Friday, January 30

bersepeda (lagi)

akhirnya! ini benar seperti prestasi buat saya. setelah libur super panjang untuk bike to work, hari ini saya mulai bersepeda lagi. percaya gak sih, niat bersepeda ke kantor itu sudah ada dari dua tiga bulan jelang akhir tahun kemarin. tapi realisasinya baru hari ini. terlalu banget kan ya? hahahaha.

jadi gini, kira-kira awal tahun 2011, saya dapat kado sepeda dari mas dimas sang kakak baik hati. sepeda gunung berwarna abu dengan merk polygon. senang sekali pasti.. apalagi saat itu baru awal-awal musim hobi bersepeda. kan jadi ikut kekinian gitu ya.. bahagia juga karena bisa ikut trend tapi gak harus keluar modal buat beli sepeda hahahahaha. meskipun tidak setiap hari, saat itu saya terbilang cukup rutin bersepeda. ya seminggu dua tiga kali lah. saat itu juga saya punya geng sepeda angin-anginan bersama teman semasa kuliah, bobby, bardjo dan iduy. kadang pagi hari di akhir pekan kami berkeliling kota, kadang hari biasa sepulang bekerja kami menyempatkan untuk mampir kampus, makan batagor atau sekedar duduk sambil ngobrol kesana kemari di toko eskrim. dulu sih masih lajang.. jadi tanggung jawab hidup masih lebih ringan :p

awal tahun 2012 saya menikah. kami jadi punya dua sepeda.. sepeda masery dan sepeda saya sendiri. hal ini tidak langsung membuat kami menjadi pasangan bikers. dua bulan pertama mesti melewati penyesuaian siklus baru kehidupan berumahtangga kan ya? yang awalnya sendiri, jadi punya partner in crime dalam banyak hal. lalu bulan ketiga diawal pernikahan, saya menempuh diklat prajabatan nyaris genap satu bulan. setelah saya pulang, gantian masery yang merambah hutan kalimantan untuk beberapa minggu. setelah itu.. alhamdulillah saya hamil. sampai sembilan bulan saya hamil, saya tidak dijinkan mengendarai motor (apalagi sepeda) karena itu masery adalah petugas setia yang mengantar dan menjemput saya ke kantor. keadaan itu yang akhirnya membuat masery ikut cuti bersepeda. dua sepeda kami-pun berdebu dengan susksesnya.

februari 2013 kami dititipkan rizki, bayi perempuan lucu yang kami beri nama pagi, yang tentu saja membalik siklus kehidupan kami seratus delapan puluh derajat. terlebih di awal-awal kelahiran pagi, saya masih sering pulang saat istirahat untuk menyusui. impian kembali rutin bersepeda, semakin jauh dipandang mata. sampai berganti ke tahun 2014, saya masih ciut untuk memulai bersepeda (lagi). kali ini dengan alasan kami tidak punya asisten rumah tangga yang menginap. emak, perempuan paruh baya yang sehari-hari menjaga pagi, bekerja sesuai jam berangkat dan kepulangan saya. sedangkan jika bersepeda, saya harus berangkat lebih pagi untuk menghindari keterlambatan, waktu tempuh akan jadi lebih panjang, artinya emak harus datang lebih awal dan pulang lebih lama dari biasanya. saya sudah banyak dibantu emak, jadi rasanya egois ya kalau ngotot tetap ingin bersepeda.

sekarang tahun 2015 dimulai dan cita-cita saya banyak sekali. salah satunya kembali bersepeda, pertimbangannya pagi sudah cukup besar, sudah bisa diajak komunikasi, sehingga sudah bisa ditinggal agak lama bersama masery. saya bisa berangkat ke kantor lebih pagi tanpa harus meminta emak mengikuti jam pergi saya. langsung semangat? tentu saja tidak. masih banyak pertimbangan lain lain lain, terutama soal saya tidak punya teman bersepeda. eh beneran, saya bukan seperti hipster yang makin beda makin percaya diri. saya malah agak risih kalau terlalu terlihat lain. mengingat segedung kantor sepertinya tidak ada ibu-ibu yang bersusah payah menuju kantor dengan menggunakan sepeda, memboyong seransel baju ganti dan juga perlengkapan mandi.

tapi akhirnya hari ini saya mematahkan semua keraguan *duile ini bahasanya* pada akhirnya kebutuhan akan olah raga mengalahkan segalanya. terdengar seperti pencitraan gak sih ini hahahahahaha. tapi beneran, saya sadar diri kok, saya kurang bisa menjaga pola makan super sehat, ditambah jadi pegawai duduk diam delapan jam setiap hari selama lima hari dalam seminggu, minim aktivitas yang menyehatkan. meskipun untuk sementara saya baru menyusun niat bersepeda paling banyak dua kali dalam seminggu. masih kalah jauh sama orang-orang keren diluaran sana yang menjadikan sepeda sebagai bagian dari aktivitasnya. tapi setidaknya kata irfan, bersepeda itu memberi warna lain dalam rutinitas. biar gak gampang bosan dan biar bahagia. karena beneran deh, olahraga itu bikin bahagia :D




Monday, January 19

soal hastag #satubulanduabuku

sesuai janji saya (pada diri sendiri) bahwa setiap bulan saya akan membaca dan mereview setidaknya dua buku demi kejayaan hashtag #satubulanduabuku yang baru saya ciptakan diawal tahun kemarin. niatnya sih, saya mau melahap semua buku pak suami dengan pertimbangan; bukunya masery itu banyak banget. banget. jadi daripada saya beli buku sendiri yang mana itu akan mengurangi jatah kekhilafan saya terhadap pembelian kain katun di pasar baru, mending saya baca saja buku-buku yang sudah ada. iya kan? tapi sayangnya, tidak ada satupun dari bukunya masery yang bergenre teenlit, atau novel romantis yang bisa dibaca sambil lalu dalam hitungan beberapa jam aktif. inilah yang membuat target #satubulanduabuku agak sulit diwujudkan. akhirnya prinsip agak digeser dengan mengganti target membaca, jadi membaca satu buku koleksi masery, dan satu buku pilihan saya sendiri. deal.

saya sendiri memang mengklasifikasikan buku dalam tiga kategori; buku yang (saking berbobotnya sehingga) tidak mungkin saya baca, buku berkualitas, dan buku bagus.

kategori pertama itu buku-buku semisal buku edisi kelima kalkulus dan geometri yang ditulis oleh edwin purcell, atau buku C programming second edition yang ditulis michael vine, meskipun masuk kedalam kategori for the absolute beginner, alhamdulillah saya tidak tertarik untuk membacanya. kategori kedua adalah buku berkualitas, ini adalah kategori untuk menggambarkan buku-buku koleksi masery. buku yang ketika membacanya saya harus duduk diam dan tenang dan biasanya memerlukan waktu yang agak lama buat menyelesaikan ratusan cetak halamannya. yang baru saya baca kemarin ring of fire, kalau dulu sempat tamat membaca winnetou-nya karl may juga beberapa karya remy silado yang sampai detik ini saya sudah lupa bagaimana alur ceritanya. kategori terakhir adalah buku bagus, nah ini biasanya novel fiksi ringan. seperti selera musik saya yang prinsipnya asal-enak-didengar, saya juga tidak punya paham keras terhadap satu penulis tertentu. buat saya, dewi lestari, tere liye, raditya dika, aditya mulya dan asma nadia sama bagusnya.

perihal mereview buku, ini semata-mata untuk pengingat diri saya sendiri sih. jadi maksudnya gini, saya ini kan level pelupanya udah nyaris tak terkalahkan ya *bangga*, jadi sepertinya mereview tentang buku yang saya baca adalah salah satu cara untuk memperpanjang ingatan saya tentang isi buku tersebut. terlepas dari banyak atau tidak pembaca tidak setia blog ini. saran saya sih, dari pada baca reviewan dari saya yang kemungkinan besar dikemas dalam bahasa yang tidak bisa diambil hikmahnya dan sudah pasti spoiler, jadi mending baca review dari goodreads aja deh. beneran hahahahaha.

sebenarnya saya ini tipe orang yang kalau sudah melakukan hal yang disukai, susah berhentinya. pada akhirnya lebih cenderung menyiksa diri sendiri gitu sih. kalau rasa penasaran sudah tak bisa dibendung, saya bisa menghabiskan malam sampai jelang pagi demi menyelesaikan sebuah buku. kalau sudah begitu, esoknya, saya akan terlambat bangun, menyiapkan segala sesuatu keperluan pagi, masery dan keperluan saya sendiri dengan amat terburu-buru, datang ke kantor dengan jam mesin absen yang sudah menunjukkan kelebihan angka sepuluh sampai dua puluh menit. lalu tidak kondusif bekerja karena mengantuk. saya tau itu adalah kebiasaan buruk, oleh karenanya saya (hanya) membuat target #satubulanduabuku supaya dalam satu bulan saya tetap bisa imbang mengerjakan banyak kegemaran lain seperti menjahit, berkebun dan (mungkin) membuat kue :D

Wednesday, January 14

balada (mencari) sepatu

saya tidak seperti kebanyakan perempuan yang seolah punya "mata" kesekian, yang membuat mereka bisa membedakan mana sepatu lucu dan mana sepatu yang lucu banget. sementara saya, taunya cuma mana sepatu yang enak dipakai, dan mudah membelinya. maka dari itu, semua sepatu kerja saya bermerk dan berjenis sama. merknya donatello, kenapa? karena tokonya dekat dari kantor. jadi saya bisa membelinya kapan saja, tidak memerlukan waktu khusus berjam-jam untuk berkeliling pusat perbelanjaan yang sering menyebabkan kegagalan fokus penglihatan. jenis sepatunya, loafer flat shoes titik. saya juga baru sadar belakangan ini kalau sepatu yang selalu saya beli adalah sepatu bersjenis loafer, tidak pernah yang lain. iya saya memang punya selera fesyen yang payah.

sebenarnya dari lubuk hati yang paling dalam, saya benci semua sepatu perempuan. sudah harganya mahal, seringnya tidak tahan banting pula. taruhan deh, mana ada flat shoes yang acap dipakai bisa tahan sampai bertahun-tahun. apalagi sebagai pengendara motor dimusim hujan seperti sekarang. saya sering pulang dalam keadaan basah kuyup karena kehujanan, maka sesungguhnya memakai sepatu perempuan itu sama sekali bukan pilihan tepat. hitungan bulan, pasti sudah ada saja rusaknya. kalau saja sepatu perempuan menjunjung tinggi prinsip converse, si sepatu kanvas yang makin belel makin sip tentu saya tidak perlu khawatir. tapi kenyataannya tidak demikian. meski semua sepatu kerja saya sudah disol ulang untuk memperkuat lapisannya. tetap saja, kalau jebol ya harus ganti kan?

saya curiga, beberapa barang yang diperuntukkan untuk wanita termasuk flat shoes, sengaja dijadikan tidak awet supaya bisa menaikkan indeks belanja para perempuan terhadap barang-barang itu sendiri. semacam konspirasi industri gitu deh. sering sih terbesit mencari sepatu tahan banting macam boot proyek sneakers, supaya saya hanya perlu membeli sepatu dua-tiga tahun sekali. tapi mencari sepatu sneakers yang pantas dipakai bekerja kantoran juga bukan perkara mudah. inginnya sih pakai columbia peakfreak, tapi kok gak tega kalau dibarengi sama stelan batik dan rok. meski saya yakin atasan saya tidak akan protes, tapi sepertinya saya merasa belum bisa senyetrik itu. kebanyakan tapi hahahahahaha. yah, intinya sih mencari sepatu kerja buat saya adalah hal yang cukup menyulitkan, disisi lain kesal karena daya tahannya yang tidak cukup baik. disisi lain mau gak mau ya butuh karena tuntutan sosial. ada saran?


Monday, January 12

tahun ketiga


bulan ini, usia pernikahan saya dan masery memasuki tahun ketiga. alhamdulillah. sejauh ini menjadi istri dari laki-laki super pendiam yang dulunya bukan-tipe-saya-banget adalah berkah tak terkira. itulah kenapa kita harus percaya kalau jodoh itu sudah diatur, dengan siapa, dimana dan kapan. coba saja, siapa yang mengira saya yang lima tahun lalu kalau diibaratkan adalah sungai kecil dengan arus jeram grade 4, sekarang harus berbagi tempat tidur dengan seseorang yang level ketenangannya nyaris mendekati permukaan danau. dalam hal karakter, saya dan masery adalah dua pribadi yang hampir selalu bertolak belakang. tapi mungkin perbedaan inilah yang akhirnya membuat kami saling terikat dan saling membutuhkan.

masery adalah laki-laki yang selalu setia mendengarkan sebanyak apapun baris cerita yang saya utarakan setiap pulang bekerja, meski saya sering dibuat kesal karena cerita drama dan berapi-api itu hanya dibalas dengan beberapa kali anggukan kepala. masery adalah laki-laki yang pada bahunya saya benamkan wajah untuk menutup malu, karena melakukan hal ceroboh menggundang bahaya, seperti meninggalkan penggorengan dengan api yang masih menyala sehingga nyaris membakar atap rumah. masery adalah satu-satunya laki-laki yang tabah mendengarkan pertanyaan tidak mutu saya saat kami bersama-sama menonton film favoritnya. dan yang terpenting masery adalah laki-laki yang paling sabar menghadapi fluktuasi emosi juga tangisan-tanpa-alasan saya.

selama tiga tahun ini saya belajar banyak hal dari masery; tentang kesabaran, tentang banyak hal prinsip yang harus diperjuangkan, tentang mimpi-mimpi yang harus diwujudkan, tentang kesederhanaan yang sampai detik ini masih sering gagal saya aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. selamat menjalani tahun ketiga ya mas, semoga ditahun-tahun berikutnya kita bisa lebih menikmati apa yang sejak awal sudah sama-sama kita yakini :)



Friday, January 2

halo tahun baru!

kalau diingat ingat tahun kemarin bak roller coaster, saya mengalami masa paling membahagiakan pun tak luput dari banyak hal sedih. yang terekam jelas diingatan saat awal tahun kemarin eyang putri berpulang dan sebulan kemudian ibu mengalami kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan lengan kanannya patah. tapi tahun kemarin untuk pertama kalinya pagi bisa berjalan, sekarang seiring berjalannya waktu dia sudah pintar berlari, melompat dan bernyanyi. rasanya bahagia sekali, anak kecil yang dulu tidak berdaya sekarang sudah bisa banyak bertanya. tinggal toilet training dan disapih nih. tinggal hahahahaha. dan yang jelas salah satu keputusan besar yang membahagiakan yang kami ambil di penghujung tahun kemarin adalah menguras tabungan untuk membeli sebidang tanah. alhamdulillah, (lagi-lagi) tinggal berfikir bagaimana dan kapan kami siap "menyulapnya" menjadi sebuah rumah.

yah pokoknya sekarang saatnya mengucapkan halo tahun baru! 

resolusi? gak ada yang spesial sih. sama seperti tahun kemarin. hidup sehat dan ramah lingkungan, bersepeda (lagi), konsisten menjahit, menabung, menulis, lebih sering memasak, berhasil panen dari kebun mini dan mulai membaca buku (lagi), hanya itu. lagi pula buat saya setiap tanggal satu, mau tahun berapa saja artinya sama yaitu; saya gajian. iya, kalo PNS emang gini hahahahahaha. tapi beneran deh, kemarin saya melewati segala jenis tayangan dan pesta kembang api live dari balkon belakang rumah dengan tertidur pulas begitu saja. bangun-bangun sudah subuh ditahun baru. trus ya langsung beraktifitas seperti biasa. cuci piring, beres-beres rumah.. beres-beres semaian tanaman sayur yang siap dipindah ke lahan luas, sarapan, bantuin ibu jahit, tidur siang, tetap konsisten tidak mandi sore, menghabiskan malam dengan berbagi cerita di ruang keluarga dan tanggal satupun terlewati begitu saja.

sedikit cerita soal niat menghidupkan lagi kegemaran saya yang sudah lama hilang yaitu membaca. kalau ditanya kenapa saya berkacamata salah satu penyebabnya adalah karena dari kecil saya senang membaca. tapi entah kenapa dua tahun ini saya seolah tidak punya ketertarikan sama sekali terhadap buku. ini bisa dibuktikan dari buku terakhir yang saya beli kira-kira hampir dua tahun lalu, dunia sophie dan sampai detik ini belum selesai dibaca. jadilah saya bertekad mau kampanye #satubulanduabuku untuk diri sendiri. cetek banget sih dua buku doang hahahaha, tapi karena yang mau dibaca adalah buku-buku koleksi pak suami. maka saya anggap #satubulanduabuku adalah tantangan. meskipun percobaan pertama malam tadi membuktikan, dari sekian banyak susunan buku di rak, hanya satu buku yang judulnya gak bikin mules; ring of fire.

niatnya sih tiap selesai membaca saya mau mereview buku tersebut dengan bahasan ala kadarnya. minimal supaya ada bekasnya, mengingat kemampuan perekaman ingatan saya sudah nyaris selevel dengan tupai. jangankan para tokoh dan karakter dalam suatu buku, saya bahkan lupa alur ceritanya meski buku itu adalah buku terakhir yang saya baca. selain itu saya juga ingin menantang diri sendiri dalam hal tulis menulis, saya tipe blogger yang langsung ciut kalau disuru ikut kompetisi menulis. ada kompetisi menulis dengan tema A maka otak saya seolah otomatis berhenti mengeluarkan kalimat yang bekaitan dengan tema tersebut, dan itu terjadi berkali-kali. makanya tahun ini saya bertekad akan memperbanyak menulis opini, karena siapa tau diakhir tahun nanti blog ini bisa terpilih jadi blog pilihan mojok.co, situsweb yang akhir-akhir ini menjadi bacaan favorit saya karena tidak pernah ada iklannya :D

*tiup terompet virtual*

Tuesday, December 23

akhir pekan untuk pagi

entah kenapa sejak punya pagi, saya merasa jadi lebih menghargai akhir pekan. kalau dulu, saat bertemu hari libur ya saya senang. lagi pula memangnya siapa yang tidak suka akhir pekan? tapi ya sekedar senang. kalau sekarang beda, karena sudah ada anak kecil yang bisa diajak bermain, berkunjung dan melihat banyak hal menarik. terlebih karena saya bekerja, jadi akhir pekan adalah satu-satunya waktu yang sepenuhnya bisa saya habiskan bersama pagi. maka setiap jumat malam saya dan masery seperti punya teka teki yang harus dipecahkan "besok kita ajak pagi kemana ya?" dan setelah melalui proses pertimbangan singkat, biasanya masery selalu punya solusi dan jawaban jitu yang akhrinya jadi kesepakatan kami bersama.

sebenarnya salah satu rizki yang sampai saat ini membuat saya bersyukur adalah; saya dan keluarga tinggal di bandung. karena sepertinya hanya dikota ini saya bisa mengajak pagi bermain sepuasnya dengan budget seminimnya.. tidak percaya? sepanjang tahun ini saja kami sudah membuktikan beberapa diantaranya. seperti pergi ke cicalengka dengan kereta, bermain air di gunung puntang, mengunjungi taman hutan raya, dan bermain tumpukan daun pinus di bukit bintang. kesemuanya murah meriah, naik kereta dengan harga tiket yang hanya sepuluh ribu rupiah, dan tiket masuk ketiga tempat lainnya yang tidak lebih dari retribusi parkir di mall selama tiga jam. itu baru empat tempat, belum ditambah kunjungan kami ke taman-taman kota yang ada di bandung. cibeunying park, taman lansia, babakan siliwangi atau sekedar melihat tupai di kampus ITB jalan ganesha yang semuanya gratis. bahagia kan?

meskipun tempat-tempat kunjungan akhir pekan kami kebanyakan ada di ruang terbuka, sejujurnya kami bukan keluarga anti mall kok. kalau di bandung, kami sering mampir ke ibcc... mmm, itu bukan mall ya. hahahahaha habisnya kami memang sering berkunjung kesana.. tidak pernah bosan melihat barang-barang dengan desain keren dan jenius yang diciptakan oleh orang-orang brilian. walaupun kalau kesana seringnya hanya window shoping saja, pulang tanpa membawa apapun tapi tetap bahagia hahahaha. nah, kalau berkunjung ke mall yang beneran mall ya trans studio mall yang selanjutnya tetap akan saya sebut sebagai BSM *gagal move on*. mall ini adalah mall yang paling ramah versi kami. tempat parkirnya manusiawi, keramaiannya juga masih bisa diprediksi. kalau mall yang lain, kami angkat tangan deh.

balik lagi ke tema akhir pekan murah meriah versi kami. harus diakui bahwa kami memang hampir tidak pernah menghabiskan akhir pekan di mall karena sebisa mungkin keperluan ke mall itu diselesaikan ketika weekdays. bukannya apa, mall dan weekend itu seringnya blunder, ya macet ya ramai akhirnya malah jadi duet maut perusak mood akhir pekan. lagi pula seperti kata mbak leija; buat anak batita SELURUH DUNIA adalah satu playground besar untuk mereka. Everything is so new and so exciting for the kid, sehingga nggak wajib bawa anak ke taman bermain, toko mainan atau tempat sejenisnya supaya dia hepi. mbak ayo kita toss mbak. saya juga percaya untuk anak sekecil pagi.. apapun yang dia lihat adalah hal yang menarik. bahkan melihat bapaknya ganti baju tidur super belel saja, pagi bisa takjub dan terkagum-kagum sambil bilang "waaaah, baguuusss..". karena anak kecil memang tidak seperti orang dewasa. mereka jauh lebih bisa menghargai hal-hal sederhana yang ada dan terjadi disekitarnya :)


 

Template by BloggerCandy.com