Monday, September 1

cerita pagi, ransel kecil dan totebag mini

sejak pagi lahir, kami tidak pernah punya diaper bag. kami lebih memilih ransel kecil untuk mengemas semua perlengkapan pagi jika bepergian. kebetulan saat usia pagi masih hitungan minggu, kami mengunjungi salah satu toko outdoor di bandung, dan langsung jatuh cinta pada deuter waldfuch berwarna biru. singkat cerita, akhirnya ransel kecil inilah yang setia menemani kemanapun pagi (dan ibuk bapaknya) pergi. ransel kecil ini sebenarnya lebih dari cukup karena saya memang tidak pernah membawa banyak baju cadangan untuk pagi saat bepergian, sekedar dua atasan-bawahan untuk kejadian tak terduga dan satu stel baju untuk perjalanan pulang kalau berencana pergi seharian. meskipun berukuran kecil, ransel ini tetap masih terlalu besar untuk pagi bisa menggendongnya sendiri, mungkin nanti dua tiga tahun lagi. sementara sekarang kami cukup bahagia dengan membiarkan pagi dan ransel kecilnya merangkai cerita.

bicara soal tumbuh kembang pagi, saat ini pertumbuhan-perkembangan dan keingintauan pagi seolah tumbuh bersama. semakin dia tumbuh besar, semakin besar juga rasa ingin taunya. setiap main di taman atau hutan kota, pagi selalu gembira karena banyak menemukan benda (yang menurutnya) baru seperti buah ceremai, pinus, daun sukun kering, biji pohon mahoni atau bahkan batu-batuan. eh, pagi memang punya ketertarikan berlebih terhadap segala jenis bebatuan. mungkin karena bentuknya tidak pernah sama, jadi pagi selalu menganggap setiap batu itu unik. sayangnya setiap kali bermain ke taman itu pula saya selalu lupa membawa tempat untuk menyimpan hasil penemuannya. jadi setelah ditemukan, ya ditinggal begitu saja. makanya sudah lama saya ingin punya ember kecil, supaya pagi bisa membawa pulang hasil penemuannya. tapi ternyata mencari ember kecil yang sesuai bayangan saya, susah sekali.

sepulang dari tangerang sabtu malam kemarin, kami berencana mengajak pagi bermain sambil mencari tupai dikampus itb esok harinya. masalahnya saya belum juga menemukan wujud ember idaman, sebenarnya bukan jadi masalah besar ya, tapi suka ikut sedih kalau melihat pagi yang setiap selesai bermain pagi seolah meratap tidak rela, karena hasil-hasil temuan tidak bisa ikut pulang bersamanya. jadi saya sudah pasrah mau berbekal kantong plastik kecil saja untuk pagi. supaya dia bisa menyimpan dan membawa pulang hasil penemuannya. sampai tiba-tiba masery bilang "bikinin totebag aja.." NAH! yang tadinya sudah super lunglai karena menempuh perjalanan bandung-tangerang-bandung selama total empat belas jam langsung seger lagi dikasih ide begitu. membayangkan pagi akan punya satu totebag mini yang akan dibawa sendiri dan menjadi tanggung jawabnya sendiri, pasti lucu sekali.

berbekal sisa-sisa tenaga yang berkolaborasi dengan stok kain seadanya. tepat jam sebelas malam kemarin si ransel kecil resmi punya teman, totebag mini berhias kamera. niat awalnya si kamera mau dijahit manual pakai tangan biar lebih rapi dan match sama jenis bahannya. tapi mungkin karena saya sudah keburu capek, akhirnya malah gak bisa fokus, nyari jarum sulam ditempat biasa nyimpen gak ketemu, yasudahlah jahit mesin aja. dan namapun ibuk super drama, hiasan kamera diatas totebag mini ini tentu bukan tanpa filosofi. supaya pagi bisa merekam apapun hal baru yang dia temui. karena sekarang masih kecil, jadi gambarnya dulu ya nak. kalau sudah saatnya nanti, mudah-mudahan ibuk bisa belikan kamera sungguhan, biar bisa jadi teman perjalananmu kesana kemari :) 



Monday, August 25

soal mimpi dan #halopagi



ceritanya mau sombong karena sekarang sudah mulai terbiasa dengan jam tidur yang maksimal hanya enam jam, walaupun pernah juga kecolongan tidur dari habis isya sampai subuh. ya anggep aja rapel kak, tunjangan kinerja aja boleh dirapel kan, masa tidur gak boleh hahahahaha. soal manajemen waktu memang sudah tidak se-ekstrim awal-awal kemarin walaupun rangkaian adaptasi masih terus berlangsung. beberapa kali masih kesiangan dua tiga menit pas absen kantor, tapi kaitannya sama hal teknis macam ngantri kamar mandi atau pagi yang nempel kelamaan. emm, paling sama satu lagi, belum dapet clue untuk urusan masak. pengennya sih semua dikerjain sendiri, tapi belum nemu selahnya. mesti rajin cari resep masakan yang bergizi, sudah pasti enak dan bisa selesai kurang dari setengah jam. emang ada ya? :p

kalau sabtu-minggu dari bangun tidur sampai sore, insyaallah masih mengutamakan keluarga. masih sering pergi kemana-mana sepaket lengkap bertiga. kalau pas sedang dirumah kadang disambi motong bahan, keluar rumah sebentar untuk ngobras tepi kain, atau nyiapin renda, benang dan kain untuk dijahit malam harinya. saya sebisa mungkin melibatkan pagi dalam semua kegiatan yang berkaitan dengan halopagi, supaya dia tau apa saja yang dikerjakan ibuknya. kalau saya menjahit, sesekali pagi saya pangku. kalau mulai cranky, biasanya saya mengalah, berhenti menjahit dan menemani dia bermain benang, menghitung kancing dalam botol atau bermain lipat kain. kebayang gak sih, kumpulan benang dan kancing, tumpukan kain yang tadinya sudah tersusun rapi, "dirapikan" lagi oleh si tangan mungil. capeknya double, tapi bahagianya juga kok.

walaupun pada praktiknya usaha menciptakan harmoni seperti apa yang saya sebutkan tadi sering tidak berjalan mulus, hehehe. tapi setidaknya saya berusaha agar pagi tidak terlalu sering kehilangan saya. setelah sudah tentu kehilangan saat saya bekerja, masa sih harus merasakan kehilangan untuk kedua kalinya saat saya menjahit. kalau masery? sejauh ini alhamdulillah belum terlihat keberatan dengan tambahan aktivitas baru saya. padahal sering banget saya cuekin kalau lagi asik menjahit. masery malah mendukung dengan membuatkan logo halopagi yang super keceh dan sesekali ngasih ide supaya halopagi cepat tumbuh besar dan "sehat". mungkin hal itu masuk kedalam kategori sikap romantis versinya sendiri. ihik, terimakasih ya pak suami.

soal mimpi, inginnya suatu hari nanti halopagi bisa jadi tempat saya menuang karya, bisa punya ciri khasnya sendiri seperti teh tarlen (vitarlenology) dan mbak dita (cemprut) oh i so adore you both!! memang sebenarnya masih terlalu dini kalau ingin bercerita banyak soal apa dan bagaimana nanti halopagi. ibarat anak, halopagi yang sekarang ini masih bayi. masih ingin mencoba banyak hal sebelum akhirnya nanti mantap memilih warnanya sendiri. tapi yang jelas sama sekali bukan persoalan berapa banyak pundi yang bisa saya hasilkan dari a-happy-side-job ini, tapi soal seberapa saya harus "keras kepala" untuk mewujudkan apa yang sudah menjadi mimpi saya selama bertahun-tahun. dan dari semua proses yang baru berjalan ini ada kalimat yang akan selalu saya ingat; live your dream and share your passion.


Thursday, August 21

ayo mulai (!)

diantara semua dakwah yang sering disampaikan sama beberapa ulama, yang saat ini paling sering menohok saya adalah soal hijab syar'i. gimana enggak saya sudah memakai kerudung sejak duduk di sekolah menengah pertama, artinya sudah 16 tahun lebih saya berproses. lama banget kan? selama (banget) itu juga saya bertransformasi mulai dari cuma pakai kerudung kalau di sekolah saja, lalu pakai kerudung dengan kombinasi kaos dan jeans ngepas, lalu kaos dan celana khakis, lalu pelan-pelan menurunkan panjang baju sampai sebatas lutut seperti yang sekarang saya pakai sehari-hari.

soal pemakaian kerudung alhamdulillah dari dulu sih gak pernah kepengen yang aneh-aneh. malah salut sama orang-orang yang mahir memodifikasi kerudung setiap hari, rasanya pengen tanya "kok sempet sih mbak?" hahahahahaha. karena ngebayangin persiapannya aja kok udah males duluan. eh, dulu sekali saya sempat sering pakai rok kemana-mana, bahkan walaupun ke kantor dengan menggunakan sepeda, saya membawa baju ganti berupa rok dan atasan yang cukup girly. tapi dalam seminggu jelas bisa dihitung berapa kali saya "berkostum" seperti itu, sisanya hari lainnya ya tetap mengenakan celana panjang.

kalau harus berubah drastis gitu memang agak susah sih ya, karena tentu berhubungan dengan biaya pengadaan juga. tapi dari sekarang sih udah mulai menahan diri untuk tidak membeli berbagai jenis celana walaupun masih sering khilaf mampir ke outlet giordano buat sekedar "nengokin" koleksi celana khakisnya sambil pelan-pelan mensugesti diri, daripada beli celana mending beli rok aja deh. atau kalaupun masih pakai celana pengennya sih jangan sampai terlalu jauh dari kata syar'i. malu banget deh sama yang berhijab belakangan tapi syar'i duluan.

yuk ah, mari diniati dan dimulai pelan-pelan.

Wednesday, August 13

(tidak) fokus pada banyak hal

benar kata banyak orang, yang namanya fokus, ya cuma satu. tidak ada fokus ke dua hal apalagi lebih. nah, semenjak nekat membangun mimpi berwujud "halo pagi!" mau tidak mau fokus saya terpecah. terlebih karena saya belum bisa menerapkan manajemen waktu dengan baik. bangun sesubuh mungkin untuk menyiapkan keperluan pagi, lalu keperluan saya sendiri, lalu pergi bekerja, pulang kerumah mengisi ulang energi dengan bermain bersama pagi, lalu menina-bobokan, setelah aman, saya menyiapkan makan malam, makan kemudian memanfaatkan sisa waktu sebelum tidur dengan menjahit. capek tapi seru tapi capek.

saya sadar saya punya banyak sekali keterbatasan waktu, maka saya tidak mau terlalu ngoyo. yang penting buat saya sekarang adalah mempertahankan konsistensi berkarya. saya menjahit ya karena saya suka. toh, dari awal tujuan saya membangun "halo pagi!" bukan sebagai ladang materi. saya hanya mencegah supaya tidak terperangkap dalam zona nyaman pegawai negeri yang akhirnya bisa bikin kreatifitas mati. ah, pokoknya apapun yang sedang saya usahakan untuk tekuni saat ini saya berusaha untuk tidak mengorbankan waktu bersama pagi kecil. jadi memangkas jam tidur dan sesekali mengabaikan alarm lelah tubuh adalah pilihan mutlak yang harus saya ambil. mudah-mudahan Allah selalu paring sehat. amiiin :)
 


  
 

Monday, August 4

foto lebaran

sebagai keluarga muda masa kini, rasanya kurang afdol  kalau lebaran gak pake acara foto keluarga. jadi taqoballahu minna wa minkum ya semuanya. semoga kita masih diberi kesempatan untuk bertemu ramadhan dan hari raya idul fitri tahun depan, tahun depannya lagi, lagi, lagi ... 


oh iya sama seperti tahun kemarin, lebaran kali inipun saya di bandung saja. bedanya tahun kemarin memang "jatah" saya bersama keluarga masery, kalau tahun ini "jatah" saya jadi tuan rumah buat keluarga sendiri yang niatnya memang berlibur ke kota ini. seru? banget. capek apalagi hahahaha. tunggu cerita selengkapnya yaa :D

Sunday, July 20

mainan sederhana

tempo hari sepulang dari kantor, saya melihat seorang bapak tua tanpa alas kaki mendorong gerobak lusuh. saya yang kala itu mengendarai motor sempat tidak percaya pada penglihatan sendiri, sehingga harus memastikan kembali dengan melihat melalui spion. pasalnya saat itu saya ada di pusat kota bandung, biasanya sekalipun tunawisma, masih ada sepasang sandal yang digunakan untuk mengalasi kaki, tapi kali ini kedua kakinya benar tidak beralas sama sekali. setelah yakin dengan apa yang saya lihat, saya memutuskan untuk memutar kembali. kali ini untuk memastikan apa isi gerobak yang didorong oleh si bapak tua. kalau memang ada yang bisa saya tukar dengan beberapa lembar uang, saya akan menukarnya.

ternyata bapak yang saya tebak usianya sudah lebih dari penjumlahan emas dan perak itu menjual mainan anak. memang ada tiga balon gas yang terikat pada gerobak tuanya.. lalu ada beberapa topeng superhero dan tak lebih dari sepuluh jenis mainan produksi negara china lainnya yang sudah kusam tertutup debu. singkat cerita, saya membeli satu set mainan pancing ikan, dengan tali pancing yang sudah kusut. tak apalah pikir saya, toh masih bisa saya perbaiki sendiri dirumah. yang penting si bapak tua bahagia karena setidaknya debu pada gerobaknya berkurang sedikit. saya beri pak tua satu lembar uang pecahan besar, kelebihan kembaliannya saya sarankan untuk beliau membeli sendal saja.

lalu seperti biasa, setelah itu sepanjang jalan pulang saya terbawa suasana.. mata mulai panas, berkaca-kaca. hati ini juga tak mau kalah ikut-ikut merasa ngilu, meskipun keseharian penampilan jauh dari kategori feminim sesungguhnya saya terlahir dengan pembawaan sifat super melankolis. sampai akhirnya saya memutuskan akan lebih sering pulang melalui rute itu, berharap bisa melihat pak tua dan gerobaknya lagi. sekedar memastikan bahwa beliau dalam keadaan baik, dan jika balon gas yang dijualnya sudah bukan spongebob, hellokitty dan dora, saya berjanji akan membelinya untuk pagi.

beberapa hari berlalu saat malam ini sepulang dari rumah apa dan mamah, saya berniat membeli teman nasi untuk sahur. sambil mengendarai motor disekitar jalan cikutra-pahlawan saya melihat penjual mainan tradisional yang sudah lama saya cari. entah apa namanya, yang jelas mainan ini dibuat dari batang bambu, plastik dan busa warna warni yang dimainkan dengan cara didorong-dorong, lalu akan menghasilkan bunyi berisik "klak klak klak klak". saya langsung membayangkan pagi akan dengan gembira mendorong mainan ini kesana kemari berkeliling rumah.

oh, sekedar informasi harga mainan ini hanya lima ribu rupiah, bahkan jika tanpa variasi helikopter, bisa ditukar dengan selembar uang dua ribu rupiah saja. saya sampai harus mengulang pertanyaan "berapa?" berharap mendapatkan jawaban yang lebih masuk akal, setidaknya menurut saya. tapi ternyata si harga tidak berubah, tetap dua ribu rupiah. maka saya menukar si mainan bambu dengan selembar uang yang biasanya saya gunakan untuk membayar satu paket makan siang di foodcourt langganan. kemudian si bapak mengucap terimakasih dan saya menyimpan perasaan lega. sejujurnya saya tidak sanggup membayangkan berapa keuntungan yang diperoleh bapak penjual mainan ini. belum lagi lelah yang dihasilkan dari memikul puluhan mainan berkeliling kota sambil berjalan kaki, dibantu tongkat.

lalu saya teringat salah satu keinginan saya membelikan mainan yang seolah wajib dimiliki oleh keluarga muda modern dengan harga yang sama sekali tidak murah, lego. entah apa alasan saya kemarin sangat ingin membeli satu boks lego untuk pagi, mungkin gengsi, mungkin memang benar edukasi, yang jelas sekarang keinginan itu sudah tidak menggebu-gebu lagi. karena dari dua bapak tua saya belajar tentang esensi bermain yang sebenar-benarnya yaitu menciptakan bahagia, dan hal itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan nominal harga. ahh, semoga suatu hari nanti pagi tau alasan saya membelikan mainan seperti yang sekarang dia punya. alasan sederhana; untuk berbagi bahagia.


 

Template by BloggerCandy.com