Thursday, March 15

make your life easier

oke, jadi siapa yang punya account twitter? saya punya, karena itulah saya menulis opini ini. twitter makin kesini makin fenomenal ya.. makin banyak penggunanya.. makin banyak penyalahgunaannya.. tapi jadi makin banyak lucunya. menurut saya twitter semacam memfasilitasi orang yang punya bakat nyinyir untuk mengasah kemampuannya. banyak pengguna yang mendadak menggantikan peran bu subangun kw delapan belas. antagonis, sinis, sadis. ya kalo sinisnya tentang satu permasalahan publik sih gapapa ya, jatuhnya jadi pendapat. tapi kalo ini nyinyir sama sesama pengguna twitter, kan lucu. setiap ada orang yang dianggep gak sejalan atau bersebrangan langsung deh komentar tajam. yaaa.. sejauh si dua kubu itu gak sampe jambak-jambakan didunia nyata saya gak bilang itu salah. hal-hal seperti itu sedang berusaha saya terima sebagai keanekaragaman karakter manusia.

salah satu contoh lucu adalah waktu hari ibu, ketika banyak orang mengekspresikan rasa sayang ke ibunya dengan beragam rangkaian kata ditwitter, seketika itu juga banyak yang sinis dengan bilang "yang pada ngucapin hari ibu di twitter, emang yakin ibunya pada baca.." loh? emang kalo sekedar ekspresi gak boleh? kenapa mendadak twitter jadi banyak aturan yang ditetapkan oleh penggunanya, bukan oleh penggagasnya. trus pernah ada yang publish cerita amal ditwitter dan dikomentarin "kalo amal sih amal aja gak usah pamer, nanti gak jadi pahala" emang gak bisa ya berfikiran positif sedikit aja? menurut saya satu hal yang dipublish itu bukan melulu pamer. apalagi gerakan amal, itu bisa jadi inspirasi buat kita ikut berlomba cari pahala loh. trus satu lagi, ini jenis pengguna twitter level ekstrimis yang sering banget ngetwitt semacam "setiap buka twitter muak sama timeline" yaelah trus kenapa masih punya account twitter? make your life easier bray. cuma soal kesel sama beberapa personal di twitter langsung jadi pikiran. mau cepet tua cuma gara-gara sosial media? lagian itu kan ada menu mute dan block.. menu itu difasilitasi supaya kita gak kebanyakan dosa karena nyinyirin orang.

yang harus diinget dan yang selalu saya tanamkan dipikiran adalah namanya sosial media dan penggunanya, mau mereka ngobrol di twitter, mau mereka saling saut pake RT, mau mereka sibuk ngebentuk pencitraan.. kita tetep gak punya hak untuk ngatur alurnya gimana dan kemana. sana deh cobain tinggal di pluto kalo mau hidup damai tanpa orang-orang ngeselin. itupun kalo bisa tinggal di pluto, kenyataannya gak bisa kan? yaudah terimalah bumi dengan segala isi dan karakter penghuninya. cuma saran aja.. kalo mau sinis sama pendapat atau perilaku orang ya personal aja cerita sama sahabat kaya saya, atau ngeblog gini kaya saya juga, hahaha. biar lebih puas, karena sahabat dan blog itu ibarat rumah. mau cerita apa aja boleh, bebas tak berbatas 140 karakter. trus lagian biar orang yang gak pengen baca kesinisan kita ya gak harus dipaksa baca lewat running timeline yang ngapdet per berapa detik sekali itu. percayalah, damai itu indah :p



cheers!

Saturday, March 3

konsistensi mimpi

tiba-tiba saya menemukan kesimpulan yang lahir dari pemikiran sendiri, soal mimpi. seolah mengalir air jemari loncat kesana kemari mengetik rangkaian huruf jadi kalimat "bermimpi itu mudah. konsisten untuk mewujudkannya itu yang susah" seperti sengaja berkaca untuk menampar muka. saya memang merasakan itu, saya punya banyak mimpi, setiap hari saya membikin mimpi lagi dan lagi tanpa punya konsistensi untuk mewujudkannya. mungkin karena mimpi saya penuh toleransi. sering tak apa jika tidak bisa toh masih ada ini dan itu penggantinya. saya seperti sedang berada di zona nyaman. merasa sangat cukup merasa sangat bahagia, jadi sudah saja. bukankah hidup harus selalu penuh rasa syukur? lalu saya mulai ragu apakah saya sedang bersyukur ataukah saya malah sedang dibuai nyaman. keduanya mungkin punya ciri yang relatif sama.. hanya bedanya yang satu berpahala, satunya lagi berbahaya.


*cheers!

Friday, March 2

celoteh sepatu

fashionable buat saya itu relatif. menurut saya seseorang yang percaya diri dengan gaya khasnya sendiri itu jauh lebih oke, berkarakter namanya. bukan hanya yang ikut sini sana karena tak mau kalah gaya. jangan berprasangka, ini bukan bagian dari sinisme saya terhadap perempuan full gaya. tapi dari dulu saya bukan penganut paham dress to kill dimana harus mati-matian bergaya demi terlihat wow dimata orang yang kita tak kenal siapa. hahaha.. saya bukan tak senang melihat perempuan bergaya, saya malah kagum dengan mereka asal tak berlebihan dan tetap bersahaja. yah, nilai ber-fashion saya sepertinya memang masuk kedalam zona degradasi. buat saya semua yang dipakai itu asal nyaman dan asal sopan.

rumus nyaman versi saya itu : jeans, kaos berlapis kemeja flanel, tas punggung dan all stars. tapi, tentu saja tak bisa setiap saat mengenakan rumusan diatas. makanya tetep harus ada kata sopan, sopan dalam menyesuaikan suasana juga tempat yang tepat. kalau sedang menghadiri sebuah resepsi ya saya menyesuaikan diri, kalau kerja ya tetap seperti bergaya seperti karyawan pada umumnya. walaupun sesekali jika ke kantor dengan bersepeda, maka sehari itu saya mengenakan sneakers, tak lain karena daypack saya tak cukup jika harus membawa pakaian ganti dan satu sepatu kerja. lagi pula bersneakers itu tak melulu berkesan tak resmi, lihat saja seorang Dahlan Iskan yang mengenakan sepatu kets saat pelantikan jabatan mentri tempo hari.

bicara soal sepatu, berapa banyak sepatu yang kamu punya? kalau perempuan, pastilah tak cuma satu dua.. saya juga, punya sampai beberapa. saya pecinta sepatu meski tidak semua jenis sepatu.. saya maniac flat shoes dan addicted sama converse all star. merek dan model sepatu yang satu ini mampu membuat saya tak berpaling selama hampir sebelas tahun lamanya, dari hari pertama berseragam putih abu sampai detik ini. apalagi saya termasuk yang percaya bahwa semakin pudar warna sepatu all star yang kamu punya, maka semakin keren dia. hahaha..  kalau flatshoes memang harus, sejak awal bekerja dipabrik saya punya mobilitas yang tinggi, dari satu  gedung kegedung lain. waktu itu hanya sehari saya bertahan mengenakan heels. hari-hari berikutnya flatshoes jadi yang paling juara. meskipun katanya heels bisa membuat seorang perempuan jadi lebih anggun dan seksi. ah tapi menurut saya perempuan anggun itu karena santun, perempuan seksi itu karena intelegensi dan percaya diri.


cheers!

Monday, February 27

membagi kita dan apa saja

beberapa bulan lalu, saya dan teman-teman dari IF peduli bikin event sederhana. event yang ide awalnya gara-gara dedeph, adik tingkat saya yang bekerja disatu publisher ternama di bandung. waktu itu dia bilang kalau dikantornya sedang ada diskon buku besar-besaran. ah, saya yang kebetulan punya cita-cita bikin taman baca.. tanpa pikir panjang langsung memborong banyak buku cerita anak. katakan saja khilaf, karena setelah buku ada ditangan, saya malah bingung mau diapakan. hahahaha. pikir punya pikir, saya menghubungi seorang teman yang kebetulan sedang coass di RSUD Hasan Sadikin. awalnya cuma tanya prosedur berkunjung, tanya berapa jumlah pasien anak, tanya kemungkinan ini dan itu, lalu semuanya mengalir begitu saja. setelah diskusi lewat grup facebook, bbm sama beberapa teman, akhirnya kami memutuskan untuk sharing sedikit yang kami punya dan apa yang kami bisa ke bangsal anak kelas tiga di RSUD Hasan Sadikin.

ternyata tidak semudah yang saya bayangkan, karena bangsal kelas tiga itu diisi oleh banyak anak dengan rentang usia yang berbeda-beda. kami kan tidak mungkin memberi buku cerita untuk bayi mungil dalam inkubator. kami juga tidak mungkin memberi buku mewarnai pada seorang anak yang sudah kelas 5 sd. jadilah berkali-kali sepulang kerja saya mengunjungi bangsal anak untuk mendata, memastikan berapa banyak anak yang ada disana juga rentang usianya. tapi alhamdulillah, kerjasama semua personil IF peduli luar biasa solid. yang rela ninggalin tugas rumah setrikaan segunung demi beli susu dan kue ada, yang rela look like kurir paket kilat dengan kardus besar berisi puluhan papan gambar dibelakang motornya juga ada, bahkan sampe ada yang nyaris kecopetan karena harus desek-desekan belanja mainan.

ketika sampai di bangsal anak perasaan pedih, ngilu dan haru adalah yang paling mendominasi. melihat banyak selang disuntikkan kedalam kulit tipis tubuh-tubuh mungil, ruam-ruam biru bekas jejak jarum suntik yang sudah sering berpindah nadi ke nadi. sungai kecil beralur dipipi, hasil air mata yang lewat tak terkendali, pastilah nyeri. sang pemilik tubuh hanya terbaring lemah di kasur tua khas bangsal kelas ujung. bangsal anak kelas tiga, mungkin momok bagi semua orang tua, tak ada satupun dari mereka yang ingin anaknya terbaring disana jika keadaan tak memaksa. ketika kami datang.. orang tua atau siapapun yang mendampingi anak-anak itu tersenyum berbinar. lalu seolah sudah lama terpendam, mereka berbagi keluh kesah. tentang rasa khawatir, tentang keinginan semua cepat berakhir, tentang optimisme yang kalau saya jadi mereka, mungkin saya susah memilikinya.

cerita berbeda ketika akhir januari lalu saya dan rotaract bandung sentral berkunjung ke desa binaan di pengalengan, jawa barat. kalau yang ini acara senang-senang, bermain sambil belajar sama anak-anak di desa marga mukti. bermain bareng sampah belajar tentang lingkungan. kenapa targetnya anak-anak? karena ilmu dan sugesti itu memang paling mudah ditanamkan ke anak-anak ketimbang orang dewasa, kalau orang dewasa banyak ngeyelnya. hahaha. orang dewasa gak bisa bermain sambil belajar, harus serius.. kalo serius jadi ngantuk. kalo ngantuk jadi gak fokus. blunder kan? :p sedangkan saya dan rotaract waktu itu rindu sekali bersenang-senang. butuh begadang beberapa malam untuk membuat slide story telling tentang sampah dan kebersihan lingkungan. slidenya dari karton putih ukuran besar yang digambar manual menggunakan krayon warna warni. punya temen-temen yang tingkat kreatifitasnya diatas rata-rata emang gak ada ruginya. kebetulan event yang ini saya cuma terima beres dan terima eksis, karena emang jadwal kegiatan saya gak pernah pas untuk bisa bantu-bantu mewarnai dikamar kost naluri.

tepat dihari H, kami semua berangkat pagi sekali. karena lokasi yang kita tuju cukup jauh dari bandung. lagipula kami butuh waktu untuk menyiapkan dan instalasi macem-macem keperluan story telling. kami surprise karena jumlah anak-anak yang dikumpulkan oleh kakak pembina desa ternyata banyaaaak sekali. keceriaan semakin menjadi, tawa anak-anak juga makin mengudara apalagi trio kiki, ibel, naluri mengkonsep banyak permainan kreatif untuk dimainkan bersama. yang jelas suasana balai desa pagi itu hangat dan menyenangkan sekali. selesai main, saatnya kita story telling, tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, tentang bahaya sampah plastik dan tentang serunya tanam menanam yang dipraktekkan langsung dihalaman balai desa. setelah selesai semua rangkaian acara, baru deh kita cemil cemil ganjel perut sebelum makan siang. alhamdullah acara dengan persiapan yang tergolong mendadak ini berjalan lancar dan menyenangkan.


kalau saya boleh berpendapat (sekaligus berkaca), sering kesibukan dan rutinitas kita sehari-hari membuat kita lupa hal-hal kecil disekitar, kita sibuk membahagiakan diri dengan mengejar dan mewujudkan apa yang kita impikan. padahal bahagia itu tidak hanya bersumber dari kita semata. dari orang tak dikenal bisa saja, dari senyum mereka yang kita bagi juga bisa. berbagi apa saja, apapun yang kita punya, ke siapapun yang membutuhkannya. gak harus melulu materi, ilmu dan apa yang kita tau juga bisa dibagi. toh memang tak melulu perlu pergi ketempat rekreasi untuk wisata hati, cukup dengan berbagi, tak cuma bikin bahagia, tapi juga bikin hati makin kaya :)

*cheers!

Tuesday, February 14

life after marriage

banyak hal berubah setelah saya menikah, banyak hal baru, banyak yang seru.., overall semuanya menyenangkan. perubahan baru yang paling signifikan adalah soal memasak. teman yang tertawa soal hal ini tentu hampir semuanya. ikhlas menerima kenyataan seorang ajeng bisa memasak bagi mereka sama dengan ikhlas gak terima gaji selama dua bulan. sama-sama sulit, sama-sama pahit. memang tidak mudah membuat orang percaya saya sudah bisa melakukan sesuatu yang dulunya hampir tidak pernah saya lakukan, apalagi kalau bukan masak. iya, memang saya dulu terlalu “laki” untuk bermain-main dengan perangkat dapur. buat apa masak? menurut saya semua didunia ini sudah punya porsi dan ahlinya. saya tidak suka memasak, jadi serahkan saja pada simbak, eyang putri dan juru masak restoran, selesai urusan. tapi tidak sekarang.

semenjak memutuskan untuk menikah, salah satu cita-cita saya adalah jadi seorang ibu pekerja sekaligus juru masak juara untuk keluarga. kebetulan mas ery adalah juri masak terbaik. dia tidak fair, tapi justru itu yang saya suka. mas ery tidak pernah bilang tidak enak untuk apa yang saya masak. semua selalu lahap dikunyahnya, selalu habis bersih tak bersisa. mas ery pandai membesarkan hati. saya memang belum jago memasak, karena ketika masih sendiri dulu, saya tidak pernah melakukannya. saya tidak malu mengakui. kita semua lahir dengan kelebihan dan kekurangan. seorang perempuan yang tidak bisa memasak bukan akhir dari segalanya. tapi, bukan berarti akan berakhir dengan tidak bisa memasak selamanya.

oiyah, saya juga tetap berstatus pegawai dikantor rektorat ITB, tetap seven to five setiap weekdays, tetap sesekali overtime, tetap dibuat pusing dengan banyak hal khas pekerja kantoran. serunya semenjak menikah saya dituntut untuk lebih bisa manajemen waktu, anggap saja bagian dari resiko. kalau dulu saya mengurus diri sendiri, sekarang saya punya mas ery yang menemani. biasanya setiap pagi saya tak peduli perut mau atau tidak diisi, sekarang tak bisa lagi. bukan soal kewajiban menyiapkan sarapan, tapi soal kebutuhan. duduk bersama disatu meja setiap pagi itu priceless moment dan semenjak menikah, saya selalu butuh moment itu untuk “bahan bakar” satu hari. 

menyesuaikan satu ritme baru memang bukan hal mudah. tapi Alhamdulillah sejauh ini kami sama-sama belajar banyak hal, mas ery sangat penuh toleransi dan setiap hari saya terus menyesuaikan diri. karena memang saya lahir, tumbuh dan dibesarkan oleh orangtua yang keduanya berstatus pegawai, dari dulu tidak pernah terlintas dipikiran saya untuk resign dan menjadi full time wife. menurut saya tidak ada yang salah dengan perempuan pekerja. seorang ibu rumah tangga yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk keluarga memang luar biasa, tapi seorang ibu pekerja juga tak kalah istimewa. tetap bekerja, tetap bisa membagi waktunya. intinya selama pasangan kita bisa mendukung dan memaklumi, jalani dan syukuri, itu saja.




*cheers!

Tuesday, February 7

last rainy day


pagi itu hujan, maka kami menyebutnya dengan last rainy day in hanoi. seusai sarapan, kami berpayung berdua menusuri danau merangkul angin dingin, menikmati perilaku penduduk lokal juga deru klakson yang mengudara disepanjang jalanan kota, berjalan kaki kami berkeliling hanoi untuk terakhir kalinya. kami punya keyakinan yang sama bahwa keunikan setiap negara dipengaruhi oleh masyarakat, budaya dan sistem pemerintahaannya. kami juga percaya setiap perjalanan pasti menyisakan banyak pesan tentang kehidupan.

masih beberapa jam menjelang tengah hari ketika kami duduk dibangku belakang taksi berkecepatan tinggi, menuju bandara untuk menunggu pesawat yang akan menerbangkan kami pulang ke indonesia, kembali ke bandung... kota yang tak pernah punya alasan untuk kami tinggalkan berlama-lama.

hanoi, januari 2012
cheers!  

Friday, February 3

unforgettable dragon pearl

makan malam didalam gua adalah satu hal yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, bahkan dulu ketika masih berstatus siswa pecinta alam. tapi ceritanya kemarin dalam pelayaran sepanjang ha long bay, saya merasakan sensasi makan malam didalam gua. memang gua yang ini tidak angker, tidak terjal dan dramatis seperti yang biasa didokumentasikan wartawan national geographic. gua yang ini memang sudah disiapkan menjadi tempat layak kunjung, dengan tangga-tangga dari batu yang sudah terpahat rapi dilengkapi penerangan yang memadai. untuk bisa sampai ke gua, semua turis dan awak dragon pearl diboyong menyebrang laut menggunakan sekoci. dengan suhu dingin, penerangan seadanya, gerimis dan angin kencang, kami semua lebih mirip peserta fear factor ketimbang wisatawan yang sedang berlibur :p

kami harus menaiki banyak anak tangga untuk bisa sampai ke mulut gua yang kecil, lebar mulut gua kira-kira hanya bisa dilewati 2 orang dewasa asia secara bersama-sama. namun ternyata lambung gua cukup besar untuk menampung 20an orang, didalamnya bahkan sudah disiapkan sebaris meja untuk menyajikan berbagai hidangan makan malam. berbagai menu makanan tersaji lengkap dengan penghias dan filosofinya. seperti udang lemon dengan hiasan dua burung bangau diatasnya, atau cumi bakar dengan elang terbang dari buah nanas sebagai pelangkap, bahkan barbeque dengan miniatur kapal dragon pearl dari labu yang persis sama dengan aslinya. tak hanya itu, awak kapal memperlakukan kami semua dengan sangat istimewa, sampai malu sendiri rasanya. karena jujur ini kali pertama saya dan mas ery berlibur full service layaknya turis kaya eropa. biasanya, kami benar-benar hanya bermodal ransel, peta, nyali dan intuisi.

miniatur dragon pearl dari labu yang persis sama dengan aslinya

satu yang seumur hidup tidak mungkin kami lupakan adalah surprise dari awak kapal seusai makan malam. masih didalam gua, mereka yang tau kami sedang dalam rangkaian tour bulan madu, ternyata sudah menyiapkan surprise kecil. kue tart dengan tulisan happy honeymoon, kalung dari cangkang kerang dan nyanyian vietnam yang kami tak tau apa artinya. anne, erwin, melanie dan semuanya juga jadi ikut bernyanyi lagu ceria dari negara mereka masing-masing. sulit diceritakan betapa bahagia sekaligus malu rasanya kami kala itu. banyak doa yang terucap dari mereka, orang-orang yang kami tidak pernah kenal sebelumnya, membayangkan untuk bertemu-pun kami tidak pernah. bahkan pasangan paruh baya, seorang nenek dengan suami pesulap mendokan agar kami selalu berbahagia seperti mereka, juga agar mas ery jadi seperti suaminya. menjadi pribadi menyenangkan seperti suaminya tentu saya amini, tapi untuk menjadi sama dengan profesinya? NO! saya gak kebayang kalo harus punya suami pesulap. hahahaha..

tuhan selalu adil dengan mengharuskan kami menyudahi segala kesenangan ketika kami semua mulai akrab, mungkin supaya kami meninggalkan kesan baik satu sama lain. pelayaran berakhir disabtu pagi yang dingin dan berkabut. setelah saling bertukar email, kami harus rela meninggalkan ha long bay yang damai dan para awak dragon pearl yang menyenangkan. satu-satunya yang melegakan adalah setidaknya didarat kami tidak harus berputar-putar lagi mencari arah kiblat ketika sholat. karena selama dalam pelayaran dragon pearl, mas ery harus selalu awas dengan kompas untuk mengarah kiblat disebabkan arah kapal yang berubah ubah. well, kalau di twitter banyak orang bilang soal bahagia itu sederhana, sayapun ingin bilang hal yang sama. bahagia itu sederhana ketika kamu tidak mampu banyak berkomunikasi dengan orang asing karena keterbatasan bahasa, kamu tetap punya senyum dan tawa sebagai penyambung cerita. saya yakin meski tidak terucap kata, semua penghuni dragon pearl kemarin merasakan bahagia dalam porsi yang sama.

farewell dragon pearl

*cheers!

Monday, January 30

kampung nelayan ha long

pagi dihari kedua pelayaran, kami menghabiskan banyak sekali waktu untuk makan. karena jujur saja, masakan sang koki kapal yang kami tumpangi semuanya lezat. sekali waktu makan, menu yang dikeluarkan bisa 6-8 dalam kondisi masih hangat mengepul asap menebar wangi khas rempah vietnam. ah juara! sambil menyuap bermacam makanan kami bertukar bicara dengan partner semeja. mereka bercerita tentang belanda, negara asalnya. kami tak mau kalah juga bercerita tentang indonesia, bandung tepatnya. rata-rata orang asing (eropa) yang kami temui akan terkejut ketika mengetahui jatah berlibur kami yang hanya 7 hari. karena kebayakan dari mereka berlibur hingga 4 minggu! ah kami iri, jika tabungan memadai 1 bulan tentunya adalah waktu yang sangat cukup untuk berkeliling asia tenggara.

setelah menjelang siang, kapal menurunkan jangkar tak jauh dari lokasi perkampungan nelayan yang ada di ha long bay. kami diantar mengujungi perkampungan oleh kapal-kapal kecil nelayan lokal. kata mas ery, perkampungan ini mirip dengan perkampungan nelayan yang ada di kalimantan. buat saya yang baru pertama kali melihat langsung perkampungan nelayan, tentulah kunjungan yang ini membuat kepala tak henti terkagum dan bertanya. ada banyak rumah-rumah sederhana yang terapung membentuk gugusan khas perkampungan. berbaris rapi tertambat pada dinding tebing, saling besebrangan seolah punya nama jalan, ada sekolah juga balai desa, tak lupa beberapa pot bunga dan anjing-anjing penjaga menyalak diteras depan rumahnya. hampir tidak ada yang membedakan selain pondasi yang menyusunnya bukan dari batu melainkan dari drum-drum plastik dan balok-balok besar sterofoam. tak ada aliran listrik, tak ada televisi apalagi loper koran yang mau melempar koran ke teras sederhana mereka, tentulah penduduk disini tak tau polemik yang mungkin sedang terjadi di negaranya sendiri. sepertinya damai sekali ya?

rumah perahu, kampung nelayan ha long

oleh nelayan kami diajak berkeliling celah celah bukit yang tidak bisa dilewati oleh kapal sebesar dragon pearl. dua anak nelayan yang ikut mengantar berteriak-teriak memanggil kera yang hidup di hutan sepanjang ha long bay, menurut cerita biasanya kera-kera akan mudah terlihat jika musim panas tiba. memang kala itu suhu terlalu dingin untuk hewan-hewan tak lapar keluar dari rumahnya. selama berkeliling celah-celah kecil ha long bay kami sempat melihat ubur-ubur seukuran wajan besar berenang disekitar perahu kami. anak-anak nelayan berebut ingin mengganggu dengan jaring kecil yang mereka punya, lucu sekali. beberapa kali kami berpapasan dengan nelayan yang sedang mencari ikan, mereka mecoba tersenyum walau terlihat kaku. satu hal yang membuat saya kagum adalah ketika memperhatikan setiap perahu kecil nelayan selalu terdapat jaring kecil yang berisi sampah laut. salah satu potret arif penduduk lokal yang saya kagumi.

setelah berkeliling kami mampir untuk mengunjungi balai desa  di perkampungan nelayan tersebut. kami disambut oleh kepala desa nelayan dengan segelas teh hijau hangat. selanjutnya sang kepala desa berbicara dalam bahasa vietnam, dan diterjemahkan dengan baik oleh tour guide kami. sang kepala desa bercerita tentang kampung yang dipimpinnya, tentang penduduknya, tentang pembibitan ikan sederhana yang mereka punya, juga tentang badai taifun yang sering melanda. ada sekolah kecil disebelah balai desa yang rasa-rasanya tak layak disebut sekolah karena bangunan sederhana itu hanya terdiri dari satu ruang yang disekat jadi dua. hanya ada sekitar 6 murid dan 1 guru, dinding-dindingnya penuh dengan hasil karya mewarnai dengan warna tak menyala, papan tulis kecil, tidak ada ornamen warna warni penghias khas sekolah dasar, apalagi perangkat edukasi yang memadai. sepertinya dibelahan dunia manapun "yang terlupakan" seperti mereka akan selalu ada. 

kami kembali ke kapal untuk menyelesaikan makan siang, suhu yang dingin membuat tubuh seolah cepat sekali bekerja mengosongkan lambung. sampai menjelang sore kami menghabiskan sisa waktu dengan duduk-duduk diatas geladak, mencoba terus bertukar cerita dengan sesama penumpang dari berbagai belahan dunia. ada seorang kakek pelukis (yang ternyata juga pesulap) dengan gaya nyentrik yang berasal dari perancis, sayangnya dia tidak bisa berbahasa inggris, jadi sulit untuk menyapa dan mengajaknya bicara. ada tiga nenek berasal dari australia, satu pasangan paruh baya dari canada dan dua perempuan dari amerika. masing-masing dari mereka punya cerita dan tentunya menularkan semangat meransel sampai terus nanti meski usia sudah tak lagi terbilang muda.

memasuki celah-celah kecil ha long

*cheers!