Thursday, March 15
Saturday, March 3
konsistensi mimpi
Posted by ajeng sekar at 10:06:00 PM 1 comments
Labels: self titled
Friday, March 2
celoteh sepatu
rumus nyaman versi saya itu : jeans, kaos berlapis kemeja flanel, tas punggung dan all stars. tapi, tentu saja tak bisa setiap saat mengenakan rumusan diatas. makanya tetep harus ada kata sopan, sopan dalam menyesuaikan suasana juga tempat yang tepat. kalau sedang menghadiri sebuah resepsi ya saya menyesuaikan diri, kalau kerja ya tetap seperti bergaya seperti karyawan pada umumnya. walaupun sesekali jika ke kantor dengan bersepeda, maka sehari itu saya mengenakan sneakers, tak lain karena daypack saya tak cukup jika harus membawa pakaian ganti dan satu sepatu kerja. lagi pula bersneakers itu tak melulu berkesan tak resmi, lihat saja seorang Dahlan Iskan yang mengenakan sepatu kets saat pelantikan jabatan mentri tempo hari.
bicara soal sepatu, berapa banyak sepatu yang kamu punya? kalau perempuan, pastilah tak cuma satu dua.. saya juga, punya sampai beberapa. saya pecinta sepatu meski tidak semua jenis sepatu.. saya maniac flat shoes dan addicted sama converse all star. merek dan model sepatu yang satu ini mampu membuat saya tak berpaling selama hampir sebelas tahun lamanya, dari hari pertama berseragam putih abu sampai detik ini. apalagi saya termasuk yang percaya bahwa semakin pudar warna sepatu all star yang kamu punya, maka semakin keren dia. hahaha.. kalau flatshoes memang harus, sejak awal bekerja dipabrik saya punya mobilitas yang tinggi, dari satu gedung kegedung lain. waktu itu hanya sehari saya bertahan mengenakan heels. hari-hari berikutnya flatshoes jadi yang paling juara. meskipun katanya heels bisa membuat seorang perempuan jadi lebih anggun dan seksi. ah tapi menurut saya perempuan anggun itu karena santun, perempuan seksi itu karena intelegensi dan percaya diri.
Posted by ajeng sekar at 2:43:00 PM 2 comments
Labels: funny. crazy. happy. clumsy., self titled
Monday, February 27
membagi kita dan apa saja
tepat dihari H, kami semua berangkat pagi sekali. karena lokasi yang kita tuju cukup jauh dari bandung. lagipula kami butuh waktu untuk menyiapkan dan instalasi macem-macem keperluan story telling. kami surprise karena jumlah anak-anak yang dikumpulkan oleh kakak pembina desa ternyata banyaaaak sekali. keceriaan semakin menjadi, tawa anak-anak juga makin mengudara apalagi trio kiki, ibel, naluri mengkonsep banyak permainan kreatif untuk dimainkan bersama. yang jelas suasana balai desa pagi itu hangat dan menyenangkan sekali. selesai main, saatnya kita story telling, tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, tentang bahaya sampah plastik dan tentang serunya tanam menanam yang dipraktekkan langsung dihalaman balai desa. setelah selesai semua rangkaian acara, baru deh kita cemil cemil ganjel perut sebelum makan siang. alhamdullah acara dengan persiapan yang tergolong mendadak ini berjalan lancar dan menyenangkan.
Posted by ajeng sekar at 12:18:00 PM 3 comments
Labels: a journey, i care i pray i share, self titled
Tuesday, February 14
life after marriage
semenjak memutuskan untuk menikah, salah satu cita-cita saya adalah jadi seorang ibu pekerja sekaligus juru masak juara untuk keluarga. kebetulan mas ery adalah juri masak terbaik. dia tidak fair, tapi justru itu yang saya suka. mas ery tidak pernah bilang tidak enak untuk apa yang saya masak. semua selalu lahap dikunyahnya, selalu habis bersih tak bersisa. mas ery pandai membesarkan hati. saya memang belum jago memasak, karena ketika masih sendiri dulu, saya tidak pernah melakukannya. saya tidak malu mengakui. kita semua lahir dengan kelebihan dan kekurangan. seorang perempuan yang tidak bisa memasak bukan akhir dari segalanya. tapi, bukan berarti akan berakhir dengan tidak bisa memasak selamanya.
oiyah, saya juga tetap berstatus pegawai dikantor rektorat ITB, tetap seven to five setiap weekdays, tetap sesekali overtime, tetap dibuat pusing dengan banyak hal khas pekerja kantoran. serunya semenjak menikah saya dituntut untuk lebih bisa manajemen waktu, anggap saja bagian dari resiko. kalau dulu saya mengurus diri sendiri, sekarang saya punya mas ery yang menemani. biasanya setiap pagi saya tak peduli perut mau atau tidak diisi, sekarang tak bisa lagi. bukan soal kewajiban menyiapkan sarapan, tapi soal kebutuhan. duduk bersama disatu meja setiap pagi itu priceless moment dan semenjak menikah, saya selalu butuh moment itu untuk “bahan bakar” satu hari.
menyesuaikan satu ritme baru memang bukan hal mudah. tapi Alhamdulillah sejauh ini kami sama-sama belajar banyak hal, mas ery sangat penuh toleransi dan setiap hari saya terus menyesuaikan diri. karena memang saya lahir, tumbuh dan dibesarkan oleh orangtua yang keduanya berstatus pegawai, dari dulu tidak pernah terlintas dipikiran saya untuk resign dan menjadi full time wife. menurut saya tidak ada yang salah dengan perempuan pekerja. seorang ibu rumah tangga yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk keluarga memang luar biasa, tapi seorang ibu pekerja juga tak kalah istimewa. tetap bekerja, tetap bisa membagi waktunya. intinya selama pasangan kita bisa mendukung dan memaklumi, jalani dan syukuri, itu saja.
Posted by ajeng sekar at 8:21:00 PM 7 comments
Tuesday, February 7
last rainy day
masih beberapa jam menjelang tengah hari ketika kami duduk dibangku belakang taksi berkecepatan tinggi, menuju bandara untuk menunggu pesawat yang akan menerbangkan kami pulang ke indonesia, kembali ke bandung... kota yang tak pernah punya alasan untuk kami tinggalkan berlama-lama.
hanoi, januari 2012
cheers!
Posted by ajeng sekar at 5:32:00 PM 2 comments
Labels: a journey, going abroad, pelangi dan tuan pagi
Friday, February 3
unforgettable dragon pearl
kami harus menaiki banyak anak tangga untuk bisa sampai ke mulut gua yang kecil, lebar mulut gua kira-kira hanya bisa dilewati 2 orang dewasa asia secara bersama-sama. namun ternyata lambung gua cukup besar untuk menampung 20an orang, didalamnya bahkan sudah disiapkan sebaris meja untuk menyajikan berbagai hidangan makan malam. berbagai menu makanan tersaji lengkap dengan penghias dan filosofinya. seperti udang lemon dengan hiasan dua burung bangau diatasnya, atau cumi bakar dengan elang terbang dari buah nanas sebagai pelangkap, bahkan barbeque dengan miniatur kapal dragon pearl dari labu yang persis sama dengan aslinya. tak hanya itu, awak kapal memperlakukan kami semua dengan sangat istimewa, sampai malu sendiri rasanya. karena jujur ini kali pertama saya dan mas ery berlibur full service layaknya turis kaya eropa. biasanya, kami benar-benar hanya bermodal ransel, peta, nyali dan intuisi.
tuhan selalu adil dengan mengharuskan kami menyudahi segala kesenangan ketika kami semua mulai akrab, mungkin supaya kami meninggalkan kesan baik satu sama lain. pelayaran berakhir disabtu pagi yang dingin dan berkabut. setelah saling bertukar email, kami harus rela meninggalkan ha long bay yang damai dan para awak dragon pearl yang menyenangkan. satu-satunya yang melegakan adalah setidaknya didarat kami tidak harus berputar-putar lagi mencari arah kiblat ketika sholat. karena selama dalam pelayaran dragon pearl, mas ery harus selalu awas dengan kompas untuk mengarah kiblat disebabkan arah kapal yang berubah ubah. well, kalau di twitter banyak orang bilang soal bahagia itu sederhana, sayapun ingin bilang hal yang sama. bahagia itu sederhana ketika kamu tidak mampu banyak berkomunikasi dengan orang asing karena keterbatasan bahasa, kamu tetap punya senyum dan tawa sebagai penyambung cerita. saya yakin meski tidak terucap kata, semua penghuni dragon pearl kemarin merasakan bahagia dalam porsi yang sama.
*cheers!
Posted by ajeng sekar at 8:00:00 AM 0 comments
Labels: a journey, going abroad, pelangi dan tuan pagi
Monday, January 30
kampung nelayan ha long
setelah menjelang siang, kapal menurunkan jangkar tak jauh dari lokasi perkampungan nelayan yang ada di ha long bay. kami diantar mengujungi perkampungan oleh kapal-kapal kecil nelayan lokal. kata mas ery, perkampungan ini mirip dengan perkampungan nelayan yang ada di kalimantan. buat saya yang baru pertama kali melihat langsung perkampungan nelayan, tentulah kunjungan yang ini membuat kepala tak henti terkagum dan bertanya. ada banyak rumah-rumah sederhana yang terapung membentuk gugusan khas perkampungan. berbaris rapi tertambat pada dinding tebing, saling besebrangan seolah punya nama jalan, ada sekolah juga balai desa, tak lupa beberapa pot bunga dan anjing-anjing penjaga menyalak diteras depan rumahnya. hampir tidak ada yang membedakan selain pondasi yang menyusunnya bukan dari batu melainkan dari drum-drum plastik dan balok-balok besar sterofoam. tak ada aliran listrik, tak ada televisi apalagi loper koran yang mau melempar koran ke teras sederhana mereka, tentulah penduduk disini tak tau polemik yang mungkin sedang terjadi di negaranya sendiri. sepertinya damai sekali ya?
Posted by ajeng sekar at 11:24:00 AM 0 comments
Labels: a journey, going abroad, pelangi dan tuan pagi



























