Friday, August 26

kebaikan kecil

kira-kira bulan juli lalu, seorang teman di beranda facebook membagikan tautan tentang program rutin yang diadakan sekolah relawan, nama kegiatannya free food car, tautan dan informasi selengkapnya bisa di baca disini. jujur saja, ketika pertama kali melihat dan membaca tentang kegiatan ini, yang pertama ada dipikiran saya cuma satu kata; keren! dan langsung terpikir untuk melempar ide ini ke beberapa teman.

kebetulan keluarga besar himpunan tempat saya bernaung saat masih berstatus mahasiswa dulu masih rutin mengumpulkan kas/donasi yang digunakan untuk berkegiatan sosial. hanya saja karena kami sudah bukan pemilik waktu bebas seperti sepuluh tahun lalu, kami tidak pernah berhasil mengadakan kegiatan rutin bulanan. belajar dari pengalaman tersebut akhirnya kami membuat syarat untuk kegiatan sosial; yang pertama tentu harus bermanfaat, syarat selanjutnya adalah yang bisa terselenggara dengan persiapan mudah, dalam artian semua dapat dikoordinasikan tanpa perlu bertatap muka. karena memang harus sadar diri, masing-masing dari kami bukan lagi anak kuliahan yang bisa dengan mudah bolos kelas algoritma atau pemograman dasar untuk sekedar nongkrong di kantin dan merencakan sebuah event seminar.

setelah melalui beberapa hari penuh diskusi akhirnya maparin tuangeun lahir sebagai nama kegiatan yang insyaallah akan rutin kami laksanakan. maparin tuangeun diambil dari bahasa sunda yang artinya memberi makan (secara cuma-cuma). sesuai kesepakatan awal, kami hanya berkoordinasi melalui aplikasi pesan grup untuk saling berbagi tugas saat hari H. sampai singkat cerita, maparin tuangeun yang pertama berhasil terlaksana. sabtu, 13 agustus 2016 lalu kami membuka "lapak" makan gratis untuk dhuafa dan fakir miskin di taman cibeunying. sekitar 50 lebih porsi nasi beserta lauk pauk dan buah tersedia. sasaran kami siapa saja, petugas kebersihan taman, tukang siomay, pedagang asongan, juru parkir, penjual balon, pun pengumpul sampah.

rasanya bahagia sekali ketika seorang bapak penjual jasa perbaikan sofa keliling bercerita bahwa bertemu kami adalah rejeki tak terduga, sedari tadi menahan lapar karena belum ada satupun yang memakai jasanya hari itu. atau ketika melihat dua pengumpul sampah yang duduk melepas lelah sambil mengupas jeruk dan saling bertukar cerita. atau ketika seorang bapak yang mendorong gerobak tuanya, menghampiri kami dengan malu-malu memastikan kami tidak akan memungut biaya untuk seporsi nasi yang akan disantapnya. juga seorang bapak paruh baya yang "memarkir" balon dagangannya, tersenyum pada kami sambil berkali-kali mengucap terimakasih.

fa-biayyi alaa'i rabbi kuma tukadzdzi ban. maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? ada rasa syukur yang berkali-kali kami ucapkan dalam hati, juga ada kebahagian besar yang kami bawa pulang sebagai buah tangan hari itu. sungguh kami percaya, kebaikan sekecil apapun akan menular dan melahirkan kebaikan lainnya. doakan kami bisa rutin menebar kebaikan ini setiap bulannya, agar bisa mendulang bahagia dari senyum ramah dibalik kerut-kerut wajah tua dan lelah yang kami temui di jalan :)



foto hasil jepretan teman kami nrspyn

Thursday, August 18

slametan "orchestra" ala smipa

setiap awal tahun ajaran baru, semipalar rutin mengadakan acara untuk keluarga besarnya. nama kegiatannya sederhana; slametan awal tahun smipa. ini pengalaman pertama pagi dan saya ikut acara slametan dan karena pak ery sedang ada di tengah belantara hutan kalimantan, jadi saya menghadiri acara slametan berdua saja. tahun ini slametan diadakan di mulberry hills cibodas yang kami tempuh dengan menggunakan sepeda motor. tidak usah ditanya bagaimana persiapannya, yang jelas seru karena sebelumnya saya harus mempersiapkan upacara di lapangan sabuga. lalu pulang kerumah menjemput pagi dan berganti kostum. tak lupa memastikan pagi nyaman "terikat" dengan tas pengaman di belakang sementara saya mengendarai sepeda motor melewati jalan memotong demi bisa mempersingkat waktu tempuh bandung-cibodas.

persiapan sebelum hari H sudah tentu ada. komunikasi kelompok dilakukan melalui pesan grup, koordinator kelompok membagi tugas-tugas kecil yang perlu disiapkan pada saat acara. urusan makan siang menjadi tanggung jawab tiap kelompok. kesepakatan akan bancakan/potlak/botram diputuskan bersama. makanan dan buah-buahan yang disajikan juga harus indonesia banget, jadi ada yang bertugas membawa urap, telur balado gepuk bahkan sayur lodeh lengkap sama panci-pancinya hahahaha total banget. gak lupa soal pemisahan sampah organik dan anorganik setelah makan siang juga jadi isu utama, daaaaan sampah yang dihasilkan harus dibawa kembali lagi ke bandung.. tapi kalau yang ini saya beneran lupa gak memastikan sampai akhir.

"syarat" untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini memang terhitung rumit untuk yang terbiasa terima beres dan duduk manis di kegiatan sekolah anak. ada banyak ketentuan lain seperti setiap orangtua diminta memperhatikan kemasan makanan yang akan dibawa, mengurangi plastik, menghindari sterofoam, anak-anak juga diwajibkan membawa wadah pakai ulang. soal transportasi tidak luput dari pengawasan, setiap anggota kelompok disarankan untuk saling mengatur kendaraan (menumpang) sehingga mengurangi jejak karbon sekaligus menghemat pemakaian bahan bakar. perihal kendaraan ini juga ada kompetisinya, sampai akhir acara kemarin, kelompok 3 ditetapkan sebagai pemenang kategori "semua bangku kendaraan terisi penuh dengan personil kelompoknya" ada juga kelompok pemenang kategori "semua anggota kelompok datang tepat waktu" dan setiap anak-anak yang datang tepat waktu, diijinkan untuk memilih warna souvenir tas belanja sesuai keinginan mereka. sebuah penghargaan sederhana namun bermakna.

satu yang berbeda dari acara slametan awal tahun semipalar, tiap kelompok dibagi dengan sangat "orchestra", jadi dalam satu kelompok, ada anak dan orangtua mulai dari jenjang kelompok belajar (setara PG) sampai jenjang kelompok petualang belajar (setara SMA). selama acara, ada banyak games dan tantangan yang harus dikerjakan bersama-sama dengan seluruh anggota tim. seperti meronce pinus dan bahan alam lain sepanjang dua meter, membuat menara balok yang cara mengambilnya harus dengan estafet juga menghias lambang garuda. tidak ada istilah ini pekerjaan orang dewasa atau itu pekerjaan anak-anak, semua jadi satu. benar-benar seperti gambaran keluarga dalam jumlah yang besar, ada adik, kakak, paman, bibi, ibu, bapak semua bekerja bersama dalam sebuah tim.

terimakasih keluarga besar semipalar! acara kemarin seru sekali. semoga kita masih bisa bertemu di slametan awal tahun smipa berikutnya :)





Friday, August 5

berproses bersama #semipalar

minggu lalu, pagi melalui tiga hari trial di rumah belajar semipalar. gimana? kalau pagi sih standar anak seusianya. ada excited-nya pun ada episode berurai air mata karena merasa insecure di tempat baru. bahkan di hari terakhir pagi sempat menyatakan tidak mau kembali ke semipalar, saya sendiri tidak kaget mengingat pagi tipikal anak dengan mood yang fluktuatif sekali persis ibunya tapi setelah melakukan negosiasi damai, toh akhirnya dia melewati hari terakhirnya dengan cukup baik. malah pulang kerumah dengan membawa banyak cerita. setelah proses trial ini selesai, kami tinggal menunggu hasil pengamatan dari kakak pendampingnya.  

tentang trial dari sudut pandang saya;

saya hanya bisa mendampingi pagi selama dua hari masa trial tapi satu yang saya perhatikan, di kelas kelompok bermain, pergantian aktivitas berlangsung cukup cepat. sisi positifnya, anak-anak tidak sempat merasa bosan. tapi buat anak bertipe mesin diesel yang lima belas menit pertamanya dilalui dengan malu-malu seperti pagi, ritme ini mungkin agak membingungkan. semacam; baru juga asik, sudah berganti kegiatan. tapi mungkin ini hanya soal terbiasa atau tidak saja. oh iya, hampir semua kegiatan di semipalar dilakukan tanpa alas kaki. ini salah satu yang jadi filosofi mereka, bahwa bersentuhan langsung dengan alam merupakan suatu bentuk komunikasi batin antara manusia dengan "ibu"nya (mother earth).

selebihnya bermain diluar ruangan, mendongeng, bercerita, melukis dengan cat air, bernyanyi dan makan bersama menurut saya dilakukan dengan seru karena kakak-kakak pendamping yang ekspresif sekali. anak-anak kelompok bermain diajak terlibat dalam sekecil apapun kegiatan yang mereka lakuan seperti menyusun tempat bekal pada rak yang sudah disediakan, menyiapkan perangkat bermain, membereskan sampai menaruhnya lagi ketempat semula. yang sempat saya lihat saat sesi melukis dengan cat air, fungsi kakak pendamping/fasilitator memang sesuai namanya, benar hanya mendampingi dan memfasilitasi setiap kegiatan sementara anak-anak memiliki kebebasan penuh atas bagaimana dan pilihan warna apa yang akan dituangkan kedalam kertas.

soal penampilan para fasilitator di semipalar jadi salah satu concern saya. asik. mereka semua jauh dari kesan pengajar di sekolah kita dulu. berpakaian santai dan apa adanya, rata-rata berkostum kaos dan celana jeans, bahkan kak andy sebagai "kepala sekolah" berapa kali saya dapati mengenakan celana pendek. tak lupa mereka semua kesana kemari tanpa alas kaki. oh iya, sama seperti sekolah pada umumnya, semipalar selalu memulai dan mengakhiri kegiatan dengan berdoa dan karena semipalar adalah sekolah heterogen, maka semua doa dilafalkan dalam bahasa indonesia.

tentang hasil trial pagi;

kemarin, kami bertemu dengan kak nisa dan kak mahesti, kakak pendamping kelompok bermain, kak MJ sebagai koordinator jenjang usia dini dan kak andy untuk membahas hasil trial pagi minggu lalu. buat saya pertemuan ini menjadi kemewahan tersendiri, ditengah banyak sekolah yang sekedar menjual jasa pendidikan, semipalar memilih meluangkan waktu untuk duduk bersama orang tua. dengan intim berbagi cerita tentang karakter dan keseharian anak, tentang seperti apa gambaran sekolah dan pendidikan dalam kacamata saya dan pak ery, juga tentang harapan apa yang ingin kami wujudkan bersama kelak.

hasil trial pagi diceritakan pada selembar kertas yang berisi kotak-kotak grafik dengan jumlah bintang diatasnya. semakin banyak jumlah bintang, maka pada poin tersebutlah potensi anak paling terlihat. hasilnya nyaris sama seperti dugaan saya. motorik halus, keterlibatan berkarya dan respon terhadap lawan bicara pagi memang baik sekali, kami sudah melihatnya sejak usia pagi belum genap dua tahun. pagi tipe anak yang betah duduk diam sambil mengerjakan sesuatu, dia bisa bermain secara mandiri dan mudah memahami instruksi. sebaliknya motorik kasar dan kemampuan untuk mengungkapkan perasaannya masih jadi pekerjaan rumah untuk saya dan pak ery. ketidakmampuan pagi untuk mengungkapkan perasaannya itulah yang kami duga sebagai penyebab utama fluktuasi emosinya. 

tentang pendidikan menurut kami;

sebenarnya kalau ditanya seperti apa gambaran sekolah dan pendidikan menurut saya dan pak ery, jawabannya bisa jadi panjang sekali. seimbang adalah satu "syarat" mutlak dari kami. sejak dulu saya dan pak ery percaya ada yang jauh lebih penting untuk dipelajari setiap individu ketimbang sekedar menghafal barisan huruf dan angka. pemahaman spiritual, mengenali potensi diri sendiri, mendalami nilai-nilai kemanusiaan, dan menyelaraskan kehidupan dengan alam, harus berjalan beriringan dengan keinginan untuk mempelajari ilmu pengetahuan. dan (masih) menurut kami semipalar adalah tempat yang bisa menerjemahkan itu semua kedalam satu proses pendidikan.

kami berkesempatan mengikuti kegiatan bersama para orangtua murid yang disebut taki taki. kegiatan ini secara garis besar memaparkan visi (tujuan) dan orientasi pendidikan. sepengetahuan saya setiap tahunnya semipalar mengangkat tema berbeda yang dijadikan semacam benang merah pembelajaran dan tahun ini kata kuncinya adalah transisi (transition movement). dalam sesi pleno taki taki, kami disuguhi beberapa video singkat yang membahas tentang kehidupan berkelanjutan, tentang pola konsumerisme masyarakat modern juga ketergantungan manusia terhadap industri. tentu saja setelahnya ada sesi diskusi antar orangtua. saling berbagi cerita tentang apa hal nyata yang sudah dilakukan dan komitmen apa yang akan dibuat untuk mewujudkan sustainable living itu tadi.

kegiatan bersama orangtua seperti ini menjadi salah satu dari sekian banyak alasan kenapa saya dan pak ery memilih semipalar. kami memang mencari sekolah yang banyak "merepotkan" dan melibatkan orangtua dalam setiap kegiatannya. karena saya dan pak ery percaya, pendidikan anak sepenuhnya adalah tanggung jawab kami. jadi baik pihak sekolah, anak (pagi), pun kami sebagai orangtua harus belajar dan berproses bersama. mungkin prinsip pendidikan ditangan orangtua ini juga yang membuat waktu belajar di semipalar lebih singkat dari sekolah swasta kebanyakan. saat tren full day school semakin semarak, semipalar malah menjadwal waktu belajar hanya dua sampai lima jam untuk jenjang kelompok bermain sampai sekolah dasar. 

tentang berproses bersama;

setelah mengikuti banyak kegiatan dan melalui hari-hari penuh diskusi panjang, akhirnya pagi resmi terdaftar sebagai salah satu murid kelompok bermain di semipalar. pagi, begitu juga kami akan berproses bersama (di) semipalar. saya dan pak ery sepakat untuk menata kembali prioritas keluarga kecil kami. mulai serius memikirkan pola sustainable living sederhana dalam kehidupan sehari-hari untuk dikenalkan pada pagi. membatasi konsumerisme, dimulai dari mengurangi jumlah makanan ringan berkemasan, dan mungkin dalam waktu dekat akan mengajak pagi berkebun (lagi).


 
salah satu video pendek yang diputar saat sesi taki taki memberi sedikit gambaran tentang apa itu transition movement.

Thursday, July 21

pagi belajar

awal pekan ini, linimasa saya ramai dengan tautan gambar yang berisi ajakan mengantar anak pada hari pertama sekolah. saya juga ikut merasakan keriangan dan kekhawatiran yang jadi satu diantara beberapa wajah teman sekantor. bayi-bayi kecil yang dulu hanya bisa kami gendong saat family gathering, sekarang sudah beranjak besar dan tak bisa diam. beberapa diantaranya bahkan sudah terdaftar sebagai siswa taman kanak-kanak. how time flies. bulan agustus ini usia pagi juga sudah menginjak 3.5 tahun, sudah banyak sekali stok kalimat tanya-nya. sudah mulai bisa mempertahankan keinginan dan mulai susah diajak negosiasi.

terselang waktu beberapa hari, saya dan pak ery juga mengambil keputusan yang sama. kami memutuskan untuk mulai mengenalkan pagi dengan tempat belajar selain rumah. belajar dalam lingkup definisi yang luas. bukan berhitung, bukan menghafal huruf dan angka. belajar dari bermain, dari apa yang ia (dan teman-temannya) lakukan setiap hari di rumah belajar semipalar. semipalar memang bukan sekolah yang populer. tapi semipalar sudah menjadi bahasan ringan antara saya dan pak ery bahkan jauh sebelum usia pagi genap dua tahun. lalu kenapa semipalar? karena menurut kami semipalar adalah tempat belajar yang paling mengakomodasi bayangan kami berdua tentang sistem pendidikan. sederhananya bahwa pada setiap anak, ada potensi dan keunikan yang harus ditemukan, dalam setiap individu anak juga ada kreatifitas serta imajinasi yang perlu terus dikembangkan.

rasa ragu dan khawatir tentu saja sempat ada, muncul juga perasaan takut. takut terlalu memaksakan mengingat usia pagi yang menurut beberapa teori parenting masih terlalu dini. tapi, ada satu peristiwa yang akhirnya jadi "gong" kami mengambil keputusan besar ini. suatu sore ketika saya pulang bekerja, pagi unjuk kebolehan menghafal lagu. bukan lagu biasa, melainkan lagu mars partai perindo. sedih sekaligus takjub. sedih karena selama saya bekerja, saya tidak bisa mengontrol apa yang dilihat oleh pagi.. takjub karena kemampuan menyerapnya ternyata luar biasa cepat.

sejak saat itu mengajak pagi belajar diluar rumah menjadi niat yang bulat. diskusi antara saya dan pak ery mulai mengerucut, memilah kebaikan yang bisa kami dapat sekaligus risiko yang mungkin terjadi jika keputusan ini kami ambil. setelah sebelumnya sudah menyepakati juga perihal waktu mengantar dan menjemput, barulah kami berburu jadwal gelar griya semipalar. sayangnya kami melewati gelar griya yang pertama pada akhir februari lalu. tapi istilah jodoh tak lari kemana memang ajaib. dipertengahan bulan april saya mendapat informasi bahwa gelar griya akan diadakan lagi sesaat sebelum tahun ajaran baru dimulai.

singkat cerita, kami berkunjung ke semipalar rabu jelang siang kemarin. karena malam sebelumnya saya sudah melakukan briefing dan mengatakan bahwa besok kami akan mengunjungi tempat bermain, begitu sampai semipalar yang pertama ditanya pagi adalah "kok gak ada perosotannya? ayun-ayunnya mana bu?" errr.. dasar anak play land hahahaha. tapi memang jangan bayangkan semipalar sekolah dengan warna gedung terang dan mainan yang tersebar disetiap sudutnya. sama sekali jauh dari itu. semipalar dalam kacamata saya adalah sekolah dengan gedung minim warna. tidak banyak pernak pernik eye cathing yang menjadi khas taman bermain. mungkin ini salah satu dari sekian banyak hal yang menjadikan semipalar berbeda dengan sekolah lain; mengajak anak-anak berimajinasi dan berkreasi, dengan bermain menggunakan media apa saja yang mereka temukan dalam keseharian.

kami tidak akan memaksa pun belum bisa memastikan apakah pagi akan klik dengan semipalar. yang jelas ketika malam tadi saya mengajaknya untuk kembali mengunjungi semipalar, dia berteriak gembira "aku mau!" ok! minggu depan kita trial kelas ya nak :)





Monday, July 11

mengurangi

dua pekan ini, beranda laman facebook saya dipenuhi tautan tentang kehidupan minimalis yang menjadi tren masyarakat jepang. tentang Fumio Sasaki yang konon hanya memiliki tiga kemeja, empat pasang celana, empat pasang kaos kaki dan sejumlah kecil barang-barang lain. ekstrim? iya. sangat ekstrim menurut saya. saya sendiri yakin, nyaris tidak mungkin untuk saya bisa menyamai level Fumio Sasaki. lah, mau dikemanakan puluhan buku, kain-kain yang menurut saya masuk kedalam kategori investasi masa depan itu? tapi jujur saja semakin membaca banyak tautan beritanya, saya semakin gelisah dan diam-diam setuju dengan alasan mengapa kita harus mengurangi jumlah kepemilikan barang.

beberapa waktu sebelum gaya hidup minimalis masyarakat jepang ini jadi perbincangan hangat di sosial media, beberapa teman yang masuk kedalam golongan orang-orang yang akan kekurangan oksigen jika tidak membuat kesibukan (red. sebut saja mereka shelly, guli, tehanil dan rinda) sudah berdiskusi ringan soal kepemilikan barang dalam rumah. intinya, kami merasa memiliki banyak barang dan merasa barang-barang tersebut harus "dikeluarkan" dari rumah tanpa mengurangi nilai manfaatnya. sebenarnya bisa saja kami memakai solusi umum; kumpulkan, sumbangkan. tapi apa iya dengan begitu barang-barang tadi akan kembali pada fungsinya? atau malah hanya memindahkan tumpukan dari rumah kita, ke rumah orang lain? isu tersebut yang akhirnya membuat salah satu dari kami mencetus ide, membuat satu gerakan untuk mengurangi jumlah barang di rumah dengan konsep menawarkan atau saling bertukar barang yang di butuhkan.

malam ini tadi, saya mulai gerakan mengurangi dengan membongkar keranjang mainan pagi. dengan dibantu pagi, kami memisahkan mainan. menjelaskan dengan kalimat sederhana alasan kenapa harus mengurangi jumlah mainan yang dia punya, kenapa dia harus memilih, dan kenapa mainan yang tidak dipilih perlu dikeluarkan dari keranjang mainannya. diusia pagi yang sekarang, saya yakin betul, masih sangat jauh untuk dia mengerti tentang kebutuhan dan keinginan secara harfiah. terbukti dengan beberapa kali dia menengok ke arah mainan yang tadi tidak dipilihnya sambil berkata "ibu, ini aku (masih) mau.." saya mengangguk, mempersilakan pagi mengambilnya kembali. meskipun tidak signifikan mengurangi, setidaknya malam dia sudah belajar dua hal, berbagi dan merelakan.

sekarang pekerjaan rumah terberat justru bersumber dari saya. menahan diri dari perasaan butuh yang ternyata semu *tsah*. memang mengurangi bukan berarti tidak boleh membeli dan mempunyai keinginan itu manusiawi sekali kok. kalau memang perlu dan ada manfaatnya kenapa tidak? itu yang sering diutarakan pak ery ketika saya mengajukan "proposal" pembelian barang baru, tapi syaratnya tidak boleh membeli barang dengan terburu-buru dan harus disertai 8 sampai 10 alasan kenapa harus membeli barang tersebut. jika masuk akal, proposal disetujui. biasanya pengajuan ini berlaku untuk pembelian barang yang over budget atau tidak ada dalam rencana pengeluaran bulanan rumah tangga kami. kenyataannya saya sering tidak bisa menyebutkan bahkan sekedar 5 alasan saja dan akhirnya berujung pada tabungan yang terselamatkan hahahahahaha. ngomong-ngomong tips ampuh mempertahankan saldo tabungan dari pengeluaran impulsif ini boleh di coba loh. that works for me :)



Friday, July 1

keluarga pagi

saya dan pak ery menyematkan kata pagi pada rangkaian nama Gauri Binaring Pagi, sebenarnya bukan tanpa alasan. pagi adalah satu dari sedikit kesamaan saya dan pak ery. iya, kami sama-sama menyukai suasana pagi. pagi hari menurut kami adalah waktu yang sakral. sebagai ibu yang bekerja, pagi hari buat saya adalah waktu paling sibuk sekaligus paling menantang; semacam bagaimana supaya semua urusan rumah tangga hari ini selesai dan saya tetap tidak terlambat datang ke kantor.

utuk keluarga kecil kami yang tidak punya asisten rumah tangga menginap, memastikan semuanya selesai sebelum pukul tujuh pagi setiap hari tentu punya keseruannya sendiri. terlebih saya hampir tidak pernah meninggalkan anak-anak sebelum memastikan semua keperluan mereka "aman"; sarapan, makan siang, baju ganti. dan, baru bisa berangkat bekerja dengan tenang setelah mereka selesai mandi. bahkan dulu emak sempat melayangkan kekhawatiran karena menurut emak, saya terlalu tega, memandikan pagi kecil pukul enam setiap harinya, padahal saat itu usianya belum genap tiga bulan. tapi toh saya bergeming, sampai saat ini.
 
karena terbiasa dengan ritme yang seperti itu, akhirnya keseharian pagi kecilpun ikut menyesuaikan. sejak dulu sesuai namanya, pagi selalu bangun sebelum matahari terlalu tinggi, sekarang aksara mengikuti jejak kakaknya. keriuhan rumah kami selalu dimulai bahkan sebelum lampu-lampu jalan dimatikan. dan mungkin karena pagi dan aksara selalu memulai hari dengan cepat, mereka jadi punya jadwal tidur yang super cepat juga. ini juga yang membuat saya tidak pernah punya pengalaman menemani anak bermain sampai dini hari. alhamdulillah, selama tiga tahun belakangan ini waktu rata-rata beristirahat tetap ada di pukul delapan malam, kecuali-malam-ini-demi-bisa-tidur-tenang-tanpa-tagihan-menulis.

banyak yang mengira kami menyukai pagi hari semata karena tuntutan bekerja. tapi kenyataannya kami tetap melakukan ritual pagi yang sama saat akhir pekan tiba. jika jadeal akhir pekan hanya berkeliling kota misalnya, biasanya kami sudah mulai meninggalkan rumah sebelum pukul tujuh. mencari sarapan kesukaan, berjalan kaki, mengunjungi beberapa tempat yang sudah direncanakan sebelumnya, kemudian kembali ke rumah sebelum waktu makan siang untuk selanjutnya menghabiskan sisa hari dengan beristirahat dirumah. mungkin karena kami percaya, tidak ada yang lebih serasi ketimbang suasana bandung dan pagi hari (saat akhir pekan tiba) jadi rasanya sayang sekali jika harus melewati pagi tanpa cerita.


 

Template by BloggerCandy.com