Saturday, March 21

belajar dari jatuh dan terluka

bisa dibilang saya bukan tipe ibu dengan perlindungan menyeluruh terhadap anak. saya ibu yang cenderung penuh risiko dalam artian begini, ketika pagi bisa berjalan.. saya lebih banyak membiarkan dia berjalan sendiri, tujuannya sederhana, supaya dia bisa lebih banyak bereksplorasi. meskipun dengan begitu saya tau peluangnya untuk terjatuh akan jadi semakin tinggi, dan terbukti memang begitu. tak jarang jatuhnya sampai menghasilkan lebam biru atau luka gores yang lumayan, tapi saya percaya dengan terjatuh pagi belajar. belajar bahwa dia tidak boleh berlari dijalan menurun, belajar untuk tidak terburu-buru ketika berjalan diatas tanah yang malamnya terguyur hujan.

begitu pula saat kami memutuskan untuk mengadopsi kana, si kucing berwarna abu. kalau soal kebersihan memang tak bisa kompromi, tapi kami ingin mengajarkan pagi tentang hubungan antara hewan dan manusia lewat kisah yang nyata. maka kami selalu bilang bahwa kana akan baik, jika pagi tidak mengganggunya. dan sebaliknya, dia akan mencakar jika pagi terlalu gemas menarik ekornya. langsung berhasil? tentu saja tidak, beberapa kali kami menemukan gores panjang di tangan dan kaki pagi. tapi pagi hampir tidak pernah menangis soal luka ini, mungkin dia mengerti bahwa sebenarnya kana hanya ingin mengajak bermain. meski pada akhirnya kami juga menghukum kana dengan mengurungnya didapur belakang :D

lain kisah lain cerita, kalau yang ini hampir setiap hari, pagi melihat aktivitas dapur ketika saya menyiapkan sarapan. dia melihat bagaimana saya mengupas bawang dengan menggunakan pisau, bagaimana saya memotong tempe menjadi iris-irisan kecil, pun menyaksikan saya mengulek ragam bumbu jadi satu didalam coet batu. itu baru pagi hari, malamnya, dia juga hampir selalu menemani saya menjahit, sehingga tau betul bagaimana caranya menggunakan gunting untuk memotong. dan tidak ada yang bisa membantah bahwa anak kecil adalah mesin scanner kualitas super. mereka memindai apapun kebiasaan orang dewasa yang terjadi dalam keseharian, lalu mencoba meniru dengan sangat yakin sekaligus keras kepala.

maka mau tidak mau, sejak umurnya belum genap dua tahun, saya mengijinkan pagi menggunakan gunting juga pisau sungguhan dengan syarat; dalam pengawasan. saya yakin ada banyak ibu yang histeris ketika melihat anak-anak kecilnya memegang benda tajam seperti gunting dan pisau, nah entah kenapa saya tidak. saya percaya bahwa memberi mereka kepercayaan jauh lebih baik ketimbang membatasi mereka dalam banyak hal. saya juga punya keyakinan bahwa anak-anak kecil adalah mahluk lucu sekaligus pintar meski mereka belum paham betul apa dan bagaimana cara berhati-hati.

malam ini pagi kembali belajar, dia terluka saat menggunakan gunting untuk memotong kertas bekas. ini adalah luka dengan darah mengalir pertamanya. saya sempat kaget, sepersekian detik. sampai saya menyadari bahwa pagi tidak mengangis histeris. kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah "ibuk.. sakit.." disusul dengan air mata yang mengalir perlahan tanpa suara. naluri keibuan saya mengatakan bahwa saya harus berbuat seolah semua akan baik-baik saja, meski didetik-detik pertama kali saya gelisah dengan mengintip darah yang mengalir dari tangan kecilnya.

ini adalah pelajaran kesekian pagi tentang terluka, bohong kalau saya tidak ngilu melihat tangan kecilnya disinggahi plester. tapi saya percaya pagi akan belajar banyak dari apa yang terjadi malam ini, lagi-lagi soal hati-hati, kali ini ditambah soal teliti. kalau ditanya apa besok saya tetap mengijinkannya menggunakan gunting? saya akan dengan mantap menjawab "iya.." dan jika malam ini ada perasaan yang membuat haru adalah bukan karena melihat tangannya terluka melainkan karena menyadari bahwa ternyata saya juga sedang dalam proses belajar, belajar untuk berjiwa besar dan menerima kenyataan bahwa semakin hari pagi semakin besar dan pintar :)


Thursday, March 19

diet swalayan

sudah sejak akhir tahun kemarin, saya dan masery memutuskan untuk berdiet swalayan. ide ini muncul dengan tidak disengaja saat kami berbicara tentang cost pengeluaran bulanan terbesar keluarga yang menurut kami disebabkan oleh kunjungan ke swalayan. memang sih, kebutuhan bulanan rumah tangga tetap tidak bisa dihindari. tapi setidaknya dengan diet swalayan saya tidak punya alasan untuk memasukkan banyak item tak terduga kedalam keranjang belanja dengan dalih lapar mata ketika berkeliling swalayan.

jadi kami kembali pada cara lama, membuat list kebutuhan setiap bulan dan mampir ke toko grosir jika memang ada kesempatan. hasilnya? tentu saja masih berantakan hahahahahahaha. seperti minggu lalu, saya kehabisan margarin selama berhari-hari dan baru saja kemarin saya lupa membeli garam dapur yang menyebabkan masery harus berkunjung ke warung terdekat disubuh buta. sedikit kecau karena memang sebelumnya kami terbiasa membeli apa saja dalam satu tempat, sekarang tidak lagi. tapi ada kalanya menunda membeli sesuatu yang dibutuhkan itu lebih baik ketimbang harus membeli sesuatu hanya karena merasa butuh saja, iya kan?

seorang teman bertanya soal selisih harga yang harus kami bayar jika berbelanja di toko grosir, pasti ada sih. tapi sejauh ini menurut saya tidak signifikan, berkisar 500 sampai (paling mahal) 1500 rupiah untuk satu item keperluan rumah tangga yang saya butuhkan. jika saya membeli 20 item dikali dengan selisih harga termahal artinya saya harus membayar 30000 lebih mahal. bandingkan jika saya berbelanja di swalayan, saya akan menghabiskan lebih dari 50000 rupiah untuk memenuhi hasrat lapar mata seorang ibu rumah tangga.

diet swayalan ini juga berlaku untuk kebutuhan sayur mayur. saya ingat ketiga pagi memulai mpasinya dulu, saya mengunjungi swalayan setidaknya tiga kali dalam seminggu untuk membeli bahan masakan (yang terlihat) segar, termasuk sayur mayur. kalau dulu alasan saya; hanya supermarket yang buka sampai malam, swalayan/supermarket bisa "menunggu" sampai saya selesai bekerja. waktu itu sama sekali tidak terpikir untuk bangun lebih pagi, mengunjungi mang mamat si tukang sayur yang menggelar dagangannya di lapangan basket komplek perumahan. kalau sekarang sih beda, saya sudah setia sama gerobak mang mamat, mulai ayam kampung sampai ubi cilembu siap makan semua ada, juwara!

eh saya bukan (atau belum) anti swayalan loh ya, apalagi untuk beberapa bahan makanan seperti sosis, nugget atau butter dengan merk tertentu, agak sulit ditemukan dipasar tradisional. jadi sesekali saya masih mampir swalayan untuk memburu minyak goreng diskon membeli yang benar-benar tidak bisa dicari ditoko grosir. dan menurut saya sejauh ini keputusan kami berdiet swalayan menantang sekaligus menyenangkan, meski karena belanja yang "dicicil" itu beberapa kali saya lupa membawa kantong belanja sendiri, nanti kalau masa adaptasinya sudah selesai, gak bakal lupa lagi kok *salim sama aktifis lingkungan seindonesia*

Wednesday, March 18

belum ikhlas jadi mantan

maret bisa dibilang bulan sibuk yang tak terduga, sampai saya terpaksa harus merelakan berminggu-minggu tanpa menulis. jangankan merangkai kata menjadi cerita, mengetik dua tiga kalimat saja, saya enggan. energi seolah terkuras habis sepanjang delapan jam dikantor, begitu sampai dirumah, sisa-sisa tenaga saya habiskan untuk menemani pagi bermain, lalu mengantarnya tidur dan tentu saja segera setelah itu saya ikut menyusul. saya meliburkan sesi menjahit dengan penuh kepasrahan, meninggalkan tumpukan kain dan antrian pesanan. tak jarang ritual makan malam juga ikut terlewat begitu saja. iya, lalu saya mengucapkan selamat datang di dunia pekerja kantoran.. dunia yang entah kenapa bisa saya cintai.

awal maret kemarin adalah mula cerita. setelah diijinkan libur berdinas menginap selama dua tahun penuh oleh pak bos baik hati, tanggal 6 maret lalu batas cuti dinas saya berakhir.. sesuai kesepakatan, saya harus berangkat, menginap, tiga hari dua malam. rasanya tidak pantas menolak.. sudah diijinkan bebas tugas menginap selama dua tahun saja bersyukur sekali, masih tega untuk minta lebih? coba.. kantor mana yang bosnya bisa sebaik bos saya? rela menggantikan bawahannya berdinas kemana-mana selama dua tahun, demi memenuhi permohonan saya untuk bisa menyusui selama dua tahun penuh. tapi, memenuhi surat perintah tugas itu juga berarti drama buat saya. pagi belum disapih, dan saya memang belum ingin menyapih. itu masalah utamanya.

seminggu sebelum berangkat, saya mencoba menyapih dadakan. salah, iya saya mengakui itu. menyapih tiba-tiba tanpa mau memberikan obat merah, atau plester atau mengoleskan bratawali. keras kepala, yes i am. entah kenapa saya sangat menghindari menyapih dengan cara-cara seperti itu.. menurut saya, akan jauh lebih bijak (dan tentu saja lebih sulit) berterus terang pada anak mengenai alasan kenapa dia harus berhenti menyusu, ketimbang harus membohonginya dengan cara halus. dan untuk hal ini, masery sependapat. maka yang terjadi selanjutnya adalah drama sepanjang malam hahahahahahahhaha..

singkat cerita, kami sudah melewati masa begadang karena harus menunggu pagi mengantuk. saya sudah berkali-kali berurai air mata karena tidak tega melihat pagi kehilangan sesuatu yang biasanya membuat dia nyaman. jam tidur pagi berkurang drastis, yang biasanya jam 7 malam sudah tidur, kali ini jam 10 malam masih gelisah. belum lagi kalau malam harus terbangun karena ritual minum susu yang tidak terpenuhi. pagi akan menangis, disusul kemudian oleh saya. duh, rasanya saat itu ingin segera melompati waktu. meskipun saya tau, mengkhayal tentang mesin percepat waktu yang mustahil itu malah akan membuat saya lebih terbebani.

sampai akhirnya hari H tiba. saya berkali-kali mengucap terimakasih pada masery yang bersedia menjaga pagi selama saya berdinas. saya pergi dengan berbekal satu hal sakti yang bernama sugesti. katanya, suasana hati anak sama dengan suasana hati ibunya. jadi saya berusaha ikhlas sambil terus mensugesti diri bahwa pagi akan baik-baik saja. benar saja, malam pertama berjalan mulus.. pagi lancar tertidur tanpa menangis mencari ibu. begitupun malam kedua yang akhirnya berlalu begitu saja. saya tidak menyangka, ternyata pagi jauh lebih pintar dan lebih pengertian dari yang saya duga. alhamdulillah. sepulang dari berdinas, saya kembali pada peran lama. banyak yang menyayangkan, termasuk ibu saya sendiri. tapi untuk yang satu ini, saya memang belum rela, saya belum ikhlas berganti status dari ibu menyusui menjadi mantan ibu menyusui :)


Friday, February 27

mudah (tapi sulit)

tau gak apa yang sebenarnya mudah tapi sulit? membiasakan bergaya hidup ramah lingkungan. saya yakin sekarang ini sudah banyak orang yang sadar bahwa menjaga lingkungan itu sangat baik. tapi tentu bukan berarti cukup dibayar lunas dengan hanya tidak membuang sampah sembarangan. dalam lingkaran besarnya, ramah lingkungan bukan cuma soal kewajiban membuang sampah pada tempatnya. tapi soal seberapa banyak "penghematan" sampah rumah tangga yang sudah kita lakukan, juga soal seberapa bijak kita mengendalikan kebutuhan sandang kita. karena gaya hidup ramah lingkungan seharusnya berbanding lurus dengan gaya hidup fungsional.

saya pernah membaca tautan link yang bercerita tentang lauren, perempuan muda yang dengan bahagianya bisa berkata "i haven't made any trash in 2 years". super cool! beneran lauren ini kecenya udah level dewa. saya sendiri masih jaaaaaauuuuh sekali dari zero waste lifestyle meski sudah menyediakan tas kain didalam ransel dan selalu berusaha untuk membawa bekal makan atau minum sendiri kemanapun saya pergi.. tapi tetap saja, ketika tiba-tiba ingin membeli camilan atau makanan karena malas memasak, saya akan dengan rela pergi ke warung makan dan membungkus semuanya dengan kantong plastik makan. padahal hobi menimbun tupperware didasari niat akan membawa kemanapun mereka dalam keadaan kosong untuk mengantisipasi keinginan bungkus makanan yang sering terjadi tiba-tiba :D

kalau disekitar saya, sudah banyak orang-orang kece nan inspiratif dengan gaya hidup ramah lingkungan yang jempolan banget. mulai dari yang paling sederhana, membawa tas kain, bekal makan dan minum sendiri.. sampai yang dengan niatnya membuat sendiri sabun cuci juga sabun mandi. sebagai perempuan dengan jiwa kompetitif yang sangat tinggi, awalnya saya gak mau kalah dong ya. pengen juga bikin body butter sendiri trus dipamerin di instagram. maka pagi ini saya coba browsing tutorialnya, ternyata.... ribet sodara-sodara *tutupin tab firefox* maksudnya untuk orang dengan tingkat kesabaran sangat rendah seperti saya, kayaknya gak cocok deh bikin-bikin begitu. atau sepertinya sih, saya memang harus konsisten berdiet kantong plastik dulu, baru bisa naik level membuat segala sesuatu dengan label homemade :p

Sunday, February 8

tahun kedua



Halo Pagi!
Selamat memasuki dunia selalu ingin tau di tahun kedua-mu. Tumbuhlah nak, tumbuhlah dengan sederhana dan bahagia :)

Thursday, February 5

simple miracles

lusa lalu, saya membeli sebuah buku atas rekomendasi (lagi-lagi) irfan. buku ini unik menurut saya, karena dibagian awal buku saya dibuat ngeri-ngeri senang karena membahas soal hantu, bukan wujud hantu, tapi justru tentang suasana dan aura dunia yang lain itu. memang sesuai dengan tagline bukunya, doa dan arwah. tapi menurut saya kekuatan utama buku itu bukan soal arwah, tapi soal doa dan sosok ibu. benar saja kan, semalam saya menyelesaikan bagian akhir simple miracles, sambil menangis. ada perasaan sederhana yang nyata yang saya akui disana. saya melihat sosok yang sama, ibu yang ada didalam buku dan ibu yang selama ini hadir mendampingi saya. ibu yang kesehariannya penuh doa, tenang dan yang sebisa mungkin menghindari "konflik" antar anggota keluarga. ibu yang sederhana sekaligus bersahaja. persis.

saya sendiri merasa punya banyak kemiripan dengan sosok aku dalam buku itu. sebagai si bungsu, saya kala kecil dulu selalu takut kehilangan ibu. saya takut ibu pergi meninggalkan saya, sampai-sampai kalau menginap dirumah bude/pakde disurabaya misalnya, saya selalu tidur sambil memegang koper ibu. karena takut ketika saya tidur ibu membawa tas kopernya lalu pergi meninggalkan saya seorang diri. konyol hahahahahaha. sampai usia yang sudah nyaris di penghujung dua puluh, saya masih punya perasaan yang sama terhadap ibu. jika ibu berkunjung ke bandung, saya akan jadi pemalas kelas kakap. saya tidak punya semangat menjahit, bersih-bersih rumah apalagi memasak. semata-mata karena saya ingin selalu mengikuti dan diam didekat ibu. diam dalam artian yang sebenarnya, sama sekali tidak melakukan apa-apa, sekedar duduk memperhatikan ibu beraktivitas. pokoknya yang penting ada di dekat ibu.

saat ini, biar sudah menjadi ibu, rasa-rasanya saya masih jauh dari sosok ibu yang digambarkan oleh ayu utami dalam buku itu. sampai sekarang, jangankan menjadi bersahaja, mencerminkan sosok ibu yang tenang saja saya masih sering gagal. walaupun saya pikir setiap ibu pada akhirnya (semoga termasuk saya nanti) akan memiliki karakter yang khas. meski secara fisik tidak diciptakan untuk jadi sekuat bapak, ibu punya aura hangat yang siap menyelimuti keluarganya kapan saja. bagian akhir yang membuat saya tidak bisa menahan air mata adalah soal cerita seorang ibu yang ingin semua urusannya "selesai" sebelum dia pergi meninggalkan keluarganya. kalau bisa memilih, saya yakin semua ibu didunia ini memiliki keinginan yang sama. keinginan yang tidak asing, sudah sering saya dengar dan sebagai ibu, diam-diam juga saya amini :)


 

Template by BloggerCandy.com