum saja. itu memang sudah kodratnya. namanya juga perempuan :D

Monday, March 21

jadi ibu(-ibu)

hari ini aksara berusia satu bulan, artinya tepat satu bulan juga saya kembali mengulang rutinitas tiga tahun lalu; bangun ditengah malam, menyusui, mengganti popok nyaris setiap satu jam sekali. berdasarkan pengalaman pagi dulu, artinya saya harus menghapus kamus "tidur enak" dari kehidupan setidaknya selama dua tahun kedepan.

sudah satu bulan, saya punya status baru sebagai ibu(-ibu) dengan dua anak. biasanya beberapa teman yang kebetulan baru mempunyai satu anak datang menjenguk dengan pertanyaan "gimana rasanya?" sedangkan yang sudah lebih dulu berstatus seperti saya sialnya hanya tersenyum menggoda penuh makna sambil melontarkan pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu dijawab; "seru kan, jeng?" hahahahaha.

jadi ibu untuk yang kedua kalinya tidak lantas membuat saya khatam segala hal berbau parenting. justru, jadi ibu dengan dua anak membuat saya belajar lebih banyak lagi dan lagi. kalau saya berpendapat, punya anak pertama itu sangat melelahkan secara fisik maka punya anak untuk yang kedua kalinya sangat membutuhkan kesiapan emosional.

biasanya, ketika punya anak pertama.. pasangan muda hanya euphoria pada kehadiran bayi mungilnya, tapi tidak menyiapkan mental dan stamina untuk proses setelahnya yang jauh lebih panjang. iya, itu saya dan pak ery dulu. kami benar lupa (atau tidak tau) bahwa sebenarnya selain waktu kelahiran yang membahagiakan ada waktu yang tidak kalah penting untuk disiapkan kedua orangtua, yaitu satu bulan pertama setelah kelahiran. kami tidak menyangka bahwa satu bulan pertama setelah kelahiran adalah waktu yang sangat menguji ketahanan fisik. belum pulih dari proses melahirkan yang melelahkan, sudah harus kekurangan jam tidur secara drastis, kebingungan membaca ritme bayi, ditambah harus tetap menerima banyak tamu yang datang berkunjung. badan rasanya remuk redam saat itu.

kelahiran anak kedua, saya jauh lebih siap. saya tau bahwa satu bulan pertama kehadiran aksara akan sangat menguras energi. tapi, tetap ada yang luput, bahwa selain menguras energi, ada kesabaran yang juga sering ikut tergerus. kesabaran yang erat sekali kaitannya dengan si anak pertama. sebenarnya, pagi tidak cemburu atas kehadiran adiknya. bahkan sejauh ini dia cukup kooperatif, dia selalu gembira membantu jika saya memintanya mengambilkan handuk, kapas, atau baju adik. tapi, pagi tetaplah anak kecil berusia tiga tahun dengan segala fase yang sedang dijalaninya.. kadang drama, kadang membantah, kadang tantrum, dan kadang ibu belum siap menerima itu.

diam-diam saya berharap supaya pagi tidak perlu menangis untuk hal-hal sepele, berharap supaya interaksi saya dan dia less-drama, lebih mudah jika diminta mandi, membereskan mainan atau mematikan televisi. saya seperti kehabisan stok untuk merayu dan membuat kesepakatan damai seperti yang biasa kami lakukan. tiba-tiba sumbu sabar jadi lebih pendek dari biasanya.. harus diakui, sejak fisik yang terkuras dibulan pertama aksara lahir, kadang saya tidak cukup ikhlas memenuhi permintaan pagi yang sebenarnya sah saja, seperti meminta dibacakan buku ketiga sebelum tidur, atau menjawab pertanyaan-pertanyaannya yang ajaib. pokoknya saya jadi lebih sering menuntut pagi untuk jadi lebih dewasa dari usianya.

tentu saja perasaan sedih dan bersalah kerap datang ketika pagi tidur. kalau sudah ada disituasi itu saya jadi drama, berurai air mata. saya percaya hampir semua ibu yang menaikkan intonasi suara ketika berbicara dengan anak kecilnya sadar bahwa mereka tidak seharusnya melakukan itu. sayangnya tidak semua ibu tercipta dengan level kesabaran setinggi bu elly risman atau teh kiki barkiah kan? dan dalam kehidupan nyata, ilmu parenting tidak semudah teori yang tautannya selalu kita bagikan lewat sosial media, yang tentu sudah khatam kita baca berkali-kali. saya sendiri masih jauh dari kategori ibu ideal, masi perlu banyaaaaakk belajar meluaskan hati dan meninggikan tingkat kesabaran diri.

Friday, March 11

sekolah bagus (dan mahal)

berawal saat beberapa waktu lalu saya membagikan salah satu posting blog tentang biaya masuk beberapa SD swasta favorit di bandung, yang menuai banyak respon, maka malam ini saya mau meracau tentang dunia pendidikan. eh tapi sebelum mulai nulisnya saya mau bilang terimakasih dulu sama pemilik blog yang link-nya sudah saya bagikan di laman facebook, hatur nuhun informasinya ya mbak ines ;)

sebenarnya sejak pendidikan anak menjadi hot topic dikalangan ibu-ibu muda di kantor, pertanyaan "sekolah dimana?" nyaris selalu terlontar disetiap obrolan makan siang disertai pertanyaan lain yang berkaitan, seperti "ada jemputan gak?", "bayarannya gimana?" dan lain sebagainya. sebenarnya pagi memang belum akan masuk sekolah dasar, mungkin masih 3 atau 4 tahun lagi. pagi bukan juga yang pasti saya daftarkan untuk duduk disalah satu sekolah dalam daftar tersebut. saya baru melihat nama-nama sekolah beserta tabel biayanya saja kok, meski itu sudah cukup untuk membuat pegawai negeri seperti saya senyum-senyum pasrah sambil membatin "apa kabar angka-angka ini tiga tahun lagi?" hahahahaha

saya dan pak ery sepakat, sejauh ini belum  punya niatan mendaftarkan pagi disekolah terbaik dan termahal menurut daftar di blognya mbak ines. alasan pertama jujur saja karena biaya yang tidak sesuai dengan anggaran belanja rumah tangga kami, alasan kedua sebenarnya saya lebih berharap bisa menemukan sekolah yang sesuai dengan karakter pagi. bukan semata-mata terpaku dari review kualitas dan biaya pendidikannya. terlebih saya sendiri sampai sekarang belum yakin, apa iya mahal dan mutu akan selalu berjalan beriringan? seperti apa output yang "pantas" saya harapkan jika anak-anak saya bersekolah disana kelak?

kalau ibu saya bilang, jadi orangtua jaman sekarang lebih "repot", lebih banyak pertimbangan ini dan itu. berbeda dengan jaman ibu membesarkan saya dan kakak-kakak dulu. kami bebas main tanpa rasa cemas berlebihan yang menghantui ibu. apalagi tinggal di kota kecil seperti bandar lampung di tahun 90an, urusan sekolah? serahkan pada sekolah negeri. soal kurikulum dan nilai, tinggal ikut aturan dan standar pemerintah. beres. tidak ada ketakutan berlebihan seperti banyak orangtua jaman sekarang. baru akan masuk TK saja galaunya sudah level dewa hahahaha.. benar juga. tapi memang tidak fair jika membandingkan kehidupan sekarang dengan dulu. saat ini suka ataupun tidak yang namanya teknologi, pemikiran, pun kecemasan berkembang beriringan.

balik lagi ke soal sekolah, intinya saya tidak ingin ego saya dan pak ery sebagai orangtua jadi alasan untuk mendaftarkan pagi (dan adik-adiknya nanti) ke sekolah yang (katanya) terbaik dari berbagai segi itu. kami tidak ingin membuatnya terlihat lebih agamis, lalu jadi alasan untuk mendaftarkannya ke sekolah berbasis islam. kami tidak ingin menuntutnya bernilai akademis tinggi, sehingga jadi alasan untuk mendaftarkan mereka mengikuti les ini dan itu. kami ingin memberikan pilihan senetral dan sebanyak mungkin.. kemudian membiarkan mereka menentukan sendiri apa-apa yang menurut mereka baik dan menyenangkan. kami ingin anak-anak bisa menjadi dirinya sendiri, menjadi individu bahagia dan berbeda dari kami orangtuanya.


Monday, February 29

Sena Kinnaur Aksara

ini cerita tentang mencari nama. berbeda dengan saat dulu menentukan nama untuk Pagi, kami sudah menyiapkan nama jauh sebelum Pagi lahir, Aksara tidak. kami hanya tau akan memberi nama Aksara, tapi sama sekali belum menyiapkan nama panjangnya. bahkan saat sedang kontraksi dalam proses persalinan aksara, saya masih sempat memegang ponsel dan browsing antar situs untuk mencari inspirasi nama, saya juga sampai nyaris khatam membaca kamus bahasa sansekerta dan masih belum dapat yang sreg juga. maka kali ini kami benar-benar dikejar deadline akikah hahahaha.

tapi akhirnya nama Sena Kinnaur Aksara kami sepakati didetik-detik terakhir menyetor nama untuk akikah. hari ke-enam, dalam perjalanan menuju bumi ambu untuk kontrol pasca persalinan. Sena artinya bercahaya, kami mengambilnya dari bahasa jawa, Kinnaur adalah nama depan salah satu puncak pegunungan himalaya; Kinnaur Kailash. Kinnaur juga bisa berarti desa kecil yang berlokasi didataran tinggi himalaya. Aksara sendiri bermakna sama seperti Pagi, ada dan tidak bisa lepas dalam keseharian setiap manusia. secara keseluruhan nama mereka punya makna yang sama, seperti puncak gunung dan suasana awal hari; tenang dan bercahaya. begitupun doa kami yang juga tetap sama; semoga mereka bisa tumbuh bersama dengan sederhana dan bahagia.
 

Template by BloggerCandy.com