Friday, February 27

mudah (tapi sulit)

tau gak apa yang sebenarnya mudah tapi sulit? membiasakan bergaya hidup ramah lingkungan. saya yakin sekarang ini sudah banyak orang yang sadar bahwa menjaga lingkungan itu sangat baik. tapi tentu bukan berarti cukup dibayar lunas dengan hanya tidak membuang sampah sembarangan. dalam lingkaran besarnya, ramah lingkungan bukan cuma soal kewajiban membuang sampah pada tempatnya. tapi soal seberapa banyak "penghematan" sampah rumah tangga yang sudah kita lakukan, juga soal seberapa bijak kita mengendalikan kebutuhan sandang kita. karena gaya hidup ramah lingkungan seharusnya berbanding lurus dengan gaya hidup fungsional.

saya pernah membaca tautan link yang bercerita tentang lauren, perempuan muda yang dengan bahagianya bisa berkata "i haven't made any trash in 2 years". super cool! beneran lauren ini kecenya udah level dewa. saya sendiri masih jaaaaaauuuuh sekali dari zero waste lifestyle meski sudah menyediakan tas kain didalam ransel dan selalu berusaha untuk membawa bekal makan atau minum sendiri kemanapun saya pergi.. tapi tetap saja, ketika tiba-tiba ingin membeli camilan atau makanan karena malas memasak, saya akan dengan rela pergi ke warung makan dan membungkus semuanya dengan kantong plastik makan. padahal hobi menimbun tupperware didasari niat akan membawa kemanapun mereka dalam keadaan kosong untuk mengantisipasi keinginan bungkus makanan yang sering terjadi tiba-tiba :D

kalau disekitar saya, sudah banyak orang-orang kece nan inspiratif dengan gaya hidup ramah lingkungan yang jempolan banget. mulai dari yang paling sederhana, membawa tas kain, bekal makan dan minum sendiri.. sampai yang dengan niatnya membuat sendiri sabun cuci juga sabun mandi. sebagai perempuan dengan jiwa kompetitif yang sangat tinggi, awalnya saya gak mau kalah dong ya. pengen juga bikin body butter sendiri trus dipamerin di instagram. maka pagi ini saya coba browsing tutorialnya, ternyata.... ribet sodara-sodara *tutupin tab firefox* maksudnya untuk orang dengan tingkat kesabaran sangat rendah seperti saya, kayaknya gak cocok deh bikin-bikin begitu. atau sepertinya sih, saya memang harus konsisten berdiet kantong plastik dulu, baru bisa naik level membuat segala sesuatu dengan label homemade :p

Sunday, February 8

tahun kedua



Halo Pagi!
Selamat memasuki dunia selalu ingin tau di tahun kedua-mu. Tumbuhlah nak, tumbuhlah dengan sederhana dan bahagia :)

Thursday, February 5

simple miracles

lusa lalu, saya membeli sebuah buku atas rekomendasi (lagi-lagi) irfan. buku ini unik menurut saya, karena dibagian awal buku saya dibuat ngeri-ngeri senang karena membahas soal hantu, bukan wujud hantu, tapi justru tentang suasana dan aura dunia yang lain itu. memang sesuai dengan tagline bukunya, doa dan arwah. tapi menurut saya kekuatan utama buku itu bukan soal arwah, tapi soal doa dan sosok ibu. benar saja kan, semalam saya menyelesaikan bagian akhir simple miracles, sambil menangis. ada perasaan sederhana yang nyata yang saya akui disana. saya melihat sosok yang sama, ibu yang ada didalam buku dan ibu yang selama ini hadir mendampingi saya. ibu yang kesehariannya penuh doa, tenang dan yang sebisa mungkin menghindari "konflik" antar anggota keluarga. ibu yang sederhana sekaligus bersahaja. persis.

saya sendiri merasa punya banyak kemiripan dengan sosok aku dalam buku itu. sebagai si bungsu, saya kala kecil dulu selalu takut kehilangan ibu. saya takut ibu pergi meninggalkan saya, sampai-sampai kalau menginap dirumah bude/pakde disurabaya misalnya, saya selalu tidur sambil memegang koper ibu. karena takut ketika saya tidur ibu membawa tas kopernya lalu pergi meninggalkan saya seorang diri. konyol hahahahahaha. sampai usia yang sudah nyaris di penghujung dua puluh, saya masih punya perasaan yang sama terhadap ibu. jika ibu berkunjung ke bandung, saya akan jadi pemalas kelas kakap. saya tidak punya semangat menjahit, bersih-bersih rumah apalagi memasak. semata-mata karena saya ingin selalu mengikuti dan diam didekat ibu. diam dalam artian yang sebenarnya, sama sekali tidak melakukan apa-apa, sekedar duduk memperhatikan ibu beraktivitas. pokoknya yang penting ada di dekat ibu.

saat ini, biar sudah menjadi ibu, rasa-rasanya saya masih jauh dari sosok ibu yang digambarkan oleh ayu utami dalam buku itu. sampai sekarang, jangankan menjadi bersahaja, mencerminkan sosok ibu yang tenang saja saya masih sering gagal. walaupun saya pikir setiap ibu pada akhirnya (semoga termasuk saya nanti) akan memiliki karakter yang khas. meski secara fisik tidak diciptakan untuk jadi sekuat bapak, ibu punya aura hangat yang siap menyelimuti keluarganya kapan saja. bagian akhir yang membuat saya tidak bisa menahan air mata adalah soal cerita seorang ibu yang ingin semua urusannya "selesai" sebelum dia pergi meninggalkan keluarganya. kalau bisa memilih, saya yakin semua ibu didunia ini memiliki keinginan yang sama. keinginan yang tidak asing, sudah sering saya dengar dan sebagai ibu, diam-diam juga saya amini :)


Tuesday, February 3

curug nini daruji

yuhu!
saya memang paling semangat kalau bertemu akhir pekan dengan segudang rencananya. kali ini rencana kami adalah piknik hore bersama keluarga rokenrol yang sekaligus calon tetangga. suami istri; kang tian, mbak ning dan dua anaknya; kahla, naura. gimana ceritanya kami bisa saling kenal dan akhirnya bisa janjian main kesini, nanti saya ceritakan dalam episode lain di blog ini ya. yang jelas sabtu kemarin, perjalanan kami dimulai pukul 7 pagi. saya sendiri saat itu, sebenarnya tidak tau pasti akan diajak kemana. kata kunci yang saya dapat hanya dua; kita akan ke curug, lokasi curugnya diatas dago resort. itu saja. soal seperti apa medan perjalanannya, sebesar apa curugnya saya benar-benar clueless. memang satu-satunya anggota piknik yang tau persis lokasi dan arah jalan cuma kang tian.

lokasi curug ini tidak terlalu jauh dari rumah kami. hanya saja, untuk menuju kesana tidak disarankan memakai kendaraan manis macam city car. ya walaupun kondisi jalannya tidak terlalu ekstrim, tapi cukup untuk membuat empat roda mobil taft kami bekerja sesuai fungsinya. kalau waktu tempuh perjalanannya sih tidak terlampau lama, kira-kira dua puluh menit dihitung dari start awal, kendaraan kami sudah menepi disisi tanah lapang dan kami melanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak. sayangnya saya tidak punya dokumentasi kondisi jalan setapak yang kami lalui, pertama saya kesulitan memegang kamera karena harus berjalan sambil menggendong pagi, alasan yang kedua karena akhirnya saya jatuh tergelincir, sehingga mengakibatkan kesalahan kostum saya sahih. sudah tau mau hiking pakai celana warna khakis,  jatuh dijalan tanah yang basah pula. sempurna.

selain jalan setapak yang licin, untuk sampai kesini kami juga harus melewati kebun milik warga. dengan kemiringan tanah yang mungkin lebih dari tujuh puluh lima derajat, kami jadi ikut memikirkan bagaimana cara para petani ini memanen hasil kebunnya. oh iyah, mungkin karena malam sebelumnya turun hujan, air terjun di curug ini jadi berwarna kecoklatan. tapi tentu tidak menyurutkan niat anak-anak nyemplung dong ya.. sayang deh udah jauh-jauh kesini kalau gak "nyicip" airnya. saya dan mbak ning sih hanya duduk dipinggir curug sambil mengawasi bapak-bapak yang ngasuh anak-anak. tapi kita gak lama disini, karena kurang lengkap membawa logistik. airnya dingin, plus kalau kata masery, kurang trangia dan kopi.. kalau kata saya, kurang nasi timbel, asin peda dan sambal terasi. mungkin bisa dikondisikan untuk piknik hore selanjutnya :D    





** dalam perjalanan pulang, masery bertanya pada warga nama curug yang baru saja kami kunjungi. seorang ibu paruh baya yang ramah menjawabnya dengan yakin "curug nini daruji, sep.."

Friday, January 30

bersepeda (lagi)

akhirnya! ini benar seperti prestasi buat saya. setelah libur super panjang untuk bike to work, hari ini saya mulai bersepeda lagi. percaya gak sih, niat bersepeda ke kantor itu sudah ada dari dua tiga bulan jelang akhir tahun kemarin. tapi realisasinya baru hari ini. terlalu banget kan ya? hahahaha.

jadi gini, kira-kira awal tahun 2011, saya dapat kado sepeda dari mas dimas sang kakak baik hati. sepeda gunung berwarna abu dengan merk polygon. senang sekali pasti.. apalagi saat itu baru awal-awal musim hobi bersepeda. kan jadi ikut kekinian gitu ya.. bahagia juga karena bisa ikut trend tapi gak harus keluar modal buat beli sepeda hahahahaha. meskipun tidak setiap hari, saat itu saya terbilang cukup rutin bersepeda. ya seminggu dua tiga kali lah. saat itu juga saya punya geng sepeda angin-anginan bersama teman semasa kuliah, bobby, bardjo dan iduy. kadang pagi hari di akhir pekan kami berkeliling kota, kadang hari biasa sepulang bekerja kami menyempatkan untuk mampir kampus, makan batagor atau sekedar duduk sambil ngobrol kesana kemari di toko eskrim. dulu sih masih lajang.. jadi tanggung jawab hidup masih lebih ringan :p

awal tahun 2012 saya menikah. kami jadi punya dua sepeda.. sepeda masery dan sepeda saya sendiri. hal ini tidak langsung membuat kami menjadi pasangan bikers. dua bulan pertama mesti melewati penyesuaian siklus baru kehidupan berumahtangga kan ya? yang awalnya sendiri, jadi punya partner in crime dalam banyak hal. lalu bulan ketiga diawal pernikahan, saya menempuh diklat prajabatan nyaris genap satu bulan. setelah saya pulang, gantian masery yang merambah hutan kalimantan untuk beberapa minggu. setelah itu.. alhamdulillah saya hamil. sampai sembilan bulan saya hamil, saya tidak dijinkan mengendarai motor (apalagi sepeda) karena itu masery adalah petugas setia yang mengantar dan menjemput saya ke kantor. keadaan itu yang akhirnya membuat masery ikut cuti bersepeda. dua sepeda kami-pun berdebu dengan susksesnya.

februari 2013 kami dititipkan rizki, bayi perempuan lucu yang kami beri nama pagi, yang tentu saja membalik siklus kehidupan kami seratus delapan puluh derajat. terlebih di awal-awal kelahiran pagi, saya masih sering pulang saat istirahat untuk menyusui. impian kembali rutin bersepeda, semakin jauh dipandang mata. sampai berganti ke tahun 2014, saya masih ciut untuk memulai bersepeda (lagi). kali ini dengan alasan kami tidak punya asisten rumah tangga yang menginap. emak, perempuan paruh baya yang sehari-hari menjaga pagi, bekerja sesuai jam berangkat dan kepulangan saya. sedangkan jika bersepeda, saya harus berangkat lebih pagi untuk menghindari keterlambatan, waktu tempuh akan jadi lebih panjang, artinya emak harus datang lebih awal dan pulang lebih lama dari biasanya. saya sudah banyak dibantu emak, jadi rasanya egois ya kalau ngotot tetap ingin bersepeda.

sekarang tahun 2015 dimulai dan cita-cita saya banyak sekali. salah satunya kembali bersepeda, pertimbangannya pagi sudah cukup besar, sudah bisa diajak komunikasi, sehingga sudah bisa ditinggal agak lama bersama masery. saya bisa berangkat ke kantor lebih pagi tanpa harus meminta emak mengikuti jam pergi saya. langsung semangat? tentu saja tidak. masih banyak pertimbangan lain lain lain, terutama soal saya tidak punya teman bersepeda. eh beneran, saya bukan seperti hipster yang makin beda makin percaya diri. saya malah agak risih kalau terlalu terlihat lain. mengingat segedung kantor sepertinya tidak ada ibu-ibu yang bersusah payah menuju kantor dengan menggunakan sepeda, memboyong seransel baju ganti dan juga perlengkapan mandi.

tapi akhirnya hari ini saya mematahkan semua keraguan *duile ini bahasanya* pada akhirnya kebutuhan akan olah raga mengalahkan segalanya. terdengar seperti pencitraan gak sih ini hahahahahaha. tapi beneran, saya sadar diri kok, saya kurang bisa menjaga pola makan super sehat, ditambah jadi pegawai duduk diam delapan jam setiap hari selama lima hari dalam seminggu, minim aktivitas yang menyehatkan. meskipun untuk sementara saya baru menyusun niat bersepeda paling banyak dua kali dalam seminggu. masih kalah jauh sama orang-orang keren diluaran sana yang menjadikan sepeda sebagai bagian dari aktivitasnya. tapi setidaknya kata irfan, bersepeda itu memberi warna lain dalam rutinitas. biar gak gampang bosan dan biar bahagia. karena beneran deh, olahraga itu bikin bahagia :D




Monday, January 19

soal hastag #satubulanduabuku

sesuai janji saya (pada diri sendiri) bahwa setiap bulan saya akan membaca dan mereview setidaknya dua buku demi kejayaan hashtag #satubulanduabuku yang baru saya ciptakan diawal tahun kemarin. niatnya sih, saya mau melahap semua buku pak suami dengan pertimbangan; bukunya masery itu banyak banget. banget. jadi daripada saya beli buku sendiri yang mana itu akan mengurangi jatah kekhilafan saya terhadap pembelian kain katun di pasar baru, mending saya baca saja buku-buku yang sudah ada. iya kan? tapi sayangnya, tidak ada satupun dari bukunya masery yang bergenre teenlit, atau novel romantis yang bisa dibaca sambil lalu dalam hitungan beberapa jam aktif. inilah yang membuat target #satubulanduabuku agak sulit diwujudkan. akhirnya prinsip agak digeser dengan mengganti target membaca, jadi membaca satu buku koleksi masery, dan satu buku pilihan saya sendiri. deal.

saya sendiri memang mengklasifikasikan buku dalam tiga kategori; buku yang (saking berbobotnya sehingga) tidak mungkin saya baca, buku berkualitas, dan buku bagus.

kategori pertama itu buku-buku semisal buku edisi kelima kalkulus dan geometri yang ditulis oleh edwin purcell, atau buku C programming second edition yang ditulis michael vine, meskipun masuk kedalam kategori for the absolute beginner, alhamdulillah saya tidak tertarik untuk membacanya. kategori kedua adalah buku berkualitas, ini adalah kategori untuk menggambarkan buku-buku koleksi masery. buku yang ketika membacanya saya harus duduk diam dan tenang dan biasanya memerlukan waktu yang agak lama buat menyelesaikan ratusan cetak halamannya. yang baru saya baca kemarin ring of fire, kalau dulu sempat tamat membaca winnetou-nya karl may juga beberapa karya remy silado yang sampai detik ini saya sudah lupa bagaimana alur ceritanya. kategori terakhir adalah buku bagus, nah ini biasanya novel fiksi ringan. seperti selera musik saya yang prinsipnya asal-enak-didengar, saya juga tidak punya paham keras terhadap satu penulis tertentu. buat saya, dewi lestari, tere liye, raditya dika, aditya mulya dan asma nadia sama bagusnya.

perihal mereview buku, ini semata-mata untuk pengingat diri saya sendiri sih. jadi maksudnya gini, saya ini kan level pelupanya udah nyaris tak terkalahkan ya *bangga*, jadi sepertinya mereview tentang buku yang saya baca adalah salah satu cara untuk memperpanjang ingatan saya tentang isi buku tersebut. terlepas dari banyak atau tidak pembaca tidak setia blog ini. saran saya sih, dari pada baca reviewan dari saya yang kemungkinan besar dikemas dalam bahasa yang tidak bisa diambil hikmahnya dan sudah pasti spoiler, jadi mending baca review dari goodreads aja deh. beneran hahahahaha.

sebenarnya saya ini tipe orang yang kalau sudah melakukan hal yang disukai, susah berhentinya. pada akhirnya lebih cenderung menyiksa diri sendiri gitu sih. kalau rasa penasaran sudah tak bisa dibendung, saya bisa menghabiskan malam sampai jelang pagi demi menyelesaikan sebuah buku. kalau sudah begitu, esoknya, saya akan terlambat bangun, menyiapkan segala sesuatu keperluan pagi, masery dan keperluan saya sendiri dengan amat terburu-buru, datang ke kantor dengan jam mesin absen yang sudah menunjukkan kelebihan angka sepuluh sampai dua puluh menit. lalu tidak kondusif bekerja karena mengantuk. saya tau itu adalah kebiasaan buruk, oleh karenanya saya (hanya) membuat target #satubulanduabuku supaya dalam satu bulan saya tetap bisa imbang mengerjakan banyak kegemaran lain seperti menjahit, berkebun dan (mungkin) membuat kue :D

 

Template by BloggerCandy.com